
Hari sudah sore ketika mereka meninggalkan rumah kakek Cakra.
"Ngobrolin apa tadi sama kakek?" Nandita yang penasaran sedari tadi, akhirnya bertanya.
Gunadh tersenyum. Melirik sekilas ke arah sang kekasih.
"Kepoo." Ejeknya
"Ish. Mas pasti ngomong macem-macem sama kakek ya?"
"Gak ... Cuman bilang kalau cucunya pengen cepat-cepat dilamar aja. Gak sabar mau jadi istri mas. Jadi ya mas sebagai calon suami yang baik menyanggupi dan segera meminta restu sama kakek. Terus kakek bilang, secepatnya harus dilakukan pernikahan itu."
Nandita melotot mendengar cerita Gunadh.
"Mas. Kok ngomongnya gitu sih? Mas fitnah namanya. Mas ih, balik lagi dulu. Aku mau ngomong sama kakek. Gak bisa dipercaya. Malah mau aja aku, pas mas bilang, mas aja yang ngobrol sama kakek." Sungut Nandita
Gunadh tertawa, ia mengacak kepala Nandita dengan gemas.
"Becanda sayang ..."
"Gak lucu." Nandita merajuk dengan tangan terlipat de diapun dada.
"Uluuhh calon istri mas ngambek nih?" Gunadh mencolek dagu Nandita, dengan mata tetap fokus ke depan.
"Mas sama kakek cuman ngobrol biasa aja. Sekalian menyampaikan niat mas untuk serius sama kamu. Kata kakek, dia udah tahu dari ayah. Dan berharap agar kita segera menikah. Mumpung beliau masih sehat katanya."
Wajah Nandita bersemu merah.
"Udah siap jadi nyonya Gunadh?" Gunadh menatap Nandita sekilas dengan tatapan mesra.
"Ehm ... Mesra-mesraannya ditunda dulu bisa gak? Masih ada anak di bawah umur ini." Suara dari belakang mengagetkan pasangan yang tengah dimabuk asmara itu.
"Gak liat situasi banget, mentang-mentang udah dapat restu." Malikha melanjutkan omelannya.
"Cerewet kamu dek. Kakak turunin di sini kamu, biar dipungut sama pemulung."
Balas Nandita kesal bercampur malu.
Sesungguhnya dia lupa, kalau ada Malikha yang ikut di dalam mobil, hingga dia senang saja saat Gunadh menggodanya.
"Coba aja kak, kalau mau dimarah sama bunda." Tantang Malikha
"Dasar tukang adu."
"Biarin."
Perdebatan yang tanpa ujung, bila mereka berkumpul.
Mereka bertiga akhirnya diam. Malikha sibuk kembali dengan ponselnya. Mengacuhkan Nandita yang sedari tadi menatapnya dengan kesal.
"Ada gak mas tempat tukar tambah adek? Mau deh aku tambahin lagi sejuta ato dua juta."
Mata Malikha langsung melotot, kesal dengan ucapan sang kakak.
"Maksud kakak apa?" Suara Malikha naik satu oktaf.
"Sssst udah ... Ikha ga usah didengerin omongan kakak kamu. Dia lagi pms kayanya, mangkanya sensi terus dari tadi." Gunadh mencoba melerai.
"Oh ya, gimana kabar usaha kamu? Sasa gimana? Bisa bantuin kamu?"
"Lancar mas. Sekarang mba Sasa yang urus. Aku tinggal cek pembukuan aja."
"Hebat kamu, masih muda udah bisa berbisnis." Puji Gunadh
"Aku bukan pemil ..."
"Dek ... Kamu telepon bunda dulu. Bilang kita langsung ke rumah om." Nandita memotong ucapan Malikha. Malikha yang hampir keceplosan menutup mulutnya
__ADS_1
"Ya kak." Ucap gadis itu tanpa banyak protes.
Perjalanan mereka masih sekitar satu jam lagi.
Jarak antara rumah kakek Cakra, dan orang tua bunda Santi cukup jauh.
"Dek, tadi pas kamu bilang bunda kasi salam itu, kenapa muka mereka pada pucat gitu?" Pertanyaan Nandita memecah keheningan.
"Kakak gak tahu ya, waktu ini mereka sempat dikasi shock terapi sama bunda?" Malikha memperbaiki duduknya, bersiap untuk berita yang dibawa.
"Gak. Emang ada kejadian apa?"
Nandita menoleh sekilas ke arah sang adik di bangku belakang.
"Pas berita kak Bian dilamar bule itu, kan di rumah sempat heboh. Tante-tante kesayangan kak Dita itu bikin gosip. Katanya kak Bian gak pulang karena udah berbadan dua. Terpaksa nikah di sana tanpa didampingi orang tua. Pake jelek-jelekin ayah. Katanya gak becus urus anak."
"Bunda tahu dari mana kalau mereka yang sebarin?" Kini Nandita membalikkan sedikit tubuhnya, agar bisa menghadap sang adik di belakang.
