Nanditha

Nanditha
VIDEO YANG TERSEBAR


__ADS_3

"Tuan ... Tunggu sebentar ...!"


"Pak Gunadh kami minta waktunya sedikit saja ..."


"Tuan ini soal mantan istri anda ... Apakah anda mengetahui keberadaannya saat ini?"


"Video yang beredar, apakah itu benar mantan istri anda?"


Suara-suara pencari warta itu terus mengikutinya dari belakang. Namun Gunadh yang tidak tahu apa-apa, tetap melangkah menuju pintu utama rumahnya. Jangankan untuk memberi jawaban, sekadar menoleh saja ia enggan.


Setelah pemilik rumah melewati pintu gerbang, pekerja di rumah Gunadh dengan sigap menutup pintu gerbang, agar kerumunan itu tidak bisa masuk.


Dengan kecewa mereka kembali ke tempat kerja masing-masing. Usaha menunggu selama beberapa jam dari pagi, berakhir sia-sia.


Sementara itu, Gunadh langsung menghubungi sang asisten begitu ia tiba di ruang tamu.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa rumah saya didatangi banyak sekali wartawan?"


Tanya-nya langsung, begitu Arya menjawab panggilannya.


Arya diam sejenak. Terdengar helaan nafas dari laki-laki itu sebelum ia menjawab.


"Tadi pagi ... Tersebar beberapa video p**no di dunia maya, yang diduga pemeran wanitanya adalah Safira, tuan." Dengan pelan Arya mengatakan berita yang sangat mengejutkan itu.


"APA?" Sangking terkejutnya, Gunadh tanpa sadar berteriak.


"Bagaimana mungkin?" Tanya Gunadh tidak percaya. Ini adalah aib yang sudah ia coba untuk tutupi. Meski kelakuan Safira di luar batas, namun ia tetap ibu kandung dari anaknya.


"Maaf tuan ini di luar perkiraan saya. Saya juga baru tahu tadi pagi, saat tiba di kantor. Banyak karyawan membicarakan soal ini. Sebenarnya sudah sejak pagi saya berniat mengabari anda, namun sekali lagi saya minta maaf, pekerjaan di kantor membuat saya lupa." Ucap Arya dengan penuh penyesalan.


Gunadh memejamkan mata, bingung harus bagaimana. Ia tidak bisa menyalahkan Arya. Selain karena kesibukannya di kantor, Arya tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan Safira. Bahkan Gunadh pun sebenarnya sudah tidak memiliki urusan lagi dengan wanita itu. Hanya saja, ada Namira yang harus ia jaga psikologisnya.


Putrinya masih dalam proses pemulihan. Meski ia terlihat lebih ceria saat ini, namun Gunadh yakin masih ada 'luka' yang coba Mira tutupi darinya.


"Bukankah data aslinya sudah di serahkan pada kita? Bahkan kita sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk itu. Kenapa video menjijikkan itu bisa tersebar?" Kembali Gunadh mencecar asistenya.


"Itu akan saya cari tahu secepatnya tuan. Beri waktu dua hari saja." Pinta Arya. Asisten itu masih harus menyelesaikan pekerjaan kantornya hari ini, agar besok bisa fokus untuk urusan video tersebut.


"Segera Arya ... Saya tidak mau Mira sampai tahu, dia masih labil. Saya tidak mau ia melakukan hal buruk lagi, bila sampai melihat itu."


🌟🌟🌟


Mira diantar ke kamar tamu yang letaknya berada diantara ruang keluarga dan ruang tamu.

__ADS_1


"Non Mira ..." Bik Asih memanggil namanya ketika gadis itu diam saja.


"Bik ... Ada apa ya? Kok di depan ramai orang?"


"Bibik juga kurang tahu non. Non jangan pikirkan itu ya, daddy-nya non Mira kan sudah di sana, pasti baik-baik aja semuanya." Bik Asih menenangkan.


Mira mengangguk.


"Oh ya bik, ponsel aku dimana sih? Aku mau telepon teman-teman ..." Rengek Mira.


"Sebentar non." Bik Asih memeriksa tas yang ia bawa dari rumah sakit.


"Bik ... Nanti jadi ya masak lebih," Mira mendorong kursi rodanya, mendekati sang bibik yang masih sibuk dengan beberapa tas yang sudah terbuka.


