
"Cieeee yang bentar lagi mau jadi nyonya Gunadh, boleh kayaknya tiap liburan kak Diya dapet harga spesial dari adik ipar," ucap Nindya menjawil dagu Nandita.
"Nggak sekalian minta gratiss gitu, kak? Lumayan kan, uangnya bisa dipake beli yang lain." Sahut Biyanca.
"Boleh juga tuh ... Eh tapi nanti kalau semua minta gratis, apa nggak bangkrut usaha orang."
"Iih kakak memang nggak tau, mas Gunadh itu kan kaya rayaaa Hotelnya banyaaaak." Sahut Malikha membentangkan tangan selebar mungkin, dengan wajah kagum.
"Kok kamu tau?" Refleks Nandita bertanya. Sebab ia tidak pernah menceritakan seberapa banyak aset yang dimiliki calon suaminya, pada siapapun. Lalu dari mana sang adik mendapat informasi itu?
"Cieeee ...." Ketiganya kembali kompak menggoda.
"Apaan sih, nanya gitu doank, ciaa cie ciaa ciee aja." Kesal Nandita, tidak dapat menyembunyikan wajah malunya.
"Diiih gitu aja ngambek." komentar Malikha lagi.
"Kak ...." Malikha membuka suara, setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Mmm"
"Gimana rasanya kawin?" Tanya Malikha membuat bukan hanya Nandita, namun dua kakaknya yang lain ikut menoleh.
"Kenapa? Nanya gitu doank, mata kalian udah horor banget liatin akunya." Ucap gadis itu, mengangkat bantal yang sejak tadi dipangkunya.
Nandita melempar kapas bekas, yang baru saja ia gunakan untuk membersihkan wajahnya. Merasa gemas dengan tingkah Malikha yang sok polos.
"Kamu nanya apa tadi?" Tanya Biyanca dan Nindya kompak.
"Gimana rasanya mau nikah ...." Sahut Malikha mengulang pertanyaannya.
"Bukan itu tadi pertanyaanmu. Kamu bilang gimana rasanya kawin kan?"
"Emang apa bedanya?" Tanya Malikha polos.
"Ya bedalah. Nikah itu proses sakral pengesahan suami istri baik secara agama maupun negara. Sementara kawin itu ...." Biyanca tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Hayoo apa ...." Tuntut Malikha dengan wajah menantang. Dia berniat menjebak Nandita dengan pertanyaan itu, namun rupanya Biyanca yang terpancing.
"Proses bikin keturunannya." Sahut Nindya menyelamatkan Biyanca. Biyanca pun membenarkan ucapan sepupunya dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Eh tapi, diantara kalian udah ada yang pernah?" Nindya mengacungkan jari telunjuk, ke arah tiga sepupunya secara bergiliran.
"Apaan, jangan asal nuduh ...." Biyanca sontak bersuara paling keras, membuat yang lain menoleh ke arahnya.
Nindya menatap curiga ke arah sang sepupu.
"Bi," Biyanca tersipu mendapat tatapan menyudutkan dari Nindya.
"Jangan bilang kamu ...."
"Naaaa Kak Bian naaaa" Malikha heboh menunjuk ke arah kakak sulungnya itu.
"Waah berita besar ini," ucapnya penuh kegirangan. Sementara Biyanca yang tersudut berusaha bersikap tenang, meski otaknya tengah mencari jawaban yang tepat untuk membela diri.
"Kha ... Diem! Ini rahasia." Ucap Nindya.
"Rahasia apa?" Tiba-tiba dari arah pintu, terdengar suara bunda Santi, yang muncul bersama Tante Niar, mengejutkan mereka semua.
"Ini ... Kak Bian m m mm" mulut malikha dibekap oleh Nindya yang memang duduk bersebelahan dengannya.
"Jangan ngomong sembarangan, nanti mereka marah." Bisik Nindya pada si bungsu.
Malikha menganggukkan kepala tanda setuju.
"Inget, besok jam empat kalian udah harus bangun semuanya. Dita juga, nggak boleh begadang, biar besok wajahnya nggak lesu." Ucapnya lagi.
Omelan Tante Niar, menyelamatkan mereka dari pertanyaan bunda Santi soal apa yang mereka bahas beberapa saat lalu.
"Iya ...." Kompak mereka menjawab. Meski sudah sama-sama dewasa, bahkan Nindya sudah menikah dan punya anak, namun sikap mereka setiap kali bertemu tetap seperti anak ABG. Dan pertemuan langka ini mereka jadikan ajang reuni, mengulang keseruan dimasa dulu.
