Nanditha

Nanditha
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Sekuat apapun seorang laki-laki, ia akan rapuh bila orang yang dicintainya pergi. Sehebat apapun manusia, ia akan tunduk pada takdir yang sudah digariskan untuknya. Apa hal paling berharga di dunia ini?? Jabatan kah? Harta, atau kebahagiaan dan kedamaian dalam jiwa??


Gunadhyia tiba di rumah sakit satu jam setelah mendapat telepon dari Nandita. Ia khawatir dengan keadaan putrinya, namun ia juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawab pekerjaannya begitu saja.


Hidup sebatang kara, menjadikan ia harus bisa memposisikan diri menjadi ayah dan pemimpin perusahaan di waktu yang sama.


"Apa yang terjadi dengan putriku??" Tanya nya pada Nandita.


"Mira tadi sempat mengigau, panggil-panggil mommynya. Badannya juga panas, tapi tadi sudah disuntikkan obat penurun panas di infusnya. Oya mmm bapak diminta menemui dokter di ruangannya" Nandita ragu menyebut kata "bapak" pada Gunadhyia, tapi ia juga bingung mau memanggil apa.


"Baiklah,, saya akan ke ruangan dokter sebentar. Tolong, saya titip anak saya sebentar ya"


Nandita hanya mengangguk.


"Omooooo kak Dita,,,, ganteng bangeeet bapaknya si Mira ini,,,!!!!" Kiara histeris sambil memegang kedua pipinya, membayangkan wajah tampan Gunadhyia yang baru pertama dilihat.


"Apaan sih kamu kecil-kecil udah tau cowok tampan aja. Lagian dia ga cocok sama kamu,, terlalu tua dan kaku."


"Bilang aja kak Dita juga suka sama tuh cowo.... Eeeehh kalo dia bapaknya Mira,, berarti dia udah punya istri donk.... Yaaaahhhh udah sold out donk." Mendadak wajahnya menjadi lesu


"Nah makanya ituuuu,,, jangan mudah suka sama cowo,, jadi sering patah hati nanti" Nandita menasehati.


Di ruangan dokter, Gunadhyia merasa tegang. Ia menarik nafas dalam sebelum mulai pembicaraan yang lebih serius.


"Silahkan duduk pak, saya dokter yang menangani pasien atas nama Namira. Anda ayahnya, benar??"


"Ya benar dok,,"


"Begini,, seperti yang kemarin sudah saya jelaskan, sepertinya Namira mengalami trauma sehingga menyebabkan tubuhnya demam. Nah tadi pasien juga mengigau memanggil ibunya. Kemungkinan ia memang merindukan sang ibu. Belum lagi kejadian kemarin yang membuat ia tertekan, merasa ketakutan, dan merasa hidupnya tanpa perlindungan."


"Tapi saya dengan mommynya Mira sudah berpisah lama dok... Tidak mungkin juga ibunya bisa kesini sebab saat ini ia berada di luar negeri"

__ADS_1


"Oohhh mohon maaf pak,, kalau bisa coba hubungi mantan istri anda. Mungkin kalau pasien bisa bertemu meski lewat sambungan telepon, perasaan pasien akan lebih baik. Bukan bermaksud menasehati, tapi ini penting. Anda boleh berpisah dengan istri anda, tapi tidak ada salah satu dari kalian yang boleh memisahkan hubungan orang tua dengan anak. Ia harus tetap mendapatkan perhatian dari ke duanya. Hingga dia benar-benar sudah paham dengan apa yang terjadi dan bisa memutuskan sendiri langkah untuk dirinya harus tinggal bersama siapa."


"Baik dok,,, akan saya pikirkan nanti." Gunadh masih belum bisa memutuskan langkah selanjutnya. Hatinya dilema antara kesehatan Mira juga resiko yang akan ia hadapi bila membiarkan ibu dan anak itu bertemu.


Ia melangkah dengan gontai menuju ruangan sang putri, banyak hal yang ia pikirkan saat ini namun ia tidak punya teman berbagi.


Hidup sebatang kara, tanpa orang tua ataupun saudara yang bisa ia jadikan teman untuk berkeluh kesah.


"Apa kata dokter?" Suara itu mengagetkan ia saat baru saja hendak membuka pintu ruang rawat. Namun suara itu terdengar dari samping ruangan, ia menoleh rupanya Nandita berdiri di sana seorang diri.


"Huuuh ngagetin aja kamu.... Ngapain di sana??"


"Tadi habis antar Kiara ke parkiran" Nandita menjawab sembari membuka pintu ruangan Mira.


Ia menuju sofa yang ada di ruangan itu.


"Giman tadi?? Apa kata dokter?"


"Emangnya mommynya kemana?? Perasaan dulu juga dia kabur gegara nyari mommynya kan? Eeh maaf pak,,." Nandita merasa tidak enak, sebab menanyakan hal pribadi pada orang yang baru dikenal.


