
Gunadh bangun dengan kepala yang masih terasa berat. Ia tidak tahu seberapa banyak minuman beralkohol yang singgah dalam tubuhnya kemarin malam.
"Ssshhh" Rintihnya sembari memegang kepala.
Sebenarnya ia enggan untuk bangkit, namun desakan kantung kemihnya yang full memaksa untuk segera dikeluarkan.
Perlahan Gunadh melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Menyelesaikan urusannya di dalam sana, sembari mengingat apa saja yang ia lakukan saat dalam keadaan mabuk.
'apa aku meracau kemarin malam ya?' tanyanya dalam hati.
"Mas," panggil Nandita dari luar, mengejutkannya yang sejak tadi hanya memandangi diri di depan cermin.
"Iya sayang ... Sebentar."
"Mas mandi? Udah nggak sakit lagi kepalanya?" Tanya Nandita di balik pintu.
Gunadh membuka pintu kamar mandi, mendapati kekasihnya sudah dengan pakaian rapi.
"Dari mana?" Tanya Gunadh.
"Habis beli ini," Nandita mengangkat paper bag kecil yang ya bawa.
"Mas belum mandi? Masih sakit kepalanya?" Kembali gadis itu mengulang pertanyaan yang sama, sebab Gunadh belum memberinya jawaban.
"Masih berasa berat yank ...." Mendengar itu, Nandita kembali memeriksa suhu tubuh Gunadh. Ia ingin memastikan apakah kekasihnya demam atau tidak.
"Ya sudah, nanti siangan aja mandinya, mas. Aku udah belikan obat, mas habiskan sarapannya dulu, habis itu minum obat ya, biar cepet sembuh." Seperti seorang ibu yang merayu anaknya saat sedang sakit, Nandita bahkan menuntun Gunadh dari pintu kamar mandi menuju ranjang.
Gunadh merasa gadisnya terlihat berbeda hari ini. Sikapnya begitu lembut, seolah ia sedang menjaga batu kristal yang mudah pecah.
Gunadh memakan roti dan minuman hangat yang sudah siap di atas nakas.
"Kenapa? Segitunya liatin mas," ucapnya salah tingkah, sebab Nandita tidak putus memandangnya sejak tadi.
"Nggak ada," sahut Nandita sembari tersenyum lembut.
"Mas kemarin ngomongnya ngelantur ya sayang? Ngomongin apa aja? Jangan di masukkan ke hati ya," Gunadh menatap Nandita, merasa tidak enak hati pada gadis itu.
Harusnya ia yang menjaga Nandita, tapi justru dia malah merepotkan kekasihnya. Bahkan sampai tidak ingat, kata-kata apa saja yang keluar dari mulutnya kemarin malam.
__ADS_1
"Memang yang mas Gunadh ingat, ngomong apa aja?"
"Mas nggak inget apa-apa, kepala mas sakit dan mual juga. Itu aja yang mas inget. Ini aja sampe sekarang masih berasa pusingnya," keluh Gunadh, memegang kepalanya.
Nandita mengangguk, masih memberi tatapan intens, yang Gunadh tidak mengerti apa artinya.
"Kalau ada yang nyakitin perasaan kamu, jangan dimasukkan ke hati ya, omongan orang mabuk memang suka melantur."
Lanjutnya, dan kembali menenggak minuman hangat yang entah apa namanya itu.
Minuman yang perlahan mampu mengurangi pusing yang ia derita.
"Mas, jangan pernah berpikir kalau aku bakal tinggalin mas ya ... Apapun yang mas tau, tetap percaya sama aku, kalau aku hanya milik kamu. Bantu aku, agar bisa memurnikan hati dan perasaan ini kembali. Agar tidak ada lagi bayangan lain yang membuat kamu khawatir dan takut. Rasa percayamu sangat aku butuhkan mas," Nandita merasa sesak di hatinya, setiap kali mengingat apa yang Gunadh katakan ketika ia mabuk kemarin.
Gunadh menunduk. Benar, rupanya ia sudah berucap banyak hal yang selama ini coba ia sembunyikan di dasar hatinya.
"Jangan mencoba bersaing dengan siapapun, karena kamu tetap terbaik dalam versimu, mas. Lagipula, kita sudah terikat dengan ini, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita." Nandita memainkan cincin yang melingkar di jari manis Gunadh.
