
Gunadh memejamkan mata, setelah melihat tayangan di ponsel Mira yang masih dipegang bik Asih.
"Sayang ..." Panggil Gunadh ragu.
"Kenapa Dad ... Kenapa harus dia yang jadi mommy aku?" Ucap Mira dengan tangis pilu.
"Ng-nggak gitu sayang ... Ini pasti rekayasa. Pasti ada orang yang sengaja sebar video fitnah begini ...."
"JANGAN BOHONG LAGI DADDYYY!!! AKU UDAH TAU SEMUANYA, SEMUA ITU BENAR! AKU UDAH PERNAH LIAT DENGAN MATA KEPALA AKU SENDIRI!"
BOOM!!!
Ledakan amarah terpendam Namira, menghempas tubuh Gunadh ke palung terbawah. Bukan karena dorongan Mira yang membuatnya terhenyak, namun ucapan putri kecilnya yang membuat pria itu seolah dipukul balok besar. Seperti terjatuh dari ketinggian, tubuh Gunadh terhuyung.
"Apa ..." Suaranya nyaris tak terdengar. Tubuhnya melemas, dengan tatapan liar penuh kebingungan.
"Aku udaaah tauu dad ..." Suara Mira melemah. Namun masih tersirat luka di matanya.
"Hari itu, tepat saat dia berulang tahun, aku datang. Membawa kue dan sepasang kalung untuk aku kasih ke dia. Satu kalung untukku, dan satu lagi untuk dia. Aku ingin merayakan ulang tahun terakhirnya, karena Daddy larang aku untuk ketemu dia lagi. Aku sengaja nggak bilang mau ke apartemennya. Biarlah ini jadi kejutan manis yang akan selalu kami kenang, itu harapanku. Tapi apa yang aku lihat?" Air mata Mira mengalir lebih deras, dengan kasar gadis itu menghapus dengan lengannya.
"Di depan mata aku, dia ngelakuin itu Dad ...! Bertigaaaa ... Huuuhuuuu" Mira menangis pilu.
"Aku malu dad ... Malu sama semua orang ... Malu sama Daddy, sama onty Dita, sama temen-temen ... Rasanya aku ini menjijikkan!" Mira menundukkan kepala, meremat bajunya dengan keras, hingga buku jarinya memutih.
Bik Asih yang duduk di lantai samping kursi roda Mira, mengelus lengan nona kecilnya. Menyalurkan rasa sayang yang tidak dapat ia ucapkan dengan kata.
"Non ..." Hanya ucapan itu yang keluar dari bibirnya.
Betapa mirisnya nasib Mira. Tumbuh dengan kasih sayang pincang, berharap suatu hari akan ada keajaiban yang mampu mengembalikan sosok mommy dalam hidupnya. Lalu, harapan itu dimanfaatkan oleh orang yang membawanya melihat dunia, merubahnya menjadi manusia tak punya hati. Menyakiti, memfitnah, melukai orang yang selama ini tulus di sampingnya. Kemudian ditinggalkan, kesepian, terasingkan. Dunianya kosong.
Diantara riuh tawa, hidupnya hampa.
Bukan Mira yang mau menjadi sosok tak punya hati, hingga tega menyakiti. Hanya saja ia tidak punya panutan dalam hidupnya, yang bisa mengajarkan ketulusan, kasih sayang, dan pengorbanan. Seperti seekor kuda yang hanya tahu berjalan, ia memerlukan kusir yang bisa menuntunnya melewati kubangan, agar tidak terjatuh dalam lumpur. Tapi ia tidak punya itu.
"Miraaaaa ..."
__ADS_1
Suara riang dari arah luar mengejutkan ketiganya.
"I-itu sepertinya teman-teman non sudah datang. Bibik liat dulu ya non ..." Ucap bik Asih sembari bangkit dengan tertatih.
Selepas kepergian bik Asih, Gunadh kembali mendekati anaknya. Ia bingung harus berbuat apa, namun satu yang pasti ia harus bisa meyakinkan sang putri kalau semua akan baik-baik saja.
