
Ada pepatah mengatakan ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Itulah yang harus diterapkan dalam hidup. Tulus kita memberi, tanpa harus menunjukkan bahwa kita seorang dermawan.
Namira baru saja selesai bertukar kabar dengan sang mommy. Setelah dari Singapura, dirinya dibebaskan berkomunikasi dengan wanita yang telah melahirkannya. Ia hendak turun menemui sang Daddy yang baru saja datang dari luar kota.
Namun hasrat untuk memeluk sang Daddy lenyap, begitu melihat daddynya tengah bercakap dengan seseorang lewat sabungan telepon.
'Sayang?? Apa Daddy lagi ngobrol sama onty Dita ya?? Gimana caranya aku pisahkan mereka? Aku gak mau liat mommy sedih, aku pengen mereka bersatu lagi. Kalau bukan karena onty Dita, aku pasti bisa kumpul dengan orang tuaku dengan utuh.' Mira bicara dalam hati.
Gadis kecil itu menuruni tangga, berpura-pura tidak tahu kalau daddynya sedang menelepon.
"Daddy,,,," Mira merubah ekspresi wajahnya terlihat ceria.
"Jam berapa Daddy sampai rumah??"
Gunadh tersenyum lembut, membelai puncak kepala putrinya dengan sayang. Memasukkan kembali alat komunikasi yang tadi ia gunakan.
"Udah ada sejam yang lalu Daddy sampai, tadi kamu masih tidur Daddy liat di kamar."
Mira tidak membalas ucapan sang Daddy, gadis itu hanya memeluk sang Daddy dengan erat. Rasa rindu yang belakangan ia rasakan semakin kuat.
"Dad,,,, temenin Mira main ke time Zine donk...." Rayunya
"Boleh,,,, tapi nanti ya, Daddy mandi dulu."
"Ok,,,,." Mira membentuk huruf o menggunakan jari telunjuk dan jempolnya. Gunadh mengacak rambut sang putri, gemas dengan tingkahnya.
Setelah siap, mereka berdua pergi ke salah satu mall terdekat. Langsung menuju area bermain, Gunadh mengikuti langkah kecil sang putri.
"Sayang,, Daddy tunggu di sini ya, kamu pilih aja mainan yang mana yang kamu mau." Raut kecewa, Mira tunjukkan pada laki-laki di hadapannya.
"Aku pengennya main sama Daddy,. Gak seru donk kalau main sendiri...." Ucapnya memelas
"Tapi Daddy gak pernah main begitu,, gak cocok juga sama umur Daddy sayang...." Tolak Gunadh halus
"Coba aja ada onty Dita, pasti dia mau temenin Mira main." Tanpa sadar Namira menyebut nama Nandita. Hal itu membuat Gunadh tersenyum senang.
"Ya,,,, nanti kalau onty sudah balik ke sini, kamu main sepuasnya sama dia." Ucap Gunadh penuh semangat.
Akhirnya Namira bermain seorang diri. Merasa tidak seru, ia memutuskan untuk berhenti bermain.
"Dad,,,, bosen gak ada temen...." Rengek gadis itu lagi
"Terus mau kemana lagi? Mumpung Daddy masih ada waktu, besok Daddy udah masuk kantor lagi jadi jarang bisa temani kamu."
"Mira mau beli sepatu ya Dad,,,." Pintanya
"Ok,,, yuk kita cari. Habis itu kita makan dan pulang." Ajak Gunadh
"Mau nonton juga Dad,,,."
"Oohh ya udah habis makan kita nonton, baru pulang. Biar gak terlalu malam juga nanti"
Mereka mengelilingi mall tersebut. Selain sepatu, Mira juga membeli tas, baju dan boneka. Ia ingin memanfaatkan waktu yang jarang sang Daddy miliki untuknya.
Setelah selesai makan, Mira mengajak sang Daddy menonton film ala princess di negri dongeng.
Banyak orang tua yang menemani anaknya ke bioskop. Sang ayah mengantri tiket dan membeli popcorn, sedangkan ibunya menemani sang anak menunggu di kursi tunggu. Semua itu Mira perhatikan dengan rasa iri yang kembali muncul.
'Andai mommy dan Daddy ga berpisah, aku pasti seperti mereka yang kemanapun ditemani kedua orang tuanya. Andai Daddy gak pernah sakiti mommy, suruh mommy pergi dari rumah.' Mira bergumam dalam hati.