"Kan tetangganya kakek yang jualan di pasar, langganannya ayah. Biasa ambil ayam sama telur di ayah. Paman itu yang tanya ke ayah. Pas kebetulan bunda bawain makan siang ke peternakan. Didengar lah sama bunda. Tanpa ba-bi-bu bunda langsung berangkat kak. Ayah gak bisa cegah." Malikha bercerita, dengan mata berbinar. Seolah yang ada dalam kisah itu adalah tokoh Superwoman favoritnya.
"Terus-terus ..." Kini Nandita juga ikut antusias dengan kisah aksi sang bunda.
"Aku gak tahu lengkapnya. Tapi semenjak kejadian itu, tiap kali aku sama bunda nengokin kakek, mereka kaya takut gitu. Beda kalau aku sama ayah yang ke sana. Mereka pasti dapat saja celah untuk nyindir atau mojokin. Mangkanya aku nanya sama bunda, terus bunda ceritain deh tuh kejadian itu. Kata bunda, tiap kali mereka bikin kesal, atau ngomong yang nyelekit, cukup bilang dapat salam dari bunda. Eeh ternyata itu ampuh." Malikha seolah tidak percaya dengan ucapan sang bunda.
Nandita mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Dalam hati ia berkata 'bunda memang hebat. Membunuh tanpa melukai'
🌟🌟🌟
Tiba di rumah keluarga dari sang bunda, mereka bertiga sudah disambut dengan senyum dan sapaan hangat.
Gunadh berpikir, ini diluar ekspektasinya. Ia mengira keluarga bunda Santi akan bersikap sama dengan keluarga ayah Darma. Secara dari segi kedudukan, mereka lebih pantas rasanya untuk sombong.
"Calon manten tambah berbinar aja. Beda ya auranya." Olok Tante ayu, yang berprofesi sebagai bidan. Sementara yang lain hanya tersenyum menimpali.
"Siapa namanya ini?" Kini perhatian Tate Ayu beralih ke arah Gunadh.
Mereka masih berdiri di halaman rumah, tempat Gunadh memarkirkan mobilnya.
"Mba, ajak masuk dulu tamunya. Kasihan berdiri lama." Paman Nandita yang bernama Alan berkata.
"Ah ya, sampai lupa. Hayoo masuk dulu. Kita ngobrol di dalam saja."
Mereka memasuki rumah dengan beriringan. Sementara om Damar melangkah paling belakang, tepat di belakang Gunadh.
Paman Nandita yang berprofesi sebagai polisi itu memperhatikan dari atas sampai bawah penampilan laki-laki yang akan memperistri keponakannya.
Setelah semua berkumpul di ruang tamu, para wanita dari keluarga tersebut bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Tan, ini aku ada bawa sedikit kue." Nandita menyerahkan tas yang berisi berapa box kue.
"Waah kenapa repot-repot?" Tante Sarah, istri dari Om Alan berkata seraya mengambil tas tersebut.
"Makasih ya ..." Ucapnya lagi kemudian berlalu.
Setelah kepergian para Tante, Malikha melihat satu persatu wajah omnya. Merasa takut dengan tatapan om Damar, ia segera melarikan diri.
"Permisi semuanya, Ikha mau bantu-bantu di dapur ya." Ucapnya yang membuat mata nandita melirik tajam.
Tidak perduli dengan lirikan maut sang kakak, Malikha segera berlalu.
Dalam hati dia tertawa melihat wajah canggung Nandita. Sementara Gunadh tetap terlihat tenang tanpa ada rasa takut dan kecanggungan sedikitpun. Ia sudah terbiasa menghadapi banyak orang dengan berbagai macam karakter.
"Udah berapa lama kalian kenal?" Om Damar yang terlihat paling serius wajahnya, memecah keheningan.
"Ada kurang lebih dua tahun om." Jawab Nandita
"Terus pacaran?"
__ADS_1
"Sekitar satu tahunan."
"Keluarga dia udah tahu? Kamu pernah ke rumah keluarganya?" Kembali om Damar bertanya.
"Mas, kamu nanya sama ponakan udah kaya mengintrogasi tersangka aja. Liat mukanya Dita udah pucat begitu." Om Putra yang memiliki agen travel mencoba mencairkan suasana.
"Dia gak akan terintimidasi dengan pertanyaanku Put, kan sudah biasa menghadapi tekanan. Kamu lupa dia siapa?" Antara memuji atau menguji pernyataan om Damar itu?
Selama ini, meskipun hubungan antara dirinya dengan sang kakak tidak terlalu dekat, namun Damar dan yang lain selalu memperhatikan tingkah laku keponakannya. Mencoba mendekati sang kakak, namun bunda Santi terlalu keras wataknya.
Tidak berselang lama, Tante Ayu dan yang lain datang membawa minuman beserta teman-temannya.
Mereka menikmati hidangan sembari bercerita.
"Jadi kapan rencana pernikahan kalian?" Tanya om Alan.
"Masih lama om, nunggu kak Bian dulu. Aku juga, masih banyak mimpi yang ingin aku kejar."
