Nanditha

Nanditha
BERITA VIRAL


__ADS_3

Mereka memutuskan kembali ke kota sore hari.


Drama kesalahpahaman sudah selesai, dan membuat Gunadh bisa bernafas lega.


Nandita hampir saja terlelap di kursi penumpang. Meski merasa tidak enak, membiarkan Gunadh menyetir seorang diri sementara dirinya tidur. Tapi kalau sudah mengantuk, mau bagaimana?


Drt


Drt


Drt


Ponselnya bergetar, lalu terdengar lagu favoritnya mengalun merdu.


Nandita mengangkat panggilan dengan malas. Matanya masih mengantuk.


"Ya dek, ada apa?"


"Kak, udah dapat belum orang yang bisa gantiin aku sama Dimas sementara? Aku mau fokus ke ujian dulu."


Nandita membenarkan posisi duduknya.


"Satu Minggu lagi ya dek, kakak janji deh habis itu kamu bisa fokus."


"Bener ya kak. Awas aja kalo bohong, aku ambil semua uang omset pake beli motor baru." Ancam sang adik.


"Berani kamu macam-macam, kakak sita semua barang kamu!" Nada suara Nandita berubah tegas.


"Ya kak, becanda ..."


'gitu aja marah' Malikha bergumam.


"Ya udah, kakak masih di jalan ini, nanti kita ngobrol lagi."


Panggilan langsung diputus. Nandita menarik nafas berat.


Gunadh melirik sekilas.


"Ada apa?" Tanya laki-laki itu.


"Lagi bingung mas, usahanya Malikha semakin berkembang. Sementara dia masih sekolah, sebentar lagi mau ujian. Minta tolong dicariin orang biar bisa pegang usaha itu sementara waktu. Masalahnya, aku gak tau mau cari orang yang kaya gimana."


Akhirnya ia mencurahkan kegelisahan yang selama ini ia pendam sendiri.


Tapi tetap, dia tidak mengatakan bahwa itu usaha miliknya.


"Mau aku bantu? Aku Carikan orangnya. Nanti kamu yang putuskan sendiri. Kalau dirasa cocok, bisa kamu pertimbangkan."


"Makasi mas. Besok bisa gak mas?" Nandita menoleh ke arah Gunadh yang saat ini fokus mengemudi.


Gunadh mengangguk.


Keesokan harinya, Gunadh menghubungi sang kekasih, sesaat sebelum jam makan siang.


"Sayang, nanti aku jemput ya, ikut aku ke kantor."


"Ngapain mas? Aku gak mau ke sana, malu."


"Katanya mau dicarikan orang buat bantu jadi admin,"


"Ya sih, tapi boleh gak ketemunya jangan di kantor?"


Nandita masih mencoba merayu Gunadh.


"Gak bisa yank, habis makan siang aku ada rapat sama staf."


Nandita terdengar menghembuskan nafas,


"Baiklah mas, aku ke sana."

__ADS_1


Dengan berat hati gadis itu menyanggupi untuk datang ke tempat kerja Gunadh.


"Nanti aku jemput Yank. Kabarin aja aku kalau sudah mau jalan."


"Ya mas, aku selesaikan jam terakhir dulu ini. Habis itu aku ijin ke sana. Oya mas mau dibawakan makan siang?"


"Boleh, biar nanti aku gak usah suruh Arya memesan makanan."


"Ok."


Panggilan ditutup.


Gunadh sudah menemukan orang yang dianggap tepat untuk membantu Malikha.


Dia adalah seorang gadis yang baru tamat SMA, namun belum bisa melanjutkan kuliah karena masalah biaya.


Gadis yang lumayan cerdas dan dapat dipercaya. Sebab Gunadh sudah mengenalnya sejak lama. Gadis itu anak bi Asih, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Gunadh.


Nandita tiba di hotel sekaligus kantor milik Gunadh. Gadis itu sudah disambut dengan senyum lebar oleh sang kekasih yang sudah menunggu di loby hotel.


"Mas," Sapa gadis itu dengan senyum tak kalah manis.


Gunadh mendekat, mengambil barang bawaan Nandita yang terlihat memenuhi kedua tangan gadis itu.


"Banyak bener barang bawaannya." Komentar Gunadh.


"Aku mau langsung melatih silat mas, gak balik ke sekolah lagi. Masa bukunya aku tinggal di sekolah?"


"Tau gitu, aku suruh Arya aja yang beli makan siang. Biar kamu gak kerepotan begini." Ucap Gunadh yang berjalan di samping sang gadis.


"Aku gak pernah merasa repot kok mas, kalau itu untuk kamu." Pipi Nandita merona setelah menyelesaikan kalimatnya.


Sejak kapan dirinya bisa menggombal?


Gunadh membalikkan badan, terkejut dengan tingkah Nandita yang semakin berani menggodanya.


"Cieee yang udah pintar gombal. Belajar dari mana tuuh?" Godanya.


'itu tunangan pak Gunadh kan?'


'beda penampilan sama mantan istrinya ya'


'cantik ya'


'sederhana banget'


Bisik-bisik karyawan yang melihat kehadiran Nandita di lingkungan kerja Gunadh.


