
Akan selalu ada air mata di sela tawa, juga harapan diantara hamparan kecewa.
Disaat Nandita terhempas dalam hiruk pikuk rasa sedih dan terluka, Gunadh bergumul dalam sesal dan tak berdaya, ada Safira dan Tasya yang bersuka cita menyambut kemenangan dengan pesta.
"Bu ... Tasya gak pulang hari ini. Masih ada urusan soalnya di sini." Ucap Tasya siang tadi ketika menghubungi sang ibu.
"Urusan apa sih Sya? Gak bisa apa ditunda dulu? Kakek lho masih dirawat, masa kamu keluyuran gak jelas begini." Omel Tante Sari dari seberang.
"Kakek kan udah ada ibu sama Tante Dewi yang jagain. Ini urusan anak muda. Tasya jelasin juga ibu gak bakalan ngerti. Udah ya, Tasya udah ditunggu sama temen in---"
"Eehh tunggu dulu ... Kamu terus nanti tidurnya dimana? Jangan macam-macam Sya, keluarga kita lagi jadi sorotan akibat ulah si Dita. Kamu jangan nambah-nambahin masalah nanti." Nasihat Tante Sari.
"Udah ibu iih, aku nanti tidur di rumah temen. Jangan sangkut pautin aku sama dia donk, urusan dia kalau bikin malu keluarga." Tasya semakin kesal, langsung mematikan sambungan telepon dari ibunya.
'Dia yang bikin malu kok aku yang harus jaga sikap. Aneh banget. Ini kan memang mauku, dia dipermalukan. Dasar orang-orang kampung, gak tahu aja kalau aku yang bikin kehebohan ini.' Tasya terkikik sendiri mengingat semua kejadian yang dialami Nandita. Tidak ada yang tahu kalau dialah yang mengundang Safira untuk datang ker rumahnya. Merekayasa cerita agar orang semakin benci pada Nandita.
Anehnya meski semua orang tahu kalau Tasya penyebar video tersebut,tidak ada satupun keluarga yang memarahi gadis itu. Hingga ia masih bisa berbuat sesuka hati seperti saat ini.
Safira menjemput Tasya di hotel yang disewanya ketika waktu menunjukkan pukul 22.15.
Gadis itu sudah menunggu di loby hotel dengan penampilan seksi terbaiknya.
"Siap untuk berpesta?" Tanya Safira
"Sudah tidak sabar." Sahut Tasya.
Safira tersenyum, kemudian melajukan kendaraannya dengan santai menuju club malam terbesar di kota itu.
Ini untuk pertama kalinya Tasya memasuki tempat seperti itu. Karena selama ini tidak ada orang yang bisa ia ajak bersenang-senang seperti ini.
"Kamu baru pertama ya masuk ke club?" Tanya Safira yang melihat kecanggungan sikap Tasya. Tidak seperti tadi saat ia menjemputnya di hotel.
"Hee i iya. Kelihatan banget ya?" Tanya Tasya ragu
"Ooh enggak. Biasa aja kok. Setelah ini kamu pasti ketagihan untuk datang kesini. Aku jamin stress kamu akan hilang." Ucap Safira yang malam ini terlihat lebih ramah dan akrab dengan Tasya.
__ADS_1
'ternyata kamu sama kampungannya dengan saudaramu itu.' Gumamnya dalam hati.
"Mmm boleh gak aku minumnya orange jus aja?" Tanya Tasya ragu saat Safira memesan minuman yang terdengar asing di telinganya.
"Oh boleh-boleh. Orange jus satu ya." Ucap Safira pada pelayan yang mendatangi mejanya sembari mengedipkan matanya.
"Oh baik." Ucap pelayan itu singkat kemudian berlalu dari tempat tersebut.
"Kok banyak banget sih pesan minumannya?" Tanya Tasya lagi, sebab pesanan minuman Safira tidak dikurangi hanya ditambah segelas jus.
"Kan aku udah bilang, kita akan berpesta malam ini. Aku undang teman-teman aku juga." Sahut Safira.
"Oohh" Tasya mengangguk.