__ADS_1
Tanpa gadis itu tau, bahwa sebenarnya mommynya lah yang tidak setia. Safira yang meninggalkan mereka. Karena Safira, Gunadh harus menjadi orang tua tunggal yang bukan hanya merawat dan menafkahi sang putri, tapi berusaha membagi waktu agar bisa seimbang dalam mengasuh putrinya dan juga bekerja.
Gunadh datang dengan membawa popcorn dan minuman, serta tiket di sakunya.
"Ayoo sayang,,,." Ajaknya pada sang putri.
Namira yang sedari tadi melamun, dikagetkan oleh suara sang Daddy.
"Eh,,, ya Dad,,," Gadis kecil itu tergagap saat mendapati sang ayah sudah di depannya.
🌟🌟🌟
Nandita tengah bersantai di teras depan rumahnya, saat seorang pemuda masuk ke halaman rumahnya dengan mengendarai sepeda motor keluaran lama.
"Siang kak,,,," Sapa pemuda itu, yang tidak lain adalah Dimas.
"Eeh Dimas,,, mau cari Ikha ya??" Dengan ramah Nandita menyambut teman adiknya tersebut.
"Enggak kak,,, aku bawain pesanan kak Dita ini." Ucap laki-laki itu, menunjukkan tas belanja yang ditentengnya.
"Ooohh kirain cari Ikha,,. Ya udah masuk dulu yuk...." Ajaknya lagi.
"Terimakasih kak,," Dimas malu-malu masuk ke dalam rumah tersebut.
Malikha yang tengah duduk di depan tv menoleh, saat mendengar suara seseorang di depan pintu. Senyum terkembang dari bibir manisnya, begitu tahu siapa pemilik suara itu.
Ia bangkit, lalu segera ke depan mencari sumber suara.
"Dimas,,,, ada apa kamu ke sini??" Gadis itu sangat senang bertemu dengan laki-laki yang dia suka. Namun sebisa mungkin ia bersikap biasa saja, agar tak terlalu kentara rasa sukanya.
"Hai Kha,,, ini aku bawain pesanan kamu kemarin lusa."
"Gak usah Kha,,, aku sebentar aja kok, mau bawa pesanan lagi nanti." Dimas berbohong, sebab ia merasa canggung.
"Ooohhh ya udah," raut kecewa terlihat di wajah Malikha.
Nandita datang dengan membawa beberapa lembar uang berwarna merah.
"Dim,, ini uangnya,. Semoga sesuai lidah aku ini ya,, kalau masuk nanti aku pesan lagi sama kamu." Ucap Nandita.
"Kak,,, gak sekalian omongin rencana kita itu?? Katanya mau bantu?!" Malikha berbisik di telinga sang kakak.
"Coba dulu ini, kalau cocok baru diobrolin. Biar gak php nanti." Nandita juga ikut berbisik.
"Yaaaa udah pasti cocok lah kak,,,. Ayooo biar Dimas semangat gitu lho..." Malikha memaksa.
Nandita menarik nafas dalam, susah memang kalau bicara dengan Malikha. Anak bungsu yang tiap kemauannya harus segera dituruti.
"Mending kamu bikin minum dulu habis itu kamu goreng urutan sama dendeng ini beberapa. Kakak mau coba dulu, biar Dimas juga coba. Habis itu baru kakak mau obrolin lagi tentang rencana kita." Perintahnya pada sang adik.
Antara ikhlas dan tidak, Malikha melangkah menuju dapur. Tidak lupa ia mengambil pesanan yang tadi dibawakan Dimas.
"Dim,,, aku ke dapur dulu ia,,, kamu ngobrol aja dulu sama kak Dita." Senyum manis ia hadirkan untuk pemuda tampan di depannya. Berbeda saat ia menatap sang kakak. Jelas sekali wajah kesal yang tergambar.
"Cepetan dek,,,,." Nandita mengeram tertahan.
"Yaaa,,,,." Dengan menghentakkan kaki, gadis SMA itu berlalu.
Dimas hanya tersenyum melihat interaksi dua kakak beradik, yang dikira akur itu.
__ADS_1
"Duduk dulu Dim,, ada yang mau kakak bahas juga sama kamu sebentar. Kamu ada waktu kan??" Nandita mempersilahkan Dimas untuk duduk di sofa.
"Terimakasih kak,, ya santai saja. Aku bebas kok, gak ada kegiatan." Sahut Dimas
Menunggu beberapa saat, akhirnya Malikha datang dengan hasil gorengan dendeng dan urutan tadi.
Mereka pun mencicipi hasilnya.
