Nanditha

Nanditha
UNDANGAN PESTA


__ADS_3

"Ta, kenapa diam aja? Aku ada salah kah?" Gunadh menatap Nandita dengan wajah tanpa dosa.


"Mas, kenapa nggak bilang kalau mau ajak aku ke hotel? Kenapa malah lebih dulu ijin sama uncle Murat? Harusnya mas nanya pendapat aku dulu mas! Jangan mengambil keputusan sendiri! Lagi pula besok aku masih harus kerja, aku nggak bisa temani kamu sampai sore." Nandita tidak bisa lagi memendam rasa kesalnya. Ia menyemburkan kekesalannya, membuat Gunadh terkejut dengan sikap gadis itu.


"Kamu nggak mau menemani aku, Ta?" Gunadh memandang kekasihnya penuh kecewa.


"Bukan nggak mau mas, tapi mestinya kamu obrolin dulu sama aku. Jangan kebiasaan mengambil keputusan sendiri. Aku juga punya pikiran sendiri, punya keinginan sendiri."


"Maaf," hanya itu kalimat yang terucap dari bibirnya.


Gunadh sama sekali tidak menyangka kalau Nandita akan semarah itu padanya. Ia hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama kekasihnya. Berharap bisa menghapus sedikit kerinduan yang begitu menyiksa karena hubungan jarak jauh yang mereka jalani. Berharap bisa mencuri sedikit kenangan kota Istanbul, yang didominasi oleh Aslan dalam ingatan Nandita.


Perjalanan yang tidak terlalu jauh, mengantar keduanya tiba di hotel,q tidak sampai memakan waktu 30 menit.


Gunadh sudah menyiapkan kamar untuk kekasihnya, tepat bersebelahan dengan kamar yang ia tempati. Segera laki-laki itu meminta key card yang ia titip di bagian resepsionis.


Mereka masuk ke dalam lift, tanpa ada satu pun yang membuka suara. Baru setelah Gunadh tiba di depan kamar hotel, ia menyerahkan kartu milik Nandita.


"Itu kamar kamu, beristirahatlah. Besok aku antar kamu ke tempat kerja."


Belum sempat Nandita mengucap sesuatu, Gunadh sudah berlalu menuju kamarnya. Membiarkan kekasihnya mematung di depan pintu yang baru saja tertutup.


Sebuah pesan masuk ke ponsel gadis itu, ketika Nandita baru saja membuka pintu kamar hotelnya yang masih gelap.


πŸ’Œ : "Jangan berduaan, ingat belum sah 🀭🀭🀭" nomor telepon Candra, terpampang sebagai pengirim pesan.


Nandita mendengus.


πŸ’Œ : "Sok tau πŸ™„πŸ™„πŸ™„" balas Nandita.


πŸ’Œ : "Tau laaaah, kan ayang kamu cerita sama suami akuuu. Mereka itu sekarang BESTie tauuu😝😝😝"


πŸ’Œ : "Dia antusias banget mau ketemu kamu, sampai bela-belain lembur, biar kerjaan yang urgent bisa beres dengan cepat."


πŸ’Œ : "Masa siihhh 🀨🀨🀨"


πŸ’Œ : "Yeeee dibilangin ...."


Nandita tidak lagi membalas pesan Candra. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang berbalut sprei putih bersih.


Sejenak ia merasa bersalah pada kekasihnya. Apa dia terlalu kasar tadi? Tapi ini juga kan salah Gunadh, kenapa sesuka hati memutuskan sesuatu yang harusnya mereka bicarakan berdua.


Lelah dengan segala pikiran yang membuat kepalanya pusing, tanpa sadar mata gadis itu terpejam dengan pakaian yang masih sama seperti yang ia kenakan sejak dari rumah onty Eby.


🌟🌟🌟

__ADS_1


Dering ponsel yang ia letakkan di atas nakas mengusik tidur nyenyak Nandita. Sedikit meringis gadis itu menggerakkan tubuhnya yang kaku.


"Hallo," sapanya dengan suara serak.


"Ta, mau sarapan di mana?" Suara Gunadh membuka mata gadis itu semakin lebar.


"Mas ... Jam berapa ini?" Ucapnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Nandita masih betah membaringkan tubuhnya.


"Sudah jam tujuh, kamu berangkat kerja jam berapa?"


Jawaban Gunadh, membuat Nandita sedikit terkejut.


"Aah, iya sebentar mas." Ia segera bangkit, meski tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan.


"Mas ada di mana? Aku siap-siap dulu nggak apa kan?"


"Iya, mas tunggu."


Nandita bergegas membersihkan diri dan memakai pakaian kerja yang memang sudah ia siapkan sejak kemarin.


