
Bugh
Bugh
Bugh
Seperti orang kesetanan, Gunadh dengan brutal memukul pengawal yang tengah berbincang dengan Arya tersebut.
"Tuan, tuan sudah hentikan!" Arya mencoba melerai.
Namun kekuatan Gunadh tidak bisa ditaklukan oleh Arya, apalagi saat ini pria itu tengah berada di puncak emosi.
"Tuan, anda bisa membunuhnya!" Teriak Arya, masih mencoba menarik tubuh Gunadh.
"Jangan ikut campur." Gunadh beralih menatap Arya dengan tatapan membunuh.
"Bed**ah ini sudah lalai dengan tugasnya. Saya menggajinya dengan mahal bukan untuk menyaksikan anak saya terbaring di tempat ini. Harusnya dia saja yang ma--"
"Tuan, itu keinginan non Mira sendiri!" Arya dengan lantang mengucapkan kalimat itu. Gunadh yang hendak memukul pengawal itu lagi, mengurungkan niatnya.
"Apa maksud kamu?" Gunadh beralih meraih kerah kemeja Arya.
"Itu yang terjadi tuan. Non Mira sengaja menabrakkan dirinya ke arah mobil itu."
Mata Gunadh membola.
Lirikan mata Arya, memberi isyarat pada pengawal itu untuk berbicara.
"Maaf tuan, tapi itulah kenyataannya. Kalau anda masih ragu, anda bisa melihat cctv yang banyak di sekitar area itu."
Gunadh melemas. Dengan pelan ia melepaskan tangannya dari kerah kemeja Arya.
"Katakan apa yang terjadi." Pintanya setelah beberapa saat terdiam.
"Tadi setelah dari toko kue, non Mira berpisah dengan temannya, dan pergi ke apartemen nyonya Safira. Setelah kurang lebih satu jam berada di dalam gedung itu, non Mira keluar seperti orang linglung. Dia melangkah pelan sambil sesekali seperti sedang menghapus air mata. Non Mira berjalan menuju jalan raya. Saya pikir non Mira hendak menyebrang atau mencari taksi. Tapi menunggu beberapa saat, dia masih betah di pinggir jalan itu. Kemudian dari jauh saya liat ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang. Tiba-tiba non Mira melangkah ke tengah jalan lalu berbalik badan dan diam seolah sengaja agar tubuhnya tertabrak dari belakang. Kejadiannya begitu cepat. Saya berlari berusaha menarik tangan non Mira, tapi kecepatan kaki saya tentu kalah dengan laju mobil itu. Sehingga saya terlambat menyelamatkan non Mira. Mobil itu sempat berniat menghindar, membanting ke kanan, tapi itu tidak berhasil karena jarak yang cukup mepet. Sekali lagi saya minta maaf tuan, saya tidak berhasil menjaga non Mira." Ucapan tulus dan penuh penyesalan terdengar dari bibir pengawal itu.
Apa yang terjadi di dalam apartemen itu? Apa yang sudah wanita itu lakukan pada Mira, hingga membuat gadis belia itu berbuat nekat? itu yang menjadi pikiran Gunadh saat ini.
"Arya, tolong kamu selidiki semuanya."
Titah Gunadh setelah mencerna semua cerita pengawal itu.
"Baik tuan." Sahut asisten itu sembari membungkuk.
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari UGD tempat Mira mendapat pertolongan. Beberapa perawat laki-laki berlari, begitu juga dokter yang tadi memeriksa Mira, ikut tergesa masuk ke dalam.
__ADS_1
Melihat kepanikan itu, Gunadh pun akhirnya ikut masuk.
Alangkah terkejutnya ia, melihat sang putri yang terus berontak dengan jarum infus yang sudah terlepas dan darah berceceran di mana-mana.
"Lepas!!! Aku nggak mau di sini!" Teriak Mira membuat Gunadh tersadar dari rasa terkejutnya.
Ia berlari meraih tubuh putrinya.
"Mira ... Ssshhhh tenang nak, tenang ya ..." Di dekapnya tubuh Mira dengan lembut dan hangat.
"Aku nggak mau liat dia lagi. Aku benci! Aku jijik! Hoek, Hoek," Mira muntah dalam dekapan daddynya.
"Lebih baik aku mati Dad ... Aku malu ... Aku jijik. Dia yang mati atau aku yang mati ..." Suara Mira perlahan mengecil dan akhirnya gadis itu tidak sadarkan diri lagi.
Gunadh semakin panik, menepuk lembut pipi putrinya.
"Mira ... Mira ..."
"Maaf pak, sebaiknya letakkan putri bapak di tempat tidur." Saran dokter.
"Biar kami periksa dulu." Sambungnya lagi dengan sabar, saat melihat gelagat Gunadh yang seperti hendak memakannya hidup-hidup.
