Nanditha

Nanditha
KEBOHONGAN SAFIRA (FLASHBACK)


__ADS_3

Drt


Drt


Drt


Getar ponsel di sampingnya menghentak kesadaran Gunadh, yang tadi sempat terlelap.


Orang yang diminta mengawasi Namira menghubunginya.


"Ha--" belum selesai laki-laki itu menyapa, si penelepon sudah memotong ucapannya.


"Tuan ... Maaf saya lalai menjaga nona. Nona mengalami kecelakaan ---" Gunadh tidak lagi mendengar suara sang penelepon. Tubuhnya tegang membayangkan sesuatu yang buruk tengah terjadi.


"Tuan"


"Halo ..."


"Tuan Gunadh ..."


Gunadh tersentak.


"Kirim alamatnya sekarang!" Titahnya kemudian mematikan ponselnya.


Gunadh bergegas keluar dari kamarnya. Bi Asih yang kebetulan sedang membersihkan teras, terkejut melihat Gunadh yang terburu-buru keluar rumah.


"Tuan ..."


"Nanti kita bicara." Gunadh berlalu. Bersyukur mobilnya belum dimasukkan ke garasi rumah, sehingga ia lebih mudah untuk pergi.


Bi Asih kembali melanjutkan aktifitasnya. Wanita paruh baya itu tidak tahu apa yang kini tengah menimpa nona kecilnya.


Flashback


Setelah kejadian Nandita menganiaya Safira, yang berakhir pernikahan Tasya dan Anton, Gunadh kembali mendatangi kediaman Safira.


Laki-laki itu dengan marah menegaskan pada Safira kalau hubungan mereka sudah berakhir.


"Jangan pernah menganggu kehidupan saya lagi. Selama ini saya sudah terlalu longgar memberi kamu ruang di hidup saya. Tapi kamu jadikan itu kesempatan yang sia-sia. Mulai hari ini, jangan pernah menemui Mira. Saya melarangnya. Bila sampai kamu berkeras melakukannya, jangan salahkan saya kalau kamu hancur hingga menjadi debu."


Ancam Gunadh.


"Apa yang bisa kamu lakukan? Hanya menaklukan gadis kampung itu saja kamu tidak sanggup. Sok-sokan mengancamku?" Safira menatap remeh mantan suaminya.


Gunadh meraih dagu Safira, mencengkeramnya dengan keras. Bekas tamparan dari Nandita saja masih terasa di pipinya. Kini Gunadh justru menambahnya dengan cengkraman yang lebih kuat.


Safira meringis, namun Gunadh tidak perduli.


"Kamu mau tahu? Video, foto, dan bukti lain mengenai kej ala nganmu dengan banyak pria sudah aku miliki. Bayangkan apa yang akan terjadi, bila video itu tersebar ke publik?" Suara Gunadh pelan namun penuh penekanan.


Untuk sesaat Safira nampak tegang. Namun segera ia bisa mengendalikan dirinya.


"Bayangkan jika Mira tahu, akan sebenci apa dia terhadapmu." Gunadh menghempas cengkeramannya dengan kasar. Tanpa mendengar umpatan wanita itu, Gunadh meninggalkan apartemen milik mantan istrinya.

__ADS_1


Rupanya ancaman Gunadh tidak berpengaruh bagi Safira.


'Tidak mungkin Gunadh akan sekejam itu padanku' pikir Safira.


Wanita itu menghubungi sang putri. Menjelaskan bahwa Gunadh datang mengancamnya. Safira melakukan panggilan video, dengan berurai air mata.


"Sayang ..."


Sapanya dengan wajah sembab.


"Mommy ..." Namira senang mendapat panggilan video dari ibunya.


Namun sejurus kemudian, ia mengerutkan dahi ketika menyadari mommynya menangis.


"Mommy kenapa? Mommy sakit? Kenapa menangis?" Namira begitu panik.


Safira menggeleng.


"Nggak sayang ... Mommy baik-baik saja. Kamu lagi apa?"


"Aku lagi belajar mom ... Sebentar lagi kan UTS. Mommy benar nggak apa-apa"


"Ya sayang." Safira tersenyum.


"Mira ... Maafin mommy ya, gara-gara mommy kamu jadi kena marah Daddy kamu."


"Nggak apa mom ... Mira sudah tahu semuanya. Tapi Mira sudah maafkan mommy kok. Asal mommy janji nggak gitu lagi ya." Dengan polos Namira berkata.


"Ya Mira udah tahu. Mira marah sama mommy, karena udah tinggalin Mira sama Daddy dulu. Tapi itu udah lewat, Mira juga nggak ingat lagi." Ucap Namira tersenyum.


