Nanditha

Nanditha
PERTEMUAN TIGA SAHABAT


__ADS_3

Hari Senin adalah hari yang sibuk. Apalagi bagi siswa, hari Senin adalah hari yang menyebalkan.


Bangun harus lebih pagi, upacara bendera, dimana harus berdiri lama, belum lagi sidak yang rutin tiap hari Senin.


Namira masih merasa mengantuk, ketika sang bibi membangunkannya dengan pelan.


"Non,,, bangun,,, nanti terlambat ke sekolahnya." Bi Asih masih setia menunggu, meski sang nona belum bergeming sedikitpun.


"Non,,, nanti dimarahi bapak kalau kesiangan." Lanjut bibi lagi.


"10 menit lagi Bi,,, Mira masih ngantuk bangeeet." Menarik bantal untuk menutup kepalanya.


"Bibi siapkan pakaian non dulu ya, pas bibi keluar non udah harus bangun."


"Yaa iihh Bibi cerewet deh,,,." Kesal, Mira merasa terganggu dengan suara bibi.


Bi Asih hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mira memang begitu. Ia gadis yang manja, dan suka semaunya. Namun begitu, sebenarnya dia adalah anak yang baik. Sering membelikan bi Asih apapun yang ia beli dan makan di luar. Sama seperti Gunadh yang selalu memperlakukan pekerja dengan baik.


Drt


Drt


Drt


Panggilan masuk ke ponsel Mira. Membuat gadis itu bertambah kesal.


'Siapa sih,, ga tau apa aku ngantuk? Kenapa pagi-pagi semua orang sudah pada ribut.' Erang gadis kelas lima SD itu.


"Halo" Suara Mira bergumam.


"Sayang,, kamu belum bangun? Bukannya di sana udah pagi? Kamu gak sekolah?" Pertanyaan beruntung dari seberang membuat Mira membuka mata.


"Mommy,,. Ini Mira udah bangun. Masih disiapin sama bi Asih." Jawabnya masih terdengar malas.


"Kamu sakit? Kok Lemas gitu??"


"Capee Mom,, kemarin habis ke pantai sama Daddy sama onty Dita."


"Seneng pergi sama dia?" Tanya sang mommy.


"Biasa aja Mom, tapi ya gitu bikin malu. Masa Daddy ajak makan, sisa makanannya minta dibawa pulang?" Dengusnya


"Masa sih? Terus Daddy kamu bilang apa?"


"Ya Daddy kaya kesel gitu sama dia, trus bilang kalau mau bawa pulang biar pesan aja. Gak usah sisa makanan dibawa pulang. Gak tau kelanjutannya lagi kaya gimana. Aku fokus makan habis itu mainan pasir." Ucap gadis itu.


"Kaya gitu calon mommy kamu sayang,,, malu gak tuh nanti sama teman-teman kamu? Kampungan." Safira kembali memanas-manasi sang anak.


"Non,, air hangatnya udah bibi siapkan, sama baju ganti juga sudah bibi ambilkan. Non buruan mani ya, biar nanti gak telat sekolahnya." Bi Asih bicara, setelah keluar dari kamar mandi.


"Makasii bibi,,. Mira mandi dulu. Buatin Mira nasi goreng ya Bi,,,."


"Baik non."


Bi Asih meninggalkan kamar anak majikannya. Ia segera menuju dapur untuk menyiapkan pesanan si gadis manja.


"Mira sudah bangun Bi?" Tanya Gunadh yang baru tiba di ruang makan dengan pakaian rapi.


"Sudah tuan, tadi non Mira masih mandi." Bi Asih menjawab kemudian melanjutkan kegiatannya di dapur.

__ADS_1


Nasi goreng pesanan Namira sudah selesai, dan tinggal menunggu sang pemesan selesai dengan urusannya di kamar.


"Pagi Daddy,,,." Gadis itu melangkah dengan ceria, mendekati sang Daddy. Tidak lupa kecupan di kedua pipi juga ia hadiahkan untuk laki-laki tampan di hadapannya.


"Pagi sayang,,. Sarapan dulu."


Ucap Gunadh.


Mereka makan dengan tenang. Tidak ada yang bersuara, masing-masing fokus dengan makanan di hadapannya.