"Memangnya kalau kamu sudah menikah, kamu gak akan bisa mencapai mimpi kamu?" Pancing om Damar
"Bukan gak bisa om, tapi pasti prioritas aku udah bukan diri sendiri lagi. Harus memikirkan suami, anak, dan hal lainnya. Jadi sebelum nikah aku mau capai dulu keinginan-keinginanku itu." Terang Nandita
Om Damar tersenyum mendengar penuturan sang keponakan.
"Memang apa mimpi yang belum kamu capai? Sudah punya pekerjaan, usaha, prestasi, apa lagi yang ingin kamu kejar?"
"Ada pokoknya, nanti om pasti tahu." Jawabnya.
Sesungguhnya, mimpi yang Nandita maksud adalah mimpi masa kecilnya. Saat melihat salju dan pemandangan negara-negara di Eropa sana melalui layar tv. Namun ia sadar, orang tuanya tidak mungkin mampu mengabulkan mimpinya itu. Jadi dia harus berjuang lebih keras agar mimpi itu terwujud. Bersyukur, usaha yang dijalani membuat ia memiliki tabungan yang cukup untuk mewujudkan mimpinya. Ia berharap sebelum menikah, keinginan itu sudah terwujud.
"Ya sudah. Tapi yang pasti, kamu sudah berani membawa seorang lelaki ke rumah, sudah memperkenalkannya pada keluarga, itu artinya hubungan yang kalian jalani bukan untuk main-main lagi. Jaga diri baik-baik, jaga kehormatan keluarga juga. Meskipun om tahu, kamu sudah cukup dewasa untuk bisa memilah mana yang baik dan tidak." Nasihat om Damar.
"Ya om." Ucap Nandita
Mereka melanjutkan obrolan ke hal lain. Tentang pekerjaan, tentang keluarga Gunadh, dan juga harapan dari Om dan Tante Nandita agar hubungan kekeluargaan mereka lebih erat lagi.
"Om mengerti, luka hati bunda kamu mungkin sangat dalam. Bagaimana dimasa lalu, keadilan tidak ia dapatkan sebagai anak peremouan. Bahkan saat-saat sulitnya dulu, kakek nenek tidak terlalu banyak membantu. Kami yang juga belum berpenghasilan, tidak bisa berbuat apa-apa. Dan salahnya adalah, kita masing-masing sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Hingga kami bekerja, bunda kamu mulai stabil ekonominya." Om Damar sebagai anak laki-laki tertua, merasa bersalah karena dulu tidak terlalu perduli terhadap sang kakak.
"Hubungan kami tidak sehangat keluarga pada umumnya. Sibuk dengan urusan masing-masing, hingga lupa berkabar satu sama lain." Damar bicara sambil menundukkan kepalanya.
"Ya om, semoga kedepannya keluarga kita bisa semakin dekat." Nandita mencoba menghibur.
"Kalau libur mampir ke rumah om, atau sekalian kamu pindah tinggal sama om" Om Putra ikut menimpali.
"Dita udah nyaman di kost om. Lagian kegiatan Dita lumayan banyak, kadang sampai malam masih di luar. Percuma juga pindah." Ucapnya
"Biar bebas pacaran dia om" Malikha yang memang tidak bisa serius, menggoda sang kakak membuat yang lain tertawa.
"Gak apa pacaran, kan dia sudah besar. Kamu sendiri kan juga pacaran sama siapa itu yang suka bonceng kamu itu?" Tante Ayu kini ikut bicara
Malikha gelagapan, menatap panik sang kakak yang kini menatapnya curiga.
"Orang aku sama Dimas kerja bareng, kan wajar kalau boncengan. Lagian tante tau dari mana sih?"
"Tuh ngaku. Kalau dia suka boncengan sama cowo. Alasan aja itu soal kerjaan." Ledek Tante Ayu lagi.
" Sekarang juga masih sering om liat kamu boncengan. Jangan lupa, om sama Tante kamu kerja di kota yang sama, sama sekolah kamu. Om selalu awasin kamu, meski bukan dengan mata om sendiri." Ucapan om Damar membuat Malikha bungkam.
Rupanya selama ini dirinya diawasi oleh keluarga sang bunda. Syukur dia tidak pernah berbuat hal-hal tidak baik.
Kini giliran Nandita yang tersenyum mengejek.
Semua itu tidak luput dari perhatian para om dan Tante mereka juga Gunadh.
Hingga larut mereka masih di sana. Nandita yang memang jarang berkunjung, kini mencoba untuk membiasakan diri dengan suasana rumah masa kecil sang bunda.
Seperti kata om Damar yang disetujui yang lainnya, cukup mereka para orang tua saja yang saling berjauhan. Kelak, anak-anak mereka jangan sampai tidak saling mengenal satu dengan yang lain.
__ADS_1
Pengalaman orang tua harus dijadikan pelajaran, bahwa hubungan kakak beradik jangan sampai terpisahkan oleh status laki-laki atau perempuan.