
Tak terasa sudah satu Minggu berlalu sejak pertengkaran Nandita dan Gunadh yang membuat komunikasi mereka terputus hingga kini.
Sibuk dengan kegiatan masing-masing, dan ego yang sama-sama tinggi untuk memulai. Jadilah hubungan mereka mengambang tanpa kepastian.
"Ta, kok akhir-akhir ini aku gak pernah liat kamu jalan sama Gunadh? Bahkan kamu sama sekali gak pernah bahas soal dia lagi. Kalian ... Baik-baik saja kan?" Tanya Candra hati-hati.
Ya gadis itu saat ini sedang duduk santai di ruangan Nandita, sementara sang pemilik ruangan masih sibuk memeriksa nilai ulangan para siswa.
Nandita diam sejenak, menggaruk alisnya yang tiba-tiba merasa gatal.
"Gak ada masalah kok. Kebetulan lagi sama-sama sibuk aja sama kerjaan masing-masing." Ucapnya dengan mata kembali fokus mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban yang dipegangnya.
Ia masih menutupi masalah yang sedang menimpa hubungan dirinya dan Gunadh.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja." Ucap Candra tulus.
Nandita hanya menanggapi ucapan Candra dengan senyum. Dalam hati ia berdoa, semoga semua akan baik-baik saja.
Nandita juga hanyalah manusia biasa. Ada kehampaan yang mendera ketika mengingat hubungannya dengan Gunadh yang tak lagi sama. Ada kecewa juga rindu yang membelenggu hatinya disaat bersamaan.
"Oya Ta, liburan nanti kamu mau kemana? Kita jalan-jalan ke Bali yuk." Lanjut Candra setelah lama mereka saling diam.
Sebelum menjawab ajakan Candra, Nandita merapikan kertas ulangan para muridnya terlebih dahulu. Tugasnya memeriksa sudah selesai.
"Aku pengen liburan ke luar Ndra. Udah aku rencanakan dari jauh. Hanya saja uangnya belum kekumpul. Kebetulan, kakek ada kasih aku jatah bulanan, jadi mimpi aku itu bisa segera aku wujudkan."
Kemarin Nandita sempat mengecek saldo ATM yang diberikan sang kakek padanya. Dan ia sangat terkejut, rupanya saldo tersebut nominalnya hampir seratus juta.
"Mau kemana? Barengan gimana? Sebelum aku nikah, pengen deh merasakan masa bebas untuk terakhir kalinya."
"Belum tahu, masih cari destinasi yang menarik dan murah." Ucap Nandita dengan senyum kuda.
Candra memutar matanya malas.
"Pastiin donk Ta, biar kita liburan bareng. Kita kan belum pernah liburan berdua."
"Ya nanti aku kabari." Nandita tidak terlihat antusias membuat Candra enggan bertanya lagi.
'Mungkin moodnya lagi gak bagus.' Pikir Candra.
"Ta, kalau kamu lagi sibuk, kapan-kapan aja kita keluarnya. Aku balik dulu ya." Candra merasa tidak enak.
Pasalnya ia mendadak datang ke tempat kerja gadis itu. Niat Candra ingin ditemani ke butik untuk melihat-lihat gaun yang kiranya cocok dijadikan inspirasi gaun pernikahannya kelak.
"Gak kok, ini udah selesai. Tunggu sebentar lagi Ndra. Aku juga suntuk pengen keluar."
__ADS_1
Tidak menunggu lama, akhirnya Nandita dan Candra keluar bersamaan. Hari ini tidak ada kelas, sebab ulangan umum baru saja usai.
Siswa-siswi bebas melakukan kegiatan yang mereka minati. Ada yang bermain basket, nongkrong di kantin, ada yang duduk di taman, ada juga yang memilih perpustakaan sebagai tempat menghabiskan waktu senggang. Mereka bebas melakukan aktivitas melepas penat setelah bergelut selama satu Minggu dengan ulangan penentu naik atau tidaknya mereka nanti.
