Nanditha

Nanditha
WAKTU BERDUA AYAH DAN ANAK


__ADS_3

Sibuk dari baru tiba hingga sore hari, Gunadh mengistirahatkan tubuhnya di kamar khusus miliknya di hotel tersebut.


Setelah merasa lebih segar, barulah Gunadh bersiap kembali ke rumah.


Waktu sudah lewat dari jam makan malam ketika ia memasuki rumah besar tersebut.


"Daddy ..." Namira berlari kecil begitu melihat sang Daddy di ruang tengah.


"Pelan-pelan jalannya Mira, kamu baru sembuh." Wajah Gunadh mendadak khawatir.


Namira tersenyum kuda mendengar peringatan dari sang Daddy.


"Hihiii lupa Dad, soalnya udah gak berasa sakit."


Tentu saja, sebab segala obat terbaik disiapkan Gunadh untuk gadis belia tersebut. Hal itu membantu mempercepat proses kesembuhannya.


Namira bergelayut manja, menyalurkan kerinduannya pada laki-laki cinta pertamanya itu.


"Kangen ..." Ucapnya manja dengan kepala menengadah.


Gunadh menatap sang anak, mengacak pelan rambut terawat putrinya.


"Daddy juga kangen sama kamu. Besok kita jalan-jalan ya." Ajak Gunadh, sembari menuntun langkah sang putri menuju sofa.


Gunadh menemani Namira hingga pukul 10 malam. Banyak hal yang diceritakan Mira mulai dari kegiatannya setiap hari hingga soal Safira yang katanya mulai sibuk bekerja.


"Kamu pasti nakal ya? Jalan kemana aja kamu sama mommy selama Daddy sibuk?"


"Gak ada, paling cuman ke mall. Itu juga gak sering. Kan mommy udah mulai kerja."


Alis Gunadh berkerut.


"Memang mommy kerja di mana?"


Namira menggedikkan bahunya.


"Gak tahu. Tiap mommy gak bisa temani mira, mommy bilang alasannya lagi kerja."


"Ooh" Gunadh menganggukkan kepala tanda mengerti. Tidak lanjut menanyakan sesuatu tentang mantan istrinya.


"Dad, besok janji ya ajak Mira main. Kita sama mommy juga" Pinta Mira


"Besok sama Daddy aja ya. Kita seru-seruan berdua aja." Tolak halus Gunadh.


Namira memanyunkan bibirnya. Namun begitu ya tidak menolak keinginan sang Daddy.


"Sudah malam, kamu istirahat dulu sana. Biar besok bisa bangun pagi."


"Siap Daddy."


Gunadh mengantarkan Namira menuju kamar gadis itu. Setelahnya barulah ia menuju kamarnya sendiri.


Mata Gunadh masih segar, sebab tadi sore ia tidur cukup lama.


Saat seperti ini, barulah ia akan merasa kesepian. Rasa rindunya pada Nandita akan muncul ketika ia tidak memiliki aktivitas apapun.


'apa yang dia lakukan selama aku gak ada ya?' merasa penasaran, Gunadh membuka akun sosial medianya. Mencari profil Nandita, melihat update terbaru gadis itu.


Gunadh menghela nafas lelah. Rupanya hal yang dilakukannya sia-sia.


Mungkin Gunadh lupa, Nandita bukanlah orang yang suka membagi kegiatan pribadinya terlalu sering di media sosial. Sehingga Gunadh hanya mendapati foto promosi makanan olahan yang dimiliki gadis itu.

__ADS_1


Lama ia merenungi, akan kemana arah hubungan mereka. Hingga tanpa sadar, matanya terpejam dan ia pun terlelap.


Namira sangat bersemangat pagi ini. Ia bangun lebih awal seolah memiliki alarm di kepalanya. Bersiap tanpa diminta sangking antusiasnya akan diajak keluar oleh sang Daddy.


"Daddy ..." Panggilnya dari depan pintu kamar Gunadh


"Daddy bangun ... Sudah siang ini. Kita jadi pergi gak?!"


Gunadh yang merasa terganggu pun akhirnya membuka mata. Berjalan pelan menuju pintu yang sedari tadi digedor dari luar.


"Kenapa Mira?"


"Daddy kok belum bersiap sih? Kita jadi pergi kan?"


"Jam berapa ini?" Gunadh menoleh ke arah jam di dinding kamarnya.


"Udah siang dad, ini udah jam setengah delapan."


"Ya ampun Mira, masih pagi ini. Daddy masih ngantuk."


Wajah Mira mendadak muram.


"Kita gak jadi pergi?" Tanyanya dengan mata berkaca.


"Bukan gak jadi, tapi gak sepagi ini juga."


"Yaah ..." Namira melengos pergi. Tak dapat ia tutupi rasa kecewanya.


Padahal sedari kemarin ia sudah membayangkan akan pergi dari pagi hingga petang bersama sang Daddy. Meski tanpa adanya sang mommy dalam acaranya kini, namun ia cukup senang karena sang Daddy yang akhir-akhir ini begitu sibuk, akhirnya memiliki waktu untuknya.


Bukan lebay, dari dulu Namira adalah anak yang haus perhatian. Itu sebabnya setiap kali mommy atau daddynya mengajak keluar, ia pasti merasa senang bahkan sangat senang.


Gadis itu berbalik dengan wajah berbeda 180 derajat.


"Mira tunggu di bawah ya dad, gak usah dandan ganteng. Kalau perlu gak usah mandi." Ucap gadis itu.


"Enak aja gak mandi. Udah kamu tunggu aja ya." Gunadh kembali menutup pintu kamarnya.


Bersiap ke kamar mandi meski matanya setengah mengantuk.


