Nanditha

Nanditha
SATU BULAN


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Satya menghubungi Nandita. Meminta gadis itu membantunya menyiapkan kejutan untuk sang kekasih.


"Please Ta, mau ya. Kita gak cuman berdua aja kok perginya, ada adik aku sama Kiara juga. Mau ya ..." Bujuknya dalam sambungan telepon.


Nandita mendengus pasrah.


"Ya sudah, jam berapa mau ke sini?"


"Nanti sekitar jam 9 aku jemput ya."


"Hmmmm" sahut gadis itu kemudian memutus sambungan telepon.


Nandita kembali berbaring. Merasa lelah namun ia tidak tahu apa penyebabnya. Ada perasaan hampa yang ia tidak mengerti karena apa.


Gadis yang biasanya lincah itu, kini seolah kehilangan daya. Bahkan cucian yang biasanya sudah selesai ia jemur, kini masih utuh tak tersentuh. Padahal ia tidak memiliki aktivitas apapun.


'kasih tau mas Gunadh gak ya?' gumamnya pada langit-langit kamar


'untuk apa? Toh dia juga sibuk dengan urusannya, tanpa mau berbagi padaku.' ucapnya lagi mengingat perubahan sikap Gunadh yang semakin pendiam akhir-akhir ini.


Dua Minggu sudah Namira pulang dari rumah sakit. Nandita selalu meluangkan waktu datang berkunjung. Namun semakin ke sini, perasaan tidak nyamannya semakin jelas terasa


"Mas mommynya Mira tinggal di sini?" Tanya gadis itu beberapa waktu lalu. Sudah lama ia memperhatikan perilaku mantan istri kekasihnya itu. Dia bukan seperti tamu dirumah itu, bahkan tingkahnya melebihi nyonya rumah.


Memerintah sana sini yang membuat Nandita risih.


"Gak, hanya beberapa kali saja dia menginap. Itu pun kalau Mira merengek minta ditemani." Ucap Gunadh tengah menikmati suasana sore di taman belakang rumahnya.


"Kenapa? Kamu gak nyaman ya? Sabar ya yank, tunggu sebentar lagi. Sampai Mira benar-benar sembuh. Aku gak bisa lihat anak itu sedih." Gunadh menatap wajah Nandita yang duduk di sampingnya.


Semakin ke sini, sikap Gunadh semakin lembek pada anak dan mantan istrinya. Ia seperti laki-laki yang tidak memiliki ketegasan. Berbeda dengan dulu.


"Ya mas gak apa. Tapi maaf, aku gak nyaman. Kalau dia masih di sini, lebih baik aku gak terlalu sering datang ya. Demi menjaga perasaan masing-masing." Ucap Nandita.


Gadis itu bosan dan jengah dengan kerumitan ini.


"Gimana kamu bisa dekat dengan Mira yank, kalau kamu jarang datang kemari? Dia akan lebih susah menerima hubungan kita nanti." Ucap Gunadh memelas.


Namun Nandita yang sudah lama memendam rasa kesal, akhirnya lepas kendali.


"Mas! Kenapa sih selalu yang kamu pikirkan itu Namira? Bisa gak sekali saja pikirkan perasaan aku? Aku juga bisa lelah mas. Setiap sikap dia harus aku maklumi, kedatangan Safira harus aku mengerti, kerumitan kalian harus aku terima. Lalu siapa yang mau mengerti, memaklumi, dan menerima rasa tidak nyaman aku? Aku juga manusia biasa mas. Bukan Dewi dari surga yang punya sifat malaikat. Aku bisa marah, bisa kesal, bisa cemburu, dan bisa juga membenci seseorang."


Gunadh tentu kaget dengan rentetan ucapan Nandita. Tidak menyangka gadis di depannya itu akan mengucapkan kalimat panjang ungkapan perasaannya.


"Lalu aku harus gimana? Memaksa Safira untuk pergi, dan itu akan membuat Mira semakin menjauh dariku." Tatapan Gunadh penuh kecewa pada Nandita.


"Kalau mas gak bisa bersikap tegas, biar aku yang pergi mas. Aku gak maksa mas untuk sesuatu yang mas gak mau lakukan. Tapi jangan juga paksa aku untuk melakukan sesuatu yang aku gak suka."

__ADS_1


"Apa maksud kamu? Kamu mau meninggalkan aku begitu? Mau mengakhiri hubungan ini?" Kilat marah terpancar dari mata gunadh.


"Yang bilang mau mengakhiri hubungan siapa? Atau itu mau mas?


