
Bila memiliki akan menyakiti, kenapa kamu halalkan semua cara? Merebut kembali sesuatu yang sudah kau buang. Benarkah kamu masih membutuhkannya? Atau kamu hanya diperbudak ego?
Hari sudah siang saat Nandita untuk ke tiga kalinya mencoba menghubungi Gunadh. Namun tetap telepon Gunadh tidak kunjung aktif.
Perutnya sudah kembali lapar. Ia memesan makan siang agar diantar ke kamarnya. Setelah makan, ia merebahkan dirinya di sofa sambil memainkan ponsel. Rasa kantuk menyapa. Nandita ketiduran di sofa hingga sore menjelang.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu mengagetkannya. Segera ia mengusap wajahnya, menegakkan duduknya agar tidak sempoyongan saat berjalan.
Begitu pintu di buka, muncul wajah Gunadh penuh dengan rasa bersalah.
"Ta,,, maaf"
Nandita masih bingung, ada apa sebenarnya?
"Masuk dulu mas,,, kenapa baru datang?? Mira mana??" Pertanyaan nya langsung dijawab oleh senyum sumringah Mira yang muncul dari lorong dekat lift. Bersama seorang wanita dewasa cantik, yang menenteng beberapa tas belanja di tangannya.
"Onty...." Mira berlari mendekat, meninggalkan sang mommy yang melangkah pelan dengan elegan.
Senyum canggung menghiasi wajah gadis itu. Ada rasa kesal juga menyelimuti hatinya. Namun coba ia sembunyikan dengan senyum, agar tidak menambah kaku suasana.
"Hai,,,, kamu Dita ya??" Safira mendekat, meletakkan belanjaannya di bawah lalu mengulurkan tangan menyapa sang pemilik kamar.
"Ya mba,,,, mmmm mau mampir ke sini atau ke kamarnya mas Gunadh??"
Nandita bingung sebab mereka sedang berada di depan kamar, otomatis sedikit menghalangi jalan orang berlalu lalang di lorong tersebut.
Gunadh berniat masuk ke kamar Nandita, namun setelah melihat Safira juga Mira, rasanya tidak elok bila membuat kamar gadis itu menjadi ramai.
"Nanti aku wa kamu ya,,,, sekarang aku masuk ke kamar dulu." Ucapnya pada akhirnya.
Nandita hanya menganggukkan kepalanya, kemudian berbalik menuju kamarnya lagi.
Sementara mereka bertiga masuk ke kamar Gunadh.
"Kalau urusan kamu sudah selesai dengan Mira, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu Safira. Mira juga butuh istirahat." Ketus laki-laki itu sambil berlalu ke kamar mandi.
"Kamu lihat kan sayang,, mommy malah di usir sama Daddy. Apa kehadiran mommy mengganggu kebersamaan kalian dengan onty Dita kamu itu??"
"Enggak kok mom,, onty juga tadi gak marah kan liat aku sama mommy..."
__ADS_1
"Tapi mommy bisa merasakan wajah tidak sukanya sayang...."
Mira tidak mengerti, Diah akhirnya hanya menggedikkan bahunya saja tanda tidak tahu.
Gunadh keluar kamar setelah selesai membersihkan diri. Niatnya ia ingin menebus waktu tadi dengan mengajak Nandita jalan berdua saja.
Terpaksa ia meninggalkan Namira dan Safira di kamarnya, sebab sepertinya Safira tidak berniat untuk pergi dari sana. Kalau dia berkata kasar, takut Mira sedih dan salah paham.
Tok
Tok
Tok
"Dita,,,,,"
Pintu terbuka, wajah Nandita muncul dengan ekspresi yang tidak Gunadh mengerti.
"Boleh aku masuk??"
Nandita hanya mengangguk, lalu memberi ruang laki-laki itu untuk melewati pintu kamarnya.
"Maaf ya sayang,,,, rencana kita gagal jadinya. Tadi selepas sarapan, entah kenapa Mira pengen kami jalan bertiga. Awalnya aku gak mau, tapi Safira memohon katanya demi liat Mira tersenyum bahagia. Mau telepon kamu juga gak bisa, ponsel aku habis batere kemarin lupa isi." Nandita hanya diam saja menyimak penjelasan Gunadh.
"Kita jalan berdua yuk,,,,. Kita ke Garden by the Bay. Ga usah ajak Mira, biar dia menikmati waktu berdua dengan mommy nya."
Awalnya Nandita enggan, namun setelah dipikir, untuk apa dia berdiam diri di kamar seharian?? Akhirnya ia menganggukkan kepala.
"Aku mandi dulu kalo gitu ya mas.... Nanti aku wa kalo udah beres."
"Aku tunggu di bawah aja ya sayang. Males aku kalau balik ke kamar."
