Nanditha

Nanditha
NANDITA SAKIT


__ADS_3

Biarkan aku mencintaimu dengan caraku. Bila sayangku tak kau mengerti, setidaknya kasihku tidak akan membuatmu jauh dari dia yang kau cintai.


Hari ini Nandita, Mira dan Gunadh kembali ke tanah air, setelah melewati tujuh hari di negara kecil nan indah bernama Singapura.


Banyak yang dibawa sebagai oleh-oleh, khususnya Nandita. Kalau Mira dan Gunadh, mereka hanya membeli sesuatu untuk diri mereka dan para pembantu di rumahnya.


"Sayang,,, kamu mau ke kost apa ke rumah aku??" Tanya Gunadh berbisik, sebab Mira ada di depannya.


Saat ini mereka sedang menunggu jemputan dari Satya.


"Aku ke kost aja mas,, besok mau balik pulang bawa motor." Jawab Nandita


"Lho bukannya bentar lagi sekolah udah mau masuk??"


"Masih dua Minggu lagi mas,, ngapain aku di kost ga ada kerjaan. Mending aku di rumah biar ada temen si Malikha."


"Temen ganggu maksud kamu??" Gunadh tersenyum kecil mengingat kejahilan yang sering diperbuat sang kekasih pada adik bungsunya.


"Heheeeee" Nandita hanya menanggapinya dengan tawa kecil.


Obrolan ringan yang terjadi diantara Nandita dan Gunadh, semakin membuat Mira merasa terancam.


"Onty,,, kalau onty di kampung aku sama siapa donk .."


"Onty gak lama kok, palingan sepuluh hari lagi onty balik. Selama ini juga kan kamu gak bareng onty terus, gak apa-apa kan kalo sekarang pisah lagi beberapa hari aja." Nandita membelai lembut kepala Mira.


Mobil yang dikendarai Arya datang, Gunadh meminta sang asisten agar menuju kostan Nandita terlebih dahulu.


"Arya kita ke kostnya Dita dulu ya,, habis itu baru kita ke rumah."


"Baik tuan, silahkan." Ucap sang asisten dengan sopan.


Mira memutar bola matanya. Bosan rasanya mendengar, sang Daddy selalu mengutamakan Nandita.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan masih lengang sebab mereka datang saat masih jam kerja.


"Ada yang mau kamu beli dulu??"


Tanya Gunadh lagi


"Ga ada mas,,,, aku mau cepet-cepet sampai kost aja, biar langsung tidur."


Jawab Nandita yang memang merasa lelah dan kurang enak badan.


"Daddy,, aku gak ditanya mau beli apa??" Mira cemberut, merasa iri karena perhatian Gunadh hanya terpusat pada Nandita saja.


"Ooohh anak Daddy mau sesuatu?? Mira mau apa??" Gunadh menciumi pipi sang putri dengan gemas.


Sebenarnya kedekatan Mira dan sang Daddy terjalin berkat Nandita. Gadis itu secara perlahan memberi tahu Gunadh, bahwa Mira butuh kasih sayang secara nyata dari dirinya. Ingin dimengerti dan diperhatikan. Dan Gunadh yang kaku, belajar sedikit demi sedikit merubah sikap kakunya pada sang putri.


"Aku mau pulang, gak pengen apa-apa. Aku juga capek dad,,, bukan onty aja yang capek."


Nandita mengerti maksud ucapan Mira.


"Mas biar aku naik taksi aja, kasihan Mira." Ucapnya


"Gak,,, aku yang antar kamu."


"Kasihan Mira,, dia juga harus istirahat kan."


"Kalau gitu,, kita pulang antar Mira terlebih dahulu. Setelah itu aku antar kamu ke kost." Keputusan final. Gak ada yang boleh ganggu gugat.


Nandita hanya menarik nafas pasrah.


Arya hanya menjalankan perintah sang majikan. Sedikit memutar arah, sebab jalan menuju rumah Gunadh sudah lewat beberapa meter.


Lima belas menit berlalu, kini mereka tiba di rumah besar milik Gunadh.

__ADS_1


"Aku anterin Mira ke dalam dulu ya.... Kamu gak usah turun. Nanti lama lagi, biar aku aja yang turun."


"Ya mas,, aku tunggu di mobil aja."


Akhirnya Gunadh mengantar Mira masuk ke dalam rumah.


