
"Iish kamu, bisa diem nggak?! Nggak usah meletup-letup! Auuu ... Iisssh kak ... Gimana ini? Aduhhhh ...."
Malikha meringis, berdiri agak menjauh dari kompor tempatnya menggoreng ikan.
Satu tangannya memegang Sutil, sementara tangan lainnya memegang tutup panci lebar, yang digunakannya sebagai perisai.
"Kak ... Bantu balikin ikannya ... Udah coklat itu bawahnya ...." Teriak anak bungsu itu lagi, menganggu Nandita yang tengah mengupas bawang.
Merasa kesal dengan suara melengking Malikha, Nandita yang jahil langsung mengangkat wadah berisi bawang yang belum selesai di kupas, lalu menyodorkan ke arah Malikha.
"Nih, kupas semua. Biar kakak yang goreng ikannya." Ucap Nandita dengan ketus.
Malikha yang terkejut reflek menerima wadah tersebut tanpa melihat isinya.
Setelah beberapa detik, barulah ia sadar apa yang diberikan sang kakak padanya.
"Hueeekkk ... Hueeekk ... Kak Dita ...!" Teriak sang adik yang langsung berlari ke arah wastafel, setelah meletakkan wadah bawang di samping sang kakak.
Melihat wajah tersiksa Malikha, Nandita tertawa terbahak, menciptakan kegaduhan di ruangan tersebut.
"Kalian kenapa sih? Suaranya udah ngalahin dagang yang rebutan lapak di pasar, tau nggak?" Kesal bunda Santi, setelah sampai di pintu dapur.
Dia yang sedang menata ruang tengah, terpaksa menghentikan kegiatannya karena keributan yang terjadi.
"Itu, kak Dita, Bun ... Udah tau aku nggak suka bawang, malah disuruh kupas bawang. Mana masih ada akar-akarnya lagi, huueekkk ...." Malikha kembali membungkuk di depan wastafel, dengan perasaan tidak enak.
Rasa mual pasti akan datang setiap kali dirinya membayangkan bumbu dapur tersebut.
Bawang adalah benda yang sangat menj*j*kkan untuk Malikha. Apalagi bawang tersebut masih berakar dan kulitnya basah, atau busuk, atau sudah tumbuh tunas, dia pasti akan langsung muntah setiap kali melihatnya.
Dan pagi ini, sungguh hari yang penuh perjuangan untuknya.
Sebagai anak bungsu yang fobia pada bawang merah, ia harus membantu kakaknya untuk memasak di dapur, sementara bunda masih membereskan sisa pekerjaan untuk persiapan pernikahan sang kakak.
__ADS_1
"Ta!" Mata bunda menajam ke arah calon pengantin tersebut.
Tidak habis pikir, anak-anaknya sudah tumbuh dewasa, bahkan sebentar lagi mau menikah, namun kelakuan mereka masih tetap seperti anak kecil.
Selalu ribut, tidak pernah akur bila di rumah. Tapi saat jauh, mereka akan saling merindukan.
"Dia tuh Bun ... Masa suruh goreng ikan aja, rusuh banget. Ikan udah mati, kok diajak berantem. Kata dia, ih kamu bisa diem nggak! Nggak usah meletup-letup ...." Ucap Nandita mengikuti ucapan sang adik, dengan gaya gemulai seorang waria.
"Kalian ini ...." Bunda Santi kehabisan kata, untuk mengungkapkan kekesalan pada keduanya.
"Ya sudah ... Kamu di luar aja, Kha. Pindahin sofanya ke dekat tivi. Nggak usah bantuin kakak kamu di sini." Titah bunda pada anak bungsunya.
"Ini biar bunda yang bantuin kakak kamu. Udah besar, udah mau nikah, kelakuan masih aja kayak anak kecil." Omel bunda Santi, sembari membereskan pekerjaan yang belum selesai.