Ia baru bisa terlelap setelah lewat jam 12 malam. Memikirkan solusi untuk masalah yang di hadapi dengan Nandita. Namun sayang, jangankan solusi, ia malah semakin pusing.


Apalagi ia dalam kondisi yang kurang fit sebelumnya, sehingga membuat dirinya semakin malas beraktivitas.


Niatnya ia akan mengajak keluar Namira setelah lewat jam makan siang. Namun melihat raut kecewa sang putri, ia menjadi tidak tega.


Gunadh mandi dengan cepat, kemudian bersiap juga dengan kilat. Tidak ingin membuat Mira menunggu lebih lama lagi.


Terkadang ia lupa, begitu minim waktu yang ia berikan pada putrinya. Dan begitu ia sadar, ia akan berusaha memperbaikinya.


Mereka menikmati hari libur berdua. Mencari sarapan di warung sederhana permintaan Mira. Gunadh mengikuti saja. Tidak ingin merusak suasana hati sang putri. Hal ini juga sebagai obat rindunya pada Nandita. Sebab gadis yang dipacarinya setahun belakangan ini, lebih suka makan di warung kecil daripada diajak makan ke restauran.


"Sayang, besok kamu sudah mulai sekolah lagi ya." Gunadh membuka obrolan.


Namira hanya mengangguk, masih menikmati bubur ayam di depannya.


"Daddy siapkan sopir lagi untuk kamu. Ingat, jangan keluyuran setiap pulang sekolah. Kabari selalu Daddy kemanapun kamu mau pergi."


"Daddy gak bisa antar jemput Mira gitu?"


"Daddy sibuk sayang. Banyak pekerjaan Daddy yang tertunda. Kamu tahu kan, bahkan beberapa hari ini Daddy jarang pulang." Gunadh menatap sendu sang putri.

__ADS_1


"Kenapa Kemabli lagi seperti dulu dad?" Pertanyaan Namira membuat Gunadh terdiam. Ia harus mencari jawaban yang mudah dimengerti oleh sang putri.


"Memang begitu siklusnya sayang, nanti kalau kamu sudah dewasa kamu pasti mengerti." Hanya itu jawaban yang terpikirkan di kepala Gunadh.


"Yang pasti, sebisa mungkin Daddy akan luangkan waktu untuk temani kamu."


Meski jawaban sang Daddy belum memuaskan hatinya, Namira mencoba menerima.


🌟🌟🌟


Safira bangun dengan tubuh yang remuk. Sekujur tubuhnya penuh dengan tanda merah bekas permainan semalam.


Ketika ia hendak bangkit, rasa perih di inti tubuhnya membuat ia meringis.


'Sial pak tua itu. Gak cukup dia make aku seorang diri.' Rutuknya sambil berjalan terseok menuju kamar mandi.


'Ya ampun tubuh aku udah kaya macan tutul begini dibuatnya.' Gumamnya lagi ketika bercermin di kamar mandi sebelum memasukkan dirinya dalam bath up yang sudah ditetesi aroma lavender yang menenangkan.


Safira berendam dengan mata terpejam. Menikmati air hangat yang menyentuh kulitnya.


Ada penyesalan di sudut hatinya. Menyesal karena dulu mengkhianati Gunadh begitu saja. Andai dia lebih sabar dulu, ia tidak akan sampai menjual tubuhnya seperti ini hanya demi uang.


"Aaa" Safira terperanjat kaget ketika sebuah tangan meremas aset kembarnya.


Sontak matanya langsung terbuka dan ia duduk dengan tegak. Menciptakan gelombang air yang tertumpah dari bibir bath up.


"O om ..." Safira tergagap melihat Bramantyo yang sudah duduk di depannya.


"Kenapa gak nungguin om untuk mandi bareng?" Bram tersenyum devil


"Aku kira om udah pergi." Safira mencoba mengendalikan rasa terkejutnya.


Bramantyo tidak menanggapi ucapan Safira. Laki-laki itu malah membuka seluruh pakaiannya di depan mata Safira.


"Om mau apa?"


Tanpa menjawab, Bramantyo justru ikut bergabung ke dalam bath up dimana Safira berendam tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya.


Meski ingin menolak, Safira hanya mampu melakukan itu dalam hati. Selebihnya ia hanya bisa pasrah, menikmati sentuhan-sentuhan yang di berikan Bramantyo padanya.


"Om, aku mau ngomong." Safira memecah keheningan ketika melihat Bramantyo selesai berpakaian.


Laki-laki setengah abad itu mengangkat satu alisnya.


"Kenapa om lakukan hal kemarin?" Safira menatap takut-takut pada laki-laki di depannya.


"Melakukan apa?"


"Yang kemarin di sini. Kenapa om malah mengajak orang lain?"


Bibir Bram tersungging mengejek.


"Kenapa? Kamu keberatan?" Safira melihat tatapan mengancam dari mata laki-laki itu.


"Saya tahu, kamu adalah wanita yang selalu haus dengan s**s, kamu juga tidak memperlihatkan rasa tersiksa kemarin saat melakukannya. Bahkan ga ira h kamu kemarin, lebih besar dibanding saat kita melakukannya berdua."


"Tapi itu kan karena pengaruh obat om."


Bramantyo mendekat, meremas tubuh bagian belakang Safira dengan kasar.


"Aku bukan anak kemarin sore asal kamu tahu. Dengan sekali menidurimu, aku tahu seberapa ja**ngnya dirimu. Jadi berhenti berpura-pura tersakiti. Toh, uang yang aku berikan lebih dari sekadar cukup meski aku menjajakanmu dengan sepuluh pria sekaligus." Bramantyo meninggalkan Safira yang masih membeku di tempatnya berdiri.

__ADS_1


__ADS_2