
Setelah tadi pagi Gunadh dibuat kesal oleh saudara-saudara Nandita yang mengerjainya, kini laki-laki itu juga nampak uring-uringan karena tamu yang hadir terus berdatangan.
"Kurang ajar si Arya," ucapnya pelan, saat menyadari, antrian tamu yang mengular, bersiap naik ke pelaminan.
"Mas, kenapa ngomong gitu? Nggak enak didenger sama orang?" tegur Nandita, sembari mencubit pinggang suaminya.
Nandita sudah menahan kesal sejak pagi. Sifat suaminya berubah seratus delapan puluh derajat.
Entah salah makan apa laki-laki itu, kemarin.
"Liat Yank, berapa banyak orang yang diundangnya? Padahal mas nggak punya teman sebanyak ini lho," sungut Gunadh menunjuk tamu undangan dengan dagunya.
"Ada apa, Ta?" Ayah Darma yang melihat wajah Nandita nampak menahan kesal, akhirnya bertanya.
"Tau ini, bikin malu aja." sahut Nandita tidak bis menyembunyikan kekesalannya.
Ayah Darma hanya bisa menggelengkan kepala, melihat sikap Gunadh yang jauh berbeda dari biasanya.
Dalam hati, ia merasa lucu. Seorang laki-laku kaku yang selalu berbicara dengan bahasa baku, kini terlihat seperti seorang remaja yang tengah dimabuk cinta.
"Yank, mas turun dulu ya. Mau cari si Arya sebentar."
"Mau ngapain? Jangan aneh-aneh mas!"
"Nggak, sebentar aja kok."
Gunadh menghubungi Arya yang saat ini entah berada di mana. Ia ingin menumpahkan kekesalan pada asisten andalannya itu.
Apa mungkin Arya punya dendam pribadi padanya, atau laki-laki yang masih membujang itu merasa iri, karena dirinya lebih dulu mendapatkan pasangan hidup?
"Ada apa tuan?" Tanya Arya saat mereka berdua bertemu.
"Apa maksudmu mengundang tamu sebanyak ini? Kamu ingin membuat saya dan istri saya kelelahan?
"Maksudnya?" Arya tidak mengerti maksud Gunadh.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu atur agar saya dan istri saya bisa secepatnya meninggalkan pesta ini. Kamu harus buat agar istri saya mau segera pergi untuk beristirahat." Tegas Gunadh, dan langsung meninggalkan sang asisten.
Arya hanya bisa menarik nafas sembari mengusap tengkuknya yang terasa pegal.
Dan benar saja, entah dengan alasan apa, Arya bisa membujuk Nandita agar mau meninggalkan pesta dan kembali ke kamar pengantin.
"Nggak pa-pa nak, istirahatlah. Sebentar lagi kami juga akan ke kamar. Kasihan suami kamu, sepertinya sudah sangat kelelahan." ucap Tante Niar, saat Nandita berpamitan dengan tidak enak hati.
Gunadh merasa senang, niatnya menghabiskan malam bersama sang istri akhirnya terwujud.
"Mas, katanya lelah. Udah ah, tidur aja." Ucap Nandita, memunggungi sang suami.
"Yank ... Tega kamu sama mas ya?" Wajah Gunadh memelas.
Nandita membalik badannya, dan menatap lekat laki-laki di sampingnya itu.
"Jujur sama aku, tadi mas manggil Arya, untuk masalah ini kan?" Gunadh mengangguk.
"Astagaaa, malu tau mas ...."
__ADS_1
Gunadh tidak membalas kata-kata istrinya dengan ucapan, namun laki-laki itu melakukan apa yang sejak kemarin ia tahan sebagai jawabannya.
Dengan alasan lelah, Gunadh mengajak Nandita meninggalkan pesta, namun saat ini entah dari mana ia mendapatkan tenaga, sehingga sudah lebih dari satu jam, ia masih terus memacu tubuhnya, mengajari Nandita berbagai gaya hingga membuat istrinya itu mengerang tanpa malu.
"Maaas, u daaa hhh, a kuu le la hh," dengan mata setengah terpejam, Nandita meminta suaminya untuk berhenti.
"Sebentaaar sayaaang ...." Gunadh memacu tubuhnya semakin cepat, hingga sebuah semburan hangat meriap memenuhi rahim Nandita.
"AAAAAHHHHH," Gunadh melepaskan tembakannya, dan setelahnya ia terkulai di punggung Nandita dengan nafas terengah.
"Makasih, sayang." ucapnya sembari mengecup punggung Nandita.
"Udah mas, geli."
"Semoga Gunadh junior segera tumbuh di sini." Lanjutnya lagi, mengusap perut ramping yang didekapnya
🌟🌟🌟
Doa Gunadh terkabul dengan cepat. Setelah pulang dari berbulan madu, Nandita merasa kurang enak badan. Namun setelah beberapa hari beristirahat, dan minum vitamin, rasa lelah dan pusingnya belum juga reda.
"Kamu yakin mau berangkat mengajar, yank? Masih lemas lho, apa nggak ijin dulu beberapa hari lagi?"
"Nggak enak mas, udah berapa lama aku nggak mengajar? Emangnya sekolah itu punya kamu, sehingga aku bisa sesuka hati datang atau libur?"