"Dad,,,, aku lemes banget, badan aku juga gak enak. Aku tidur di kamar tamu aja ya,,, gak kuat jalan." Akting Mira dimulai


"Tadi perasaan kamu gak apa-apa." Gunadh memperhatikan wajah anaknya.


"Gak tau dad,,,," Mira sengaja memejamkan matanya.


"Ya sudah Daddy anterin kamu ke kamar ya..." Gunadh menggendong sang putri ke kamarnya di lantai dua.


"Dad,,,, aku pengen dipeluk Daddy,,, waktu di Singapura kita gak punya banyak waktu berdua." Ucap Mira dengan wajah sendu.


Gunadh merasa bersalah, sebab apa yang dikatakan Mira benar. Niat hati berlibur hingga keluar negeri, agar memiliki waktu lebih banyak dengan Mira dan Nandita, malah begitu banyak drama yang terjadi. Alhasil, Mira lebih banyak menghabiskan waktu dengan mantan istrinya, dan ia sibuk dengan pekerjaan dan pergi bersama Nandita.


"Baiklah,, Daddy temani kamu istirahat." Dengan terpaksa ia menyanggupi keinginan sang anak. Dan karena ia juga merasa lelah, ia lupa mengabari Nandita ataupun Arya yang masih menunggu di dalam mobil.


Sudah satu setengah jam Nandita menunggu di halaman rumah Gunadh. Syukur mobil yang ditumpanginya nyaman, dengan AC yang juga terasa sejuk. Namun begitu, ia merasa sangat kesal sebab waktu istirahat ya terbuang sia-sia.


"Pak Arya, saya biar naik taksi saja pulangnya ya...." Nandita hendak keluar dari mobil tersebut.


"Jangan non,, nanti tuan Gunadh marah. Tunggu sebentar lagi ya,,," bujuk Arya.


Terpaksa Nandita menunggu lagi, sebab tidak ingin menambah masalah pada orang lain. Kasihan juga asisten itu, bila Gunadh menyalahkannya.


Hingga dua jam menunggu, barulah Gunadh datang dengan tergesa.


"Maaf sayang aku ketiduran."


Nandita yang sudah sangat kesal hanya diam saja tidak merespon apapun.


Perjalanan mereka dilalui dengan saling diam. Rasanya menghembuskan nafas pun asisten Arya tidak berani dengan keras.


Begitu mobil berhenti, barulah Nandita berucap


"Terimakasih pak Arya, maaf saya tidak mengajak mampir. Saya capek mau istirahat." Kemudian gadis itu membuka pintu samping, menunggu Arya mengeluarkan koper miliknya dari dalam bagasi.


Gunadh menarik nafas lelah. Kemudian ia ikut turun.


"Ta,,,, aku udah minta maaf. Kenapa sih hal sepele begini harus dibesar-besarkan??"


Akun Nandita berkerut. Siapa yang membesarkan masalah?? Bahkan dia tidak mengatakan apapun, di mana letak masalahnya??


"Aku capek mas, mau istirahat. Mas juga capek kan, sebaiknya istirahat saja. Nanti aku hubungi." Akhirnya Nandita mengalah.


Gunadh paham karakter Nandita, gadis itu bukan orang yang mudah mengungkapkan isi hatinya. Dia terlalu memendam. Gunadh mencoba untuk bersabar, hubungan ini masih terlalu rapuh. Kalau ia juga ikut mengutamakan ego, semua pasti akan berakhir.


"Baiklah, aku pulang dulu. Nanti malam aku ke sini lagi. Kamu istirahat ya,,, maaf tadi nunggu aku lama." Ucapnya dan hanya dibalas anggukan oleh Nandita.


Mereka berpisah, Nandita mengantar kepergian mobil Gunadh dengan pandangan matanya. Saat mobil sudah tak terlihat, barulah ia menuju kamarnya.


Rasanya nyaman sekali, merebahkan diri di kasur yang sudah lama tidak ia tempati. Suhu dingin terasa, namun Nandita tidak perduli. Dia hanya menyapu permukaan kasur yang terdapat sedikit debu. Kemudian berbaring dan terlelap.


Drt


Drt


Drt


Getar ponsel membangunkan gadis itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.25


Lumayan lama juga ia tertidur.


Rupanya sang kakak yang menghubunginya.

__ADS_1


"Ya kak,,," Sahutnya dengan suara serak


"Kamu tidur??" Tanya kak Byan.