"Iya non." Sahut wanita paruh baya itu, masih sibuk membongkar isi tas.


"Di tas Daddy kali bik, mangkanya nggak ketemu di sini."


Tanpa menjawab, bik Asih keluar memeriksa tas yang masih teronggok di dekat tangga.


"Ini non ..." Ucapnya mengulurkan benda pipih tersebut.


"Benarkan di tasnya Daddy ..." Ucap Mira.


"Non bisa sendiri? Apa mau bibik tungguin dulu?"


"Nggak usah bik, bibik masak aja."


"Ya sudah ..." Bik Asih berlalu meninggalkan kamar nona kecilnya


"Pintunya biarin terbuka bik ...!" Teriak Mira lagi.


Gadis itu menyalakan ponselnya, yang ternyata mati.


Ia kemudian mengambil charger dan mengisi daya. Ditatapnya ponsel keluaran terbaru pemberian sang Daddy. Mira tersenyum miris, mengingat ponsel kesayangannya hancur ketika tabrakan terjadi.


Sang daddy berinisiatif membelikan ia ponsel baru dan menghubungi teman-temannya agar datang menghiburnya. Penyesalan kembali menjalar di hati gadis itu. Namun rasa sakit dan sedih juga tetap bersarang di sudutnya yang lain.


Mira tersentak dari lamunannya, ketika mendengar teriakan Gunadh. Gadis itu memutar kursi rodanya ke arah pintu. Ia ingin memastikan apa yang terjadi.


"Bagaimana bisa?


"Bagaimana video menjijikkan itu bisa tersebar? ----"

__ADS_1


Obrolan Gunadh dengan seseorang, terdengar jelas di telinga Mira. Suara Gunadh yang berat, semakin menegaskan laki-laki itu sedang emosi.


Mira mengurungkan niatnya mendekati sang Daddy. Kembali ia masuk ke kamarnya dan meraih ponsel yang sedang diisi daya.


'ada apa sebenarnya?' Mira mencari situs berita online, gadis itu yakin bila ada berita viral, akun yang ia cari pasti akan memuatnya.


Tubuh Mira melemas. Kilasan adegan yang pernah ia lihat, kini kembali ia tonton di benda pipih berlayar kecil itu.


Rasa sakit bagai diremas membuat dadanya terasa terhimpit.


Mira berteriak sekuat tenaga melepaskan sesak yang tiba-tiba menyapa hatinya.


Bik asih dan gunadh kompak berlari menuju kamar Mira.


"Mira ..."


"Non ..."


Mereka mendekati Mira yang masih duduk di atas kursi roda dengan tangis pilu menyayat telinga yang mendengar. Mira menutup kedua telinganya sembari memejamkan mata.


Gunadh meraih tubuh putrinya ke dalam dekapan. Membelai punggungnya dengan lembut, mencoba memberi ketenangan.


Bik asih meraih ponsel yang masih tergelatak di lantai. Ponsel yang baru Gunadh belikan itu mengalami retak pada ujung layarnya, namun masih menyala.


"Astagaaa!" Bik Asih pun tak kalah terkejut menyaksikan apa yang layar itu tampilkan. Membuat Gunadh menoleh ke arah sang art.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Promo karya teman


bisa diintip ya ...


***


Karina Devita seorang gadis berumur 25 tahun yang harus menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Arfan untuk mengantikan sang Kakak yang tiba-tiba kabur satu minggu sebelum acara.


Di hari resepsi, Karina dikejutkan oleh kehadiran seorang pria dari masalalunya, pria itu bernama Argantara yang tidak lain adalah Kakak dari suaminya sendiri. Karina tidak habis pikir kenapa takdir malah mempertemukannya dengan Argantara dengan situasi seperti ini.


Situasi antara Karina dan Argantara begitu canggung, mereka memilih untuk bersikap seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Karina memutuskan untuk fokus kepada pernikahannya, namun nyatanya sang suami memperlakukan ia dengan tidak baik. Bukannya bersikap sebagai sumi yang baik, Arfan malah menghina dan menyiksa Karina.


Karina harus menerima kenyataan bahwa suaminya membenci perjodohan ini. Di saat itulah Argantara hadir sebagai seorang penyelamat. Bagaimanakah kisah cinta terlarang mereka?


__ADS_1


__ADS_2