
Nandita, Candra, dan Satya berangkat pukul 11 malam.
Kembali harus menempuh perjalanan panjang yang melelahkan.
Ahmed mengantar mereka ke bandara dengan koper yang kini bertambah banyak dari sebelumnya.
"Terimakasih banyak Ahmed untuk bantuannya selama kami di sini. Maaf selalu merepotkan." Ucap Nandita tulus.
"Sama-sama nona. Saya senang bisa melayani anda selama kalian di sini. Semoga tidak mengecewakan."
"Oh sama sekali tidak. Justru aku merasa sangat-sangat terbantu dengan kehadiranmu. Juga orang-orang yang ditugaskan untuk menjaga kami. Sampaikan juga terima kasihku untuk mereka."
"Baik nona, akan saya sampaikan." Ucap Ahmed lagi.
"Sampai ketemu lagi Ahmed, semoga kami bisa kesini lagi. Terimakasih sudah menjaga adik dan calon istriku." Satya menepuk pundak laki-laki yang usianya hampir sama dengannya.
Ahmed hanya mengangguk, dengan senyum yang tidak pernah surut dari bibirnya.
Akhirnya ketiganya meninggalkan kota Paris dengan begitu banyak kenangan berkesan yang tidak mungkin terlupakan.
Melalui waktu yang cukup lama di dalam pesawat, transit beberapa jam dan mengudara kembali membuat tubuh ketiganya benar-benar lelah. Bersyukur di pesawat mereka bisa beristirahat dengan cukup baik.
"Ta, nanti kamu mampir ke kost dulu apa langsung pulang?"
"Langsung pulang aja kayanya Ndra. Biar sekalian istirahatnya di rumah." Sahut Nandita
"Nanti kita antar kamu pulang. Aku udah minta sopir siapkan mobil untuk jemput di bandara." Ucap Candra.
"Gak usah lah ... Kamu pasti cape kan. Aku biar sewa mobil aja." Gadis itu merasa tidak enak bila merepotkan temannya.
"Gak. Pokoknya aku antar." Candra memaksa
"Terserahlah. Makasih ya, sorry ngerepotin kamu."
"Apaan sih, pake ngomong begitu lagi. Udah kaya sama siapa aja." Candra mengibaskan tangannya, enggan mendengar ucapan terimakasih Nandita.
Dan benar, begitu mereka keluar sopir keluarga Candra sudah menunggu.
Akhirnya mereka berangkat mengantar Nandita terlebih dulu.
Waktu menunjukkan pukul 09.30 ketika mereka sampai di depan rumah gadis itu.
Suasana sepi menyapa kedatangan mereka.
"Makasih banyak Ndra, Sat. Sorry ngerepotin. Istirahat di sini dulu kalian ya." Tawar Nandita.
"Besok aja kami mampir. Sekarang mau pulang dulu." Mereka mengobrol sebentar di depan rumah Nandita yang tampak sepi, sembari menunggu sang sopir menurunkan barang-barang milik Nandita yang sudah beranak menjadi dua koper.
"Hati-hati Ndra. Nanti kabarin kalau sudah sampai ya." Ucap Nandita setengah berteriak.
__ADS_1
Candra mengacungkan jempolnya, sebab mobil sudah melaju menjauh.
Nandita menarik dua kopernya ke dalam. Mendapati rumah kosong, ia mengambil kunci ditempat biasa sang bunda menyembunyikan benda kecil tersebut.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Meregangkan dengan bergerak kanan-kiri juga memutar leher yang terasa kaku.
Setelah merasa lebih baik, baru ia mengambil ponselnya dan menghubungi sang adik.
Tuut
Tuut
Tuut
Panggilan tersambung, namun lama sekali baru diangkat.
"Halo kak ..."
"Kamu dimana ini dek? Kenapa lama sekali angkat teleponnya? Rumah juga sepi. Ayah bunda pada kemana?"
"Sebentar" Ucap malikha. Terdengar suara berisik di seberang.
"Aku, ayah, sama bunda lagi di rumah sakit kak. Tadi dokter hubungi ayah, katanya kakek sempat drop lagi. Mangkanya kami kesini semua." Ucap Malikha setelah menemukan tempat yang lebih sepi, untuk ia bebas bicara dengan sang kakak.
"Di rumah sakit mana dek? Biar kakak kesana sekarang." Ucap Nandita khawatir.
Malikha pun menjelaskan rumah sakit tempat sang kakek di rawat.
Memasukkan dompet dan ponsel di tas selempang, Nandita siap berangkat. Menghiraukan rasa lapar yang mengganggu perjalanannya.
Namun ditengah perjalanan, ponsel Nandita bergetar. Sang bunda menghubunginya.
