Nanditha

Nanditha
MENAHAN AMARAH


__ADS_3

Nafas Nandita memburu, detak jantungnya lebih kencang, ada rasa marah dan bingung bercampur jadi satu. Siapa sumber berita fitnah itu? Tanya Nandita dalam hati.


"Dari mana mereka punya pikiran kalau aku adalah pelakor?" Tanya Nandita dengan emosi tertahan. Mencoba menjaga agar tidak bicara dengan nada tinggi pada orang tuanya.


"Itu yang bunda gak tahu. Saat bunda tanya sama mereka, keduanya kompak tidak mau memberi jawaban." Sahut bunda.


"Kalau gitu mereka gak bisa nuduh aku sembarangan donk bund ... Fitnah itu namanya. Dita gak terima!" Nandita bangkit hendak pergi tangannya ditahan oleh sang bunda.


"Jangan terburu nafsu Ta. Kakek lagi dirawat, jangan sampai membuat keributan." Ayah mencoba menasihati sang anak.


"Tapi ini gak bisa dibiarkan Yah, ini menyangkut nama baik Dita, ayah, bunda juga keluarga yang lain. Ijinin Dita kasih adik-adik ayah itu pelajaran" Dengan penuh nafsu gadis itu bicara.


"Ayah gak akan melarang kamu. Tapi nanti setelah kamu tenang. Jangan pakai emosi menghadapi masalah ini. Seperti kata kamu, ini menyangkut nama baik keluarga kita."


"Lalu Dita mesti gimana? Diem aja Nerima fitnah ini?" Tanya Nandita dengan wajah putus asa.


"Ayah sama bunda gak mikir aku melakukan hal itu kan?"


"Jangan sembarangan kamu! Gak ada sedikit pun hati kami meragukan kamu. Meski setiap orang bisa berubah, tapi kami yakin didikan kami mengakar kuat di hati kamu. Gak mungkin kamu melakukan hal buruk itu." Tegas ayah Darma dengan mata menatap tajam sang anak.


"Terimakasih kalian masih percaya sama Dita." Suara Dita melembut.


"Kamu harus bisa berpikir dengan kepala dingin. Jangan mudah terpancing. Jangan mudah tersulut emosinya. Nanti jenguk kakek. Sabarlah menghadapi beliau jika kakek berkata yang menyakitkan. Kakek sudah tua, dan pikirannya juga kolot." Nasihat sang ayah, yang diangguki Nandita.


Selesai makan siang yang terasa lebih sunyi meski Nandita dan Malikha berkumpul, Nandita pamit hendak menjenguk sang kakek yang masih dirawat di rumah sakit.


"Nanti Dita sekalian mau ke rumah om Alan ya Bun ..." Ucapnya ketika ia pamitan pada sang bunda.


"Adek gak diajak kak?" Tanya Malikha dengan wajah sedih dibuat-buat.


"Katanya di sana lagi banyak orderan, bantu Dimas di sana aja ya ..."


Pikirannya kosong. Terlebih saat ia mencoba menghubungi Gunadh, laki-laki itu tidak pernah mengangkat teleponnya.


Hingga ia tiba di rumah sakit, perasaannya masih kacau. Tanpa semangat ia melangkahkan kakinya menuju ruang rawat yang diberi tahu sang bunda.


"Bu kok ada bau busuk ya?" Suara Tasya begitu keras terdengar ketika ia melihat Nandita baru ke luar dari lift.


"Mana ada, ini kelas VVIP. Kamu jangan bikin malu iih, diliatin sama perawatnya tuh!" Seru Tante Sari mengomeli sang anak.


"Ya Tante juga cium bau busuk. Semakin dekat lagi." Ucap Tante Dewi.

__ADS_1


Nandita tahu dirinya yang disindir. Tapi ia harus sabar, harus kuat menahan emosi. Bersikap seolah buta dan tuli, gadis itu berjalan lurus menuju ruangan sang kakek.


"Eh ngapain kamu kesini? Jangan bikin kakek drop lagi!" Tante Dewi menarik lengan Nandita dengan kasar, ketika gadis itu hendak membuka pintu ruang perawatan.


"Dita hanya mau menemui kakek Tan, bukan cari ribut sama Tante." Ia menepis tangan Tante Dewi.


"Dasar cewek genit gak tahu malu, muka aja sok imut kelakuan amit-amit." Ucap Tasya.


Nandita tidak menanggapi ucapan sepupunya itu. Segera ia membuka pintu, lalu masuk menemui sang kakek.