"Dad,, onty Mira tuh kenapa ya kok malu-maluin gitu kemarin?" Tanya Mira sembari mengumpulkan nasi di atas piringnya yang tinggal beberapa butir.


"Bukan malu-maluin sayang, kemarin itu hanya salah paham." Gunadh bermaksud menjelaskan, tapi Mira sudah salah paham. Dikiranya, Gunadh sengaja membela Nandita.


Mira yang sudah akan menyuap nasi terakhirnya, kembali meletakkan sendok di atas piring. Moodnya mendadak rusak, sebab sang ayah yang selalu membela Nandita.


Setelah selesai sarapan, Gunadh dan Namira bergegas keluar rumah dengan urusan masing-masing. Meskipun sibuk, namun tetap Gunadh lah yang mengantar sang putri.


Di tengah perjalanan, saat mobil berhenti karena trafic light, Gunadh melihat seorang ibu-ibu tengah menggendong anaknya dan sedang meminta-minta. Berharap belas kasih dari orang-orang yang berhenti di sana.


"Kamu lihat ibu itu sayang?" Tunjuknya pada Mira.


Gadis itu menoleh, tanpa mengucap sepatah katapun. Menunggu kelanjutan kalimat dari sang Daddy.


"Ibu itu pincang, keadaannya memprihatinkan. Dengan anak yang masih dalam gendongannya. Menurut kamu apa yang dijadikan menu sarapan oleh ibu dan anak itu?" Tanya Gunadh.


"Palingan roti Dad, ato mungkin aja belum makan makan." Jawab Mira sekenanya. Tidak mengerti maksud pertanyaan sang ayah. Sesungguhnya ia merasa kasihan melihat keadaan pengemis itu.


Tubuhnya kurus, pakaian lusuh, dengan anak dalam gendongan yang juga terlihat menyedihkan. Gadis cerdas itu bisa menebak keadaan yang dialami oleh pengemis tersebut.


Saat pengemis itu mendekat, Mira tanpa ragu mengeluarkan uang dalam dompetnya untuk ia berikan pada wanita itu.


"Itu maksud Onty Dita kemarin sayang,,,. Saat kita dengan mudah membuang makanan, di luar sana banyak orang yang mungkin saja kelaparan, mungkin hanya memakan roti atau air putih saja setiap paginya. Tanpa bisa memilih, mau menu sarapan apa?" Gunadh menoleh pada sang anak, ingin tahu respon gadis itu.


"Onty Dita sering melihat orang-orang seperti mereka itu, bahkan dia sering membagi-bagikan makanan sama anak jalanan dan pengemis. Itu makanya dia spontan melakukan hal seperti kemarin. Karena saat melihat makanan banyak, otaknya otomatis ingat sama mereka yang kelaparan." Gunadh bercerita, persis seperti yang diceritakan Nandita kemarin.


Namira menundukkan kepalanya. Ada rasa sesal karena sudah berpikiran buruk, namun bukankah itu wajar? Selama ini tidak ada yang mengajarinya hal-hal sederhana seperti berbagi, toleransi, juga empati pada orang lain.


Namira memiliki kehidupan, yang jarang bersentuhan dengan keadaan memprihatinkan orang lain.


Jujur saja, dia sungguh dilema. Satu sisi dia kagum pada Nandita, tapi di sisi lain ia seakan dipaksa untuk membenci gadis itu.


🌟🌟🌟


Nandita saat ini tengah makan siang dengan teman-temannya di sebuah rumah makan.


Ada Candra, Kiara, juga Satya di sana.


Kemarin Candra menghubunginya, mengajaknya bertemu untuk merayakan syukuran karena Satya lulus CPNS, dan bertugas di salah satu SMP Negri di kota itu.


"Selamat ya,,, maaf gak kasi kado, habisnya mendadak sih,,." Ucap Nandita saat memeluk Satya, setelah sebelumnya mencium dan memeluk Candra juga Kiara.


"Gak apa, santai aja,,. Eeh kamu udah bilang pacar kamu belum?"


"Udaaah,, tapi dia gak bisa datang, kerjaannya masih banyak. Sorry ya...."


