
Terpaksa Gunadh meninggalkan masalahnya bersama Nandita yang belum menemukan titik terang.
Benar kata Arya, urusan pekerjaan lebih penting dibanding urusan pribadinya. Karena bukan hanya soal omset. Bila menyangkut pekerjaan, itu berarti menyangkut orang banyak. Sebab ada ribuan karyawan yang ada dibawah naungannya. Itu berarti ribuan perut juga yang harus ia pastikan harus tetap terisi.
Pagi-pagi Arya sudah datang menjemput. Mereka berangkat sebelum matahari terbit. Berharap semakin cepat selesai, maka ia akan semakin cepat kembali.
"Daddy mau kemana?" Tanya Namira yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati sang Daddy sudah berpakaian rapi.
"Mira, Daddy ada urusan di luar kota. Kamu sama mommy dulu di rumah ya. Nanti, hubungi mommy kamu agar datang lebih awal."
"Yaa Dad, tapi Daddy gak lama kan?"
"Doakan agar urusannya cepat selesai ya, biar Daddy cepat balik. Semoga aja gak harus sampai menginap."
"Ya Dad, hati-hati ya."
Gunadh mencium kening sang putri sebelum ia meninggalkan kediamannya.
Sementara di rumah, Mira segera menghubungi sang mommy yang dari kemarin tidak datang ke rumah untuk menemaninya.
Tuut
Tuut
Tuut
Sudah tiga kali Mira menghubungi Safira, namun panggilannya selalu berakhir dengan suara operator.
Dengan kesal gadi itu melempar ponselnya di atas ranjang.
'Kemana sih mommy. Dari kemarin gak ada kabar.' Sungut Mira.
Padahal ini kesempatan bagus untuk ia dan ibunya menjalankan rencana rahasia mereka yang belum tercapai.
Hingga hari merangkak siang, barulah Safira menghubungi kembali sang putri.
"Maaf sayang mommy gak tau kamu hubungi mommy tadi. Ada apa nak?" Tanya Safira yang masih bergelung di bawah selimut tebal di salah satu hotel berbintang di kota itu.
"Mommy lagi di mana? Kenapa dari kemarin gak ada kesini?"
"Mommy lagi ada urusan sayang ... Kamu sama Daddy dulu ya."
"Tadi Daddy pergi. Kata Daddy suruh hubungi mommy." Kata Mira kesal. Merasa orang tuanya mulai sibuk masing-masing.
"Mommy bilang, kalau Daddy pergi kita bisa menjalankan rencana rahasia kita. Tapi sekarang malah sibuk sendiri." Lanjut gadis itu lagi.
"Memang Daddy pergi kemana?"
"Katanya ada urusan ke luar kota. Gak tahu kapan baliknya." Kata Mira lagi.
Safira nampak diam berfikir.
"Mmm tunggu ya mommy sebentar lagi ke sana." Ucap Safira akhirnya.
__ADS_1
"Jangan lama-lama mom, Mira kesepian."
"Ya sayang, setelah urusan mommy beres, mommy langsung ke sana."
Sambungan telepon ditutup.
Safira melirik ke samping, di mana laki-laki matang berusia sekitar 50tahun tengah menatapnya nakal.
"Kamu berisik sekali honey, mengganggu tidurku saja." Ucapnya.
Tangan laki-laki itu dengan lancang me mbe lai p aha Safira yang tersingkap.
Wanita semampai itu memejamkan mata. Menikmati sentuhan itu, hingga tanpa sadar suara sens ual keluar dari bibir nya.
"Uuh." Ucapnya.
Sudah lama ia tidak merasakan sentuhan nakal seperti itu. Sejak kepulangannya ke Indonesia, kebutuhan biologisnya sebagai seorang wanita dewasa tidak pernah terpenuhi.
"Mau di atas?" Tawar laki-laki itu.
"Aku masih ada urusan om. Jangan sekarang ya. Memang om gak capek, semalaman melakukan itu?" Ucapnya dengan manja sambil membelai dada bidang laki-laki setengah abad itu.
Mata laki-laki itu terpejam, merasakan sentuhan lembut dari jemari wanita penghangat ranjangnya.
"Mulut kamu menolak, tapi sepertinya tubuhmu menginginkannya lagi." Ejeknya, kemudian langsung menyerang aset kembar Safira dengan rakus.
"Uuh oom" Suara Safira penuh ga ira h. Dan kembali adegan yang diinginkan terulang lagi.
"Nanti aku transfer ke rekening kamu ya." Ucap lelaki yang bernama Bramantyo itu.
"Sekarang aja oom." Ucap Safira manja.
"Baiklah." Om Bram mengambil ponselnya di atas nakas hanya dengan handuk di pinggangnya. Sementara Safira melanjutkan kegiatannya mengganti baju dan merias diri. Menutupi bekas percintaan mereka yang terlihat, dengan make up agar nanti tidak dipertanyakan oleh Namira.
'Dasar tua-tua keladi.' Sambil tersenyum sinis, wanita itu memoles tanda merah itu dengan alas bedak.
