
Sejak percakapan terakhir mereka membahas soal Safira, tidak ada obrolan lagi diantara keduanya.
Sekitar pukul 14.20, mereka baru masuk wilayah perkotaan.
"Mau kemana dulu sekarang?"
Gunadh akhirnya membuka suara.
"Anter ke kostan Satya mas,"
"Ngapain ke sana?" Tanya Gunadh heran.
"Mau ambil motor. Tadi aku udah bilang kalau mau pinjam motor dia." Terang Nandita.
"Buat apa?" Gunadh
"Kok buat apa? Kan mas tahu aku kesini untuk apa. Oh ya sekalian kirim alamat Safira ya." Tanpa beban Nandita bicara.
"Aku yang antar." Putus Gunadh.
"Nggak mas, aku sendiri ke sana." Nandita berkeras.
"Ditemani atau nggak sama sekali." Putus Gunadh.
"Mas ..." Gadis itu kehabisan kata-kata.
"Ini masalah pribadi aku sama dia mas, jangan membuat rumit keadaan." Nandita melembutkan suara. Berusaha menekan egonya agar Gunadh luluh.
Gunadh meminggirkan mobilnya.
"Kamu masih nggak percaya sama mas?" Laki-laki itu menatap dalam mata Nandita, setelah mobil berhenti.
"Harus gimana biar kamu percaya? Mas nggak akan melarang kamu melakukan apapun pada dia. Asal itu tidak membahayakan kamu."
Nandita diam. Sulit bagi gadis itu membuat Gunadh mengerti.
"Ini nggak sesederhana itu mas. Mas nggak akan bisa mengerti jalan pikiran aku."
"Jelasin Ta, biar aku bisa ngerti. Sudah cukup kita salah paham karena kita nggak saling terbuka."
Nandita tersenyum miris. Kenapa baru sekarang? Dari dulu Nandita ingin mereka saling terbuka, namun laki-laki itu masih tetap sama.
"Sudah nggak ada waktu mas. Kini bukan saatnya bicara soal kita ---"
Drt
Drt
Suara ponsel Nandita menghentikan perdebatan.
"Mas, Satya udah nunggu di kostnya. Antar aku sekarang, atau aku cari ojol aja." Nandita mengancam.
Dengan berat hati Gunadh melajukan mobilnya kembali.
"Minta Candra temani kamu Ta. Aku nggak tenang biarin kamu ke tempat Safira sendiri." Putus Gunadh akhirnya.
Nandita pun mengalah kemudian menghubungi sahabatnya.
"Ok. Aku otw ke kostan Satya." Sahut Candra ketika Nandita meminta ditemani ke suatu tempat.
"Mana alamatnya mas?" Nandita bersiap mencatat di ponselnya.
Gunadh memberi alamat mantan istrinya.
__ADS_1
Sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya mobil Gunadh terparkir di halaman kost Satya.
Di sana sudah ada Satya dan Candra yang menunggu mereka di teras.
"Ta ..." Candra menghambur memeluk sahabatnya yang beberapa bulan tidak ia temui.
Nandita pun membalas pelukan itu tidak kalah eratnya.
Setelahnya, giliran Satya yang memeluk Nandita. Namun hanya sesaat, sebab Gunadh yang berdiri tepat di belakang Nandita menatap dirinya dengan tajam.
"Tumben mau pinjam motor, mau kemana Ta?" Satya mengungkapkan rasa penasarannya.
"Mau ada urusan sebentar. Pinjam ya, sekalian pinjam Candra juga untuk temenin."
"Mau kemana sih? Aku nggak mau kalau kamu nggak jelasin." Kini giliran Candra yang keberatan.
"Anter aku ke apartnya Safira. Ada yang mau aku obrolin sama dia." Ucap Nandita kalem.
"Ooh ok. Mau sekarang? Apa mau minum dulu?" Tawar Candra lagi.
"Nggak usah. Jalan sekarang aja. Takut keburu sore nanti." Nandita yang tadi sempat duduk sebentar, kembali bangkit.
"Yuk ..." Nandita berlalu terlebih dahulu. Tanpa mengucap apapun pada laki-laki yang masih duduk menyimak obrolan dua wanita tersebut.
Setiap kali teringat Safira, amarah gadis itu seakan ingin meledak. Rasa marahnya pada wanita itu begitu besar.
🌟🌟🌟
Gunadh dan Satya mengantar kepergian Nandita dan Candra. Keduanya masih berdiri di tempat terakhir mereka melambaikan tangan.
Gunadh menarik nafas dalam dan berat. Satya melirik laki-laki di sampingnya.
"Kita ngopi dulu yuk." Ajaknya.
Satya masuk, membuat dua cangkir kopi kemudian meletakkannya di atas meja kecil.
"Kenapa mukanya ditekuk begitu?" Ledek Satya. Ia tahu Gunadh masih belum berhasil mendapatkan hati Nandita.
"Entah kenapa rasanya Nandita berubah sekarang. Sejak masalah itu, ia semakin sulit diraih. Keras kepala, dingin, saya takut dia semakin menjauh." Keluh Gunadh.
"Menurutmu, apa Nandita sudah tidak mencintai saya lagi?" Gunadh sepertinya benar-benar bingung, hingga ia mau berbagi cerita dengan Satya.
"Kalau menurutku, bukan dia nggak cinta lagi. Tapi ini seperti bentuk rasa kecewanya pada sikap kamu yang seakan tidak mempercayainya. Dia merasa kamu lebih membela masa lalumu, padahal setiap masalah yang terjadi pasti bersumber dari mantan istrimu itu. Dia merasa kamu tidak tegas dan masih plin-plan."