Sama-sama lelah, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa, membuat mereka gampang tersulut emosi. Mungkin ini titik jenuh dalam hubungan mereka. Sesuatu yang harus dilewati dengan dewasa, jika ingin kisah cinta itu tetap bertahan.


"Aku lelah mas, aku balik dulu. Gak tau kapan aku punya waktu untuk ke sini lagi." Ucap gadis itu, bangkit dari kursi rotan di samping Gunadh.


Gunadh memejamkan matanya. Mencoba meredam emosi yang berkilat. Ia harus bisa menahan diri. Kalau tidak, hubungan ini pasti akan hancur.


Layaknya seorang nahkoda yang kapalnya pernah karam, ia tidak ingin hal itu terjadi lagi. Bukan hanya ombak dahsyat yang harus ia waspadai. Batu karang dan hujan badai pun harus ia hindari.


Segera ia bangkit menyusul Nandita yang sudah tak nampak lagi ujung rambutnya.


Setengah berlari, Gunadh mengejar gadis itu yang sudah bersiap memakai helm.


Grep


Tubuh gadis itu tenggelam dalam rengkuhan tangan kekar Gunadh. Bisa Nandita dengar deru nafas dan suara detak jantung laki-laki yang kini membenamkannya pada dada bidang beraroma maskulin itu.


"Jangan pernah lelah, aku mohon jangan menyerah. Aku rapuh tanpa kamu sebagai penopang. Aku hampa, aku butuh sadaran, dan hanya kamu yang aku mau, membawa gerimis dalam tandusnya jiwa."


Nandita mencoba melepas belitan tangan kekar itu, namun tenaganya tidak sampai setengah dari tenaga Gunadh.


"Biarkan begini sebentar saja. Tubuh, pikiran, dan perasaanku merindukan kehangatan ini. Aku sadar, ada yang berubah diantara kita, dan aku tersiksa karenanya."


Gunadh meregangkan pelukannya. Menatap dalam manik bulat milik Nandita. Tidak tahan dengan apa yang dilakukan Gunadh, Nandita memberanikan diri mengecup bibir laki-laki itu.


Cup


"Udah ya, kita akhiri dulu sesi curhat bawangnya. Ini udah sore, kalau mas mau ketemu bisa ke kost atau pas makan siang aja ya. Tapi jangan minta aku untuk kemari. Aku belum mampu." Permintaan Nandita di angguki oleh Gunadh. Dan gadis itupun meninggalkan kediaman kekasihnya, diantar lambaian tangan dari Gunadh.


Namun kenyataan tidak seindah bayangan. Apa yang menjadi kesepakatan mereka berdua, tidak bisa terlaksana sesuai harapan. Beberapa kali Gunadh membatalkan janjinya, hingga Nandita merasa jengah.


'Terserahlah akan jadi seperti apa, berharap pada manusia memang akan selalu menghadirkan kecewa.' Nasihatnya pada diri sendiri.


Hingga hari ini, pertemuannya dengan Gunadh hanya terjadi dua kali dan itu pun hanya sebentar. Tidak seperti yang dibayangkan.


Rasa kesal Nandita pada keadaan, membuatnya kehilangan kedewasaan. Hingga ia menyanggupi permintaan Satya untuk menemani laki-laki itu membeli cincin lamaran tanpa meminta ijin pada Gunadh.


🌟🌟🌟


Ada seseorang yang menari bahagia atas merenggangnya hubungan Gunadh dan Nandita. Siapa lagi kalau bukan sang mantan istri. Mommy Namira itu, adalah dalang di balik keterbatasan waktu yang diberikan Gunadh untuk gadisny.


Dia orang yang dilihat Nandita bersembunyi dibalik pilar ketika perdebatan itu terjadi. Bahkan ketika mereka berdua duduk di taman pun, Safira sudah membuntutinya.


Ia yang mengetahui keluhan Nandita, jadi memiliki senjata untuk menyerang secara diam-diam.

__ADS_1


Selalu memanasi Namira agar anak itu semakin memebenci orang yang dulu pernah menolongnya itu.


"Bagaimanapun caranya, buat hubungan mereka berakhir sayang. Karena kalau tidak, harapan kamu untuk hidup bahagia bersama kami orang tua kamu gak akan bisa terwujud. Bila diibaratkan sebuah taman, kita adalah tumbuhan hias yang indah yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Sementara Nandita adalah rumput liar yang mengganggu pemandangan. Kamu mau keindahan taman itu ternoda oleh kehadiran tumbuhan yang tidak diharapkan?"


"Gak Mom ... Rumput itu harus disingkirkan agar tidak mengganggu pandangan mata." Ucap gadis kecil itu menggebu.