Nandita dan Candra melangkah santai, sembari menikmati keriuhan yang tersaji di depan mata.
"Onty Dita ..." Sebuah suara terdengar samar membuat langkah Nandita terhenti.
"Kenapa Ta?" Candra bingung melihat Nandita tiba-tiba berhenti.
"Kaya ada yang manggil aku. Kamu gak dengar? Tuh ..." Nandita mengacungkan jari telunjuknya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, setelah sekali lagi mendengar suara yang kini semakin jelas.
"Itu anak tiri kamu." Tunjuk Candra ke arah lapangan basket, dimana Namira menjadi pusat perhatian. Gadis itu tidak lagi memakai alat bantu berjalan. Keriuhan yang tadi mendadak lenyap.
Alis Nandita berkerut, tanda tidak mengerti.
"Ada apa ya?" Tanyanya lebih kepada diri sendiri. Ia segera berjalan ke arah Namira berdiri.
Candra mengekor di belakangnya.
Setelah jarak antara dirinya dan Namira cukup dekat, gadis itu tiba-tiba berlutut dengan pelan.
Nandita terkejut, pasalnya Namira baru saja sembuh. Bahkan terakhir Nandita melihat gadis itu masih memakai tongkat penyangga.
"Mira. Kamu apa-apaan sih? Bangun ... Kaki kamu belum sembuh itu!" Nandita hendak mendekat, namun Mira menahannya dengan mengangkat tangan tanda berhenti.
Nandita mematung, namun dadanya berdebar lebih kencang. Bersyukur ada Candra di belakangnya yang segera memegang bahunya memberi kekuatan.
Wajah Nandita memerah. Malu, marah, kecewa menjadi satu. Tidak ia duga akan ada hari ini. Hari dimana dirinya dipermalukan di depan banyak orang.
"Ta ..." Bisik Candra.
"Apa yang kamu mau Mira? Kenapa kamu lakukan ini sama onty? Jangan membuat drama yang memalukan seperti ini. Kita obrolin di ruangan onty ya." Masih berusaha menahan perasaan yang bergejolak, Nandita menekan kalimatnya setenang mungkin. Meski tak ia pungkiri tangannya gemetar, dan dadanya bergejolak namun akal sehatnya masih mampu bekerja. Ia tidak ingin terpancing. Itu akan semakin merusak nama baiknya.
"Miss Dita pelakor kah?"
"Apa itu calon anak sambungnya Miss Dita ya"
"Gak nyangka ya Miss Dita setega itu rupanya."
"Gak mungkinlah Miss Dita begitu"
"Ini prank kah"
Banyak bisik-bisik yang di dengar Candra dari siswa yang berkerumun. Sementara Nandita sendiri, telinganya tiba-tiba berdengung dan tak mampu mendengar apapun karena gejolak emosi di hatinya.
__ADS_1
"Berhenti onty ganggu Daddy. Jangan lagi datang ke rumah. Onty tahukan, aku sangat merindukan mommy dan ingin hidup bersama kedua orang tuaku secara utuh. Kalau ada onty diantara kami, mommy dan Daddy gak akan bisa bersatu. Jadi please onty ... Tinggalkan Daddy. Biarkan kami bahagia, dengan onty gak muncul diantara kami lagi." Ucap Namira masih dalam posisi berlutut dan tangan dicakup kan di depan dadanya.
Nandita mematung. Ucapan Namira seolah menampar dirinya. Se egois itukah dia? Benarkah selama ini dirinya hanya orang ketiga penghancur kebahagiaan orang lain? Benarkah Gunadh ingin kembali pada masa lalunya?
Melihat Nandita tak bereaksi, Candra mengambil alih keadaan.
Ya berjalan dengan cepat. Begitu dekat dengan tubuh Namira Candra berjongkok mengangkat tubuh gadis kelas enam SD itu kemudian menatap Namira dengan tajam.