"Terserah mas aja."
Nandita pun bersiap. Setelahnya, ia keluar kamar menuju loby di mana Gunadh sudah menunggunya sedari tadi.
Baru saja ia menutup pintu, dari kamar sebelah muncul Mira dan sang mommy.
"Onty,,, tolong dong, bunda kesusahan bawa barangnya, tadi dia kebanyakan belanja. Sekarang mau bawa ke kamarnya agak susah." Mira meminta tolong, namun melihat Safira tadi gampang menenteng semua sendiri, otak cerdas Nandita bekerja cepat.
'Dikiranya aku pembantu dia apa, main suruh-suruh aja.'
"Aduuuuhh maaf sayang, bukan onty gak mau bantu, tapi onty lagi buru-buru ini. Lagian kan bisa ambil dua kali ke kamar ini, kalau ga bisa sekalian. Kamu juga udah besar lho, bisa belajar bantuin mommy kamu ya. Onty pergi dulu. Kamu baik-baik sama mommy ya...." Setelah mengelus sebentar kepala Mira, Nandita berlalu dari hadapan dua orang tersebut.
Wajah Mira berubah, ada rasa marah dan kecewa menghiasi. Tidak menyangka kalau Nandita yang selama ini ia kenal, berubah menyebalkan.
__ADS_1
Nandita melangkahkan kakinya menuju loby. Tersenyum melihat Gunadh sambil meyakinkan dalam hati, dia harus berhati-hati. Safira bukan wanita yang bisa diajak berteman.
Gunadh mengendarai mobil sewaannya. Menyusuri jalan mengandalkan google maps untuk mencari lokasi yang di tuju.
Setibanya di sana, mereka berjalan menyusuri Flower Dome. Area yang menaungi berbagai tumbuhan dan bunga dari lima benua, dari pepohonan zaitun berusia ribuan tahun hingga bunga magnolia dan anggrek.**
Meskipun area ini merupakan atraksi paling spektakuler di Gardens by the Bay, Flower Dome bukanlah satu-satunya surga flora yang mereka tuju.
Berpindah ke Floral Fantasy,
Konservatori dalam ruangan ini terinspirasi dari kisah dongeng dan lantai Hanging Gardens of Babylon dengan area hijau, pahatan kayu apung nan dramatis, dan karya seni flora.**
Tidak banyak yang mereka kunjungi, hanya ada tiga tempat saja. Sebab Nandita terpesona dengan setiap tempat yang ia datangi, ingin berlama-lama mengambil banyak foto yang bisa dijadikan kenangan.
Ia dan Gunadh menutup kunjungan mereka dengan menyaksikan matahari terbenam di Bay East Garden. Taman terbuka nan hijau dan tepi perairan nan cantik yang memberikan pemandangan bebas halangan ke cakrawala Singapura.**
Saling bergandengan tangan mereka menyusuri tiap tempat, mengukir senyum bahagia sebagai pasangan yang sedang dimabuk asmara.
Tak ada kata yang terucap, hanya sorot mata dan senyum yang mewakili perasaan bahagia satu sama lain.
🌟🌟🌟
Setelah kepergian Nandita, dua orang ibu dan anak itu saling tatap.
"Lihat sendiri kan,,, onty yang kamu banggakan itu, mana mau dia bantu mommy. Mommy yakin, sebenarnya dia gak suka sama mommy. Dia ingin merebut kasih sayang Daddy, makanya dia baik sama kamu. Nanti juga setelah dia berhasil memiliki Daddy kamu, dia bakal cuek dan ga perduli sama kamu."
Mira yang polos, menelan mentah-mentah apa yang diucapkan Safira.
Mungkinkah Nandita suka pada sang Daddy??
Namira tidak akan pernah merestui bila sampai sang Daddy memiliki hubungan dengan Nandita. Baginya hanya mommy yang boleh dekat dengan Daddy. Mommy yang terbaik, dan tidak ada yang boleh menggantikannya.
Namira mana tahu kelakuan sang mommy, sehingga mengakibatkan perceraian antara keduanya.
Gunadh rupanya melakukan kesalahan dengan tidak memberitahukan Namira, bagaimana sifat asli sang mommy.
Senyum tersungging di bibir Safira. Berhasil ia mempermainkan perasaan sang anak. Demi ambisinya, dia mengorbankan pikiran polos Namira. Menciptakan kebencian yang mungkin saja akan menjadi penyesalan terdalam sang anak nantinya.
^_________^^_________^^_________^
** Diambil dari sumber di google
Terimakasih sudah bersedia mampir yaa... Jangan lupa dukung dengan like dan komen ya...
Sehat selalu untuk semua 😘😘😘
__ADS_1