"Dia salah mengerti. Saya nggak pernah membela Safira."
"Tapi dia menilainya begitu. Rasa kecewa itu yang membuatnya membentengi diri agar kamu tidak bisa lagi menyakitinya. Itu kenapa dia jadi ketus dan dingin. Agar rasa cinta yang besar tidak mengalahkan logikanya. Sehingga dia mudah dilukai lagi."
Satya sudah seperti seorang psikolog.
"Saya rasa cintanya tidak sebesar itu. Kalau dia cinta, kenapa nggak mempertahankan? Kenapa justru memilih bekerja ke luar negeri?" Gunadh tersenyum sinis.
Satya hanya bisa menggelengkan kepala. Rupanya Gunadh belum mengenal Nandita dengan baik.
"Susah aku jelasin ke kamu. Kalau menurutku, sebaiknya kamu biarkan saja dia berangkat kali ini."
"Nggak bisa gitu donk ..." Gunadh tidak terima. Kenapa Satya justru menyarankan hal yang ingin ia gagalkan.
"Bagaimana kalau dia justru benar-benar jatuh cinta pada orang lain?" Berang Gunadh.
Satya menarik nafas dalam. Kalau bukan karena dia tahu Nandita sangat mencintai laki-laki di depannya ini, rasanya malas menasehati Gunadh. Lebih baik Nandita dengan orang yang lebih dewasa cara berpikirnya.
"Jangan selalu menekannya, menuntut semua sesuai keinginan kamu. Dia tidak akan berpikir dua kali untuk benar-benar menjauh dari kamu. Justru dengan ini, kau tunjukkan padanya kalau kamu mendukung dia. Memberi kepercayaan penuh padanya. Dan yakinkan dia kalau kamu akan setia di sini. Bereskan semua masalah seperti yang dia inginkan." Nasihat Satya.
__ADS_1
Gunadh diam, sepertinya laki-laki itu mulai mengerti maksud Satya.
"Baiklah. Akan saya coba seperti saranmu. Makasih ya." Ucap Gunadh akhirnya.
Ternyata ada gunanya juga ia berbagi cerita dengan Satya. Ia jadi mendapat solusi untuk masalahnya dengan Nandita.
Ia merasa sedikit lebih baik sekarang.
Sejenak mereka sama-sama diam.
"Eh ada masalah apalagi sih? Wajah Dita kaya memendam kemarahan gitu." Baru Satya ingat dengan sikap Nandita yang tidak seperti biasanya.
"Kamu tahu dia sedang marah?" Gunadh mengerutkan dahinya.
"Nandita itu pintar mengatur emosi. Dia akan tetap ceria, meski sedang ada masalah. Tapi kalau dia sudah diam, menjawab singkat, itu artinya dia sedang menahan kemarahan yang siap meledak." Terang Satya lagi.
Satya tersenyum tipis melihat raut cemburu Gunadh.
"Aku kenal dia bukan setahun dua tahun, jadi tahu kebiasaan dia seperti apa."
"Safira sangat keterlaluan. Wajar kalau Nandita sangat marah pada wanita itu." Tatapan Gunadh menerawang.
Satya membenarkan posisi duduknya. Tertarik dengan cerita Gunadh.
"Masih soal fitnah itu?" Satya
Gunadh mengangguk, lalu kemudian menggeleng.
"Lebih dari itu yang ia lakukan. Kamu tahu? Rupanya semua rencana Safira itu dibantu oleh sepupunya Nandita yang bernama Tasya."
Satya tidak terkejut. Sudah menduga sebelumnya.
"Aku kenal cewek itu. Dia lebih muda dari Nandita. Nggak terkejut juga kalau dia ikut terlibat. Siapa lagi yang membocorkan semua informasi tentang Nandita kalau bukan orang terdekatnya? Cewek itu memang selalu iri kayanya sama Dita."
Gunadh mengangguk.
"Lanjut." Pinta Satya.
"Setelah kejadian di rumah waktu itu, entah apa yang terjadi. Tasya mencoba bunuh diri dengan memotong urat nadinya. Setelah di desak rupanya itu ada hubungannya dengan Safira."
"Apa yang terjadi?" Satya masih penasaran.
^_________^^_________^^_________^
Makasiih manteman yang masih mau setia membaca kisah Nandita dan Gunadh 🙏🙏🙏. Maafkan kalau masih banyak kekurangannya ya ...
Oh ya sambil nunggu aku up lanjutan kisah mereka, aku mau rekomendasi karya teman aku nih. Semoga kalian terhibur dengan karyaku juga karya temanku ya ....
Sehat selalu untuk kita semua 😘😘
***
Khayra menikah dengan Ferdinan hanya karena memenuhi sebuah perjanjian perjodohan yang telah dilakukan oleh kedua orang tua mereka yang telah bersahabat sejak lama.
Tapi malang tidak dapat dihindar, pada malam pengantin mereka, justru Khayra malah menghabiskan malam pertamanya dengan pria lain. Saat terbangun dia malah mendapati tidur dengan barra mantan kekasihnya
yang ternyata mantan kekasihnya.
Meski status mereka sudah berubah, namun Barra tetap memiliki rasa kepada kakak iparnya itu. Sampai suatu saat Ferdinan menyadarinya dan malah dengab semen-mena memberi tahu tentang rasa terlarang itu kepada seluruh keluarga. Padahal Ferdinan sendiri sedang menjalin kasih dengan adik tiri Khayra.
Akankah Barra dan Khayra bisa mendapatkan bukti perselingkuhan Ferdinan, dan akankah bukti itu nantinya menjadi kunci bagi Khayra dan Barra untuk bersatu?
__ADS_1