"Mmmm Dim,,, apa gak agak asin ini namanya ya??" Tanya Nandita
"Kalau dimakan begini memang kak, ini kan sebenarnya lauk bukan camilan. Jadi memang dia harus sama nasi. Coba deh kakak nanti makannya pake nasi, pasti berkurang rasa asinnya. Apalagi nasinya hangat kak,, terus nanti campur deh tu antara urutan sama nasi hangatnya, beeeeuh mantap kak,,,, " Terang Dimas dengan ekspresi nikmat.
Nandita senang dengan penjelasan laki-laki dengan gigi gingsul itu. Ekspresinya terlihat jujur, tidak dibuat-buat. Ia mulai yakin akan bekerja sama nantinya.
"Gini Dim,, kakak pengen jual lagi ini produk. Kira-kira orang tua kamu mau gak kalau kakak ajak kerja sama??"
Dimas tersenyum senang mendengar kata kerja sama dari bibir Nandita.
"Gimana sistemnya kak?? Biar nanti aku bisa gampang jelasin sama orang tua aku."
"Ini dari kakak ya,,, nanti kalau orang tua kamu ada keberatan atau gimana, bisa kita diskusi lagi. Begini,, kakak bakal bantu modal untuk kamu bikin produksi lebih banyak. Kita buat akun khusus untuk promosi. Kita bikin merk agar punya nama dan ciri khas. Nah tiap orderan yang masuk, harus lewat akun tersebut, meskipun orang tua kamu sudah punya pelanggan, nanti order nya melalui aplikasi. Keuntungan bersihnya kita bagi dua. Nah yang jadi admin kalian berdua, Malikha sama kamu."
"Lha,,, kok aku kak" Malikha kaget namanya disebut.
"Tar dulu,, kakak belum selesai ngomong!" Nandita gemas dengan sang adik. Dengan wajah galak dia menatap anak bungsu tersebut.
"Y,, ya udah lanjut kak" Malikha mengkerut.
"Kalian catat berapa pemasukan, pengeluaran, sama biaya distribusinya. Tiap bulan kakak cek. Nanti kakak juga bakal promo ke hotel atau supermarket untuk memasarkan produk kita. Gimana menurut kamu??"
Dimas menyimak dengan baik penjelasan Nandita, ia juga setuju dengan ide itu. Seandainya itu berjalan, setidaknya ibunya tidak perlu susah payah membuat nasi bungkus tiap hari, yang kadang hasilnya tidak seberapa. Karena sistem titip yang dilakukan, sehingga tiap makanan yang tersisa menjadi resiko mereka, bukan pemilik kantin.
"Baik kak,,,, nanti aku akan langsung sampaikan sama ibu dan bapak. Semoga mereka mau." Jawab Dimas dengan raut penuh harapan.
"Ya,,,, semoga orang tua kamu bisa ya..." Nandita tersenyum melihat semangat anak muda yang baru duduk di bangku SMA itu.
"Kak,,, boleh ngomong??" Malikha takut-takut mengacungkan telunjuknya ke atas kepala. Persis seperti murid di depan gurunya
"Ya,,, kenapa dek?" Jawab Nandita.
"Kenapa aku dilibatkan?? Kan aku bilang cuman mau ban aauuhh,,,!"
Belum selesai ia berkata, kakinya keburu diinjak oleh sang kakak.
"Ya kamu sama Dimas yang jadi adminnya. Belajar cari uang, jangan mau enaknya aja. Itung-itung ini masa percobaan kamu kerja. Ingat sebentar lagi kamu mau kuliah, setelah itu bekerja. Kalau kamu gak latih otak kamu dari sekarang, kamu gak akan bisa bersaing nantinya. Selama ini, kamu selalu terima beres. Waktunya sekarang kamu mengurus sesuatu." Ceramah panjang lebar diberikan Nandita.
"Tapi kan aku gak bisa kak,, belum lagi mau ujian kan?? Pelajaran aku nanti terganggu." Alasan Malikha cukup masuk akal. Tapi Nandita tetap kekeh, sang adik harus terlibat.
"Kalau gitu gak usah aja bantuin orang tuanya Dimas" Bisiknya di telinga sang adik.
Malikha melotot, tidak terima dengan ucapan kakaknya.
"Isssh kok gitu sih,,?? Ya sudah,, aku mau. Tapi nanti pas mau ujian kakak yang ambil alih sementara ya,,,." Akhirnya Malikha mengalah.
"Gampang itu,, kita liat dulu perkembangannya. Kalau sudah berjalan, kita pikirkan lagi solusi yang tepat.
Dimas pamit setelah lebih dari dua jam dia di rumah Malikha.
Ada secercah harapan, yang membuat langkahnya ringan menuju rumah sederhana, tempat ia bertumbuh hingga saat ini.
__ADS_1