"Makasih sayang ... Tapi kali ini mommy nggak bisa lagi temuin kamu. Daddy kamu ancam mommy kalau sampai mommy nekat, dia akan bikin mommy hancur katanya." Air mata Safira menetes semakin deras.


"Kenapa bisa gitu mom ...? Daddy datang temuin mommy?"


Safira mengangguk. Dia memperlihatkan kedua sisi pipinya.


"Onty Dita tampar mommy, Daddy kamu diem aja. Dan bahkan ancam mommy untuk nggak temuin kamu lagi. Maaf karena sekali lagi mommy harus lepasin kamu sayang ... Hiks huuuu" Safira menangis disaksikan oleh Namira melalui sambungan video.


Melihat tangisan mommynya, Namira merasakan sakit yang teramat di sudut hatinya. Meski ia marah karena Safira meninggalkannya, marah karena wanita yang melahirkannya itu menipu dan memanfaatkan dirinya untuk menjatuhkan Nandita, namun wanita yang ia panggil mommy itu tetap ibu kandungnya. Wanita yang melahirkannya.


Mira kembali goyah. Hatinya terpaut terlalu dalam pada ucapan Safira. Hilang rasa sakit hati berganti empati untuk Safira.


"Mommy jangan nangis ..." Mira menghapus air matanya sendiri.


"Mira janji akan sembunyi-sembunyi temuin mommy."


"Jangan sayang ... Nanti Daddy kamu semakin murka. Bahkan untuk menghubungi kamu saja mommy dilarang sayang. Jangan mencari masalah sama Daddy kamu."


Mira berpikir. Ada rasa takut dalam hatinya. Tapi rasa takut kehilangan mommynya lebih besar dari takutnya pada kemarahan Gunadh.


"Mira ...." Suara Gunadh dari luar membuat gadis itu panik.


"Mom ... Daddy datang." Ucapnya pada Safira, dan setelah itu ia mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


Mira berpura-pura belajar. Meski jantungnya berdebar kencang, takut Gunadh tahu kebohongannya.


Gunadh bersandar pada meja belajar Mira. Tepat di samping tempat duduk putrinya.


"Mira ..."


"Ya Dad ..." Mira menatap sang Daddy.


"Boleh Daddy minta sesuatu sama kamu sayang?"


Deg


Mira tahu apa yang daddynya minta.


"Aapa dad? D-daddy mintaa apa?" Tanya Mira gugup.


Melihat wajah pucat putrinya, Gunadh merasa kasihan. Ia yakin, Safira sudah menghubungi Mira terlebih dahulu.


"Daddy pengen dipeluk sama kamu." Ucap Gunadh akhirnya. Tidak ingin menekan sang putri lebih banyak lagi.


Mira bernafas lega. Perlahan ia bangkit, dan mendekati sang Daddy.


Gunadh meraih tubuh anaknya. Memeluk Namira dengan erat.


"Daddy sangat menyayangimu nak ... Apapun yang daddy lakukan semua demi kebaikanmu. Jangan kecewakan Daddy ya nak ..." Gunadh sangat sedih membayangkan nasib putrinya. Dibelainya rambut hitam Mira dengan lembut. Mencoba menyalurkan perasaan yang jarang bisa ia ungkapkan.


Mira kembali dilema. Dengan ragu ia membalas pelukan sang Daddy. Meski ia masih memikirkan ucapan mommynya, namun ia pun tak tega melihat wajah sedih daddynya saat ini.


"Mira juga sayang Daddy ..." Ucap gadis itu dalam dekapan Gunadh.


^_________^^_________^^_________^


Sedihnya jadi Mira 🥺🥺🥺, harus dewasa sebelum waktunya. Menjadi korban keegoisan orang tua.


Semoga kelak Mira jadi anak yang sukses ya 🥰🥰.


btw aku ada novel seru lainnya nih, penulisnya teman dunia maya aku. Coba deh di intip.


***


Emin Erdana gadis cantik nan rupawan, usia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan Tuan muda Abelano putra tunggal Tuan Basten dan Nyonya Agatha. Untuk menyelamatkan reputasi Keluarga Besar Basten. Setelah pernikahan Putranya Abelano gagal karna sang kekasih lebih memilih pria lain.


Akankah Emin Erdana menerima pernikahannya dengan Abelano?


"Apakah Abelano dapat menerima pernikahan itu? simak ceritanya di "Contrac wedding 30 day's with CEO "


by Morata


FB Nolan s


Ig Sihalohoherlita


__ADS_1


__ADS_2