Nanditha

Nanditha
KEDATANGAN TANTE DEWI dan TANTE SARI


__ADS_3

Melihat reaksi lawan bicaranya tidak baik-baik saja, Safira dan Mira segera berpamitan. Menyisakan kakek Cakra yang kondisinya semakin buruk.


Tante Dewi dan Tante Sari yang melihat ayah mereka tidak baik-baik saja, segera melarikan kakek Cakra ke rumah sakit.


Kebencian semakin mengakar kuat di hati Tante Dewi pada Nandita. Sebab karena keponakannya itu, hingga membuat kondisi sang ayah memburuk seperti saat ini.


"Bagaimana keadaan bapak saya pak dokter?" Tanya Tante Sari ketika dokter selesai memeriksa kakek Cakra di UGD.


"Pak Cakra sepertinya sedang tertekan Bu. Di usia beliau yang sudah sepuh, harusnya kalain menjaganya bukan hanya dalam hal makanan, tapi juga emosinya. Jangan biarkan beliau mendengar berita yang mengejutkan, hal-hal yang bisa membuat tekanan darahnya naik secara tiba-tiba. Bukankah kalian sudah tahu sejak awal, seperti apa riwayat penyakit beliau?" Sesal dokter tersebut, yang memang sejak awal menangani kakek Cakra.


"Maaf dokter, ini diluar dugaan kami. Kedepannya kami akan lebih memperhatikan bapak." Ucap Tante Dewi. Ingin rasanya ia berteriak dan memaki saat ini.


Karena orang lain, mereka kena imbasnya.


"Ini semua karena Nandita! Mbak benci sekali sama anak sok hebat itu. Kalau aja dia ada di rumah saat ini, rasanya mbak ingin menjambak dan menceburkannya ke comberan." Ucap Tante Dewi penuh umpatan.


"Bapak juga sih mbak, nyayangin anak itu melebihi apapun sekarang. Coba kalau hubungan mereka tetap seperti dulu, mungkin mendengar berita begini bapak akan baik-baik saja." Keluh Tante Sari.


Mereka masih menahan kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa.


Setelah suami tante Dewi datang membawa pakaian ganti mereka, Tante Dewi ijin akan ke rumah ayah Darma.


"Mas, tunggu bapak di sini. Aku sama Sari mau ke rumah mas Darma dulu sebentar." Sebenarnya ia bukan meminta ijin, tapi lebih kepada perintah untuk suaminya agar tetap tinggal.


"Kamu lama di sananya?"


"Kenapa memangnya? Aku mana tahu lama atau enggaknya. Kan liat situasi di sana seperti apa."


"Aku gak bawa uang, dan belum makan juga. Kalau kamu lama, aku harus menahan lapar, begitu?" Sahut suami Tante Dewi.


Tante Dewi mendengus kesal. Meski ia bisa mengendalikan suaminya, namun ia juga harus memenuhi kebutuhan laki-laki itu.


"Ini. Nanti minta tolong perawat buat jagain bapak kalau mas mau beli makan." Dengan ketus Tante Dewi bicara sembari mengulurkan selembar uang berwarna pink.


Setelah itu, ia segera berlalu dengan Tante Sari di belakangnya tanpa berucap sepatah kata pun.


Tiba di rumah ayah Darma, suasana sepi menyapa mereka.


"Maas ..."

__ADS_1


"Mas Darma ..."


Panggil keduanya ketika menyadari rumah itu dalam keadaan terkunci.


"Mbak Santi ... Keluar kalian. Urus masalah kalian sendiri, jangan bawa-bawa ke rumah kami. Aku gak akan biarkan kalian hidup tenang kalau sampai terjadi apa-apa sama bapak. Mba Santi ...! Mas Darma ...!" Teriak Tante dewi lagi ketika tak kunjung mendapat jawaban.


"Maaf Bu, ada apa ya? Kenapa ribut-ribut di sini?" Tanya seorang tetangga yang merasa terganggu dengan ulah mereka.


"Saya lagi cari saudara saya." Sahut Tante Dewi dengan wajah judesnya.


"Sepertinya pak Darma sama Bu Santi masih di peternakan." Ucap tetangga yang lain, yang juga mendengar mereka berteriak.


"Kira-kira masih lama gak ya dia pulang? Kami harus segera bicara sama dia." Tanya Tante Sari. Meski mereka bersaudara, sangat jarang mereka berkomunikasi. Bahkan Tante Dewi dan Tante Sari hampir tidak pernah datang ke rumah sang kakak.


"Ada apa Bu?" Kini tetangga yang lain mendekat ke arah mereka.


Tante Dewi yang masih sangat kesal, juga melihat peluang untuk menjatuhkan sang kakak tiri, tidak melepas kesempatan tersebut begitu saja.


"Saya hanya ingin memberi tahu saudara saya itu untuk menjaga anak-anaknya dengan lebih baik dan lebih ketat lagi." Ucap Tante Dewi tanpa basa basi.


Tentu ucapannya menimbulkan bermacam reaksi dari mereka yang mendengarnya.


