Nanditha

Nanditha
PERTENGKARAN PERTAMA


__ADS_3

Kalau kamu ragu, bagaimana kita akan merangkai ikatan dengan tanpa adanya prasangka??


Pagi-pagi sekali bunda Santi sudah sibuk menyiapkan berbagai macam hidangan. Ada ayam kecap, rawon, ikan teri putih yang digoreng dengan bumbu pedas manis, ada sambal bongkot(kecombrang) dengan campuran kacang gubah( kecambah kacang merah yang digoreng hingga garing). Dan menu spesialnya bubur cina (bubur beras yang di campur dengan pindang dan bumbu spesial).


Katanya semua menu itu untuk menyambut kedatangan teman SMA nya yang sudah lamaaa tidak bertemu. Tante Ebby, saat ini tinggal di Istanbul Turki dengan suaminya yang memang asli orang sana.


Bunda Santi sengaja menyiapkan makanan, yang katanya adalah makanan favorit mereka dulu.


"Dita,,,,, cepetan mandinya,. Sebentar lagi mereka datang." Sang Bunda sepertinya sudah tidak sabar bertemu dengan sahabat lamanya itu.


"Yaaa Bun,,, sabaaar,,," Nandita lama-lama kesal juga pada sang ibu. Namun mana bisa ia berkata kurang ajar pada wanita yang sudah melahirkan nya itu??


Nandita yang baru saja rebahan, setelah membantu kerempongan sang bunda di dapur, urung mengambil ponselnya. Ia segera ke kamar mandi dan bersiap.


Sebenarnya Nandita sudah lupa dengan wajah Tante Ebby itu, sudah puluhan tahun mereka tidak bertemu. Namun rupanya komunikasi sang bunda tetap lancar, itu sebabnya pertemanan mereka hingga kini masih terjaga.


Pukul 09.00 Tante Ebby datang bersama suaminya.


"Santi,,,, aduuuh kangen banget aku,,,,." Sepertinya memang mereka sahabat sejati, heboh nya sama meski kini tampilan Tante Ebby sudah berbeda.


Mereka berpelukan, saling melepas rindu. Bunda Santi sampai mengeluarkan air mata haru.


"Kamu cantik bangeeet sekarang By,,,." Bunda memandang sahabat yang amat dirindukannya.


"Ajak masuk dong tamunya bund,,, liat itu Murat kepanasan diluar lama-lama." Pak Darma yang sedari tadi memperhatikan drama keduanya memecah suasana haru.


"Eeeh ya sampe lupa,, masuk yuk. Murat silahkan, maaf ya rumah kami sederhana." Bunda mengajak Tante Ebby dan suaminya masuk. Namun sebelum itu, ayah yang memang sudah kenal dengan keduanya, memberi salam dan memeluk om Murat dengan hangat.


"Ini siapa" tanya Tante Ebby begitu melihat Nandita dan Malikha datang membawa teh dan camilan.


"Ini Nandita, nah yang ini Malikha." Tunjuk sang bunda sembari menunjuk satu persatu anak gadisnya.


"Waaaah sudah besar dan cantik-cantik ya. Terus yang paling besar mana? Siapa itu namanya,,?"


"Biyanca jarang di rumah. Dia kerja di maskapai Tiger air."


"Waaaaahhh hebat anak kamu Ta,, trus yang suka ikut silat yang mana?"


"Ke duanya ini suka silat, tapi kalau yang udah sering ikut kejuaraan Nandita. Kalau Malikha baru tertarik setelah kakak nya gak terlalu aktif."


Mereka ngobrol kesana kemari. Sambil bernostalgia tentang masa muda.


Tante Ebby memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan. Namun keduanya tidak ada yang ikut ke Indonesia.


Hingga sore mereka baru pamit. Setelah selesai menikmati hidangan yang disiapkan bunda Santi. Bahkan om Murat sempat ikut melihat usaha ayah Darma di peternakan.


"Santi makasiii ya,,,, nanti kamu main dong ke Turki,,, ajak anak-anak kamu. Bila perlu kita jodohin salah satunya." Ajak Tante Ebby.


"Kamu ini, ngajakin aku ke negara suamimu gampang bener, udah kayak mau ngajak beli bakso di gang sebelah." Ucap bunda


"Ya kalau ada niat pasti bisa,,, apalagi dua anakmu udah berpenghasilan. Sekali-kali liburan lah,,,, uang juga ga bakal di bawa mati kan."