"Sayang, maafkan Daddy karena nggak bisa jadi orang tua yang sempurna untuk kamu. Tapi percayalah, Daddy sangat menyayangimu nak ... Maaf kalau Daddy keras dalam mendidik kamu, melarang kamu bertemu dengan wanita yang sudah melahirkanmu. Semua itu karena daddy takut kamu semakin terluka, bila tahu kenyataan yang selama ini coba Daddy tutupi. Tapi rupanya kamu lebih hebat dari yang Daddy duga. Tuhan tunjukkan ke kamu langsung, apa yang daddy tutupi." Sembari menangkup kedua pipi putrinya, Gunadh berkata dengan suara bergetar.
"Kamu anak yang kuat, kamu hebat, sehingga diusia kamu yang masih belia, tuhan mengujimu dengan cobaan yang begitu dahsyat. Tapi kamu jangan khawatir, Daddy akan selalu ada, menjadi rumah ternyaman kamu mengadu. Jangan pernah merasa sendiri, sesibuk apapun Daddy, kamu tetap akan jadi prioritas utama. Kita hadapi ini sama-sama ya ..." Ucap Gunadh.
Mira hanya bisa tersenyum tipis, dengan air mata yang masih setia mengalir di pipi putihnya.
Meski rasa takut dan malu menguasai hatinya, Mira harus bisa melewatinya.
"Non ... Temen non disuruh masuk apa non temui di luar?" Bik Asih datang lagi.
"Suruh ke sini aja bik ... Sekalian buatin minum ya bik ..."
"Iya non,"
"Daddy keluar dulu ya, nikmati waktu kamu sama mereka." Gunadh mengecup kening putrinya dengan sayang, lalu keluar memberi Mira waktu berkumpul dengan teman-temannya.
Tiga sahabat Mira pun masuk ke kamar yang Mira tempati.
Mereka menghabiskan waktu berempat, dengan cerita khas remaja. Hingga satu kalimat keluar dari bibir temannya yang sejak tadi diam.
"Mira, kamu udah liat belum video mommy kamu yang lagi viral?" Celetuk Firda tiba-tiba.
Deg
Deg
Senyum ketiganya memudar. Bahkan wajah Mira kini terlihat pucat.
"Da! Ngomong apaan sih?" Gayatri membentak sahabatnya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Aku kan cuman nanya? Memangnya salah?" Firda emosi.
"Ngapain nanya begitu?"
"Iya biar tau aja. Kata mama aku, mommynya Mira lagi viral."
Mira menunduk memainkan jari tangannya.
"Ra ... Nggak usah dipikirkan ya, kan kamu tau sendiri kalau Firda suka ngomong sembarangan." Gayatri mencoba menenangkan.
"Nggak apa-apa kok, kan aku harus terbiasa dengan pertanyaan begitu?" Mira tersenyum getir.
"Ra, kamu punya komik baru nggak? Boleh aku pinjam ya ..." Meilin mengalihkan topik obrolan.
"Ada, tapi di kamar atas." Sahut Mira menoleh ke arah sahabatnya.
"Boleh aku ke sana?"
"Minta bik asih anter ya, kamar aku masih berantakan soalnya." Namira mencoba menghadirkan senyum di bibirnya.
Meilin mengangguk, kemudian menarik tangan Firda untuk mengikuti langkahnya keluar kamar. Gadis itu harus membuat perhitungan dengan sahabatnya ini.
^_________^^_________^^_________^
Sedih banget jadi Mira ya 😥😥😥
Gadis belia yang mestinya menikmati masa remaja dengan canda dan tawa, harus dewasa sebelum waktunya.
Tunggu kelanjutan kisahnya lagu, besok ya ...
sembari menunggu, intip novel karya penulis lain juga yuk
Love is blind. Sebuah quote paling terkenal dan mungkin sesuai untuk Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di benua Eropa. Dia telah jatuh cinta kepada wanita bersuami yaitu Florecita Mia. Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu.
Adriano memilih untuk menghilang dan menutup masa lalunya. Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan sang wanita pujaan. Bedanya, saat itu Mia telah menjadi janda. Wanita yang dulu pernah mencoba menghabisi nyawanya, kini menghadap dan meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.
__ADS_1