Jadilah mereka menyusun rencana, bagaimana caranya membuat Nandita semakin marah pada Gunadh. Semua ide berasal dari Safira, dan yang menjalankannya tentu sang anak.


"Dad ... Boleh gak aku minta sesuatu sama Daddy?"


"Mau apa? Kalau bisa Daddy akan berikan."


"Dad ... Sebentar lagi Daddy akan menikah dengan onty Dita. Meski aku gak setuju, Daddy tetap akan melakukannya kan?" Gunadh mengangguk, tanpa membantah atau menyela ucapan Mira.


"Jadi boleh gak, aku minta waktu Daddy selama aku sakit?"


"Kan Daddy gak pernah tinggalkan kamu, Daddy selalu tani kamu."


"Bukan gitu ..."


"Aku pengen menikmati jadi anak mommy dan Daddy sebulan aja. Jadi anak yang orang tuanya masih utuh. Kita pergi bertiga, makan bertiga, menghabiskan waktu yang gak akan pernah lagi aku alami selama hidupku." Ucap Mira sambil menunduk. Gadis itu mengungkapkan isi hati terdalamnya.


"Nanti, setelah Daddy menikah dengan onty Dita, aku gak akan bisa rasakan momen itu lagi Dad ... Gak mungkin kan? Kita jalan bertiga, aku mommy sama Daddy sementara onty Dita kita tinggalkan di rumah. Sedangkan aku juga ingin merasakan pergi bersama orang tua kandungku." Mira kini menatap mata sang Daddy.


"Satu bulan aja dad, kasi aku kenangan menjadi seorang anak pada umumnya. Kenangan yang akan aku simpan dalam hati. Yang akan aku jadikan bekal hingga dewasa. Yang akan menjadi penyemangat ku, dimanapun aku berada nanti."


"Kamu memiliki orang tua yang utuh. Kamu bisa mendapatkan kasih sayang kami, meski kami gak bersama lagi nak. Kapan pun kamu mau, kamu bisa minta mommy atau Daddy temani kamu kan? Gak harus minta waktu 1 bulan, seumur hidup Daddy kamu akan mendapatkan kasih sayang dari Daddy. Jangan berpikir setelah Daddy menikah dengan onty Dita, kamu akan Daddy telantarkan. Tapi, kita gak bisa pergi bertiga. Itu gak mungkin." Tolak Gunadh


Tidak mungkin ia melakukan itu, ada hati yang harus ia jaga agar tidak terluka. Namun isakan Mira juga tak ia abaikan.


"Satu bulan saja Dad. Kenangan itu sangat berarti untuk aku. Aku ingin kita liburan bertiga, foto bertiga, nonton, makan, belanja ..." Mira tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Lelehan air mata di pipinya, membuat nafas gadis itu tersengal.


"A ku gak pu nya ke na ngan itu. Sam pai ka pan pun aku gak a a kan pu nya. Huuu huuu" Suara Mira tersendat oleh isakannya.


Gunadh hanya mampu memeluk sang putri. Masih dilema harus bersikap bagaimana.


"Kalian semua egois, hanya mementingkan diri kalian sendiri. Kenapa aku harus dilahirkan kalau hanya akan kalian kecewakan? Kenapa orang dewasa gak ada yang mau mengalah? Aku bahkan sudah menerima pilihan Daddy untuk tetap bersama onty Dita. Aku mengalah. Gak minta lagi Daddy untuk kembali sama mommy. Tapi hanya untuk permintaan aku yang sederhana saja Daddy gak mau turuti?" Kini mata Mira tak lagi basah. Namun tatapan kecewa jelas terpancar dari manik hitam itu.


"Bahkan nanti aku harus hidup dengan onty Dita seumur hidupku. Aku mau. Kenapa Daddy tidak mau memberi aku satu bulan kenangan menjadi anak yang aku inginkan?"


Gunadh diam. Kepalanya seolah dipukul palu besar. Dadanya seakan tertindih hingga sulit bernafas.


Sedalam itukah kerinduan Mira akan sebuah keluarga yang utuh?


Benar, anak itu tidak minta dilahirkan. Ia hadir karena keinginan dua dewasa yang merasa mampu memberi kehidupan layak untuk benih yang meraka mohon pada sang kuasa atas nama cinta.


Lalu kini? Hanya sekadar waktu bersama saja ia tak sanggup berikan. Kenapa dengan mudahnya ia mengingkari kesanggupan itu? Seakan lantunan doa yang dilangitkan dulu hanya kata tanpa makna pada sang pencipta.

__ADS_1


Dengan terpaksa, akhirnya Gunadh menyanggupi keinginan sang anak. Meski dengan begitu, ia akan menyakiti kekasihnya.


__ADS_2