Nanditha

Nanditha
PERSIAPAN SKRIPSI


__ADS_3

Tangannya dilipat di depan dada. Sorot matanya tajam bak elang yang mencari mangsa. Dengan rahang mengeras, pertanda amarah yang sudah di ubun-ubun.


Bila tidak melihat orang yang ada di hadapannya ini, adalah seorang gadis kecil yang lemah, andai saja pemicu kemarahannya ini adalah orang lain, sudah pasti orang itu tidak akan selamat. Paling tidak wajah memar dan bau amis darah menjadi pemandangan dalam ruangan yang luas itu.


Tapi kini,, ia harus bisa mengendalikan diri.


"Jelaskan sama daddy, siapa yang mengajarimu berbuat seperti ini?" Mira hanya menunduk, sembari menautkan kedua tangan di atas pangkuannya.


"Jawab Mira, benarkah sikap seperti ini ditunjukkan oleh seorang Namira Arjava?"


Gunadhyia tidak membentak sang anak, tapi suara berat yang penuh penekanan itu, cukup membuat Mira merasa ketakutan.


Ia tahu ia salah. Kabur, membuat kekacauan, membuat sang Daddy khawatir adalah kesalahan.


Tapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Saat keinginan untuk mencari sang mommy muncul begitu kuat, maka alam bawah sadarnya akan membuat ia melakukan hal-hal seperti ini.


Gunadhyia berpisah dengan Safira saat Mira berusia lima tahun. Hak asuh Mira jatuh kepada Gunadhyia, karena pertimbangan hakim yang menilai Gunadhyia lebih bisa bertanggung jawab di banding sang mantan istri.


Tahun pertama setelah perceraian, Gunadhyia masih memberikan ijin untuk Mira tinggal bersama sang mommy.


Bagaimanapun ia kecewa pada sang mantan, Namira tetap memiliki hak untuk mengenal ibunya. Merasakan kasih sayang yang utuh dari Daddy juga mommynya.


Namun, Safira kembali membuat ia kecewa. Saat Mira bersamanya, ia malah membiarkan Mira diasuh oleh asisten rumah tangga sedangkan sang mommy asyik pergi bersama teman-teman dan pacarnya.


Itu sebabnya, Gunadhyia melarang Safira menemui sang anak kembali. Sebab ia tidak ingin anak yang ia sayangi, ditelantarkan oleh ibunya sendiri.


Ia juga tidak mau Mira membenci ibunya, karena sikap sang ibu yang acuh dan tidak perduli, pasti akan Mira rasakan seiring berjalannya waktu.


"Mira ingin ketemu mommy. Tapi Daddy ga pernah mau antar Mira cari mommy. Jadi lebih baik Mira cari sendiri" Ia ungkapkan maunya pada sang Daddy.


"Tapi mommy ga ada di sini Mira, Mommy kamu lagi kerja di tempat yang jauh. Kalau nanti mommy kembali ke Indonesia, Daddy janji, pasti akan ajak Mira ketemu mommy."


Gunadhyia menarik nafas dalam. Ternyata tidak semudah itu membuat Namira melupakan orang yang sudah melahirkannya.


Bukan ia ingin memisahkan antara ibu dan anak, ia juga tidak ingin menjadi orang yang kejam.


Namun untuk saat ini ia tidak mau mengambil resiko. Ia tahu bagaimana Namira, dan ia juga tahu sifat asli Safira.


Bila Namira belum bisa berpikir dewasa dan mereka sering bertemu, bukan tidak mungkin Safira akan membawa pengaruh buruk bagi anaknya.


🌟🌟🌟


Di tempat berbeda Nandita telah tiba di rumah dengan taksi online.


"Besuk apa ke rumah sakit sampe malem begini" Sindir sang bunda saat anaknya baru tiba di ruang keluarga.


"Alasan aja itu Bun.... Palingan juga kakak pacaran tuh Ama kak Sat, eeh bang Sat ding." Celetuk Malikha menimpali.


" Yeeee enak aja pacaran. Emang kamu, masih pake bedak bayi sama minyak telon aja, belagu pake sayang-sayangan."