"Mas, kayanya kita jadi pusat perhatian deh."


Nandita merasakan tatapan menyelidik dari beberapa orang yang dilewati.


"Biasa, mereka baru lihat bidadari soalnya."


Tangan Nandita refleks mencubit pinggang Gunadh, tanda protes.


"Beneran sayang, mereka terpesona sama kamu makanya liatnya begitu." Goda Gunadh lagi.


"Tau ah." Malas Nandita berdebat.


Hingga memasuki lift dan menuju ruang kerja Gunadh, gadis itu masih diam. Sudah biasa menjadi pusat perhatian, namun kali ini ia merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang.


"Kita makan siang dulu ya, sambil nunggu orangnya datang kemari." Ajak Gunadh, sambil meletakkan tas makanan di atas meja dekat sofa.


Nandita hanya mengangguk, lalu mengambil makanan itu untuk ia hidangkan.


Setelah sebelumnya mencuci tangan yang di wastafel ruangan tersebut.


"Mas, Kasikan ke pak Arya ini ya." Nandita memberikan kotak makan pada Gunadh.

__ADS_1


"Ngapain kamu belikan dia makanan juga yank, dia bisa beli sendiri." Kesal Gunadh.


"Gak apa mas, sekali-sekali." Ucap Nandita sambil sibuk memindahkan makanan ke piring yang Gunadh ambilkan barusan.


🌟🌟🌟


Wajah Safira memerah. Sangat marah dengan apa yang dilihat di media sosialnya.


Bahkan teman-temannya banyak yang mengirimi pesan, menanyakan kebenaran foto-foto yang beredar.


Ya, foto lamaran Gunadh untuk Nandita saat ini sedang ramai di Instagram.


Dengan judul 'LAMARAN PALING ROMANTIS' hingga lokasi tempat di mana lamaran itu berlangsung.


'sialan! Kenapa mereka malah semakin menunjukkan kedekatannya? Bagaimana aku bisa merebut hati mas Gunadh lagi?'


Safira meremas ponselnya kuat, seakan ingin meremukkan benda pipih itu dengan jari tangannya.


'aku harus buat mereka berpisah. Bagaimanapun caranya.'


Ucapnya lirih, berbisik pada diri sendiri.


Kembali ya membuka ponselnya, mencari profil Nandita di Instagram.


Ia melihat postingan-postingan gadis itu, dan mencari tahu lebih jauh tentangnya.


Entah apalagi yang direncanakan oleh mantan istri Gunadh tersebut.


🌟🌟🌟


Nandita merebahkan tubuhnya setelah selesai membersihkan diri. Rasanya sangat lelah, setelah seharian berada di luar rumah.


Tadi, setelah selesai urusan dengan orang yang Gunadh rekomendasikan, Nandita lanjut perjalanan ke gedung tempat pelatihan pencak silat. Setelahnya barulah ia kembali ke kost.


'aah cape bangeet,' Ucapnya sembari meregangkan otot-ototnya di atas tempat tidur.


'hubungi Malikha dulu lah.' Gumamnya kemudian bangkit mencari ponselnya di dalam tas yang tadi ia gantung di belakang pintu.


Namun alisnya berkerut ketika begitu banyak pesan dan panggilan tidak terjawab di ponselnya tersebut.


Segera ia membuka satu persatu pesan wa yang sebagian besar dari keluarga dan orang terdekatnya.


Matanya melotot sebab hampir semua pesan berisi tentang lamaran mendadaknya kemarin.


B : " Jangan macam-macam kamu dek. Tunggu kakak nikah dulu baru kamu!! 😡😡😡" Pesan dari Bianca.


N : " Cieeee, yang bentar lagi bakal nyusul akak ... 😍😍😍" Pesan dari kak Dya.


O : " Ajak ke rumah om dulu, kenalin sama keluarga besar!" Itu pesan dari omnya yang menjadi seorang polisi.


Belum selesai ia membaca, ponselnya kembali berdering.


"Ya Kha, baru kakak mau telepon kamu."


Ucapnya setelah panggilan dari sang adik ia angkat.


"Kakak! Beneran itu yang video di pintu surga itu?" Malikha heboh.


Nandita memutar bola matanya. Lelah, dan kini ditambah pusing.


"Kak! Jawab donk ... Aku kasih tahu ayah sama bunda nih!" Ancamnya.


"Besok kakak pulang dek, kamu diam jangan ngomong apa-apa!" Serunya pada sang adik.


"Udah ya kakak pusing. Besok lagi kita ngobrolnya." Kemudian ponselnya ia tutup.


Kepala Nandita berdenyut sakit. Tangannya memijit pelipisnya, yang kini terasa pening.


merasa penasaran, ia lalu membuka akun instagramnya, mencari tahu sumber kehebohan yang terjadi.

__ADS_1


Matanya ikut melotot, karena banyak sekali postingan yang menampilkan foto dirinya dan sang kekasih saat lamaran kemarin.


Gunadh berhasil membuat dunia tahu tentang hubungan mereka. Dan berhasil menjadikan Nandita sebagai bahan ledekan orang-orang di sekitarnya.


__ADS_2