Nanditha

Nanditha
BERPISAH SEMENTARA


__ADS_3

Bersamamu aku melihat warna baru dalam hidupku. Rasanya tak ingin waktu berputar, biarkan saja masa ini selamanya. Merasakan kebersamaan, canda, tawa, seakan esok tak akan pernah ada air mata yang tercipta.


Gunadh belum bisa memejamkan mata, meski jam sudah menunjuk angka 1 dini hari.


Kalimat pak Darma terngiang selalu di telinganya.


"Om hanya punya kasih sayang yang bisa om berikan untuk anak-anak. Tidak punya harta berlebih, apalagi tahta. Tapi bila harus memilih, om akan korbankan nyawa om untuk membuat mereka bahagia."


Hal yang sama yang ia rasakan, pada sosok Mira anaknya. Meski diusianya kini, ia juga membutuhkan seorang pendamping untuk menemani hari-harinya, tapi ia masih berjuang agar tidak membuat Mira terluka.


"Dari kecil anak-anak om sering di-bully sama saudaranya yang lain. Anak-anak dari adik tiri om terutama. Bianca hanya diam, dia tidak suka meladeni. Saat dibully, dia lebih memilih pergi, menjauh. Beda dengan Nandita, saat dia dibully, dia akan melawan. Memukul, menjambak, menendang, pokoknya dia main fisik. Tanpa sepengetahuan om, dia sering dimarahi oleh tante-tantenya, dijewer kupingnya, atau dibentak. Itu semua terekam dalam ingatannya. Itu sebabnya dia ikut silat, katanya agar orang gak berani sama dia. Dia gak suka, pulang nangis ngadu sama kami, dia gak pernah. Dirumah Nandita akan menjadi anak yang ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. Terlihat cuek, tapi saat salah satu anggota keluarganya sakit, dia tidak akan pergi kemana-mana. Diam di kamar menemani, selalu nanya mau diambilkan apa? Mau dibuatkan apa?" Kenang pak Darma.


Gunadh jadi rindu pada Nandita karena cerita dari pak Darma.


Padahal mereka satu rumah, hanya berbeda kamar saja.


Gunadh mengirim pesan pada sang kekasih


G : " Sayang,,,, udah tidur??"


N : " Lho mas, belum tidur??"


G : "Kebiasaan kamu, ditanya balik nanya"


N : "Aneh kamu, kalo aku udah tidur kan gak mungkin balas pesan,,!"


G : "Kamu juga aneh, kalo aku udah tidur juga gak mungkin kirimin kamu pesan😝😝"


N : "πŸ™„πŸ™„πŸ™„"


G : " Mas kangen bangeeet sama kamu,,,"


G : "Kalau boleh, pengen banget peluk kamu yang erat, terus gak mas lepasin"


N : "Mati dong.... Gak mau lah😳😳"


G : "Iiiss kamu tuh gak bisa diajak romantis,,☹️☹️πŸ₯΄πŸ₯΄πŸ₯΄"


N : "Kok ngambek?? Bener kan, kalo mas peluk aku erat, terus gak dilepas, kan aku gak bisa napas, mati dong 😝😝😝"


G : "Tau ah,,, hilang hasrat mas untuk ngegombal. Ambyar semua gegara kamu. Niatnya tadi sayang-sayangan 😒😒😒"


N : " Mas tuh udah kaya ABG tau gak sih,,, pake ngerayu, pake ngegombal. Udah gak cocok mas,, inget umur...."


G : " kamu aneh sayang,,,, orang lain biasanya suka dirayu, kamu malah bikin jengah kalau dirayu.


N : " Emang siapa yang senang dirayu sama mas?? Mas biasa ngerayu cewe kaya gini?? Awas aja ya kalo berani macam-macam!!😑😑😑"


Gunadh tertawa senang membaca balasan pesan dari Nandita. Rupanya gadis itu posesif juga. Dan Gunadhyia suka itu.