"Eeeehh ga ada ya,,,,,, kakak jangan suka fitnah deh,,!" Malikha tidak terima.


"Sssssttttt kalian ya,,, bunda belum selesai udah pada debat aja. Ga menghargai banget. Mau kalian bunda kutuk jadi Malin Kundang?"


"Lho kok jadi Malin Kundang Bun.... Durhaka dong" Malikha menyela lagi.


"Ya kamu tu yang durhaka,,,, bunda belom selesai ngomong main serobot aja. Kebiasaan kamu itu, kalau bunda marahin yang lain kamu ikut nimbrung. Udah kaya lalat ketemu ikan asin aja." Bunda balik marah pada Malikha.


"Eeehm" Nandita berdehem.


"Maaf Bun,, tadi ada masalah dikit di rumah sakit jadi telat deh pulangnya. Bsok aku ceritain dengan lengkap dan akurat ya,,, sekarang aku mau tidur dulu. Mau mimpiin Li Min Hoo." Nandita segera kabur ke kamarnya.

__ADS_1


Bunda Santi hanya bisa geleng kepala.


"Kamu juga dek,, tidur dulu jangan begadang." Bunda Santi melenggang menuju kamarnya.


"Yeeee tadi aja disuruh nemenin, sekarang aku diusir,,.!" Bibir Malikha mengerucut, merasa kesal.


"Aku tidurnya sama bunda aja deh....." Gadis SMA itu pun mengekori langkah sang bunda.


"Eeeehh enggak-enggak,, ga ada ya tidur sama ayah bunda, kamu bukan bayi lagi. Udah punya kamar sendiri juga." Sang bunda menghadang Malikha di depan pintu kamarnya.


Begitulah keluarga ini, orang tua dan anak memiliki kedekatan seperti dengan teman. Namun anak-anak, tidak akan melampaui batasan kesopanan terhadap orang tua.


Meski mereka biasa bercanda dan bercerita bersama, tapi mereka tetap memandang ayah bunda sebagai sosok yang harus dihormati, dipatuhi, dan dijaga nama baiknya.


🌟🌟🌟


Hari berlalu dengan cepat. Hari ini hari terakhir Nandita melaksanakan PPL di sekolah yang sama dengan Satya.


Sejak kejadian di rumah sakit, baik Satya maupun Nandita seolah menjaga jarak.


Satya yang belum mampu menghapus rasa kecewanya, pun dengan Nandita yang tidak tahu bagaimana harus bersikap.


Pembawaan yang ceria dan tomboy membuat Nandita menganggap semua adalah teman. Baik itu laki - laki atau perempuan.


Ia tidak pernah merasa tertarik, atau tidak menyadari perasaan itu pernah muncul dari hatinya. Sehingga begitu ia tahu Satya memiliki perasaan lebih dari seorang teman terhadapnya, ia berusaha menghindar. Di samping itu juga, ia tidak ingin tuduhan sebagai wanita penggoda yang dialamatkan padanya oleh Candra terbukti.


Namun hari ini, mau tidak mau Nandita harus menemui Satya. Biar bagaimanapun, Satya sudah banyak membantunya selama ini. Selain itu mereka sudah berteman sejak lama, meski usianya terpaut beberapa tahun di bawah Satya, namun Satya adalah teman yang kompak bila diajak bepergian.


"Sat aku pamit ya,, makasi udah banyak bantu aku selama ini. Sorry juga kalau aku ada salah sama kamu" Ucap Nandita


"Ga usah berterima kasih lah Ta, kaya sama siapa aja. Aku harusnya yang bilang makasi karena kamu mau magang di sini. Aku jadi bisa lebih dekat sama kamu, meski pada akhirnya aku harus kecewa karena ternyata perasaan aku ke kamu ga berbalas." Ucap Satya lirih


"Jangan gitu dong Sat,,,, aku jadi merasa bersalah sama kamu. Tapi mau gimana lagi,,, untuk saat ini aku ga mikirin soal begituan dulu. Bukan munafik ya.... Tapi aku memang masih ingin fokus sama nyusun skripsi, latihan pencak silat lalu berpetualang. Mungkin setelah itu baru aku mikirin soal pasangan."


