
Lakukan kebaikan, tanpa kamu harus tunjukkan dirimu adalah pahlawan.
Senyum tak pernah surut dari bibirnya, ketika ia memasuki rumah sederhana milik orang tuanya.
"Bu,,,,, pak,,,," panggilnya dengan suara yang sedikit keras.
"Ya,,,, kenapa mas?" Sang ibu yang masih sibuk di dapur menyahut dengan suara yang juga keras.
Setelah tahu bahwa ibunya ada di belakang, Dimas segera menyusul.
"Bapak mana Bu?" Tanya pemuda itu, begitu melihat sekeliling dan tak menemukan sosok yang dicari.
"Itu lagi di kamar istirahat." Jawab sang ibu
"Ya sudah, nanti saja kalau begitu. Dimas mandi dulu." Katanya
Ia menuju kamar yang ia tempati bersama Adi ke duanya. Sementara Adi ke tiga memiliki kamar sendiri, sebab dia perempuan.
Setelah selesai membersihkan diri, ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Tersenyum sendiri, membayangkan akan usaha yang ditawarkan oleh Nandita siang tadi. Tanpa sadar ia terlelap, hingga tak mendengar suara sang ibu yang memanggil namanya.
"Mas,,,, Dimas,,,, bangun nak. Setelah makan baru tidur lagi." Bu Salma menggoyangkan tubuh sang putra yang masih tidur.
Masih dengan rasa kantuk, Dimas menjawab dengan suara seraknya."Eh ya Bu...."
"Bangun dulu,, adik-adik kamu sudah nunggu tuh"
"Ya Bu,,,"
Setelah itu sang ibu keluar dari kamarnya. Dimas bangkit dan mencuci wajahnya, lalu menyusul sang ibu menuju dapur.
Kedua adiknya duduk lesehan dengan piring masing-masing. Sementara bapaknya duduk di kursi roda, menunggu sang ibu mengambilkan makanan untuknya.
Dimas langsung bergabung, ikut mengambil makanan.
Setelah selesai makan, mereka duduk di ruang tamu sederhana rumah itu.
"Pak,, Bu,,, kata kakaknya Malikha, dia berniat mengajak kita kerja sama." Lalu mengalirlah cerita pertemuannya dengan Nandita siang tadi.
Kedua orang tuanya menyimak dengan baik.
"Bagaimana menurut kalian? Sebab kak Dita bilang biar kita diskusi dulu."
"Bapak sangat setuju nak,,, itu sangat membantu ekonomi kita." Orang tua itu tersenyum haru.
"Tapi pak,,, bukannya itu tidak adil?? Kita kan punya pelanggan sudah dari dulu. Masa sekarang tiap mereka mau pesan, keuntungannya dibagi dua??" Bu Salma merasa keberatan.
"Ibu salah kalau berpikir begitu. Justru nak Dita itu membantu kita Bu. Dia memberi kita modal usaha, membantu promosi, mengajak serta Dimas terlibat dalam prosesnya. Itu cukup bagus. Pelanggan kita tidak seberapa Bu,, bahkan kita tidak mampu memenuhi permintaan mereka bila pesanannya sedikit. Tapi sekarang, kita bisa membuat produksi setiap hari, pasar kita juga semakin luas. Itu sangat bagus Bu..."
"Kata Dimas tadi, Malikha bilang dia ingin membantu, yang namanya membantu kan harus ikhlas pak.... Kalau sekarang dia mau keuntungannya dibagi, itu dia tidak mau membantu namanya." Bu Salma masih tidak terima
__ADS_1
Sang suami menarik nafas dalam. Pola pikir seseorang memang sulit dirubah. Dengan sabar ia menjelaskan niat tersembunyi Nandita yang dapat ia baca.
"Bu,,,, kenapa ibu ingin dikasihani oleh orang? Dengan mereka membantu kita secara cuma-cuma, itu berarti mereka tidak yakin dengan kemampuan Kita. Justru dengan kerja sama ini, nak Dita bukan hanya membantu kita secara keuangan, tapi juga menjaga harga diri kita Bu. Dia percaya kita mampu berkembang, dia percaya kita bisa berdiri sendiri, dengan kemampuan ibu memasak, dia yakin usaha ini akan maju."
Dimas hanya bisa menyimak penjelasan sang bapak. Tidak terpikir olehnya niat Nandita sesungguhnya.
"Kalau dia mau, bisa saja dia menjadi langganan kita beberapa kali, kemudian meniru resep yang biasa kita pakai. Bukankah kemarin dia ke sini langsung?? Dia bisa menanyakan pada Dimas kan?? Setelah itu dia membuat sendiri, memasarkan sendiri. Tapi dia tidak melakukan itu. Selain dia ingin membantu ekonomi kita, dia juga mau Dimas belajar berbisnis."
Bu Salma menatap sang suami dengan wajah sangsinya.