"Ya bunda? Dita udah di jalan ini."
"Ta, kamu istirahat di rumah dulu. Kakek sudah baik-baik saja. Lagian gak boleh banyak orang nungguin di sini. Udah ada Tante Sari sama Tante Dewi juga. Ayah sama bunda, ada Malikha juga. Nanti dikira kita mau demo rumah sakitnya lagi." Canda bunda Santi.
"Gitu ya Bun ..." Suara Nandita terdengar pelan.
"Kalau gitu aku balik deh. Eh mau beli bakso dulu, laper." Katanya.
"Ya, bunda juga di rumah belum masak. Tadi pagi bikin nasi goreng aja, tapi sudah habis." Sang bunda berusaha bersikap ceria seperti biasa. Meski banyak orang yang menyudutkan keluarganya
"Ya udah kalau gitu Bund. Bunda hati-hati."
"Ya ta, kamu juga hati-hati. Ingat jangan keluyuran lagi, habis beli makanan langsung pulang."
"Ya bund ..."
Panggilan berakhir.
__ADS_1
Nandita melajukan motornya, mencari warung bakso terdekat untuk mengisi perutnya.
Menikmati makanan khas Indonesia itu dengan penuh hikmat. Seolah ingin menuangkan kerinduan dengan makanan yang akrab di lidahnya itu.
Selepas makan Basko, ia mencari kios es buah yang biasa dirinya singgahi. Setelah makan makanan panas, pedas, berkuah, kini ditutup dengan makanan segar dan manis. 'Nikmat mana yang kau dustakan?' Pikirnya
Merasa belum puas, saat melintasi warung nasi goreng sederhana dekat rumahnya. Rasa lapar kembali menyerang. Seolah bakso dan es yang tadi masuk, seperti angin yang tidak berarti.
Nandita mendongkrak motornya dan masuk ke warung itu dengan senyum lebar merekah.
"Siang pak ... Mau nasi goreng satu ya." Ucap gadis itu
"Ya nak Dita. Tunggu sebentar ya, nasinya seperti biasa kan?"
"Ya pak, agak pedes dikit ya."
"Ok."
Penjual nasi goreng itu mengangkat tangan kiri yang semula memegang gagang penggorengan besar yang biasa digunakan untuk membuat nasi goreng, membentuk huruf o.
Nandita melirik kiri kanan, banyak pasang mata menatapnya dengan cara tak biasa.
"Permisi Bu, Dita ikut duduk di sini ya." Ucapnya sopan pada seorang pengunjung yang mejanya masih kosong. Sementara yang lain penuh.
"Iya." Jawab ibu itu singkat, dan menggeser kursinya agar tidak berdekatan dengan kursi yang akan Nandita duduki.
Sebagian besar orang-orang yang ada di warung itu adalah orang-orang yang Nandita kenal dan biasa bertegur sapa. Tapi entah kenapa, saat ini seolah ia menjadi orang asing di tempat itu.
"Ibu pesan nasi goreng juga ya?" Tanya Nandita basa basi.
Wanita itu hanya mengangguk, menjawab "ya" dengan mata fokus ke layar ponselnya. Seolah enggan bercakap dengan dirinya.
Nandita pun tidak lagi bertanya. Ia juga ikut memainkan ponsel sambil menunggu pesanannya jadi.
Ia sibuk dengan ponselnya juga. Hingga pesanannya jadi, tidak ada satupun orang di sana yang menyapa dirinya seperti biasa.
Namun Nandita tidak perduli. Ia melenggang pergi setelah membayar dan mengucapkan terimakasih pada penjualnya.
Setibanya di rumah, Nandita kembali menghabiskan nasi goreng yang ia beli. Baru setelah itu ia benar-benar beristirahat di dalam kamarnya.
C : "Ta, aku sama Satya udah sampe rumah. Aaahh mau tidur seharian ini, capeeee." Pesan dari Candra, 30 menit yang lalu.
N : "Aku juga mau tidur sekarang. Tadi habis makan bakso sama nasgor. Berasa kaya makan makanan sultan aku tahu, saking nikmatnya 😋😋😋" Balas gadis itu.
Ia juga mencoba menghubungi Gunadh, namun nomor ponsel laki-laki itu selalu berada di luar jangkauan.
Lelah perjalanan juga perut yang kenyang membuat gadis itu tertidur dengan ponsel masih dalam genggaman.
Niat hati ingin mengirim pesan pada sang kekasih, namun rasa kantuk mengalahkan semua itu.
__ADS_1
Hingga malam merangkak mendekat, Nandita masih betah di alam mimpi. Dengan suasana temaram semakin membuat tidur gadis itu semakin dalam.