Setelah keduanya selesai, Safira keluar kamar hotel terlebih dahulu. Senyum merekah di bibir pink itu. Terpancar jelas kebahagiaan dan kepuasan di wajahnya.
Bramantyo, laki-laki yang dikenalnya tanpa sengaja di sebuah pusat perbelanjaan ketika dirinya baru pulang dari rumah Gunadh. Saat itu, Safira yang lelah terpeleset dan hampir jatuh. Dan kebetulan Bram yang menolongnya.
Laki-laki setengah abad itu, langsung terpesona begitu melihat wajah Safira. Puber kedua, membuatnya seolah menjadi remaja yang baru mengenal gairah.
Hingga akhirnya hubungan mereka yang awalnya hanya sekadar berbalas pesan, hingga kini saling berbalas saliva dan berbagi peluh ken ikma tan.
Sementara Safira, wanita itu seperti mendapat lotre ketika Bram menyatakan rasa tertariknya pada janda Gunadhyia tersebut. Ia yang tidak memiliki pekerjaan, namun gaya hidup sosialita memaksanya harus selalu tampil wah. Sementara uang tabungannya semakin menipis dan hubungannya dengan Gunadh tidak ada perkembangan. Membuatnya mencari jalan pintas dengan menerima Bram sebagai sugar daddynya.
'Lagi pula aku sudah pernah melakukan hubungan dengan lebih dari satu laki-laki' pikirnya. Bahkan dengan Reyhan, ia melakukan hal itu ketika masih terikat pernikahan dengan Gunadh. Jadi menurutnya, ini lebih baik. Dia tidak sedang terikat dengan siapapun.
"Mom kenapa baru datang" Tanya Namira ketika sang mommy baru saja memasuki pintu utama rumah tersebut.
Rupanya gadis kelas enam SD itu sudah menunggu dari tadi kedatangan wanita yang melahirkannya itu.
"Maaf sayang, mommy masih ada urusan tadi. Kamu sudah makan?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan agar Namira tidak bertanya lebih jauh.
__ADS_1
"Udah tadi sama bi Asih." Namira masih merajuk.
"Mau keluar gak? Kita jalan-jalan. Kamu pasti bosan kan diem di rumah terus." Bujuknya lagi
"Aku masih begini, apa diijinin sama Daddy?" Suara Mira lebih melunak kini.
"Mommy yang bilang nanti sama Daddy. Kamu siap-siap dulu sana, minta tolong bibi untuk bantu kamu." Ucap Safira lagi.
Mira mengangguk. Melangkah pelan tanpa tongkat penyangga.
"Biiik bantu Mira bersiap!" Titahnya pada art Gunadh.
Bi Asih datang dengan tergopah. Ia tidak mau, mantan majikannya itu memarahinya bila datang terlambat.
"Maaf, tadi mba Fira panggil bibik?"
"Ya. Buruan bantu Namira bersiap. Kami mau pergi."
"Tapi kan non Mira belum sembuh mba, dan lagi tuan gak ada"
"Sst berisik banget sih. Namira itu anak saya. Hak saya sama mas Gunadh itu sama. Kalau saya mau ajak dia keluar, itu urusan saya. Udah cepet bantuin. Ngomong aja! Pembantu juga, belagu banget!" Ketus Safira dengan nada angkuhnya.
"Maaf mba." Bi Asih melangkah dengan kepal tertunduk.
Benar, dirinya hanya seorang pembantu. Tidak seharusnya ikut campur urusan majikan. Namun rasa sayangnya pada gadis kecil yang ditinggalkan mommynya ketika masih belajar bicara itu, membuat ia lupa siapa dirinya yang sebenarnya.
Dengan telaten ia membantu Namira bersiap.
"Non Mira mau kemana? Nanti hati-hati ya. Ingat, kaki non masih belum sembuh sepenuhnya." Ucap wanita paruh baya itu.
"Mira mau keluar sama mommy bik, Mira bosen di rumah terus. Bibik tenang aja, Mira bakal jaga diri kok." Ucap gadis itu sambil tersenyum.
"Non udah bilang sama tuan? Takutnya dicariin nanti."
"Daddy gak pulang hari ini bik, urusannya di sana belum selesai. Gak tahu kapan bakal balik." Ucapnya lagi.
"Oohh gitu ya non"
Tidak ada lagi obrolan setelah itu. Hingga tak berselang lama, Namira sudah siap dan melangkah pelan menuju ruang tamu.
"Mom, aku bawa tongkat gak?"
"Emang kamu nyaman kalau keluar pakai tongkat? Nanti malah jadi tontonan lagi." Kata Safira.
"Ya sih. Tapi, apa aku boleh jalan tanpa tongkat dalam waktu yang lama?"
"Ya nanti kalau capek, kita istirahat aja. Daripada bawa tongkat, nanti jadi pusat perhatian." Usul Safira.
Kalau bukan demi membuat sang anak tidak merajuk dan banyak bertanya, Safira rasanya enggan mengajak Mira keluar dengan keadaan seperti ini.
"Udah yuk, ditungguin itu sama supir taksinya." Ucapnya lagi.
Namira mengikuti dari belakang, dibantu bik Asih yang merasa iba dengan keadaan nona mudanya.
__ADS_1