"Maksudnya gimana Bu?" Tanya ibu itu.


Mereka masih menyimak. Adalah hal biasa bagi orang-orang, mendengar gosip lebih menarik dibanding mendengar ceramah ahli agama.


"Saat ini bapak saya sedang dirawat di rumah sakit. Kalian tahu apa sebabnya? Itu semua gara-gara Nandita. Perempuan sok lugu itu rupanya adalah seorang pelakor. Tadi ada wanita yang datang membawa anaknya menemui bapak dan menceritakan semuanya. Bapak yang sangat sayang pada Nandita, tentu saja terkejut dan kondisinya menjadi drop." Ucap Tante Dewi dengan suara yang keras.


"Astaga masa Dita begitu sih?"


"Gak nyangka ternyata anak itu bisa berbuat hal tercela begitu."


"Rupanya dia simpanan suami orang? Pantas saja sering pergi ke luar negeri."


Omongan tetangga di sekitar kediaman ayah Darma, persis seperti ribuan lebah yang sedang berpindah rumah.


Berdengung, menciptakan kebisingan, namun tidak jelas suara milik siapa.


"Sudah lama saya ingin ke sini, menyarankan kepada saudara saya agar lebih waspada menjaga anak. Bahkan si Bianca, hingga kini belum pernah pulang. Anak macam apa yang bertunangan di tempat laki-lakinya tanpa ada pendampingan dari keluarga perempuan? Wajar saya sebagai tantenya menghawatirkan mereka. Agar jangan sampai menjual diri demi bisa memenuhi gengsi."Ucap Tante Dewi lagi.

__ADS_1


Seolah memberikan gambaran kehidupan Bianca, yang selama ini dijalani.


"Ada apa ini ngumpul depan rumah Ikha?" Malikha yang baru tiba, merasa bingung saat banyak orang berkumpul di rumahnya sementara penghuni rumah sedang berada di luar.


Tatapan orang-orang sungguh berbeda dirasakan Malikha. Merasa cemas ia segera menghubungi sang ayah. Sementara orang-orang masih berkumpul di depan rumahnya.


'ini pada ngapain sih di sini? Pada gak punya kerjaan apa ya di rumahnya, senggang banget sampe nunggu di depan rumah orang.' Pikirnya.


Tidak berselang lama, ayah Darma dan bunda Santi datang. Mereka pun terkejut sebab rumahnya di datangi banyak orang.


"Ada apa ini?" Tanya bunda Santi ketika baru turun dari boncengan.


"Mbak, ajari anak kamu Giman berprilaku yang baik biar gak bikin malu keluarga." Sambar Tante Dewi.


"Apa maksud kamu?" Bunda Santi terkejut mendapat lontaran kalimat dari Tante Dewi.


"Gara-gara kelakuan anak kamu, bapak sekarang dirawat di rumah sakit. Kalau sampai terjadi apa-apa sama bapak, aku gak akan maafin kalian." Ucap Tante Dewi menggebu.


"Dewi ...!" Ayah Darma membentak sang adik.


"Masuk!" Perintah ayah Darma, sembari mengkode Malikha agar membuka pintu rumah.


Tante Dewi dan Tante Sari masih bergeming. Sementara para tetangga yang melihat wajah ayah Darma begitu menakutkan dengan cepat membubarkan diri.


"Masuk saya bilang!" Ucap ayah Darma dengan suara tegasnya.


Sementara dua adik tirinya mencoba melawan rasa takut yang perlahan merayap dalam hati mereka.


"Apa masalah kalian hingga menimbulkan keributan di rumah saya?" Tanya ayah Darma lagi ketika mereka sudah berada di dalam rumah. Tante Dewi dan Tante Sari berdiri di dekat pintu. Mereka menolak untuk duduk di sofa ruang tamu.


Setelah bisa menguasai diri, Tante Sari angkat bicara.


"Tadi ada perempuan yang datang menemui bapak, mengatakan kalau dia adalah istri pertama pacarnya Nandita. Dia bilang, Nandita merebut suaminya hingga kini mereka berpisah ----"


"Aku gak perduli ya mas, anak kamu mau jadi apa dan hidup seperti apa di luaran sana. Toh kalian mendukung tindak tanduk mereka selama ini. Yang gak bisa aku terima adalah dampak dari perbuatan memalukan mereka, bisa mencoreng nama baik keluarga! Ayah begini gara-gara anak kalian! Ini baru Nandita, bagaimana nanti kabar Bianca?" Tante Dewi memotong ucapan Tante Sari.


"Apa maksud kamu?" Tanya bunda Santi.


"Gak usah nutup-nutupin deh mba, kelakuan adiknya aja yang masih bisa dikontrol seperti itu. Apa kabar kakaknya yang hidup di negeri orang tanpa ada pengawasan? Entah sudah berapa laki-laki yang merasakan tubuhnya." Sinis Tante Dewi. Mulut wanita itu memang sangat pedas. Namun sayang tidak tahu tempat dan keadaan.

__ADS_1


PLAK


BRUK


__ADS_2