
Nandita baru membuka matanya setelah jam di dinding menunjuk angka 06.30.
Lelah tubuhnya tidak berpengaruh sehebat ini menciptakan rasa malas. Namun pikiran dan hatinya yang gelisah, membuat Nandita enggan beraktifitas.
Ia segera ke kamar mandi untuk sekadar membasuh wajah, sebelum keluar untuk membeli sarapan.
Hari ini ia ingin membereskan barang-barangnya sebelum besok mengambil sertifikat dan langsung kembali ke kota asalnya.
Baru saja ia membuka pintu kamar kost, sosok laki-laki yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak menyambutnya dengan senyum cerah.
"Pagi ..." Sapa Gunadh dengan tentengan beberapa plastik di tangannya.
Wajah terkejut Nandita membuat Gunadh mengulum senyum.
"Ada apa kesini pagi-pagi?" Tanya Nandita setelah bisa menguasai rasa kagetnya.
"Aku bawain sarapan buat kamu." Gunadh mengangkat tangannya.
"Aku bisa beli sendiri mas." Nandita hendak melangkah pergi.
"Ta, aku udah belikan sarapan." Gunadh menegaskan kembali kalimatnya.
Melihat tatapan Gunadh yang tak terbantah, Nandita pun merasa sedikit takut.
Ia menatap mata Gunadh, mencari tahu apa yang laki-laki itu mau.
"Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan marah sama makanan ya ... Kalau kamu gak mau ini, aku akan membuangnya." Ancam Gunadh. Ia tahu, Nandita tidak akan membuang makanan sembarangan. Kecuali kalau makanan itu diduga berbahaya.
Gunadh kembali mengulurkan kantung plastik yang ia bawa. Dengan terpaksa Nandita menerimanya.
"Makasih mas." Ucapnya singkat.
"Aku gak boleh numpang makan di sini ya? Itu ada dua porsi, aku juga belum sarapan." Ucapan Gunadh menyentuh ego Nandita.
Gadis itu menarik nafas, kemudian menganggukkan kepala pelan.
"Masuk mas." Ucapnya singkat.
Dengan senang hati Gunadh masuk, dan seolah itu adalah kostan miliknya, Gunadh dengan lancang mengambil piring dan sendok di dapur kecil yang masih dapat dijangkau oleh mata.
Nandita hanya bisa pasrah membiarkan laki-laki itu melakukan apa yang diinginkan.
Gunadh sibuk menuang bubur ayam dari kotak Styrofoam ke atas piring yang ia ambil. Tidak lupa, ia juga mengambilkan air untuk dirinya juga Nandita.
"Selamat makan sa--- Nandita ..." Niatnya Gunadh hendak memanggil Nandita dengan sebutan sayang. Namun sorot mata Nandita yang tajam membuat laki-laki itu urung melakukannya.
Akhirnya mereka sarapan bersama, meski dalam diam.
Gunadh yang sejatinya adalah seorang yang tidak banyak bicara, kehabisan kata untuk merayu Nandita.
Sungguh gadis yang dulu ia sebut biji ketumbar itu, memiliki sisi menakutkan dan menggemaskan disaat bersamaan.
🌟🌟🌟
"Kita mau kemana sekarang?" Nandita berinisiatif bertanya. Sudah lebih dari 10 menit mereka sama-sama diam, setelah menyelesaikan sarapan.
Gunadh menoleh.
__ADS_1
"Terserah kamu. Kamu mau ngobrol dimana? Yang pasti banyak yang harus kita bicarakan." Sahut Gunadh.
"Mas aja yang tentukan tempatnya. Aku gak terlalu hafal tempat di sini."
"Sudah hampir tiga bulan di sini, belum hafal jalan juga?"
"Aku di sini untuk belajar, bukan untuk menghafal jalan." Ketus Nandita.
"Fokus aku adalah lolos semua latihan dengan tepat waktu, biar bisa segera berangkat."
"Biar cepat ninggalin aku sejauh mungkin?" Potong Gunadh.
"Siapa yang ninggalin siapa?" Sahut Nandita.
"Kamu kan yang pergi, menghilang tanpa kabar."
"Mas juga gak ada niat nyari aku kan? Gak penting juga sih nyari aku."
"Siapa bilang kamu gak penting? Kamu sangat penting untuk ku."
"Sangking pentingnya hingga setelah dua bulan baru mas cari aku?"
Gunadh tidak lagi bisa mendebat ucapan Nandita.
"Bu bukan gitu sayang ..."