G : " Bukan mas yang rayu, tapi dirayu 🀣🀣🀣"


N : " Gak lucu!!!"


N : "Kalau mas mau sama aku, cukup hanya aku. Jangan ada yang lain, aku gak suka. Sampai aku tau mas dekat sama wanita lain, jangan harap ketemu aku lagi!!"


G : "Uuuhhh takut....."


G : " Gak pernah ada di benak mas, buat nyari yang lain. Cukup kamu, hanya kamu, selamanya kamu. Wanita lain selain kamu, hanya Mira. Selamanya,,,,."


Merona pipi Nandita membaca pesan Gunadh.


'aaaak kenapa aku jadi begini?? Rasanya kaya diterbangkan,,,. Kok jadi lebai gini sih akuuu' Nandita senyum-senyum sendiri sambil memeluk ponselnya. Hingga ia tertidur dengan ponsel masih di tangannya.


"Kak,,,, kak Dita banguuuun....!"


Tumben sekali Malikha bangun terlebih dahulu, biasanya dia yang paling susah membuka mata.


"Kenapa dek?? Masih ngantuk kakak tauuuu"


Nandita enggan membuka mata, ia malah berbalik membelakangi Malikha.


'Kenapa sih kakak,, gak biasanya dia males begini' gumamnya


Malikha langsung ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kebiasaan gadis itu bila libur sekolah, berarti libur mandi pagi.


"Lho kakak kamu mana Kha?? Kok tumben duluan kamu ke dapur??" Tanya bunda yang tengah sibuk membuat sarapan pagi.


"Belum bangun Bun,,, masih ngantuk katanya."


"Ooohhhh..." Bunda tidak melanjutkan ucapannya. Mungkin Nandita masih lelah, pikirnya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Gunadh datang meminta air minum.


"Pagi Tante,, Malikha,, boleh minta air minum?? Yang di kamar habis" Ucapnya dengan senyum menawan.


"Eehh kak Gunadh udah bangun,,. Mau air hangat apa air dingin??"


"Yang hangat aja Kha,, masih pagi soalnya." Sahut Gunadh, sambil matanya melirik kesana-kemari.


"Pasti nyari kak Dita ya,,,, dia masih molor tuuuh, tumben banget dia malas begitu" tebak Malikha


"Kecapekan mungkin dia, apalagi kemarin begadang" sahut Gunadh santai


Alis dua perempuan di dapur itu berkerut.


"Kok tahu kalau kak Dita begadang??" Tanya Malikha


"Aaahh,,, oohh itu kemarin aku liat dia online sampai tengah malam" Gunadh gugup sendiri jadinya.


'Kenapa bisa keceplosan ya,,,' Gunadh merutuki kebodohannya sendiri.


"Oohhhh kakak kemarin chating sampe malem yaaaa,,,,." Malikha yang selama ini jarang bicara dengan Gunadh, kini sudah mulai berani.


"Kha,,,," sang bunda memotong ucapan anaknya. Merasa tidak enak hati, Malikha terlalu kepo dengan urusan orang lain.


"Mas udah bangun??" Suara dari belakang punggung Gunadh mengagetkan sang empunya, begitu juga Malikha dan bunda, ikut menoleh.


'Selamaaat,,' batin Gunadh berkata


"Udah ngopi??" Sambung gadis itu lagi??


"Ini minta air hangat sama Tante, kalau baru bangun mas jarang minum kopi." Terang Gunadh


"Tuh dengerin, ingat, biar tau nanti kebiasaan suami." Mulut Malikha kembali bersuara


Bunda yang ada di sampingnya mencubit lengan sang anak, sementara Nandita dan Gunadh jadi salah tingkah.


"Ta,, ajak nak Gunadh duduk di ruang tamu aja. Nanti kalau sarapan nya udah siap, bunda panggil." Akhirnya sang bunda memberikan perintah, membuyarkan kecanggungan yang tercipta.