"Kenapa bapak bisa seyakin itu pada orang yang baru bapak kenal?? Dari mana bapak tahu niat Nandita itu?"
Dimas pun menganggukkan kepala, pertanyaan di kepalanya diwakili oleh sang ibu.
"Bapak sudah sering bertemu berbagai karakter orang Bu... Di luar sana banyak yang bermulut manis, berpura-pura kasihan dengan kondisi kita, padahal di belakang mungkin saja menertawakan kita. Berapa banyak yang tulus membantu kesulitan kita setelah bapak begini? Bahkan ada yang tega mengambil ladang rejeki kita dengan memfitnah kita yang lagi terkena musibah. Nak Nandita itu ke sini, biasa saja. Dia tidak memperlihatkan wajah iba, rasa kasihan yang berlebih, padahal bapak yakin dia tahu keadaan kita sesungguhnya. Dia mengajak kita bekerja sama, bukan karena dia ingin merebut pelanggan ibu,, ingin merebut rejeki kita selama ini. Tapi dia ingin membantu kita, menjadikan usaha ini lebih besar lagi."
Sungguh pemikiran bapaknya Dimas sangat luar biasa. Seperti seorang analis yang sering berhadapan dengan bebagai masalah dan karakter manusia.
"Waaah bapak bisa berfikir sejauh itu ya... Aku aja gak kepikiran lho pak...." Dimas akhirnya membuka suara.
"Seiring berjalannya waktu, kamu akan belajar nak. Hidup akan mengajarkan padamu begitu banyak hal." Nasihat laki-laki itu.
"Gimana Bu? Lagian kalau kita kerja sama, dan semua lancar, ibu gak perlu lagi nitipin dagangan ke kantin-kantin. Ibu bisa fokus sama satu kerjaan aja. Semoga usaha kita diberkati Tuhan. Aku bisa kuliah, dan adik-adik bisa sekolah dengan layak." Harapan Dimas yang tak sanggup ditolak oleh sang ibu.
"Ya sudah kalau begitu,, ibu ikut bapak saja. Semoga bapak gak salah menilai orang,, anak itu benar tulus sama kita." Ucap Bu salma akhirnya..
Nandita yang diberitahukan, memutuskan untuk bertemu lagi dengan pemuda itu esok harinya.
Tidak lupa, gadis itu menceritakan niatnya pada ayah juga bundanya. Meski uang yang digunakan adalah miliknya sendiri, tapi dirinya tetap melibatkan orang tua dalam mengambil keputusan.
Malam hari setelah makan malam, ia bicara pada ayah dan bundanya.
"Yah,,, Bun,,, aku punya rencana buka usaha dendeng sama urutan. Niatnya aku sama orang tua Dimas kerja sama. Aku siapkan modalnya, mereka yang produksi. Nanti promosi sama pengelolaan keuangannya aku serahkan sama Malikha dan Dimas."
"Kok kepikiran mau kerja sama?" Bunda Santi penasaran pada anaknya
"Urutan sama dendengnya enak Bun, dapurnya juga bersih. Layaklah untuk dijual kepasaran."
"Bikinan ayah juga enak,, kebersihannya juga terjamin karena di rumah sendiri. Kenapa gak kerja sama sama ayah aja?"
Pancing pak Darma. Ayah tiga anak itu yakin ada alasan dibalik niat sang putri.
"Dita pengen bantu mereka yah,,, pak Brata itu lumpuh, kecelakaan kerja. Sementara Bu Salma hanya jualan nasi bungkus, nitip di warung-warung. Anaknya ada tiga. Udah pada mau tamat. Kalau Dita bantu langsung, ga akan sanggup memenuhi kebutuhan mereka. Takut juga membuat mereka tersinggung. Takut melukai harga diri mereka. Kalau kerja sama, mereka kan bisa berkembang yah,,,Bun,,." Terang gadis itu lagi.
Benar dugaan pak Darma, ada niat mulia dibalik rencana sang putri. Rasa bangga tentu saja dirasakan oleh dua orang tua tersebut. Anak mereka memiliki empati yang tinggi terhadap orang lain.
Mereka setuju dan mendukung niat baik gadis itu
"Ta,,,, gimana hubungan kamu sama nak Gunadh? Bunda lihat dia serius lho sama kamu." Setelah diam beberapa saat, bunda mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Biasa aja Bun,,,, aku gak mau terlalu berharap." Nandita menundukkan kepalanya
Kedua orang tuanya mengernyit heran. Ada apa dengan hubungan anaknya?
"Kenapa? Apa yang membuat kamu ragu?" Bunda Santi mendesak sang anak. Sementara sang ayah, hanya diam dan memperhatikan gerak gerik putrinya.
Nandita ragu berterus terang pada orang tuanya. Tapi ia juga tak memiliki tempat untuk berbagi cerita, selain dua sosok di hadapannya.