Pengunjung semakin ramai, teman yang Safira maksud pun sudah datang sejak tiga puluh menit lalu.
Ada dua laki-laki muda seusia Tasya yang ikut bergabung. Mereka minum sembari berbincang ringan.
"Sayang turun yuk ..." Ajak laki-laki bernama Brian pada Safira.
"Oh iya." Ucap Tasya dengan suara pelan. Sedari tadi ia merasakan tubuhnya panas dan tidak nyaman.
Safira berlalu bersama Brian, meninggalkan Tasya berdua bersama Anton. Sebelum pergi, Safira menepuk bahu Anton sambil tersenyum penuh makna. Anton menganggukkan kepala samar.
Tasya semakin gelisah.
"Tasya kamu kenapa?" Tanya Anton menyentuh lengan Tasya yang tidak tertutup apapun.
"Aah aaku mmm ttidak apa-apa" Sahut Tasya terbata. Namun pancaran mata gadis itu semakin sayu.
Anton me ngel us paha mulus Tasya yang hanya mengenakan rok jins hitam pendek. Tasya memejamkan mata. Menikmati sentuhan itu. Sentuhan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Are you okey?" Tanya Anton lagi, dengan tangan yang masih setia di atas paha gadis itu.
Tasya mbuka matanya perlahan.
__ADS_1
"Panas anton..." Rintihnya dengan suara serak. Ia sudah akan membuka tank top yang ia kenakan saat itu.
"Mau aku bantu? Tapi jangan di sini. Banyak orang." Bisik Anton di telinga Tasya, membuat gadis itu semakin tersiksa.
Tanpa perlawanan Tasya dipapah oleh Antun menuju kamar yang tersedia di lantai atas klub malam tersebut.
Safira yang sejak tadi mengawasi tingkah keduanya tersenyum penuh kemenangan.
"Hayo sayang kita juga berpesta ..." Ucap Safira menarik tangan Brian menuju lantai yang sama dengan Tasya.
"Kamu udah kasih kameranya sama Anton kan yank?" Tanya Safira pada Brian.
"Udaah, semua udah beres sayang." Ucap laki-laki muda itu sembari mengendus leher Safira. Saat Safira menuju salah satu kamar, Brian menariknya ke kamar yang lain.
"Aku udah pesan kamar ini dari awal, mau kasih kamu kejutan." Ucapnya saat Safira hendak protes.
Mereka lalu memasuki kamar yang dipilih Brian. Benar saja kamar tersebut terlihat lebih indah dari kamar yang biasa mereka pakai saat bergumul di tempat tersebut.
"Pinter banget kamu sayang ..." Ucap Safira. Namun suaranya dibungkam oleh bibir Brian.
Laki-laki muda itu tidak memberi kesempatan pada Safira untuk berkata-kata lagi. Mereka bergerak liar bersama menapaki tangga demi tangga kenikmatan, berlomba menggapai puncak surgawi.
"Aaaaahhhh" Erang Brian ketika tubuhnya menegang dan inti tubuhnya memuntahkan cairan di kawah milik Safira.
Hal yang sama juga terjadi di kamar tempat Tasya dan Anton berada.
Laki-laki yang baru beberapa jam dikenal Tasya itu, seolah mendapatkan jakpot.
Meski harus bersabar menuntun dan mengajari Tasya, namun ia merasa senang karena mendapati Tasya masih perawan.
"Antoon sakiit" Ringis Tasya ketika sesuatu mendesak masuk ke inti tubuhnya.
Namun Anton tidak perduli, ia tetap menerobos masuk meski tubuhnya juga terasa tercabik oleh kuku panjang Tasya.
Seolah menemukan tempat terbaik, laki-laki itu tak bosan menghujam tubuh lemah Tasya. Berpacu bersama waktu yang kian memburu. Hingga ia benar benar berhenti ketika jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
__ADS_1
Setelah berbaring beberapa menit menormalkan detak jantungnya. Ia pun pergi meninggalkan Tasya yang entah pingsan atau tertidur. Yang pasti, hari yang dilaluinya kini, mengubah seluruh hidup gadis itu kedepannya.