"Ya nanti semoga bisa. Yang punya mimpi mau ke Eropa itu si Dita, dia sampe bela-belain jadi pengasuh anak biar bisa kumpulin duit untuk itu." Terang bunda

__ADS_1


"Waaaaahhh hebat kamu nak,,, kemauan yang keras, dan usaha yang maksimal, pasti mimpi kamu akan terwujud. Iya nanti kita saling berkabar lewat medsos aja ya. Siapa tau nanti beneran kita bisa ketemu di rumah Tante"


"Ya Tante,,,, tapi aku ga bisa bahasa Turki, aku bisanya cuman bahasa Inggris saja." Terang Nandita ragu.


"Ga papa,,,,, anak-anak sama suami Tante udah Tante ajarin bahasa Indonesia kok. Bahkan bahasa daerah kita juga mereka bisa sedikit-sedikit. Tapi kamu tetap harus belajar juga bahasa asing lainnya ya. Duuuh Tante gemes deh sama kamu, imut begini, udah lulus kuliah aja." Tante Ebby tidak tahan untuk mencubit pipi Nandita.


Nandita hanya tersenyum menanggapi tingkah sahabat bundanya itu.


Setelah tamu kehormatan sang bunda pergi, barulah Nandita bernafas lega. Sebab ia bisa bebas di kamar sekarang.


Nandita merebahkan badannya di kasur, sembari memainkan ponselnya. Ia lupa menghubungi Gunadh sedari pagi.


Benar saja, sudah ada puluhan panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk sejak tadi.


Nandita segera menggeser 'panggil' pada layar pipih itu.


Baru dering pertama suara laki-laki yang akhir-akhir ini dirindukannya menggema.


"Kemana aja dari tadi?? Sibuk banget ya sampai ga bisa kabarin aku barang se menit??!" Suara yang meninggi, pertanda sang empunya sedang emosi.


"Ya maaf, kenapa sih emosi gitu?? Aku matiin aja teleponnya kalau kamu bentak-bentak!" Nandita jadi terpancing juga.


"Tuh kan kamu salah malah ikut marah!!"


"Kan aku udah minta maaf. Kamu yang nyolot duluan. Bisa kali nanya nya baik-baik! Udah ya aku matiin, aku juga capek."


Sambungan terputus. Niat hati ingin melepas rindu, malah jadi berdebat. Nandita yang sudah lelah memutuskan untuk tidur.


Hingga waktunya makan malam, Nandita belum juga bangun. Sang bunda yang sudah bosan memanggil, akhirnya masuk ke kamar sang anak. Dilihatnya Nandita masih betah dengan selimut di tubuhnya.


"Bentar lagi Bun,,, duluan dah makannya. Sisain aja Dita sedikit" Ucap gadis itu yang masih enggan membuka mata.


"Kamu kenapa sih tumben banget malas begini?? Tuh ponsel kamu bunyi. Cepetan bangun, angkat itu siapa tau penting." Perintah sang bunda.


Nandita sudah tahu siapa yang terus mengganggunya sejak tadi, namun ia biarkan saja hingga nanti berhenti sendiri.


Namun karena sekarang ada bunda di sini, tidak mungkin kan ia memperlihatkan pertengkaran?


"Mas aku lagi sama bunda, nanti aja telpon nya." Ketiknya pada aplikasi hijau di layar ponselnya.


Setelah itu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sang bunda pun kembali ke ruang makan, dan menyiapkan semua untuk keluarganya.


🌟🌟🌟


Gunadh sangat kesal, pekerjaan kantor menumpuk, belum lagi urusannya dengan Safira yang ingin segera bertemu Mira. Dan Nandita sedari pagi sulit dihubungi. Sungguh Gunadh ingin memasang cctv di tubuh Nandita, agar ia bisa mudah mengawasi gadisnya.


Hingga sore barulah Nandita menghubunginya, itupun hanya sebentar, sebab Nandita keburu ngambek dan mengakhiri percakapan.


Arya yang melihat sang tuan moodnya rusak menjadi serba salah. Sebab ia juga kena imbasnya. Semua yang dilakukan salah. Laporan yang di bawa juga urung ia serahkan pada sang majikan, karena jika sampai ada yang keliru, sudah pasti Gunadh akan tambah murka.