"Mas,,, jam berapa nanti baliknya??" Tanya Nandita, setelah mendaratkan pantatnya di sofa.


"Mmmm paling siangan. Kamu gak ikut balik sama mas aja sekalian??"


"Yaaa siapa tau,, kasihan sama pacarnya nyetir sendirian."


"Iiisssh pacar,, aneh aku dengernya,,." Nandita tersenyum geli.


Mereka memang pacaran, tapi entah kenapa Nandita merasa asing dengan sebutan itu. Dia lebih senang menyebutnya dengan kedekatan spesial.


"Lah kan memang kita pacaran,,,. Lalu apa dong sebutannya?? Calon suami??" Goda Gunadh, membuat pipi Nandita memerah.


"Kak,, kata Dimas besok sore ada tuh pesanan kakak." Malikha berteriak dari dapur, gadis itu mendapat pesan dari laki-laki yang disukainya


"Sini dek kalau ngomong,, jangan teriak-teriak!!" Suara Nandita tidak kalah besar


Gunadh tidak tahan, menarik rambut sang gadis.


"Gaya nasehatin adiknya jangan teriak, kamu tadi ngapain?? Berbisik??" Omel gunadh


Mata Nandita melotot, paling kesal kalau rambutnya ditarik-tarik.


"Jangan suka tarik rambut, kenapa sih mas... Lagian dia di dapur, gimana aku gak teriak. Kalau suaraku kecil, mana dia dengar nanti."


Malikha datang, menghentikan perdebatan mereka.


"Ini kak,,, kata Dimas, kemarin ada yang pesan dendeng sama urutan, kakak mau berapa?? Biar sekalian disiapkan."


"Mmmm berapa ya?? Mas mau gak??" Tanya Nandita pada Gunadh.


"Apaa?"


"Dendeng sama urutan,, dijamin enak kak.... Itu, makanan laris manis bangeeeeet" Malikha menjawab seraya berpromosi.


"Berapa sekilonya??"


"Biasanya sih dia jual urutannya 150 ribu, dendeng 130 ribu, nanti deh aku minta harga khusus untuk kakak."


"Jangaaaan!!"


Kompak Nandita dan Gunadh menjawab.


Alis Malikha berkerut, 'kompak bener' batin gadis itu.

__ADS_1


"Jangan ditawar dek,, biarkan mereka mendapat untung. Kita bukan hanya beli barang dagangannya, tapi juga menghargai kerja kerasnya." Kata Nandita lagi.


"Hhhmmm baiklah,,,. Jadi mau berapa ini??" Tanyanya lagi.


"Kakak setengah kilo, mas Gunadh berapa??" Tanya Nandita pada Gunadh.


"Mas satu kilo aja, nanti kalau suka bisa order lagi kan??" Tanyanya pada Malikha.


"Bisa kok...." Jawab Malikha. Kemudian gadis itu kembali ke dapur membantu sang bunda, sambil memainkan ponselnya melanjutkan orderan pada Dimas.


"Kalau sudah ready, aku kirim ke rumah mas ya pake ekspedisi." Terang Nandita.


"Ok,, kamu atur aja. Antar langsung juga boleh,," Gunadh memainkan alisnya.


"Boleh,,,, sampai aku balik ke kost, paling sisa plastiknya doang,,." Jawab Nandita sambil tertawa.


"Kak,,,, sarapan dulu,, habis itu bawain punya ayah ke kandang!!" Kembali Malikha teriak.


"Iiisssh anak itu,,,." Geram Nandita.


"Sssttt udah,, yuk sudah ditunggu." Gunadh menarik tangan Nandita.


Setelah menyantap menu sarapan yang dibuat oleh sang bunda, Nandita menyiapkan sarapan untuk dia bawa ke kandang ternak sang ayah.