"Ssst jangan panggil sayang lagi. Kita tidak seharmonis itu untuk mas bisa ucapkan kata itu lagi." Tegas Nandita.
"Kayanya kita gak usah kemana-mana. Di sini aja ngomongnya." Mood Nandita sudah hancur sebab perdebatannya dengan Gunadh.
"Mas mau ngomong apa lagi sama aku?"
Nandita yang keras, tegas, dan tidak bisa dikalahkan.
"Maaf. Maaf untuk semua rasa sakit, luka, kecewa yang udah aku hadirkan di hidup kamu. Maaf karena gak percaya bahkan sebelum kamu menjelaskan apa yang terjadi." Gunadh bernafas sejenak.
" Dan aku juga minta maaf atas perbuatan Namira sama kamu."
Nandita mendengus malas ketika Gunadh menyebut nama Namira.
"Itu udah mas katakan kemarin kan, dan aku udah bilang kalau aku udah maafkan meski bukan berarti aku melupakan."
"Mas tahu? Hal yang paling menyakitkan adalah ketika satu-satunya orang yang paling kita yakini akan membela kita, menjaga dan melindungi kita disaat tertentu, justru berbalik menyalahkan dan menjatuhkan kita di hadapan orang lain. Aku gak bisa mencegah Mira, agar tidak menuduhku menjadi seorang pelakor. Aku juga gak bisa menyalahkan dia bila ia tidak suka sama aku. Sebab aku sadar, meski aku menyayangi Mira, ada batasan yang tidak bisa aku tembus, yang hanya bisa ibu kandungnya lalui. Dan di sana banyak sekali bisikan yang memojokkan aku." Nandita menatap Gunadh, dengan sorot mata penuh luka.
"Tapi hati ini rasanya tercabik mas, saat di depan orang lain dengan lantang kamu gak akan memaafkan aku, sebab sudah membuat Namira sedih. Sudah membuat Namira melihat kekerasan terhadap mommy nya, di depan matanya sendiri." Suara Nandita bergetar.
"Maaf ..." Gunadh sangat menyesali perbuatannya.
"Mas tahu? Perbuatan mereka ---"
Drt
Drt
Drt
Dering ponsel Nandita menghentikan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Terpaksa Nandita menerima panggilan yang ternyata dari sang ayah.
"Halo Yah ..."
"Nak kamu sudah selesai kan pelatihannya? Bisa pulang secepatnya?" Suara ayah Darma terdengar khawatir.
Alis Nandita berkerut.
"Rencananya besok Dita mau ambil sertifikatnya yah ... Ini Dita lagi berkemas." Ucapnya tanpa mengatakan kalau Gunadh menyusulnya ke kota tersebut.
"Ta ... Si Tasya melakukan percobaan bunuh diri. Nama kamu selalu di sebut." ucap ayah Darma pelan.
Deg
Berita itu mengejutkan Nandita.
Tasya mencoba bunuh diri, dan namanya di sebut-sebut?
"Kok bisa sih Yah, ngapain dia mau bunuh diri?"
"Ayah gak tahu juga sih. Yang pasti, kalau urusan kamu sudah selesai, segeralah pulang."
"Terus kata siapa dia selalu sebut nama aku?"
"Tante Sari. Katanya Tasya menyebut nama kamu, pas gak sadarkan diri."
"Dia kenapa ya yah? Ada masalah apa sih sampai melakukan itu semua." Nandita tidak habis pikir dengan kelakuan saudara sepupunya tersebut.
"Ya ayah mana tahu, Mangkanya kamu cepat pulang ya ..."
"Baik yah. Mungkin nanti sore Dita pulangnya."
"Baiklah, kamu hati-hati dan jaga diri baik-baik."
"iya Yah ..."
Sambungan terputus.
Nandita memejamkan matanya. mencoba menetralisir perasaan tidak nyamannya saat ini.
"Kenapa Ta?" Suara Gunadh membuyarkan lamunan nya.
"Mas, uuhh bikin kaget aja." Ketusnya.
Ponsel yang dipegangnya hampir jatuh tadi, saat Gunadh menepuk bahunya dengan lembut.
"Ada apa? Kayanya serius banget? Itu tadi ayah yang telepon kan?
^_________^^_________^^_________^
Teman-teman kenalin karya ke dua aku, sempatkan mampir ke sini juga ya ...
Sambil nunggu aku up besok, kalian juga bisa mampir ke karya teman aku
__ADS_1
Terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca karya recehku ini. Semoga kita selalu diberi rejeki, kesehatan, dan kelancaran dalam segala urusan.
🙏🙏🙏