"Akting kamu hebat sekali. Kamu menghancurkan bukan hanya hati tapi juga harga diri Nandita. Kamu tahu, setelah ini pasti berita buruk tentang guru salah satu sekolah swasta terkenal akan menyebar di media sosial. Kamu melakukannya dengan baik, sangat baik. Entah apa motif kamu melakukan itu. Tapi jangan lupa, Nandita adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawa kamu dulu, jauh sebelum ia mengenal ayahmu. Jauh sebelum kamu bertemu dengan mommy kamu. Ia rela menghadapi bahaya demi melindungi gadis kecil sepertimu. Siapa yang menyangka, rupanya gadis yang ia selamatkan malah membuatnya tidak memiliki muka di depan orang banyak. Di depan murid-murid yang selama ini memandang kagum padanya, yang selama ini menghormatinya." Masih dengan tatapan menusuk, Candra melanjutkan kalimatnya.
" Jangan pernah menyesali perbuatanmu hari ini Mira. Karena apa yang kamu tanam hari ini, akan kamu tuai suatu saat nanti. Jika aku menjadi orang tuamu, aku akan sangat malu mengakui kamu sebagai anakku." Candra kemudian berbalik ke arah Nandita, melirik sekeliling begitu banyak mata menatap ke arah mereka. Ia mengajak gadis itu menjauh dari kerumunan. Nandita hanya menurut seperti orang linglung.
Setelah berjalan cukup jauh, dan sekitar sudah sepi, Candra mengajak Nandita duduk di pinggir sebuah kolam buatan yang sering dijadikan tempat belajar mengenal alam di sekolah tersebut.
"Ta," Candra menyentuh bahu Nandita dengan pelan. Mereka duduk berdampingan di sebuah kursi panjang di bawah pohon cempaka yang rindang.
Nandita menoleh, menatap sendu sahabatnya itu. Bersyukur disaat seperti ini, ia memiliki sahabat yang setia menemaninya.
"Makasih Ndra, Sorry kita gak jadi pergi." Kata Nandita
"Ya gak apa. Kapan-kapan aja kita ke sana. Lagian masih jauh kan acaranya." Kata Candra mengibur.
Mereka terdiam cukup lama. Sebelum Candra kembali bertanya.
"Ta ..." Candra diam, nampak ragu.
"Ya," Nandita menoleh, memastikan yang memanggilnya tadi adalah sahabat yang duduk di sebelahnya.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Maksudnya?"
"Ya selanjutnya. Apa yang akan kamu lakukan? Kejadian tadi dilihat banyak pasang mata. Pandangan miring terhadap kamu pasti akan banyak." Candra memberanikan diri bertanya, setelah melihat sahabatnya itu sudah lebih tenang.
Nandita tersenyum mendengar kekhwatiran sahabatnya.
"Gak ada yang harus aku lakukan. Jalani semua seperti biasa aja. Gak ada yang harus aku buktikan juga kan? Selagi itu belum mengganggu aku secara langsung, aku akan diam. Tadi aku hanya terkejut saja. Gak nyangka akan jadi seperti ini." Ucap Nandita dengan tersenyum miris.
"Kamu gak ada niat gitu ceritakan ini ke Gunadh?"
Nandita menarik nafas dalam. Kembali mengingat Gunadh, membuat dadanya terasa sesak. Rindu itu kembali muncul.
"Aku gak mau ganggu kesibukan dia. Biar sajalah." Ucapnya pasrah.
Ia merasa, Gunadh belum cukup percaya pada dirinya. Mengadukan masalah ini pada laki-laki itu juga beresiko membuat hatinya semakin terluka.
__ADS_1
"Kadang kita harus menghadapi sendiri setiap persoalan yang menghampiri. Karena kalau berekspektasi terlalu tinggi, takut nanti jadi sakit hati. Dalam hubungan kepercayaan itu penting bukan? Kalau menyangkut hal kecil saja, kadang masih suka berdebat, apalagi masalah besar?" Nandita seolah mencurahkan isi hatinya.
Meski tidak dengan gamblang ia bercerita, namun Candra dapat menyimpulkan ada krisis kepercayaan dalam hubungan mereka berdua.