
Matahari perlahan meninggalkan singgasananya, menghadirkan senja yang begitu menenangkan.
Gerombolan burung camar yang terbang di atas selat Bosphorus menambah kesan menyenangkan bagi mata yang melihatnya.
Entah kenapa, Nandita begitu menyukai tempat itu. Acap kali ia pergi ke sana sekadar untuk melihat lalu lalang kapal, dan merasakan hembusan angin.
Meski begitu banyak orang berlalu lalang di tempat itu,namun ia menikmatinya.
"Suka sekali ya kamu sama tempat ini?" Tanya Gunadh yang duduk di sampingnya. Mereka beristirahat di pinggiran teluk, duduk di atas bebatuan setelah puas berkeliling dan berbelanja oleh-oleh untuk Namira.
"Hmmm, ada banyak cerita yang selat ini simpan. Begitu banyak perbedaan yang selat ini satukan. Menghadirkan keindahan yang bisa dinikmati mata manusia, juga menjadikan dirinya sumber penghasilan bagi penduduk sekitarnya. Aku mengaguminya mas," ucap Nandita, menatap lurus ke depan, di mana kapal-kapal kecil maupun besar berlomba membawa penumpang, menunjukkan betapa indahnya karya sang Maha Pencipta.
"Suatu hari aku pengen ajak Mira ke sini mas. Anak itu pasti akan sangat menyukainya. Menyeberangi dua benua sekaligus, melihat burung camar mencari mangsa dari jarak dekat." Nandita tersenyum membayangkan ia dan calon anak sambungnya akan menghabiskan waktu di tempat itu lagi.
Gunadh pun tidak kuasa menahan buncahan bahagia di hatinya. Meski ia tahu hubungan antara Nandita dan Namira sudah semakin membaik, namun dirinya tidak menduga jika Nandita selalu mengingat putrinya.
"Dia pasti bahagiaaa banget, akhirnya punya seseorang yang bisa dia panggil bunda, yang sayang sama dia dengan tulus. Makasih ya sayang, kamu mau memaafkan semua kesalahannya dan menyayanginya kembali seperti dulu." Gunadh meraih tangan Nandita untuk dia cium.
"Kalau dipikir lagi, sebenarnya dia nggak salah mas, dia hanya ingin mendapat kasih sayang yang selama ini dia rindukan. Dia hanya sosok kecil yang ingin merasakan keluarga yang utuh seperti teman-temannya yang lain. Tapi caranya salah."
"Iya, bahkan dia sampai mau bunuh diri saat mengetahui kalau wanita yang ia perjuangkan, ternyata tidak sebaik yang ia kira selama ini. Mira mengalami depresi karena hal itu." Gunadh menunduk mengingat kembali masa kelam yang ia dan sang putri hadapi beberapa waktu lalu.
Nandita tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Dia tidak bisa memberi komentar apapun. Dia takut terlalu jauh mencampuri urusan ibu dan anak itu. Meski ingin, tapi sebisa mungkin ia menahan rasa ingin tahunya mengenai apa yang terjadi. Yang Nandita tahu, Mira depresi karena melihat ibunya bersama laki-laki lain, tepat di saat gadis belia itu hendak memberikan kejutan untuk merayakan ulang tahun sang mommy. Juga, tentang kasus video p***o yang menyeret Safira. Hanya sebatas itu yang ia ketahui.
"Mira anak yang kuat mas, aku yakin dia bisa melewati semua dengan baik. Dan semoga saja apa yang dilaluinya, bisa menjadikan dia sosok yang semakin dewasa."
"Yaaa ... Semoga saja setelah ini tidak ada lagi masalah yang bisa mengguncang mentalnya kembali." Ucap Gunadh, sembari melempar batu-batu kecil ke arah teluk yang tidak henti menciptakan riak-riak kecil.
Nandita mengangguk, mengaminkan dalam hati ucapan tunangannya itu.
Untuk beberapa saat, keduanya sama-sama membisu. Hingga gadis itu merasa cukup puas melepas lelah, ia mengajak Gunadh untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.
"Haaahh ... Balik yuk mas, bentar lagi kita harus siap-siap." Nandita bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan untuk membantu Gunadh berdiri.
Malam nanti rencananya ia dan Gunadh hendak memenuhi ajakan teman-teman kerja Nandita, yang memintanya datang ke salah satu tempat hiburan malam untuk berpesta bersama.
__ADS_1
Awalnya Nandita menolak, namun Gunadh membujuknya agar sesekali gadis itu mau berbaur dengan teman-temannya. Toh ada dia yang akan menjaganya di sana nanti.
Gunadh tidak mau Nandita dibuat tidak nyaman di tempat kerjanya, karena gadis itu selalu menolak ajakan teman-temannya.