Satya hanya bisa tersenyum kecut mendapat penolakan halus langsung dari mulut Nandita.


"Oya Sat,,, kamu udah dapat nengokin Candra lagi ga? Dia udah keluar dari rumah sakit kan??"


"Ngapain kamu nanyain cewe licik itu lagi? Kamu tau, aku menyesal dulu pernah dekat sama dia. Kirain dia udah berubah pas kejadian dengan pak Wahyu terakhir itu. Taunya dia buat ulah lagi sama kamu"


"Ga boleh gitu Sat,,, kita ga boleh menghakimi. Mungkin ada hal yang memicu ia bersikap seperti itu. Kita ga pernah tau isi hati seseorang kan.... Lagi pula di dunia ini siapa sih yang ga pernah berbuat salah?? Jangan takabur juga kamu, hari ini bilang benci mana tau besok kamu cinta mati sama dia,,,." Ledek Nandita


"Udah ah ga usah bahas dia dulu. Sekarang rencana kamu apa, kalau perlu bantuan aku, jangan ragu buat wa ya..." Satya menatap Nandita dengan lembut.


Gadis itu,, selalu saja membuat hatinya damai.


"habis ini paling bikin laporan, trus persiapan skripsi deh,, pengen cepat-cepat lulus dan bebas berpetualang" Sahut Nandita girang.


🌟🌟🌟


Hari-hari berlalu, setelah melewati banyak bab dalam hidupnya. Kini saatnya ia memulai bab baru yakni kesibukannya menjadi mahasiswa semester akhir. Yakni menyusun skripsi.


Banyak yang harus ia persiapkan. Mulai dari mencari topik penelitian, mencari dosen pembimbing, menentukan tempat yang akan di datangi, semua itu cukup menguras tenaga dan waktu Nandita, beserta teman - teman senasibnya.


Para pejuang revisi kata mereka


Bersyukur dosen pembimbingnya bukan dosen yang menakutkan. Beliau cukup sabar namun juga teliti. Jadi saat penulisan diusahakan jangan ada kesalahan-kesalahan kecil yang malah membuat kamu harus mengulang dari awal.


'ternyata sesulit ini agar bisa mendapat gelar Sarjana di belakang nama kita. Namun semua harus dijalani dengan riang, agar beban di hati jadi berkurang' serunya pada diri sendiri.


Meski lelah, ia tidak akan menyerah. Ia ingin persembahkan gelar itu untuk kedua orang tuanya yang sudah berjuang dengan keras, memendam keinginan pribadi agar bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

__ADS_1


Setiap kali Nandita mengingat perjuangan ayah bunda, sudut matanya pasti basah. Meski di hadapan mereka Nandita berhasil menutupinya dengan baik.


Pernah suatu kali Nandita mendengar obrolan kedua orang tuanya. Kala itu ia masih duduk di bangku SMP kelas tiga


Flashback


" Bun bagus ga ini??" Ayah bertanya sembari memperlihatkan layar ponselnya pada bunda.


"Bagus yah, modelnya sederhana tapi manis" Sahut bunda


"Ayah beliin untuk bunda ya,, hasil ternak waktu ini kan masih utuh, pake itu aja. Udah lama kan bunda pengen punya gelang. Mumpung ada yang bunda suka dan kita masih pegang uang. Kayanya uang panen kita cukup deh untuk beli itu, kalau kurang nanti ayah tambahin lagi pake uang sewa mobil " Kata suaminya lagi.


Bunda menarik napas berat. Ia memang ingin punya gelang dari dulu, karena gelang yang ia bawa waktu masih gadis terpaksa harus dijual.


Saat itu Biyanca yang baru berusia dua tahun, mengalami kejang dan harus dilarikan ke rumah sakit.


Karena tidak memiliki tabungan, dan pekerjaan pak Darma yang belum stabil, terpaksa perhiasannya ia jual.


Namun sekarang dengan berat hati Bu Santi harus menolak tawaran suaminya.


