Nanditha

Nanditha
JALAN BERDUA


__ADS_3

Sesuai saran Candra, Nandita pun mengurangi intensitas bertemunya dengan Namira.


Hal itu dirasakan oleh Gunadh, namun ia tidak bisa memaksa sang kekasih untuk terus mengalah pada anaknya.


Rumit memang hubungan mereka.


Saat Gunadh berusaha mendekatkan sang anak, dan Nandita mau mengalah dan menerima Namira, kenapa justru Namira yang seakan enggan membuka diri?


Apa yang harus ia lakukan agar anaknya mau mengerti, bahwa bukan hanya gadis belia itu yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Namun Gunadh pun sama. Ia juga laki-laki normal yang masih memiliki hasrat, memiliki keinginan untuk berpasangan.


Egois kah ia sebagai seorang ayah?


"Dad ... Kata mommy, dia akan balik ke sini." Namira menemui sang Daddy yang baru saja pulang dari kantor.


"Lalu?" Gunadh menanggapi sekenanya. Sudah bukan urusannya lagi, apapun yang menyangkut dengan sang mantan istri.


"Daddy gak senang kalau mommy pulang?"


Raut sedih namira perlihatkan.


"Mira, berapa kali harus Daddy katakan? Antara mommy kamu sama Daddy itu sudah tidak ada hubungan apa pun lagi. Kalaupun dia kembali, tidak ada urusannya dengan Daddy!"


Sangking kesalnya dia dengan sang anak, suaranya naik satu oktaf. Gunadh lepas kendali melontarkan hal yang mungkin menyakitkan hati Mira.


Namun gadis itu memang harus mengerti. Apa yang membuat dia bahagia, belum tentu orang lain juga merasakannya. Keadaan memaksa Namira harus dewasa sebelum waktunya.


"Maaf, Daddy gak bermaksud membuat kamu sedih. Daddy senang, kamu akan lebih sering bertemu dengan mommy kamu. Tapi, kamu juga harus mengerti, kebahagiaan kamu akan sesuatu, tidak harus dirasakan orang lain. Dan belajarlah menerima kebahagiaan orang lain, meski tidak sesuai dengan keinginanmu."


Gunadh melembutkan suaranya, dan mengelus pelan surai panjang sang putri.


"Pesan Daddy, jangan melupakan kebaikan yang orang lain lakukan kepadamu. Jangan kecewakan orang yang percaya padamu."


Ia menatap dalam mata sang putri.


" Meski kamu belum genap 10 tahun, tapi Daddy tahu kamu anak yang cerdas. Kamu cepat belajar dan cepat mengerti. Meski kamu bertemu dengan mommy kamu, jangan lupakan onty Nandita yang selama ini memberikan kamu kasih sayang dan perhatian yang tulus. Gak gampang kita menemukan orang, yang bisa menerima kekurangan kita. Mau menemani kita saat susah, dan mengajarkan kita tentang kebaikan." Ucap Gunadh sebelum masuk ke kamarnya di lantai atas rumah tersebut.


Namira masih mematung di ruang tengah rumahnya. Hingga bi Asih menegurnya.


"Non kenapa bengong di sini?"


Ucapan sang bibi mengagetkannya.


"Iissh bibi kenapa ngagetin Mira sih?" Ucapnya seraya menghentakkan kakinya berlalu kembali menuju kamar.


Di dalam kamar, Namira menghubungi sang mommy.


"Mom, kapan mommy tiba di sini?" Pertanyaannya saat panggilan baru tersambung.


"Sabar sayang, ini mommy lagi siap-siap ke bandara. Paling besok sore mommy sampai." Ucap Safira dari seberang sana.


"Nanti mommy tinggal sama Mira kan? Gak pergi-pergi lagi?"

__ADS_1


"Enggak sayang, mommy akan menetap di Indonesia nemenin kamu. Udah ya, nanti kita ngobrol lagi. Kalau mommy udah sampai."


"Baiklah mom, hati-hati ya." Panggilan terputus. Namira melempar ponselnya ke atas kasur yang yang duduki.


Sebentar lagi, dia akan bertemu sang mommy, dia bertekad akan menyatukan kedua orang tuanya kembali.


'Tidak ada yang boleh merebut Daddy dari mommy, sebaik apapun orang itu padaku' gumamnya dalam hati.


Dua hari setelah perdebatannya dengan sang Daddy, lebih tepatnya setelah ia dinasehati oleh Gunadh. Gadis itu meminta diantarkan ke hotel tempat sang mommy menginap.


Gunadh tidak bisa mencegah, karena semakin dilarang, Mira pasti semakin nekat. Toh anaknya sudah besar kini, sudah bisa berdebat dan mulai mengerti keadaan orang tuanya.


Pikir Gunadh, sudah waktunya Namira bisa membedakan bagaimana perlakuan Safira dan Nandita terhadapnya. Agar gadis itu tidak selalu mengagungkan sang mommy.


Bukan berprasangka, tapi Gunadh yakin. Safira belum berubah hingga kini.


Di kepala wanita yang sudah melahirkan seorang anak itu, hanya ada ambisi, hura-hura, dan nafsu. Tidak ada cinta, ketulusan, juga kasih pada orang lain. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.


🌟🌟🌟


Sementara Nandita, gadis itu menjalani harinya seperti biasa. Pertemuannya dengan Gunadh pun masih intens seperti sebelumnya.


Namun memang, setiap kali Namira menghubunginya meminta bertemu, Nandita sering kali menolak dengan halus.


