
Dalam hidup, manusia selalu memiliki target, pencapaian yang ingin ia raih.
Begitupun Nandita. Setelah menyelesaikan kuliahnya dengan baik, gadis ceria itu ingin menggapai mimpinya yang lain. Tentu saja keinginan untuk ke luar negeri masih menjadi harapan terbesarnya. Lalu bagaimana ia akan menggapai mimpi itu? Bukan hanya materi yang harus disiapkan namun juga mental.
Sebab di sana ia bukan hanya hidup sendiri, namun perbedaan budaya dan bahasa pasti memiliki tantangan tersendiri untuk di taklukkan.
"Dita,,,, sini nak ayah mau ngomong sebentar" Pak Darma memanggil anak ke duanya itu.
"Ya yah sebentar" Nandita segera bangkit dari tempat ia menonton tv.
Sudah satu Minggu kegiatan Nandita hanyalah makan, nonton, dan latihan silat.
Namun latihan jadwalnya dua hari sekali. Sedangkan kalau di rumah, jangankan latihan yang berat, menggerakkan badan saja rasanya ia malas.
"Ada apa yah?" Tanya Nandita setelah ia mendaratkan pantatnya di samping sang ayah. Kali ini mereka duduk di taman kecil belakang rumah.
Pak Darma memang suka duduk di sana bila sedang ingin bersantai sambil menikmati kopi panas dan pisang goreng.
"Apa rencana kamu setelah ini?"
"Mmm apa ya,,,,, sebenarnya Dita pengen kembali fokus sama pencak silat yah" Ucapnya ragu
Kening ayah berkerut, tandanya ia tidak mengerti dengan maksud ucapan anaknya.
"Maksud ayah rencana masa depan kamu,,, masa ya kamu mau latihan sampai tua,,. Memangnya kamu ga kepengen kerja, dapat penghasilan gitu?"
"Silat kan juga ada penghasilannya yah,,,, tiap kali kita menang kejuaraan uangnya juga besar"
Nandita masih bersikeras
"Ya ayah tahu,,,, tapi kan ga setiap hari kamu pertandingan. Dan menjadi atlet juga ga seumur hidup kamu bisa nak,,,,. Ada batas usianya. Lalu setelah kamu harus berhenti berkarir di sana, apa yang akan kamu lakukan?"
Nandita bingung harus menjawab apa. Benar juga kata ayah, ia harus memikirkan jangka panjang kehidupannya.
Apa yang akan menjadi pegangan dalam hidupnya kelak, saat ia sudah tidak aktif lagi di dunia persilatan.
"Sebenernya Dita kepengen keluar negri yah,,,,."
Entah itu jawaban yang diharapkan atau bukan, ini kesempatan baginya mengutarakan niat hati pada sang ayah.
"Kamu pikir keluar negri itu gampang? Banyak yang harus kamu urus, dan itu semua memerlukan uang. Bagaimana kamu bisa ke sana kalau kamu ga punya kerjaan?"
"Terus Dita harus gimana dong yah,,,,,," Ucapnya dengan wajah memelas.
"Kalau boleh ayah saran,, kamu mending cari kerja dulu. Entah itu di sekolah formal, kamu coba melamar di sekolah swasta. Atau di tempat-tempat bimbel lainnya. Sambil kamu kerja, kamu persiapkan diri kamu untuk itu" Nasihat pak Darma pada sang anak.
"Ya deh yah,,,,, tapi Dita boleh minta waktu seminggu lagi untuk bebas ya..... Mau menyegarkan otak dulu, sebelum kembali disibukkan dengan target hidup." Nandita berucap sambil tersenyum
"Baiklah,,,, ayah kasih kamu waktu satu minggu untuk bermain. Tapi setelah itu, kamu harus fokus dan ga boleh leyeh-leyeh lagi. Ingat Ta,,, semua yang kamu raih saat ini bukan hal yang mudah. Kamu mengorbankan banyak waktu, tenaga, serta pikiran di sana. Begitupun ayah sama bunda mengorbankan materi yang tidak sedikit untuk kamu mencapai gelar itu. Jadi jangan sis-siakan pengorbanan itu ya nak,,,. Ayah tidak memaksa kamu agar menjadi orang kaya, sukses, berlimpah materi. Tidak,,,, ayah tidak seperti itu. Ayah sadar betul setiap orang memiliki jalan takdirnya sendiri-sendiri. Dan tidak akan ada perbedaan cara ayah memperlakukan kalian bertiga nantinya, meski mungkin diantara kalian memiliki kehidupan finansial berbeda satu dengan yang lain. Yang terpenting bagi ayah, kalian bertiga mau bekerja keras, berusaha, memanfaatkan apa yang sudah kami beri untuk kalian jadikan bekal. Karena kami ga mampu memberikan kalian materi yang banyak, kami hanya mampu memberi kalian bekal ilmu. Silahkan manfaatkan itu." Ayah berucap panjang lebar
"Baik yah,,,, Dita akan berusaha sebisa mungkin agar tidak mengecewakan ayah bunda. Dita sayang kalian,,, doakan Dita selalu ya yah" Ucapnya lalu memeluk ayahnya dengan erat.