"Saya dan mommy


nya udah bercerai lama,,, sekitar tiga tahunan. Sekarang dia ga ada di sini. Dia ada di Jerman tinggal bersama pacarnya. Itu sebabnya saya tidak bisa temuin mereka berdua."


"Ooohhhh,,,, lalu gimana dong solusinya biar Mira cepat sembuh? Dia mungkin merindukan sosok wanita yang bisa menyayangi dia,, mungkin ibu bapak bisa dimintain tolong buat jaga dia??"


Nandita semakin berani bertanya. Padahal itu bukan urusan dia. Namun karena ia melihat langsung bagaimana keadaan Mira dari awal hingga saat ini, ia seperti tidak tega meninggalkan gadis malang itu.


Padahal bisa aja dia tidak perduli, toh dia sudah membantu gadis kecil itu dari niat jahat para preman kemarin. Namun hatinya merasa tertarik dengan kisah hidup Namira.


Sedangkan Gunadhyia yang selama ini tidak pernah terbuka dengan kehidupan pribadinya kepada orang lain, kini seolah mendapat tempat untuk berbagi keluh kesah.

__ADS_1


Banyak yang tunduk padanya, banyak juga wanita yang mendekatinya, namun tidak semua perduli akan hidup dan beban yang ia tanggung.


Hanya sang asisten yang biasa ia ajak untuk berdiskusi, namun itu hanya sebatas pekerjaan. Sebab ia pun paham, asistennya sudah ruwet dengan pekerjaan, mana mungkin harus ditambah lagi dengan curhatan pribadi sang bos


"Aku sudah tidak memiliki orang tua. Mereka meninggal saat Mira belum lahir.


Aku anak tunggal, begitupun mantan istriku Safira. Mira juga tidak terlalu dekat dengan orang tua Safira, sebab mereka tinggal di luar kota"


Gunadh dengan menundukkan kepala menceritakan sekelumit kisah hidupnya.


Sedangkan Nandita,, gadis itu bingung harus menanggapi seperti apa. Sebab sangat jarang ia ikut campur urusan orang lain. Baginya setiap orang memiliki masalah masing-masing yang harus ia hadapi dalam hidupnya.


Namun berbeda dengan laki-laki di hadapannya ini. Ia seperti melihat sosok sang ayah ada pada dirinya. Bagaimana kesepiannya, tanggung jawabnya, serta kasih sayangnya kepada anak.


Bersyukur bunda setia menemani, beda halnya dengan Gunadh yang saat ini tidak ada pendamping hidup. Bersyukur juga sang ayah memiliki putri lebih dari satu, jadi saat-saat sulit kehidupan bisa terlewati bersama keluarga yang utuh.


Namun laki-laki gagah ini, ia menghadapinya seorang diri. Antara salut dan miris saja Nandita jadinya.


"Saya turut prihatin dengan keadaan ini, tapi saya ga bisa memberi solusi untuk bapak. Saya juga belum menikah, jadi saya tidak tau cara parenting yang baik seperti apa. Apalagi menghadapi kasus seperti Mira. Tapi kalau bapak mau, kalau bapak membutuhkan bantuan saya, bapak bisa ajak Mira ke kostan saya setiap hari lewat jam makan siang. Sebab kalau pagi saya masih kerja." Gadis itu mencoba memberikan penawaran


"Terimakasih,, maaf kalau saya merepotkan kamu. Dan maaf juga,, bukannya saya bermaksud merendahkan kamu. Saya tau kamu orang tulus, namun ini demi kenyamanan saya juga, berapa saya harus memberi kamu gaji untuk menjaga anak saya? Sekali lagi, saya tidak bermaksud membeli harga dirimu. Tapi sungguh, saya bukan orang yang mau membebankan sesuatu pada orang lain tanpa memberikan hak mereka dengan layak"


Jujur saja Nandita merasa keberatan, ia ingin menolak. Tapi ia paham, setiap orang memiliki prinsip dalam hidup. Seperti dirinya yang pantang merepotkan orang lain, mungkin bagi Gunadh prinsip hidupnya adalah pantang berhutang Budi pada orang lain. Jadi ia hanya bisa memilih diantara dua pilihan. Menjaga anak itu dengan upah, atau tidak sama sekali.


"Baiklah terserah anda saja, yang pasti saya melakukan semua itu dengan ikhlas, bila di dalamnya harus ada timbal balik, saya serahkan semua itu pada bapak saja. Berapapun saya terima" ucap gadis itu lagi.


Jadilah mulai malam itu ia memiliki pekerjaan sampingan selain mengajar. Yakni menjadi penjaga Mira.


Mungkin ini jalan untuknya agar bisa segera pergi keluar negeri dengan hasil usahanya sendiri.


Siapa yang tahu. Karena manusia hanya bisa berencana dan berusaha disertai doa, namun kembali Tuhan yang mengatur segalanya. Hanya Tuhan yang tahu, jalan hidup seperti apa yang akan masing-masing umatnya lewati esok hari.

__ADS_1


__ADS_2