"Tapi kamu belum sehat, bahkan tiap malam kamu minta aku tidur di kamar tamu, dengan alasan biar kamu bisa istirahat total." Nandita menatap Gunadh dengan wajah datar, lalu melenggang pergi menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.
"Ok, kamu boleh berangkat, tapi janji nanti malem kita nggak pisah ranjang." Gunadh mencoba memberi penawaran. Melihat wajah datar istrinya, nyali Gunadh menciut.
"Hhmm" sahut Nandita melanjutkan aktifitasnya di dapur.
"Ya" jawab Nandita singkat
"Tapi kasih upah dulu,"
Nandita menatap tajam suaminya. Wanita itu merasa kesal dengan suaminya yang terlalu banyak bicara.
"Ok, ok. Mas nggak maksa." dengan berat hati Gunadh meninggalkan dapur.
Selesai sarapan, Gunadh mengantar Nandita terlebih dahulu sebelum ke kantornya. Di perjalanan, Nandita merasa semakin pusing, namun ia tidak ingin membuat suaminya khawatir. Sebisa mungkin wanita itu menahan keluhannya.
Bersyukur Gunadh sadar akan keadaan istrinya.
"Yank, kamu kenapa?" Panik Gunadh melihat keringat sebesar kacang, membasahi kening istrinya.
Nandita sudah tidak bisa menjawab, tubuhnya menggigil, nafasnya pendek, dan matanya susah untuk terbuka.
"Arya kita ke rumah sakit." Perintah Gunadh.
"Baik, tuan,"
Mobil melaju cepat menuju rumah sakit terdekat. Gunadh yang panik segera menggendong istrinya yang setengah sadar, menuju UGD. Ia sangat takut terjadi apa-apa pada Nandita.
Bahkan saat dokter memeriksanya, Gunadh menolak menunggu di luar. Ia harus tahu keadaan wanita yang dicintainya itu.
"Istri anda mengalami hipoglikemia, yaitu kondisi dimana kadar gula dalam darah, rendah. Apa sebelumnya dia sempat sarapan?"
__ADS_1
Gunadh menggeleng. Nandita memang menolak untuk sarapan. Katanya di belum lapar, dan akan makan saat di sekolah nanti.
"Di awal kehamilan, memang biasanya akan susah untuk memakan sesuatu. Itu hal wajar, namun jika dibiarkan akan mempengaruhi kondisi ibu dan janin. Jadi sebisa mungkin ...."
"Tunggu dok, maksud Anda? Istri saya hamil?"
"Anda belum tahu?"
Gunadh menggeleng antara bingung dan bahagia. Ia menatap secara bergantian antara dokter dan sang istri.
Nandita masih memejamkan mata. Meski ia mendengar ucapan dokter, namun rasa lelah membuatnya enggan bergerak dan bereaksi.
"Sayang, makasiiih," Gunadh memeluk dan mencium kening Nandita. Tanpa terasa air matanya menetes.
Hari yang ditunggunya tiba. Tuhan memberikan apa yang ia harapkan dengan cepat.
Setelah begitu banyak luka dan penderitaan yang ia lewati, kini cahaya kebahagiaan nampak bersinar terang memenuhi kehidupannya.
Kabar kehamilan Nandita bukan hanya membahagiakan pasangan itu, tapi juga Namira dan keluarga yang lain.
Gunadh meminta Nandita berhenti bekerja, agar fokus dengan kehamilannya. Dan wanita itu setuju. Ia ingin fokus dengan keluarga kecilnya, dan sesekali pulang ke rumah orang tuanya sembari melihat usaha dendeng dan urutan yang saat ini dikelola oleh sang adik.
Usia kehamilan Nandita sudah masuk tri mester ke tiga. Ia melakukan segala saran dan arahan dokter kandungan, agar bisa melahirkan dengan normal.
"Operasi aja ya sayang, biar nggak terlalu berasa sakitnya." Bujuk Gunadh entah yang ke berapa kalinya.
"Enggak mas, aku mau lahiran normal. Biar lukanya cepet sembuh."
"Tapi kan sakit sayang,"
"Nggak pa-pa. Kata bunda, sakitnya bakal hilang kalau jagoan kita udah lahir." ucapnya dengan senyum lembut.
Gunadh memeluk tubuh Nandita dari belakang.
"Bahagiaaa banget mas punya kamu sekarang. Makasih ya, jangan pernah pergi tinggalkan kami,"
"Udah ah mas, masa tiap saat bilang makasiiih terus."
"Karena tiap saat mas bersyukur punya kamu." Gunadh mengeratkan pelukannya.
Akhirnya perjuangan cinta mereka berakhir dengan indah.
Semoga perjalanan cinta mereka selalu dipenuhi kebahagiaan, dengan anak-anak yang membanggakan.
💝💝💝
Akhirnya GunTha ada di ujung cerita.
Terimakasih readers tercinta, yang bersedia membaca cerita ini sampai akhir.
Mohon maaf untuk kesalahan yang tanpa sengaja othor buat dalam menulis cerita ini.
Semoga kebahagiaan selalu menyertai kita semua
🙏🙏🙏
__ADS_1