"Gak pa-pa,, sante aja."


Pelayan rumah makan datang menghampiri mereka, menyerahkan buku menu dan menunggu mereka memilih.

__ADS_1


Setelah pelayan itu pergi, mereka kembali melanjutkan obrolan.


"Sat kok kamu bisa keterima di sini sih?"


Nandita masih penasaran.


"Ya bisa lah,, orang aku melamarnya di sini."


"Ya itu maksud aku,, kenapa kamu gak melamar di sekolah kamu dulu. Kan dekat sama rumah kamu."


"Pacar aku tinggalnya dekat sini, terus juga peluangnya lebih besar di sini. Selain peluang mengajar, peluang usaha konveksi ku juga lebih terbuka di sini."


"Ya benar juga sih,,." Nandita setuju ucapan Gunadh.


Memang peluang bisnis lebih terbuka di kota besar, dibandingkan daerah mereka. kota kecil dan penduduknya juga terpencar ke pelosok.


Mencari bahan baku juga mereka harus ke kota besar, dan itu memerlukan biaya pengiriman lebih besar. Meskipun persaingan bisnis juga lebih terasa dikota.


Obrolan mereka terfokus seputar kepindahan Satya, sebab Nandita memang sangat jarang berhubungan dengan laki-laki itu belakangan ini. Berbeda dengan Candra dan Kiara, yang lebih sering bertemu ataupun hanya bertukar pesan.


"Kata Andra kamu buka pelatihan pencak silat ya?" Satya mengalihkan pembicaraan setelah beberapa saat hening.


"Yaaa,,, itu kaya kegiatan tanpa terduga gitu.."


"Kok bisa?"


"Jadikan di sekolahku ada tambahan beberapa ekskul, salah satunya silat. Nah pihak sekolah tahu aku mantan atlet pencak silat, mereka menawariku untuk jadi pelatihnya. Beberapa saat berjalan, siswa gak puas latihan di sekolah aja, karena cuman dapat jadwal 1x seminggu. Jadilah mereka minta jadwal tambahan di luar sekolah. Nah aku mikir, kenapa gak buka aja sekalian untuk umum."


"Kereeen,,. Otak bisnis kamu emang jalan ya,,. Gimana bagi waktunya tuh antara sekolah, silat sama usaha makanan kamu itu?" Candra yang sedari tadi diam saja, akhirnya ikut berkomentar.


"Nah,, itu yang bikin aku dilema sekarang. Ternyata semua harus ada campur tangan ku. Aku jadi harus bolak balik pulang kalau ada masalah di sana. Sementara kerjaan aku di sini gak bisa ditinggal juga."


"Yang urus sekarang siapa di sana?"


"Aku suruh Dimas sama Malikha yang urus soal orderan sama omsetnya. Tapi masalahnya kalau stok bahan habis, dan mereka masih ada tugas sekolah, sementara pesanan sekarang mulai banyak. Aku yang harus turun tangan untuk urus."


"Kenapa gak cari tenaga profesional aja?"


"Carinya di mana?"


"Minta tolong pacarmu lah,,. "


"Orang mas Gunadh gak tau soal Bisnisku itu,,. Itu juga yang kemarin bikin aku sama dia berantem."


"Kok bisa?" Pertanyaan yang sama dari ke tiga orang di depannya. Kiara yang dari tadi hanya menyimak, kini juga ikut bersuara.


"Maksudnya?"


"Kok bisa mas Gunadh gak tau?" Tanya Candra diangguki Gunadh.


"Aku gak kasih tau dia, biarlah itu jadi usaha tersembunyiku. Biar mas Gunadh tau aku sebagai guru aja."


Mereka menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Kalau begitu kami ga tau mau kasih kamu saran apa. Hanya saja, kamu harus pintar atur waktu agar bisa seimbang antara kerjaan sama urusan pribadi kamu. Mas Gunadh pasti marah masalah itu kan?"


Candra menatap Nandita dalam. Gadis itu hanya menganggukkan kepala membenarkan tebakan Candra.


Ya,, Nandita memang harus pintar mengatur waktu, agar semua bisa berjalan beriringan tanpa ada yang merasa dirugikan.

__ADS_1


__ADS_2