🌟🌟🌟
Waktu baru menunjuk angka 05.00, namun di rumah ayah Darma sudah terlihat kesibukan selayaknya orang yang punya acara besar.
Ada yang sibuk di dapur, ada yang sibuk menyapu di halaman yang sudah terpasang tenda, dan ada yang sudah bersiap membersihkan diri di kamar mandi.
Nandita yang merasa gelisah, tidak bisa tidur nyenyak sejak kemarin. Terlebih, kak Nindya, kak Biyanca, juga Malikha yang tiba-tiba berada di kamarnya kemarin, menggodanya hingga larut malam.
Hingga bunda Santi dan Tante Niar datang, menghentikan keisengan mereka semua.
__ADS_1
"Ta ... Udh bangun belum?" Suara bunda Santi terdengar dari luar.
"Udah Bun ... Tunggu sebentar." Nandita bangkit lalu membuka pintu kamarnya.
Bunda Santi menatap wajah putrinya yang sebentar lagi akan melepas masa lajang.
"Kenapa Bun?"
"Boleh bunda masuk?"
Nandita mengangguk, membiarkan wanita yang melahirkannya itu masuk ke dalam kamar yang masih berantakan.
"Sini nak." Bunda Santi menepuk kasur yang ia tempati, meminta Nandita untuk duduk di sampingnya.
Nandita merasa aneh, tidak biasanya sang bunda bersikap lembut seperti itu. Bundanya adalah wanita tegas dan sedikit bar-bar. Sangat jarang menunjukkan sisi lembut selayaknya ibu idaman pada umumnya. Namun begitu baik Nandita maupun anak-anaknya yang lain merasa bangga pada sosok bunda Santi.
Nandita menurut, duduk di samping wanita yang melahirkannya itu. Menatap wajah sendunya dengan tatapan bingung.
"Ta, sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang. Tanggung jawab kamu bertambah sekarang. Bukan hanya mengurus diri sendiri, tapi kamu juga harus bisa mengurus suami. Terlebih, ada Namira yang menjadi anak sambung kamu. Kamu juga harus memberi perhatian padanya." Ucap bund Santi memulai pembicaraan.
"Iya Bun."
"Jaga diri kamu baik-baik di rumah orang. Panjangkan sabar dan ikhlasmu, karena setiap rumah tangga pasti ada ujiannya. Jangan pernah mengadu tentang keburukan suamimu, selama dia tidak melanggar hal prinsip yang kalian sepakati." Nandita kembali menganggukkan kepala, tanpa menjawab satu kata pun.
"Sering-sering tengok ayah bunda ke rumah, ya nak. Jangan lupakan kami," suara bunda Santi mulai serak. Wanita paruh baya itu sejak tadi menahan tangisnya, namun kali ini ia tidak berhasil. Titik-titik kristal bening itu meleleh membasahi pipinya.
"Bun ..." Nandita memeluk tubuh bundanya. Ia pun ikut menitikkan air mata.
"Aku masih tetap anak ayah sama bunda. Meskipun aku udah nikah, nggak mungkin aku abai sama kalian."
"Tapi prioritas kamu bukan lagi kami, nak. Kamu punya keluarga baru, yang harus kamu utamakan kepentingannya." Nasihat bunda Santi bukan hanya untuk Nandita, namun seolah mengingatkan dirinya sendiri, jika ia sebagai orang tua harus sadar, putrinya sudah memiliki kehidupan baru dimana ia harus siap menjadi yang ke dua.
"Kamu nggak bisa sesuka hati datang kemari, tanpa ijin dari suami kamu. Bila seorang lajang, yang disebut rumah adalah orang tua.
Tapi ketika ia menjadi istri, yang disebut rumah adalah suami dan anak-anaknya." Tutur bunda Santi mengingatkan Nandita.
"Jaga nama baik ayah dan bunda, dengan tidak membuat kami malu ya nak. Doa kami selalu menyertai kamu." Bunda Santi mengusap pelan kepala Nandita, yang terbenam dalam pelukannya.
Ini mungkin adalah pelukan terakhir mereka, dengan status Nandita yang masih lajang.
__ADS_1
Setelah ini, putri kecilnya akan menjadi istri orang, akan menjadi milik orang.
Bunda Santi hanya bisa berharap, semoga sikap Gunadh selama ini tidak akan berubah. Akan selalu menganggap dirinya dan sang suami sebagai orang tuanya sendiri.