Melihat sang anak yang hanya diam, pak Darma memilih pergi. Mungkin Nandita lebih nyaman berbincang dengan ibunya. Pikir pak Darma
"Ayah ke kamar dulu ya,,, capek." Ucapnya sebelum bangkit dan menjauh.
"Apa yang membuat kamu ragu sama dia?" Ulang sang bunda lagi.
"Anaknya Bun,,,. Sepertinya Mira gak suka sama aku. Lebih tepatnya sama hubungan aku dan mas Gunadh."
"Bukankah kalian sudah sangat dekat? Lalu kenapa bisa dia tidak suka sama kamu?"
"Rumit Bun.... Aku juga gak tau gimana jelasinya."
"Kalau kamu mau, jelasin aja dari awal. Bunda siap jadi pendengar kamu, dan kalau kamu butuh saran, bunda bisa kasih kamu saran." Bunda Santi menatap sang anak dengan tatapan teduh.
"Mas Gunadh berpisah dengan istrinya karena orang ke tiga Bun.... Tapi dia gak memberi tahu Mira tentang hal itu. Dia gak mau, Mira membenci ibu kandungnya. Nah Mira yang gak tahu cerita sebenarnya, merasa mas Gunadh memisahkan dirinya dengan sang mommy. Itu sebabnya dia sering kabur dulu. Alasannya adalah karena ingin mencari mommynya. Dia suka bikin masalah, suka bolos, di rumah juga suka mengganggu para pekerja. Sampai akhirnya ketemu aku, dan aku jadi yaaa pengasuhnya gituuu."
Bunda Santi masih mendengarkan tanpa menyela ucapan sang anak.
"Setelah ketemu aku, kan aku digaji untuk jagain dia. Aku bukan hanya jadi bodyguardnya dia aja, yang kemana-mana selalu kawal dia. Tapi aku berusaha jadi temannya. Jadi pendengarnya, juga jadi guru privatnya dia. Tapi kami gak pernah membahas soal mommynya. Aku takut itu membuat dia jadi sedih."
"Itu berarti kamu dekat donk sama dia,,," sang bunda akhirnya berkomentar
"Ya aku dekat, bahkan dia sangat manja sama aku. Tapi semenjak dari Singapura, dia sedikit berubah Bun.... Bahkan ketika masih di Singapura, dia seperti gak terlalu senang dengan kehadiranku. Tapi aku cuek aja. Sebab aku merasa gak ada masalah sama dia, dan aku ke sana murni karena aku mau liburan."
"Pernah ada terjadi sesuatu gak waktu di Singapura?" Sang bunda menatap putrinya dengan serius.
Berat bagi Nandita menceritakan semuanya. Ia takut pandangan sang bunda berubah pada Gunadh. Sementara perasaannya pada duda itu semakin tumbuh.
"Di sana dia lebih banyak sama mommynya Bun,,, jarang sama aku. Mas Gunadh juga kadang urus kerjaan di sana, jadi gak full temani Mira liburan. Dan aku juga kan punya jadwal aku sendiri, mau kemana."
Sang bunda mengangguk mengerti. Meski Nandita tidak menceritakan secara detail apa yang terjadi saat liburan, bunda Santi yakin ada yang membuat gadis itu berpikiran kurang baik tentang sang anak. Baginya, anak yang baru menginjak kelas 5 SD, tidak akan bisa berpikir untuk menjauhi seseorang yang awalnya dia sukai tanpa ada alasan atau hasutan dari orang lain.
"Ta,,, kalau misalkan hubungan kamu dan Mira baik, Mira mau menerima kamu menjadi ibu sambungnya, kamu bisa gak menyayanginya seperti anak kamu sendiri?"
Alis Nandita mengkerut, mendengar pertanyaan sang bunda yang berbeda dari topik masalah.
"Mmmm gimana ya Bun,,,, aku kan belum pernah punya anak. Belum tau gimana rasanya punya anak. Gak bisa lah aku bandingin sekarang. Yang pasti, aku melihat Mira itu kaya aku liat Malikha. Seseorang yang pengen aku jaga, aku ajarin, juga aku jadikan teman. Gak tau nanti akan berbeda sama anak aku atau gak."
Benarkan?? Nandita belum pernah punya anak. Bagaiman dia bisa memperlakukan Mira dengan anak yang bahkan belum terbayang di benaknya?
"Kalau kamu memang sayang sama Gunadh, ingin dia jadi pendamping kamu kelak, kamu harus bisa meyakinkan Mira kalau kamu tulus sayang sama dia. Jangan hanya Gunadh yang berjuang, kamu juga harus berusaha. Sebab sebuah hubungan akan bertahan, kalau kedua pihak memiliki niat baik untuk mempertahankan. Tunjukkan kalau kamu layak, dan pantas untuk mereka." Nasehat bunda malam itu.
__ADS_1