Pak Darma tidak bisa ikut sarapan, sebab baru beberapa hari mendatangkan ayam petelur. Jadi saat ini sedang sibuk-sibuknya mengurus kebutuhan ternaknya. Hal itu sudah biasa, bila ada ternak yang baru datang, beliau akan memantau perkembangannya hingga beberapa Minggu, baru setelah itu bisa lebih santai, bisa melepas ke pekerjanya.


"Aku antar ya sayang,,." Gunadh mengikuti langkah Nandita.


"Mas istirahat aja, nanti kan mau perjalanan jauh."


"Gak apa,,, aku pengen punya waktu lebih banyak sama kamu."


"Hhhhmmm ya sudahlah...."


Setelah berpamitan pada sang bunda, mereka pergi mengendarai motor yang biasa bunda Santi pakai.


Gunadh merasa hidupnya penuh warna saat mengenal Nandita. Gadis ceria, cuek, namun dewasa dalam menghadapi masalah. Memiliki rasa toleransi yang tinggi. Tidak jarang ia mengalah, tapi bisa juga ia berubah tanpa belas kasih, pada orang yang sudah menyakitinya.


Gunadh menginginkan sosok seperti Nandita. Dia yakin, hidupnya akan lebih terarah bila Nandita jadi pendampingnya. Gadis itu, bisa mengambil sikap tanpa takut akan dihina, akan disalahkan, atau takut akan dibenci. Selama menurutnya benar, dia akan tetap melangkah. Tapi dia juga bukan gadis arogan, yang apapun keputusannya harus dituruti. Dia tetap melibatkan orang lain, mendengar pendapat orang lain untuk beberapa hal.


"Kamu bahagia sayang??" Tanya Gunadh memecah kesunyian


"Maksud mas??"


"Kamu bahagia gak ada aku di samping kamu??"


Nandita tersenyum manis.


"Mmmm gimana ya mas?? Biasa aja kayanya,," Ucap Nandita membuat Gunadh menelan kecewa.


Laki-laki itu diam, bukan kalimat itu yang dia ingin dengar, tapi dia tidak bisa memaksa maunya pada Nandita bukan??


"Becanda sayang,,,, jelas aku bahagia, kalau gak mana mau aku deket sama kamu" Ucap gadis itu lagi.


Gunadh tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipinya. Untuk pertama kali kata sayang terucap dari bibir Nandita untuknya.


Mengambil tangan sang kekasih, agar melingkarkan di pinggangnya. Perjalanan mereka terasa singkat menuju kandang ternak pak Darma.


🌟🌟🌟


Setelah makan siang, Gunadh pamit. Kembali ke kota tempat dia tinggal. Rasanya enggan untuk pergi, namun tidak mungkin dia tinggal lebih lama lagi. Begitupun Nandita, rasanya rindu bahkan sebelum Gunadh pergi. Aaaahh cinta selalu membuat orang kehilangan logika.


"Kamu hati-hati ya mas,,,. Jaga kesehatan, jangan lupa makan, jangan lupa kasih perhatian ke Mira." Ucap Nandita saat mengantar Gunadh menuju mobilnya.


"Kamu juga, jaga hati, jaga kesehatan jangan lupa selalu berkabar."


"Iiss kamu lebay tau gak, kaya bocah beneran.... Tiap pacaran mas kaya gini ya??"


Tanya Nandita


"Gak sih,,,, cuman sama kamu doang aku begini,,." Jawab Gunadh dengan tatapan mata seakan enggan berpisah.


"Gombal,,,,. Udah aahh,, hati-hati mas." Nandita mendorong tubuh Gunadh, menuju pintu mobil.


"Gak dapat pelukan atau ciuman gitu??" Goda duda beranak satu itu lagi.


"Maaas,,,, udah aah godain aku terus." Wajah Nandita merona merah. Gunadh tertawa senang melihat reaksi sang kekasih.


Akhirnya mereka berpisah untuk sementara waktu.


Lambaian tangan dari Nandita, mengiringi laju mobil Gunadh yang perlahan menjauh dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2