"Arya aku harus segera ke rumahnya Dita, bila perlu aku akan menikahinya segera."

__ADS_1


Ucapnya pada sang asisten.


Arya tentu saja merasa terkejut ia mencoba berbicara sangat hati-hati dengan sang tuan.


"Jangan terburu-buru tuan, pikirkan langkah terbaiknya. Maaf, tapi ingat tuan, ini bukan yang pertama untuk tuan."


"Tapi aku gak bisa begini terus Arya, Nandita itu harus aku ikat agar dia bisa aku awasi."


"Apa tuan sudah membicarakan ini padanya?? Apa dia mau segera menikah?"


"Aku sudah membicarakan tentang hubungan ku dan dia pada ayahnya. Dan ayahnya tidak ada masalah. Bukankah lebih cepat lebih baik?"


Satya tidak menyangka, Gunadh akan jadi ceroboh begini. Masa mau menikah hanya gara-gara gadisnya tidak berkabar sehari?


Berlebihan sekali. Namun Satya juga paham, Gunadh yang pernah dikhianati pasti tidak ingin kehilangan untuk ke dua kalinya.


"Coba saja bicarakan baik-baik pada nona Nandita tuan. Tapi kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya tuan jangan terlalu membatasi gerak geriknya. Dia gadis mandiri yang sudah terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri, tidak mudah merubah kebiasaan, agar setiap hal dilaporkan pada orang lain tuan. Jadi kalau tuan terkesan mengawasi atau mengontrol aktivitasnya, bukankah dia malah akan merasa terganggu?"


Saran dari Satya ada benarnya juga. Mungkin sebaiknya Gunadh yang harus menekan egonya. Mencoba bicara baik-baik pada gadisnya agar tidak sering terjadi kesalahpahaman.


Malamnya, Gunadh kembali menghubungi Nandita. Kali ini gadis itu mau mengangkat panggilannya.


"Ya mas,,," Suaranya datar, Gunadh bisa merasakan gadisnya masih marah.


"Kamu masih marah sama aku?"


"Gak,,, kenapa?"


"Itu suara kamu masih kaya orang marah. Aku minta maaf ya, aku gak ada maksud untuk keluarin suara tinggi sama kamu. Aku hanya khawatir, sejak pagi kamu gak angkat telepon dan jawab pesan aku. Kamu tau kan, aku pernah dikhianati, aku takut itu terjadi lagi."


"Mas,,,, aku gak pernah pacaran sebelumnya, gak pernah terikat selain sama orang tua aku sendiri. Aku belum terbiasa apa-apa harus kasih tau kamu dulu. Dan aku juga bukan mantan istri kamu, aku gak sama seperti dia. Jangan banding-bandingkan aku dengan nya mas, aku gak suka."


"Ya maafin aku sayang,,." Ucap Gunadh terbawa suasana intim meski hanya lewat udara.


"Iish jangan panggil sayang gitu aah, geli aku dengernya." Nandita yang tidak terbiasa dengan sebutan sayang dari lawan jenis, malah tertawa membuat suasana romantis hilang seketika.


"Dita,,, jangan pernah pergi dari aku ya. Sungguh aku takut kehilangan kamu."


Wajah Nandita memerah seperti tomat. Syukur obrolan mereka lewat sambungan telepon, andaikan bertemu langsung, habis sudah ia diledek oleh duda itu.


"Aku akan berusaha mas. Ajari aku cara untuk membahagiakan kamu mas. Sayangi aku seperti apa adanya diriku, jangan memintaku jadi yang lain, karena aku gak suka dan gak akan pernah bisa. Begitu juga aku, aku akan belajar menerima kamu dengan apa adanya dirimu sekarang mas. Dengan emosinya kamu, ngambekannya kamu, dinginnya kamu, perhatiannya kamu, dewasanya kamu. Aku akan belajar mencintai itu semua.


Pintanya pada laki-laki pertama yang berani menemui orang tuanya.


^_________^^_________^^_________^


Pertengkaran pertama bagi Nandita, mungkinkah nanti akan ada pertengkaran yang lebih dahsyat??


Jangan lupa dukung Nanditha terus yaaaa


Tinggalkan jejak kalian di kolom komentar.


Saran yang membangun sangat aku harapkan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam sehat dari penulis receh


Nia sumania


__ADS_2