"Ga usah lah yah, uangnya ditabung aja untuk persiapannya Nandita sekolah sama biyanca kuliah. Sebentar lagi anak-anak perlu dana banyak lho, sedangkan penghasilan kita belum pasti tiap bulan. Bunda ga apa kok ga punya begituan, lagian mau kemana pake itu. Keluar juga jarang ayah ajak kan? Paling ngumpul sama keluarga pas hari raya aja. Lagian mereka punya lebih banyak daripada kita, bunda mau pamer sama siapa coba" Bunda berusaha menutupi keinginannya


Pak Darma menarik tangan sang istri lalu memeluk dengan erat.


Makasi ya Bun,, sudah mau menemani ayah sampe sejauh ini. Jaga selalu hati bunda, jangan berpaling ke lain hati. Maaf ayah belum bisa bahagiain bunda. Andai nasib ayah seberuntung saudara ayah yang lain ya Bun,,,,, pasti hidup bunda ga akan susah seperti ini" Sesal pak darma


"Jangan ngomong gituuu aaah, bunda ga suka dengernya. Kita mulai dari nol berdua. Kita nikmati dan syukuri setiap prosesnya. Bunda akan tetap berdiri di samping ayah, asal ayah juga gak goyah pada pendirian. Bunda juga belum bisa jadi istri yang sempurna" Bu Santi menimpali.


"Asal jangan tahan bunda untuk bicara saat ada hal-hal yang nyakitin ayah, atau yang mengusik anak-anak aja yah. Bunda tuh kadang masih suka gemes sama ayah, ya gara-gara itu. Jangan terus-terusan mau mengalah, sesekali kita juga harus bicara biar mereka paham kita juga punya perasaan yang perlu mereka jaga. Jangan bisanya cuman komentar, nyinyir, ngatur, tapi ga punya kontribusi apa-apa untuk orang lain"


Nah kalau sudah begini hilang sudah adegan romantis mereka berdua.


Baru saja Nandita merasa terharu dengan adegan pelukan ayah bundanya, eeh muncul jin jahat di kepala bundanya. Buyar semua keharuan yang tercipta tadi.


'apa sang bunda mengidap bipolar ya??


Uuppssss


Sebenarnya Nandita tidak bisa menyalahkan sang bunda kalau memiliki kepahitan di hatinya untuk orang-orang di sekitar.


Dari kecil ia sudah biasa melihat perlakuan tidak adil yang dialami ayah bundanya. Bagaimana orang memandang si miskin dan si kaya dengan tatapan yang jauh berbeda. Padahal belum tentu mereka yang memiliki tahta akan mampu melayani orang tua sebaik rakyat jelata.


Bunda adalah orang yang bar-bar, tapi pada ayah ia akan menjadi wanita penurut. Itu sebabnya bila ada yang tidak sesuai dengan hatinya, ia akan melawan. Tapi kembali lagi karena ayah ia harus bisa menahan amarah.


Mereka pasangan yang saling melengkapi.


Laki-laki pendiam memang harus beristrikan wanita yang suka bicara.


Flashback off


Setelah berkutat selama hampir tiga bulan lamanya, akhirnya Nandita bisa bernapas lega. Skripsinya telah di ACC oleh dosen pembimbing, dan tidak lama lagi ia akan sidang dan wisuda. Ia melangkah keluar gerbang kampus dan menuju kafe terdekat untuk beristirahat sejenak.


Ia memesan lemon tea dan beberapa camilan.


'Yeeeeeyyyyy jadi sarjana' teriaknya tanpa sadar saat membayangkan dirinya berdiri di depan mimbar dengan mengenakan pakaian wisuda lengkap dengan toga di kepala.


Sontak saja kelakuan absurd nya itu menarik atensi pengunjung yang lain.


Nandita yang memang cuek, tidak ambil pusing dan hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Sementara di ujung ruangan itu, ada sorot mata tajam yang memandang tak suka padanya. Karena merasa terganggu dengan pekikan suara gadis itu.

__ADS_1


'Dasar norak' Gumamnya


__ADS_2