Sudah sejauh ini ia berusaha. Dirinya juga bukan seorang malaikat, yang bisa selalu bersabar seperti di sinetron azab. Tidak, dia tidak semurah hati itu, mengorbankan dirinya untuk selalu dipermainkan gadis kecil seperti Mira.


Ponselnya berdering. Gadis yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya itu, segera mengangkat panggilan masuk dari Gunadh.


"Ya mas,"


"Sayang, nanti aku jemput ya. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat."


"Jam berapa?"


"Selesai kamu ngajar aja. Hari ini gak ada jadwal silat kan?"


"Gak ada sih, kan Satya yang memegang kelas anak-anak." Jawabnya.


"Tapi kan mas masih kerja. Aku pulang jam setengah dua lho." Lanjutnya lagi.


"Gampang, kerjaan aku bisa diatur."


Jeda sejenak, sebelum akhirnya Nandita menjawab.


"Ya sudah, kalau udah siap aku kabarin mas lagi ya."


"Ya sayang, ya sudah aku lanjut kerja dulu ya."


Panggilan terputus.


Waktu menunjukkan pukul 14.15 saat mobil Gunadh memasuki gerbang kostan Nandita.

__ADS_1


Hal yang paling dikeluhkan oleh laki-laki itu adalah, saat ia memasuki jalan kecil menuju bangunan tersebut.


Banyak anak-anak yang bermain dengan bebas, dan pengguna sepeda motor yang sesuka hati karena berpikir jalanan sepi.


Seperti tadi, hampir saja laki-laki itu menabrak seorang pengendara motor yang asyik bermain ponsel dengan satu tangan, sementara tangan lain memegang stang motor. Syukur fokus Gunadh masih bagus, ya bisa menginjak rem dengan cepat. Kalau tidak, kecelakaan pasti tidak dapat di hindari.


"Yank, pindah kost kenapa? Betah banget tinggal di sini." Keluhnya saat Nandita membawakan minuman segar untuknya.


"Memang kenapa mas?


"Di sini tuh orangnya sesuka hati yank, bawa motor ugal-ugalan. Belom lagi anak-anak yang suka main di tengah jalan. Belum lagi jarak antara rumah ke sini lumayan jauh. Kamu juga ke sekolah sama tempat latihan silat kan lumayan juga." Keluhnya


"Belum kepikiran ke sana sih mas. Aku masih betah di sini. Orang-orang di sini ramah dan saling care. Udah yok gak usah bahas soal rumah. Mau kemana kita sekarang?" Ucap Nandita.


"Cieee yang udah gak sabar," Ledek Gunadh membuat Nandita mencebikkan bibirnya.


Gadis itu sudah kebal, setelah lebih dari satu tahun mengenal Gunadh, dia tahu sifat jahil kekasihnya.


Membelah jalanan, menuju tempat yang belum Nandita ketahui. Gunadh menggenggam mesra tangan sang kekasih.


"Kita mau kemana sih mas?" Tanya Nandita gusar, sebab sudah lebih dari satu jam, namun mereka belum sampai tempat yang di tuju.


"Udah, nikmati saja perjalanannya yank, sebab mungkin nanti kita akan merindukan momen seperti ini." Ucap laki-laki itu.


"Apaan sih, kamu jangan bikin takut ah!"


Nandita menghempas tangan yang di genggam Gunadh. Menyilangkannya di depan dada. Tatapan matanya juga ia alihkan ke luar jendela.


Gunadh tersenyum, ia tahu Nandita tulus mencintainya. Pastinya gadis itu takut dengan apa yang barusan ia ucapkan.


"Aku sehat yank, aku baik-baik aja. Dan gak akan kemana-mana. Jangan berpikir, kalau aku seperti pemeran dalam novel-novel yang kamu baca itu. Menciptakan kenangan indah, karena akan pergi jauh meninggalkan sang kekasih." Ucapnya sambil membelai rambut bergelombang milik Nandita.


Gunadh tahu, disela kesibukan Nandita, gadis itu selalu membaca novel baik online maupun cetak. Katanya, itu adalah me time baginya.


"Aku tuh ngomong gini, karena aku yakin. Saat kita punya anak nanti, bakal susah curi waktu kamu untuk kita bisa pergi berdua. Makanya aku mau ciptain itu sekarang, sebelum nanti ada yang ganggu kita." Gunadh tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat itu. Membuat rona di pipi sang gadis tidak bisa disembunyikan.


Melewati jalanan berbukit, pemandangan alam yang indah memanjakan Indra pengelihatan Nandita.


Meski rumah tinggalnya bukan di kota besar, namun juga bukan di tempat asri seperti yang ia lewati kini.


Saking asiknya melihat pemandangan alam, Nandita sampai lupa untuk bertanya kembali. Bahkan saat mobil berhenti, barulah ia sadar.


"Mas, udah sampai?" Ia menoleh ke arah Gunadh, dibalas anggukan lelaki itu.


"Udaah, yuk." Ajak Gunadh dengan senyum merekah.


Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


Menaiki tangga yang lumayan panjang agar sampai pada tempat yang di tuju.


Memasuki sebuah gapura besar, di sana sudah terlihat beberapa orang yang mengantri untuk berfoto.

__ADS_1


"Itu yang dinamakan pintu surga oleh orang-orang" Ucap Gunadh, seraya menunjukkan gapura yang berbeda dari tempat mereka masuk tadi.


"Waaah mas, indah sekali." Nandita tidak dapat menutupi rasa terpesonanya. Saat ia dan Gunadh mendapat giliran untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka di sana.


__ADS_2