Memakai make up seadanya, ia tidak ingin Gunadh menunggunya terlalu lama.


Kalau boleh jujur, ada rasa bersalah yang menyelinap di hatinya, karena sikap ketusnya pada Gunadh.


Ia lupa ucapan onty Eby, jika kekasihnya itu berkorban banyak untuk bisa menemuinya di negeri orang.


Tidak sampai dua puluh menit, Nandita sudah siap dengan pakaian kerja dan tas selempang yang bergelayut di pundaknya.


Dengan sedikit gugup ia mengetuk pintu kamar Gunadh, yang berada tepat di seberang kamarnya.


"Mas," panggilnya dari luar.


Gunadh membuka pintu dengan segera. Tidak membiarkan gadisnya menunggu terlalu lama di depan pintu.


Penampilan laki-laki yang biasanya selalu berbalut celana bahan, dengan kemeja dan jas yang membungkus tubuh atasnya, kini terlihat lebih muda dengan pakaian santainya.


"Udah siap?" Tanya laki-laki itu yang meski tersenyum, namun masih tersirat gurat kekecewaan di matanya.


"Udah," jawab Nandita lirih.


"Ayo," Gunadh menuntun Nandita dengan mendorong lembut punggung gadis itu, meninggalkan lorong lantai kamar hotel menuju lift.


"Mas," Nandita beralih menahan lengan kekasihnya ketika mereka tengah menunggu pintu lift terbuka.


Ia mendongak, mencoba menatap mata Gunadh, yang sejak tadi menghindari tatapan matanya.

__ADS_1


"Iya,"


"Mas Gunadh marah? Mas ... Maaf soal kemarin, aku ...."


Kalimat Nandita terputus ketika pintu lift terbuka.


"Ayo masuk," ajak Gunadh. Sama sekali tidak berniat melanjutkan pembahasan yang Nandita mulai.


"Mas,"


Gunadh mengecup kening Nandita, menatap sekejap manik coklat milik gadis itu.


"Nanti kita obrolin itu ya, sekarang kita turun sarapan dulu, setelah itu aku antar kamu ke tempat kerja."


Nandita tidak dapat menolak keinginan tunangannya itu. Ia tahu, saat ini Gunadh tengah berusaha memendam perasaannya. Dan ia pun menghargai itu.


Selepas sarapan, keduanya menunggu taksi langganan Gunadh yang dikenalnya beberapa waktu lalu, saat ia berjuang mencari alamat tempat tinggal Nandita.


Gunadh mengantar kekasihnya, dan berjanji akan menjemputnya kembali nanti, saat jam pulang kerja tiba.


Senyum lembut, dan kecupan singkat Gunadh berikan untuk Nandita, sembari memberi ucapan penyemangat.


Setelah jam pulang kerja, gadis itu sudah di sambut taksi yang ia ketahui ada Gunadh di dalamnya.


Buru-buru ia mendekati angkutan umum itu, namun langkahnya terhenti ketika temannya memanggil.


"Nandita, tunggu ...."


Terpaksa ia menghentikan langkah, menunggu teman kerja yang berlari ke arahnya.


"Jangan lupa besok, aku udah bilang sama yang lain kalau kamu bakal ikut." Dengan penuh semangat wanita itu memberitahu Nandita, apa yang sudah dilakukannya.


"Astaga ... Kan aku sudah bilang kalau aku nggak janji bakal ikut ... Aku nggak bisa, tunangan aku ada di sini, nggak mungkin aku ninggalin dia." Sebisa mungkin Nandita menahan kesal, namun wajahnya yang memerah jelas sekali menampakkan hal yang berlawanan.


Gunadh yang melihat Nandita seperti sedang berdebat, segera turun mendekati kekasihnya.


"Ta, ada apa?"


"Mas, kenapa nggak tunggu di dalam aja?"


"Hai ... Kamu tunangan Nandita kan?" Belum sempat Gunadh menjawab, teman Nandita sudah mengulurkan tangan ke arah laki-laki itu.


Mau tidak mau, ia mengurungkan niat menjawab pertanyaan Nandita, dan membalas uluran tangan wanita asing itu.


"Kebetulan sekali, besok jangan lupa datang juga ya," dengan wajah terpesona, wanita itu mengundang Gunadh ke acara yang ia rencanakan.

__ADS_1


"Nandita, aku nggak mau tau, pokoknya besok aku tunggu kalian. Nanti aku kirim alamatnya. Ini akan jadi pesta yang seruuu, aku nggak sabar nunggu besok."


Tanpa rasa berdosa teman Nandita itu pergi meninggalkan keduanya.


__ADS_2