Nanditha

Nanditha
PERUBAHAN POSITIF MIRA


__ADS_3

Kabut gelap perlahan pergi dari wajah gadis belia bernama lengkap Namira Arjava itu. Berkat dukungan sang Daddy, bik Asih, serta teman-temannya yang datang ketika week and, juga psikolog yang selalu menemaninya ketika ia mulai resah dan merasakan tubuhnya tidak nyaman.


Gunadh harus membayar lebih ahli kejiwaan itu, agar bisa stand by setiap saat dibutuhkan.


Minggu pertama setelah kejadian, Mira masih sering mengalami mual hingga muntah tiap kali adegan itu berkelebat di ingatannya. Namun secara perlahan ia bisa mengatasi trauma itu.


"Ada hal yang belum sanggup Mira terima dan selalu mengganggunya. Tiap kali saya mencoba menggali hal apa itu, Mira selalu mengalami mual. Namun beberapa hari ini ia sudah bisa menahan gejolak itu. Anda bisa melihat sendiri bukan? Kita harus sabar, sebentar lagi putri anda pasti akan pulih." Ucap psikolog bernama Maharani itu.


"Bukankah anda harusnya bisa menggali lebih dalam lagi? Kenapa durasi konsultasinya kini semakin berkurang, sementara sumber masalahnya belum diketahui?" Cecar Gunadh kala itu.


Wanita lembut itu hanya tersenyum menanggapi desakan Gunadh.


"Anda ingin anak anda sembuh, atau hanya bernafsu untuk mengetahui latar belakang kejadian itu?" Ucapnya membuat Gunadh bungkam.


"Begini. Anggap saja saat ini tangan anda terluka. Apa yang harus dokter lakukan terhadap tangan anda pertama kali? Mengobatinya, atau mencari tahu penyebab lukanya?"


"Y-ya tentu mengobati lukanya." Ucap Gunadh ragu. Ia sudah bisa menebak kemana maksud ucapan dokter itu.


"Itu yang sedang kita usahakan saat ini. Biarkan luka hati gadis itu sembuh terlebih dahulu. Biarkan dia berdamai dengan rasa bersalah, tertekan, dan segala perasaan negatif yang ada dalam dirinya. Nanti, akan ada saatnya ia menceritakan apa yang terjadi, tanpa kita harus memaksanya."


Dan benar, Mira perlahan mulai mau membuka diri kembali. Mau berbicara pada bik Asih, meski masih sering menundukkan kepala ketika Gunadh menatapnya.


"Mira merasa sangat bersalah pada seseorang. Ia selalu menangis tiap kali membahas soal Nandita." Ucap Maharani suatu kali.


"Ia juga merasa bersalah pada anda, karena telah menjadi anak yang mengecewakan."


Gunadh menggeleng.

__ADS_1


"Saya tetap menyayanginya, sebesar apapun kesalahan yang dia lakukan. Saya percaya dia ank yang baik. Hanya saja, dia masih terlalu dini untuk bisa menilai pengaruh baik dan buruk dalam hidupnya. Saya juga yang salah, karena komunikasi kami yang tidak terlalu bagus." Ucap Gunadh.


"Bukan saatnya saling menyalahkan. Yang harus dilakukan, bangun rasa percaya diri Mira kembali. Anda yakinkan kalau anda masih sangat menyayanginya, dan memaafkan dia. Besarkan hatinya, bahwa setiap manusia pasti punya kesalahan dalam hidup. Hanya saja, ada yang mau berubah ada yang tidak." Saran sang dokter. Itu juga sudah Gunadh lakukan.


Mencurahkan kasih sayangnya pada sang putri. Membesarkan hati gadis itu, dan meminta agar ia tidak lagi melakukan hal yang merugikan diri sendiri.


"Daddy sangat menyayangi kamu nak, mungkin kamu tidak pernah menyadarinya. Tapi percayalah, apapun yang daddy lakukan, itu semua untuk kamu. Apa yang Daddy perjuangkan selama ini, semua untuk kamu. Jangan lagi melakukan hal bodoh seperti ini, Daddy nggak sanggup menghadapi dunia ini. Hanya kamu sekarang yang Daddy punya. Sakit hati Daddy melihat kamu sehancur ini."


Untuk pertama kalinya Gunadh memeluk sang putri, dengan tangis haru keduanya.


"Maafin aku dad ... Udah bikin kalian semua sedih. Nggak akan lagi aku lakukan, aku janji," melepas pelukannya bersama sang Daddy, Mira mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf v.


"Maafin juga karena udah pisahkan Daddy sama onty Dita. Aku menyesal dad ..." Kembali Mira menundukkan kepala. Setiap kali teringat soal Nandita, rasa bersalah dan malu, selalu menguasai hati gadis itu.


"Nggak usah dipikirkan, sudah takdirnya harus begini. Jangan lagi menyalahkan diri sendiri. Ini juga salah Daddy karena tidak bisa menjaga apa yang harusnya Daddy jaga."


Andai saja ia percaya pada cintanya, andai ia percaya pada Nandita, andai ia lebih terbuka, pasti hal ia masih bisa melihat kekasihnya setiap saat.


Aah bahkan hanya untuk menanyakan kabar gadis itu saja ia belum sempat hingga kini.


🌟🌟🌟


Kondisi Mira sudah jauh lebih baik. Beberapa kali gadis itu meminta pulang, namun sang Daddy yang masih merasa khawatir selalu membujuknya untuk tetap dalam perawatan rumah sakit.


Meski, laki-laki berusia tiga puluh enam tahun itu harus bolak-balik dari rumah sakit, kantor, rumah, setiap hari. Namun demi sang putri ya rela melakukannya.


"Dad ... Tanyain lagi sama dokternya, kapan aku bisa pulang?" Rengek gadis itu.

__ADS_1


"Kamu yakin mau dirawat di rumah?" Tanya Gunadh memastikan.


Mira mengangguk semangat.


"Kalau di rumah, temen-temen aku bisa puas mainnya, bisa nginep juga. Kalau di sini kan nggak bisa. Lagian aku bosen tau dad, tiap hari di dalam terus nggak pernah liat dunia luar." Keluh sang anak.


Gunadh berkonsultasi dengan dokter juga psikolog yang mendampingi.


Dan setelah semua prosedur dilewati, akhirnya Gunadh bisa membawa sang putri kembali ke rumah.


"Makasih dad ..." ucap Mira saat mengetahui keinginannya dipenuhi oleh Gunadh.


"Iya sayang ... Tapi janji ya harus teratur minum obatnya. Jangan membantah sama bik Asih, nanti dia yang akan selalu jaga kamu."


"Siap Dad ...." Mira memberi hormat pada sang daddy, seperti seorang polisi terhadap atasannya.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


aku ada kisah bagus nih, siapa tahu temen-temen banyak yang suka.


Dicek yuk ...


Daily adalah gadis pendiam yang tidak banyak ulah bahkan jarang sekali keluar rumah. Berbeda dengan saudara kembarnya yang bernama Daisy, gadis itu adalah gadis liar yang kerap kali keluar malam dan pulang begitu larut.


Lalu bagaimana jadinya? Jika Daily harus menderita karena hukuman atas apa yang di lakukan oleh saudara kembarnya?


Gadis malang itu berakhir di lecehkan oleh seorang Casanova yang tidak di kenalnya. Tak hanya itu, gadis malang itu harus terima nasip di asingkan dan juga di siksa di tempat yang jauh dari keramaian oleh Frans Nicolas sang Casanova gila yang memiliki dendam pada kakak kembarnya.

__ADS_1



__ADS_2