🌟🌟🌟
Dentuman musik terdengar memekakan telinga. Lampu remang dengan banyaknya orang berlalu lalang, membuat Nandita merasa tidak nyaman.
Ia eratkan genggaman tangannya di lengan Gunadh. Mencari kenyamanan dari sosok itu.
"Mas ... Aku nggak nyaman lho di tempat ini." Ucapnya sedikit keras, sebab musik yang diputar melenyapkan suaranya.
"Sebentar aja kita di sini yank, temui teman kamu habis itu kita pulang." Gunadh mendekatkan kepalanya ke telinga Nandita, agar gadis itu mendengarnya.
Nandita mengangguk. Matanya liar mencari keberadaan teman-teman kerjanya.
Gunadh tidak pernah melepaskan dekapannya dari gadis yang dicintainya itu.
Hingga tidak beberapa lama, mereka menemukan meja tempat rombongan teman kerja Nandita berkumpul.
"Akhirnya kita berhasil mengajak anak rumahan ini bersenang-senang ...." Ucap salah satu teman laki-laki Nandita.
Temannya yang lain membenarkan ucapan laki-laki itu. Mereka menggoda Nandita yang datang bersama pasangannya.
Mereka menawarkan minuman beralkohol pada gadis itu, namun Gunadh mencegahnya. Sebagai ganti, Gunadh lah yang harus menenggak minuman tersebut.
Nandita hanya meminum air mineral dalam kemasan di tempat itu. Ia benar-benar tidak menikmati berada di tempat yang kata teman-temannya, adalah surga dunia.
"Mas, kita pulang yuk ... Habis kamu di sini nanti dibikin mabuk sama mereka." Bisik Nandita.
Awalnya teman-temannya melarang, namun karena Nandita yang sudah terlihat kesal, akhirnya mereka pun mengijinkan Nandita dan Gunadh untuk pergi.
"Mas ... Maaf ya, kamu jadi begini karena teman kerjaku." Nandita merasa kasihan saat Gunadh mengeluh sakit kepala.
Sudah lama laki-laki itu tidak menyentuh minuman beralkohol, sehingga reaksi tubuhnya menjadi lebih sensitif saat benda asing itu masuk ke dalam pencernaannya.
__ADS_1
Setibanya di hotel, Nandita memilih mengajak Gunadh ke dalam kamarnya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada laki-laki itu, dan dirinya tidak tahu.
Semakin lama, reaksi minuman itu semakin terasa. Gunadh mulai meracau tidak karuan.
"Ta ... Sakit ... Kepalaku sakit ..." Wajah Gunadh memerah, beberapa kali terbatuk seperti hendak muntah, namun tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya.
"Ya mas ... Tunggu aku carikan obat."
"Nggak ... Kamu nggak boleh pergi, kamu tetap di sini." Gunadh menarik tangan Nandita, yang hendak bangkit dari ranjang tempat Gunadh berbaring.
"Jangan pergi, kamu nggak boleh pergi." Mata sayu karena pengaruh alkohol itu, kini berkaca-kaca.
"Mas ...." Nandita terkejut dengan reaksi laki-laki itu. Apakah setiap orang mabuk akan bereaksi seperti ini?
"Aku sayang kamu Ta, kamu obat untuk semua kesakitanku." Gunadh mengambil tangan gadis itu, dibawanya ke atas kepalanya.
"Jangan tinggalin aku, jangan pergi sama laki-laki lain. Aku tau, kamu suka sama dia kan? Tapi aku nggak akan kasih kamu ke dia. Kamu milik aku." Gunadh terus meracau meluapkan isi hati yang tidak pernah ia ucapkan pada Nandita.
Usapan tangan Nandita berhenti, gadis itu terkejut dengan apa yang Gunadh katakan.
Apakah Gunadh tahu apa yang selama ini ia sembunyikan?
"Ta, sakiiiiit ...." Rintih Gunadh lagi.
Nandita kembali memijat dengan lembut, kepala yang kata Gunadh sangat sakit itu. Seperti yang sering bundanya lakukan saat ia atau yang lain sedang sakit.
Perlahan, Gunadh semakin tenang. Namun tangan laki-laki itu tetap memeluk pinggang Nandita dengan posesif.
Ucapan Gunadh barusan terus mengusik pikiran Nandita.
Ia ingat, ada yang pernah mengatakan kalau laki-laki yang sedang mabuk, akan berkata kejujuran yang saat sadar tidak pernah mereka ungkapkan.
Ia pun ingin mencobanya pada Gunadh. Ingin membuktikan, apakah Gunadh tahu rahasianya atau tidak.
"Mas ...." Panggilnya dengan lembut.
__ADS_1
"Hmmm," Gunadh merasa terusik, ia semakin merapatkan tubuhnya ke arah Nandita. Meringkuk seperti bayi yang meminta perlindungan.
"Apa yang mas tahu tentang aku?"