"Gara-gara kakak nih ... Ngeselin banget jadi orang." Ketus Malikha di samping Nandita.
"Yeee kok kakak ... Siapa suruh lebay jadi orang ... Udah kayak anak leak (hantu khas Bali) aja, takut kok sama bawang." Sahut Nandita dengan wajah menyebalkan.
Malikha tidak lagi menjawab, dia memilih pergi dengan menghentakkan kakinya dengan keras.
Selepas kepergian Malikha, Nandita kembali diceramahi oleh bunda Santi. Bukan hanya soal kejahilan yang dia lakukan beberapa saat lalu, tapi ini lebih serius. Bisa dibilang, ia tengah diberi pembekalan pra nikah, oleh wanita yang melahirkannya itu.
🌟🌟🌟
Tanggal pernikahan tinggal tiga hari lagi. Keluarga Nandita, baik dari ayah Darma maupun bunda Santi, sudah diberi tahu mengenai hal tersebut.
Surat-surat, seragam, serta hal-hal pribadi lainnya tengah diurus oleh kedua orang tua Nandita. Tentu saja dibantu oleh orang-orang Gunadh, yang ditugaskan untuk mempermudah urusan mereka.
Rencana yang terkesan mendadak itu, tentu menciptakan pikiran negatif bagi para tetangga, namun itu semua tidak mengurangi antusias keluarga yang sudah tahu cerita mereka sejak awal.
Tante Niar dan suaminya, beserta Anindya dengan keluarga kecilnya, akan tiba besok sore. Sementara Biyanca yang dihubungi secara mendadak oleh Nandita, baru terbang hari ini, sebab masih menunggu Louis yang sedang melakukan perjalanan bisnis.
Semua orang terlihat begitu sibuk di keluarga Nandita.
__ADS_1
Adik-adik dari bunda Santi, beberapa kali datang untuk membantu, sekiranya ada hal yang bisa mereka lakukan.
Tenda juga sudah terpasang di halaman depan, rumah milik orang tua Nandita. Meski Gunadh sudah menyiapkan ballroom salah satu hotel miliknya sebagai tempat resepsi, namun ayah Darma tetap harus menyiapkan tempat dan hidangan di rumahnya untuk menjamu para tetangga, dan juga pihak keluarga dari Gunadh, yang akan hadir saat upacara adat pernikahan mereka, yang akan di gelar di rumah Nandita sendiri.
Berbeda dengan Gunadh.
Di rumahnya tidak nampak kesibukan apapun. Ia yang memang tidak memiliki banyak keluarga, hanya mengandalkan bik Asih, Arya, dan beberapa karyawan lainnya untuk datang menemaninya ke rumah Nandita.
Mira sudah mulai bisa membuka diri kembali, setelah Gunadh mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Nandita. Gadis itu baru sadar, jika waktu pernikahan sang ayah sudah diundur terlalu jauh.
Akhirnya ia juga ikut sibuk menyiapkan seragam untuk teman-temannya, yang ia minta menjadi pendamping sang Daddy nantinya.
"Dad ... Nanti pas acara di rumah onty Dita, kita berangkat jam berapa?" Tanya Mira antusias.
"Pagi sayang, biar kita tiba di sana sekitar pukul 10. Memangnya kenapa?"
"Aku harus kasih kabar temen-temen aku, biar tahu mereka harus bersiap jam berapa."
"Kenapa nggak ajak nginap di sini aja? Kan kalian pakai seragam, biar sekalian siap-siapnya di sini."
"Iya juga ya Dad ... Ok deh, aku telepon mereka dulu." Namira meninggalkan sang Daddy, yang masih mengerjakan beberapa pekerjaan melalui benda pipih di tangannya.
^_________^^_________^^_________^
bentaaar lagi GunTha dah mau sah. Jangan lupa dukung terus ya ....
vote,
like,
komen,
sama hadiah lainnya 😉😉😉
__ADS_1