"Kek ..." Ia menyentuh lembut tangan keriput laki-laki senja itu.


Mata kakek Cakra terbuka, melihat sang cucu ada di hadapannya wajah kakek Cakra tampak sedih.


"Gimana keadaan kakek?" Tanya Nandita sembari duduk di kursi samping ranjang.


"Seperti yang kamu lihat, tinggal menunggu waktu saja kakek akan menyatu dengan tanah." Ucapnya dengan tatapan kosong.


"Kakek jangan ngomong gitu ..." Suara Nandita bergetar, menahan perasaan sedih di hatinya.


"Kenapa kamu melakukan itu nak? Sakiit hati kakek, mengetahui cucu yang kakek sanjung-sanjung mencoreng muka kakek dengan cara begini. Kenapa harus dengan cara begini Tuhan menghukum kakek?" Ucap kakek Cakra penuh kecewa. Ia merasa ini hukuman untuknya, sebab dulu ia pernah mengkhianati sang istri dan menikahi pelakor. Dan sekarang, cucunya menjadi pelakor. Status yang paling nista dalam pandangan masyarakat.


"Anak dan mantan istri tunangan kamu mendatangi rumah kakek, menceritakan kisah pilu mereka dengan berurai air mata. Bagaimana kakek tidak percaya, kalau semua bukti yang mereka berikan cukup meyakinkan kalau semua itu benar?"


Nandita merasakan lemas pada lututnya. Mira sampai menemui sang kakek demi untuk memisahkan dia dan Gunadh.


"Tapi itu semua gak benar kek ... Aku telepon mas Gunadh agar bisa jelasin semua sama kakek." Nandita mencari ponsel di tas Selempang miliknya dengan tangan gemetar.


Tuut


Tuut


Tuut


Telepon tersambung namun tidak diangkat oleh Gunadh. Kembali Nandita menghubungi sang kekasih, namun hingga panggilan ke lima masih tidak di angkat oleh laki-laki itu. Dan dipanggilan ke enam, nomor Gunadh sudah tidak aktif lagi.


Nandita mendesah frustasi.


"Kakek tunggu hingga 1 Minggu ke depan. Ajak Gunadh menemui kakek, dengan semua bukti yang kalian punya." Putus kakek Cakra.


Nandita tidak bisa berkutik. Hanya bisa menganggukkan kepala tanda menerima keputusan sang kakek.

__ADS_1


"Kakek mau istirahat, kamu pulanglah." Usir kakek secara halus.


"Gimana rasanya diusir sama mesin ATM?" Ledek Tasya ketika Nandita keluar dari ruang perawatan sang kakek. Rupanya Tasya menguping pembicaraan mereka.


Nandita tidak menanggapi. Melenggang menjauh dari hadapan sepupu tirinya itu.


"Mangkanya jadi orang itu tahu malu sedikit. Punya harga diri, jangan hanya demi bisa keluar negeri sampai rela jual tubuh sama orang beristri." Nyinyir Tante Dewi.


Jika tidak ingat dengan pesan orang tuanya, sudah pasti sisi bar-bar Nandita akan muncul.


Meski sakit dan marah, gadis itu memaksakan kakinya terus melangkah, menjauhi ruangan itu menuju lift.


Drt


Drt


Drt


Ponsel Nandita bergetar dengan nada dering berkumandang dari dalam tas gadis itu.


"Ya om?"


"Kamu jadi ke sini Ta?" Rupanya om Damar yang menghubunginya.


"Jadi om, ini Dita baru habis jenguk kakek di rumah sakit."


"Ya sudah. Hati-hati ya. Malikha ikut?"


"Gak om, dia lagi sibuk di Dapur Kita. Katanya orderan banyak." Ucap gadis itu lagi, sembari duduk di atas motornya siap untuk berangkat.


"Oh ya sudah."


"Dita jalan sekarang om. Teleponnya Dita tutup ya."


"Jangan ngebut Ta."


"Ya om." Sambungan telepon terputus. Gadis itu memasang helm, kemudian melanjutkan motornya dengan kecepatan sedang.


Hari sudah sore ketika ia tiba di rumah peninggalan orang tua bunda Santi. Perasaan Nandita tidak karuan, apalagi ia datang seorang diri.


Dirinya yakin, om dan Tantenya meminta gadis itu datang adalah untuk menanyakan kebenaran berita yang beredar.

__ADS_1


__ADS_2