Akhirnya Gunadh melakukan apa yang dokter ucapkan. Dengan pelan ia meletakkan kepala putrinya di atas bantal dan memperbaiki posisi tidur Mira.
Pria berjas putih itu menarik nafas dalam setelah selesai dengan pemeriksaannya.
"Pak, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya?" Tanyanya pada Gunadh. Dan hanya dibalas anggukan oleh pria itu.
Gunadh menyempatkan membelai rambut putrinya sebelum melangkah keluar mengikuti dokter tersebut.
"Titip anak saya." Ucapnya saat menatap Arya.
"Iya tuan ..." Sahut Arya.
Setelah memasuki ruangan dokter dan dipersilahkan duduk, Gunadh pun bertanya apa yang ingin dokter sampaikan. Ia merasa takut dan khawatir, pasti ada hal serius mengenai Mira.
"Ada apa dok? Apa ada sesuatu yang mengkhawatirkan mengenai Mira?"
"Begini pak, dari hasil pemeriksaan dan CT scan yang sudah dilakukan pada saat pasien baru tiba, tidak ada masalah serius yang perlu dikhawatirkan menyangkut organ dalam pasien. Hanya kakinya saja yang harus dilakukan operasi."
"Lalu ada apa? Kenapa dokter seperti sangat khawatir?" Tanya Gunadh tidak sabar.
"Barusan, yang terjadi adalah pasien melepas paksa infus dan berniat untuk berdiri. Bersyukur hal itu diketahui oleh dua perawat yang memang berniat memindahkannya ke ruang khusus seperti yang bapak inginkan." Dokter menjelaskan kejadian awalnya.
"Dua perawat itu mencegah nona Mira melakukan aksinya, namun putri anda cukup kuat sehingga perawat itu kewalahan untuk menjaganya. Jadilah mereka memanggil perawat laki-laki dan saya untuk memberikan suntikan pemenang." Dokter menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Mohon maaf sebelumnya, apakah nona Mira memiliki masalah dengan seseorang? Sebab ia selalu berkata jijik dan mati."
"Apa maksud dokter?" Gunadh mulai khawatir.
"Saat nona Mira melepas selang infus, ia berkata 'kamu menjijikkan, lebih baik aku mati daripada harus melihatmu. Aku membencimu'. Itu beberapa kalimat yang bisa ditangkap perawat tadi."
"Lalu apa yang harus dilakukan dok? Sejauh yang saya tahu, anak saya tidak pernah bermasalah dengan teman-temannya. Bahkan tadi ia pergi bersama sahabatnya." Jelas Gunadh.
"Coba dekati dia pak, ajak ngobrol apa yang menjadi beban pikirannya. Sebab kalau ini dibiarkan, bukan tidak mungkin ia akan melakukan hal yang sama besok atau suatu saat nanti." Saran dokter itu.
"Baik dok. Lalu soal operasi itu bagaimana?"
"Akan segera dilakukan." Ucap dokter itu.
Gunadh undur dari ruangan sang dokter. Pikirannya berkelana jauh, membayangkan hal apa yang terjadi hingga sang putri seperti saat ini.
Gunadh duduk termenung di depan ruang operasi. Menunggu sang putri seorang diri, tanpa orang lain yang bisa ia jadikan sandaran.
"Tuan," Arya muncul dengan dua cup kopi panas di tangannya. Hari sudah gelap, namun mereka berdua masih menggunakan pakaian yang sama.
Jangankan berpikir tentang penampilan, bahkan mengisi perut saja Gunadh absen sejak pagi.
^_________^^_________^^_________^
Kesayangan GunTha, maaf ya up nya molor. Emak lagi pusing cucian nggak kering-kering 🤭🤭🤭
(apa hubungannya cucian sama up, alasan yang tidak bisa diterima logika. 😁😁😁)
Oh ya btw, mau rekomendasi novel karya othor lain lagi?
ada lagi nih, wajib kalian intip ya ...
***
Pernikahan yang dirahasiakan bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh semua orang. Pada umunya sepasang kekasih ingin pernikahannya diadakan secara besar-besaran dan diketahui oleh semua orang.
Hal yang berbeda dilakukan oleh Adryan Prasetyo Hadiningrat, dia terpaksa menyembunyikan pernikahan yang telah dia jalani selama lebih dari 7 tahun lamanya dan dikaruniai satu orang putra.
Apa sebenarnya yang menyebabkan Adryan yang merupakan seorang Presdir dari perusahan raksasa itu harus menyembunyikan rapat-rapat pernikahannya? bagaimana jika akhirnya kedua orangtuanya tiba-tiba saja menjodohkan Adryan dengan seorang wanita karena mengira bahwa putra mereka masih sendiri di usianya yang sudah menginjak 37 tahun?
Ikuti kisahnya "P
ernikahan Rahasia sang Presdir."
__ADS_1