Ia terharu, karena sang ayah meluangkan waktu untuk bicara berdua dari hati ke hati dengannya.
🌟🌟🌟
Hari berlalu dengan cepat. Setelah selama satu Minggu ia bebas bermain. Mengunjungi kakek neneknya dari sang bunda, juga membantu ayah di peternakan, kini tiba saatnya ia memulai sesuatu yang baru lagi.
__ADS_1
Ia memutuskan kembali ke kota tempat ia kuliah. Di sana ia akan melamar menjadi guru di sekolah swasta yang elit. Menurutnya itu lebih baik, dari pada harus mengabdi menjadi guru honorer di daerahnya. Karena upah yang di terima pasti lebih besar di sekolah swasta apalagi kalau sekolah favorit.
Bersyukur ia tidak lama menganggur, karena setelah beberapa sekolah yang ia datangi untuk mengajukan lamaran, ada salah satu sekolah yang menerimanya sebagai anggota pengajar baru.
"Selamat datang dan selamat bergabung di sekolah ini Miss Nandita. Di sini semua pengajar memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada istilah senior dan junior. kita sama-sama belajar, saling membantu bila ada kesulitan dalam proses penyampaian materi kepada para siswa, ataupun masalah lainnya yang menyangkut sekolah dan para siswa. Mulai hari ini Anda merupakan bagian dari keluarga besar sekolah Insan Mandiri. Sebagai mana keluarga, di sini kita harus bisa saling menjaga, melindungi dan menjaga nama baik lembaga ini."
Seorang wanita paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah memberikan sambutan.
Nandita hanya bisa mengangguk dan tersenyum ramah pada guru-guru, dan beberapa perwakilan dari yayasan.
Setelah acara perkenalan dan ramah tamah singkat, Nandita diberi jadwal mengajar dan juga beberapa buku panduan untuk memudahkan proses tatap muka.
Ia mengajar di kelas tujuh. Berhubung dalam satu angkatan terdapat beberapa kelas, untuk sementara Nandita hanya memegang tiga kelas saja. Sisanya dipegang oleh guru yang lain. namun materi yang disampaikan tetap sama.
🌟🌟🌟
Tidak terasa satu bulan sudah Nandita menekuni profesi barunya sebagai seorang tenaga pendidik.
Ia yang awalnya menjadi pendengar, kini beralih menjadi yang ingin didengar.
Namun pengalaman sebagai siswa dan mahasiswa yang baru beberapa tahun berlalu, membuat ia memiliki pemikiran sedikit berbeda dari guru-guru yang lain.
Ia menerapkan metode mengajar dua arah, bukan hanya bertanya dan menjawab, seperti guru yang bertanya murid yang menjawab, atau sebaliknya sebagian murid yang membuat pertanyaan dan sebagian lagi membuat jawaban.
Konsep yang Nandita terapkan adalah diskusi edukasi. Dimana ia akan mencetuskan suatu pokok masalah, dan siswa diharapkan mampu menjabarkan ide-ide mereka disertai solusi yang tepat.
Hubungannya dengan rekan sesama guru juga cukup baik, sehingga ia merasa nyaman mengajar di sekolah tersebut.
Kehidupan penuh warna yang cukup dinikmati oleh Nandita.
Sebenarnya ia merasa kesepian karena tinggal jauh dari orang tua juga saudara. Teman juga ia tidak terlalu banyak. Bukan membatasi, tapi memang dia bukan orang yang suka berkumpul, bermain kesana kemari, seru-seruan ke luar rumah. Dia bukan orang seperti itu.
Setelah selesai membeli semua keperluan bulanan, Nandita masuk ke kedai bakso yang ada di sekitar super market. Baru saja ia melangkah masuk, tiba - tiba ada suara yang memanggil namanya.
"Dita,,,, sini,,," Candra melambaikan tangannya, berharap Nandita melihat keberadaannya.
Ya sedari tadi Candra sudah melihat Nandita, saat gadis itu tanpa sengaja melihat ke halaman kedai yang kebetulan saat itu Nandita baru memarkirkan motornya.
"Tar,,,, mo persen dulu,,," Nandita menunjuk penjual bakso agar Candra mengerti
Canda mengacungkan jari jempol tanda setuju.
Setelah memesan, barulah Nandita berjalan menuju sang teman lama.
"Kamu udah pesan Ndra??"
"Udah, tapi belom dibawain juga. Soalnya aku sekalian pesen mie ayam juga, jadi mungkin lama bikinin mie nya"
"Sejak kapan kamu suka mie ayam"
"oohhh itu,,,, mmmm bukan aku sih yang pesan mie ayam, tapi Satya. Tapi aku sama Satya ga ada hubungan apa-apa kok,, beneran."