"Hhhhmmm ngantuk, capek banget. Ada apa kak??"


"Buka dulu matanya,, kumpulin nyawanya, baru nanti aku ngomong."


"Ngomong aja,,, didengerin kok" Sahutnya tapi dengan suara yang sedikit samar.


"Iiisssh ngeselin sekali anak ini!! Nanti deh pas aku udah di rumah ngobrolnya." Ucap Byan kesal, panggilan langsung dimatikan.


Nandita meletakkan ponsel di balik bantalnya, dan kembali terlelap. Suhu badannya sedikit hangat, ia merasa kurang sehat.


Drt


Drt


Drt


Ponselnya kembali bergetar, Nandita dengan malas mengangkat panggilan itu.


"Apalagi kak,,,?? Aku lagi gak enak badan ini, sendi aku sakit semua." Keluhnya tanpa melihat si penelpon


"Kamu sakit?? Kenapa gak bilang tadi?? Buka pintunya cepetan!" Perintah suara di seberang telepon.


Mata Nandita langsung terbuka, terkejut mendengar suara di depan kamarnya juga di telepon adalah orang yang sama.


"Bentar mas,,," Sahutnya lemah


Perlahan ia bangun, badannya terasa remuk. Mungkin masuk angin.


Wajah Gunadh langsung muncul begitu pintu dibuka.


"Kamu kenapa gak bilang kalau sakit??" Gunadh bertanya. Tangannya menyentuh kening dan pipi Nandita, terasa panas.


"Diminumkan Paracetamol aja turun kok mas, udah biasa" ucap gadis itu. Ia lalu kembali ke kasur, menyandarkan badannya yang terasa terhuyung setelah berdiri tadi.


"Kamu pucat banget, kita ke dokter aja ya..." Gunadh menghampiri dan menggenggam tangan sang gadis.


"Gak usah mas,,, tolong ambilkan Paracetamol aja di tas aku. Tadi belum sempat aku minum" tolak Nandita.


Gunadh berdiri, mengambil tas yang ditunjuk oleh Nandita, kemudian mencari Paracetamol di dalamnya.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan air di mobil." Gunadh berdiri kemudian melangkah menuju mobilnya.


"Di galon juga masih ada airnya mas itu,," Tunjuk Nandita, setelah Gunadh datang.


"Tapi kan udah lama, mana enak diminum, itu." Malas berdebat, Nandita akhirnya diam


"Ini minum dulu obatnya." Perintah Gunadh, setelah menuang air yang ia bawa ke dalam gelas bersih.


"Makasi mas,,," Ucap Nandita lemah


Hingga pukul 21.00 Gunadh masih di kostan Nandita.


"Mas,,,, udah malam ini. Kasihan Mira sendirian di rumah." Nandita secara tidak langsung meminta Gunadh untuk kembali ke rumahnya.


"Kamu masih sakit, kamu sendirian di sini." Gunadh khawatir pada gadisnya


"Aku udah biasa sendiri mas. Aku gak apa-apa kok."


Gunadh masih diam


"Mas,,,, kamu tahu?? Mira sedang butuh kamu. Dia itu haus akan perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Aku bisa merasakan itu. Kalau boleh dibilang, Mira mungkin merasa cemburu dengan kedekatan kita. Mas,, aku nyaman ada di dekat mas, bahagia sekali mas kasih aku perhatian, tapi jangan melupakan kewajiban mas sama Mira. Aku bukan orang yang bisa bersikap lembut, yang akan menjadi ibu sambung yang sempurna. Tapi, aku gak mau merebut perhatian kamu, memonopoli kamu agar selalu fokus sama aku. Setidaknya, kehadiran aku bisa membuat kalian lebih dekat, bukan malah menjauh."


Nandita bisa merasakan sikap Mira padanya yang berubah. Dia adalah gadis yang peka, meski terkesan cuek. Dia terbiasa melihat sesuatu dari banyak sisi. Sikap Mira padanya berubah semenjak di Singapura. Dia tahu, ada yang mempengaruhi Mira agar menjauh darinya. Tapi, dia tidak mau memperkeruh suasana.

__ADS_1


Jadi, meski ia tidak bisa sedekat dulu dengan gadis kecil itu, setidaknya ia akan membuat gadis itu lebih dekat dengan sang Daddy.


__ADS_2