"Mas merasa rendah diri Ta, mas tidak bisa menjadi dia, yang membuat bagian dari dirimu menyukainya atau mungkin sudah jatuh cinta padanya. Mas nggak sesempurna itu untuk bisa menjadi apa yang kamu mau,"
"Mas ...." Nandita meraih wajah Gunadh dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain masih bertaut dengan tangan Gunadh.
"Nggak perlu menjadi orang lain, jangan menjadi yang paling sempurna, aku nggak butuh itu. Cukup beri aku rasa percaya, cukup lengkapi kekuranganku, menjadi dirimu yang apa adanya. Karena aku jatuh cinta pada Gunadh yang seperti itu." Tatapan mata mereka beradu, ada ketulusan dan kejujuran yang coba keduanya tunjukkan.
Gunadh tersenyum getir, ia menggeleng. Tangan yang Nandita genggam ia lepaskan untuk mengusap rambut kekasihnya itu.
"Kamu nggak salah, wajar rasa itu muncul di hati kamu. Meski terpaksa, tapi mas akui. Dia terlalu baik dan dewasa, sulit bagi wanita untuk tidak jatuh hati padanya. Terlebih selama ini, dia yang menemani kamu di sini, menjaga dan menjadi penawar luka yang mas ciptakan."
Nandita memeluk tubuh Gunadh, yang duduk bersisian dengannya di pinggir ranjang.
Banyak rasa yang bergumul di hati gadis itu, membuat matanya memanas dan menciptakan cairan bening yang mulai menetes membasahi pipinya.
Ia takut Gunadh melepasnya, takut Gunadh marah, takut kehilangan, dan rasa bersalah yang merambat di hatinya, semakin membuat gadis itu tersedu.
Gunadh pun membalas pelukan kekasihnya. Meski hatinya merasa nyeri, membayangkan sosok lain juga menempati hati wanita yang dicintainya itu, namun Gunadh harus sadar diri. Dia yang membuat Nandita mengenal laki-laki lain.
Meski berat, tapi seperti yang Nandita mau, ia harus percaya jika suatu saat, hati dan perasaan gadis itu akan kembali utuh untuknya.
"I love you sayang," bisik Gunadh di telinga Nandita.
__ADS_1
"Aku juga mas. Aku juga cinta kamu, aku nggak mau kehilangan kamu."
🌟🌟🌟
Setelah drama mengharu biru di dalam kamar hotel Nandita, hubungan keduanya menjadi semkin mesra.
Gunadh yang kaku, berusaha menjadi lebih romantis demi membahagiakan kekasihnya itu.
"Pesawat jam berapa besok mas?" Tanya Nandita.
Saat ini mereka sedang menikmati makan malam romantis di salah satu restaurant mewah pilihan Gunadh.
Duduk saling berhadapan, menikmati pemandangan kota dari atas ketinggian.
"Penerbangan sore sayang ...." Sahut Gunadh dengan wajah sedihnya.
"Masih pengen di sini padahal, tapi kerjaan mas banyak banget." Keluh Gunadh, terlihat putus asa.
Dunia mereka seperti terbalik. Bukankah harusnya yang perempuan yang merajuk saat akan berpisah jarak? Tapi kini justru sebaliknya.
Nandita mengusap punggung tangan Gunadh, mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Sabaar mas ... Sebentar lagi aku balik kan, kita nggak perlu harus berpisah lagi."
"Kenapa nggak sekarang ajak balik barengan sama mas?"
"Nggak bisa gitu donk mas, aku masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Sabar ya ...."
Apa boleh buat? Keadaan memaksa mereka untuk menjalani hubungan jarak jauh lagi.
Sabar.
Hanya rasa itu yang bisa keduanya panjangkan, agar bisa menjalani hari yang terasa melambat.
Pelukan, ciuman, menjadi tanda perpisahan mereka kembali.
Sedih? Sudah pasti.
Siapa yang tidak akan bersedih melepas orang terkasih, kembali membentang jarak ribuan kilo meter, terhalang benua dan samudra?
__ADS_1
Berbekal keyakinan dan rasa percaya satu sama lain, bahwa cinta mereka pasti akan mencapai satu tujuan bahagia.
Semoga saja semesta merestui pertautan kasih keduanya.