Mengacungkan dua jati tangan, telunjuk dan jari tengahnya membuntuk huruf v, Candra gelagapan dengan pengakuannya sendiri. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati, karena ketahuan jalan bareng dengan Satya.
"Ooohhh kalian jadian yaaaaaa"
Goda Nandita
__ADS_1
"Eeeehh ga kok,,,, mana ada kami jadian"
"Ya juga ga apa-apa lagi Ndra. Kalian cocok lho,, kamu cantik dia tampan, udah saling kenal satu sama lain, kenapa ga? Lagian kalo sama-sama suka, resmiin aja,,,."
Obrolan mereka terhenti saat bakso dan mie ayam mereka datang. Tak berselang lama Satya juga muncul dengan nafas memburu karena habis berlari.
"Candra maaf ya aku telat,, tadi masih ada urusan sedikit soalnya." Ucapnya sambil duduk di samping Candra. Tanpa menyadari ada sosok lain yang duduk di depannya, dengan tatapan yang tak biasa.
"Udah ga apa,, nih aku udah pesenin mie ayam kesukaan kamu, baru aja dianterin"
"Ehm ehm,,, aku kok jadi nonton live romnace gini ya? salah kursi kayanya aku nih"
Nandita merasa tidak enak, tapi juga geli melihat tingkah dua orang di depannya.
Sontak membuat Satya kaget, dengan mata yang hampir keluar.
Candra pun malu sendiri, ia merasa tidak berlebihan dalam bersikap, tapi kenapa Nandita jadi nyindir dirinya?
'apa Nandita cemburu' pikirnya lagi.
"Eeh Dita,,,, udah lama?" Satya bertanya gugup
"Udah dari tadi lah,,,, sebelum kamu datang aku udah duduk di sini. Gitu ya, dunia berasa milik berdua yang lain ngontrak" Ledek Nandita lagi.
"Udah ya aku pindah duduk,, ga enak jadi obat nyamuknya orang pacaran"
Nandita mengangkat mangkuk baksonya lalu berpindah tempat berjarak satu meja dari tempatnya tadi. Ia senang sekaligus lucu melihat tingkah mereka. Nandita yakin nantinya Satya dan Candra akan bersama.
Sementara itu Satya dan Candra berdebat kecil.
"Kamu sih..... Baru dateng bukannya nyapa Nandita dulu,,,, eeeh malah langsung duduk di samping aku lagi"
"Lhaaaa kok aku yang salah?? Kan aku ga tau kalo dia juga di sini. Aku niatnya kan emang ketemu kamu, jadi fokus aku ke kamu aja"
Satya membela diri
"Ya tapi kan Dita jadi salah sangka sama kita,, dikiranya kita pacaran lagi. Kamu ga bisa deketin dia kalau begini caranya" ucap Candra.
' jahat ga sih Sat,,,, kalau aku berharap kamu berhenti suka sama Dita?' Lanjutnya dalam hati
"Aku belom sempat cerita ya Ndra sama kamu?? Setelah aku pikir,, ternyata perasaan aku sama Dita itu bukan cinta. Melainkan rasa kagum. Aku ga pernah ngerasa detak jantungku ga normal saat sama dia. Aku akui dia cantik, dia baik, lelaki manapun yang jadi pasangannya dia, mestilah sangat bersyukur."
"Eeleeeh hanya kagum,,, bukannya dulu kamu cinta mati sama dia?"
"Ga Ndra,,, beneran,,,. Dulu juga aku mikirnya gitu, aku cinta sama dia. Tapi setelah dia memutuskan untuk menganggap aku temen aja, aku mencoba menerima"
"Nah itu dia,,,,, kamu suka sama dia kalau gitu" Potong Candra lagi. Gadis itu berusaha menahan perasaannya
"Ga Ndra,,,, kalo kita cinta sama seseorang trus kita ditolak,, pasti hati kita merasa sakiiiiit banget, kaya harapan hidup kita ga ada. Tapi aku ke dia itu ga gitu,,,,. Ya aku akuin agak sedih,, tapi gak yang sampe patah hati bangeeet gitu. Mungkin hanya merasa ga terima aja kali ya karena ditolak."
Satya menjelaskan dengan panjang lebar.
"Ooohhh gitu,,,," Senyum manis Candra terkembang tanpa sadar.
"Sebenernya aku lagi suka sama seseorang Ndra,,, tapi itu bukan Nandita. Tapi aku ga mau ungkapin dulu,, aku mau meyakinkan hati aku, apakah aku beneran jatuh cinta sama dia apa hanya sebatas kagum seperti dulu"
Hilang sudah harapan Candra. Senyum yang tadi terkembang mendadak sirna berganti wajah pias menahan kecewa.
__ADS_1