
Nandita kembali mendapat pesan dari sang sahabat.
💌 : "Udah buka pesan aku, tapi nggak ada respon sama sekali 😡😡😡" Tulis wanita yang tengah mengandung buah hati pertamanya itu.
Candra memang menjadi lebih sensitif semenjak berbadan dua. Nandita tahu itu dengan baik. Satya sudah sering mengingatkannya, agar lebih sabar menghadapi sifat Candra yang acap berubah.
Ia kembali membaca ulang pesan sang sahabat.
Awalnya ia merasa tidak enak untuk m membalas pesan Candra. Sebab di negaranya, saat ini pasti sudah larut malam. Namun karena Candra mengiriminya pesan lagi, ia segera menghubungi sang sahabat yang tengah merajuk.
"Ndra ...." Sapa Nandita dengan suara serak.
"Ta, kamu nangis? Suara kamu kok gitu?"
Nandita tersenyum, meski sang sahabat tidak dapat melihatnya.
"Nggaaak ... Cuman lagi flu aja. Biasa perubahan musim," sahutnya sambil memainkan hidungnya yang memang terasa gatal.
Mereka berdua sama-sama terdiam.
"Ndra ...." Panggil Nandita.
"Hmmm" sahut sang sahabat dari seberang, seolah sengaja menunggu Nandita untuk bicara.
"Apa diaa baik-baik aja?" Tanya gadis itu dengan mata berkaca.
Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, agar isaknya tak terdengar.
"Menurutmu?" Candra balik bertanya.
"Adakah seseorang akan baik-baik saja saat separuh hatinya menjauh pergi?" Pertanyaan Candra tidak dapat Nandita jawab.
"Kamu tau aku ketemu mereka di mana?"
Nandita menggeleng, lupa kalau Candra tidak dapat melihat gerak tubuhnya.
"Mereka tengah memesan nasi goreng seafood, di depan toko India. Pesanan yang sama persis seperti yang aku pesan, karena merindukan seseorang." Isakan Candra terdengar jelas di gendang telinga Nandita, semakin membuat bulir kristal di matanya menetes tak tertahan.
"Kamu jahat Ta. Kamu pergi terlalu jauh hanya untuk menyembuhkan luka, padahal obat itu ada di depan mata kamu." Wanita, calon ibu muda itu terus mengeluarkan isi hatinya.
__ADS_1
Nandita hanya menyimak, sambil sesekali mengusap air mata.
"Gimana keadaan dia?" Suara Nandita semakin parau.
"Wajahnya tirus, kelihatan lebih tua dari sebelumnya. Tapi aku nggak nyapa dia, soalnya masih kesal sama si Mira itu." Suara Candra lebih tenang, tidak se-emosional sebelumnya.
"Gimana sama Mira?" Tanya Nandita lagi.
"Aku nggak terlalu jelas liat mukanya. Kan di sana remang-remang. Tapi yang aneh, kakinya agak pincang gitu saat jalan."
"Kok bisa?"
"Ya mana aku tau ...." Candra kembali ketus.
"Mmm Ndra, akuu boleh ngobrol sama Satya nggak sebentar?" Nandita memilih mendengar Satya yang lebih tenang, yang emosinya tetap stabil. Sebab saat ini ia pun sedang tidak baik-baik saja.
Namun apa yang Satya ucapkan, justru membuat air matanya semakin deras mengalir.
Benarkah Mira menyesal? Benarkah gadis itu ke tempat favoritnya karena merindukan dirinya juga?
Tanpa terasa obrolan bersama Satya dan Candra begitu lama. Hingga onty Eby kembali dari rumah mertuanya, baru ia mengakhiri sambungan telepon itu.
"Onty, uncle," Nandita menyambut mereka sembari mencium tangan keduanya dengan penuh rasa hormat.
Meski dalam budaya keluarganya tidak ada yang melakukan hal itu, namun Nandita selalu ingat pesan orang tuanya, serta memang kesadarannya sendiri untuk selalu menghormati budaya orang lain. Apalagi ia tinggal di dalamnya.
Dua paruh baya itu menepuk pundak Nandita dengan lembut.
"Kamu masih pakai baju yang sama? Kamu belum mandi?" Tanya Onty Eby.
Nandita tersenyum kecut.
"Belum onty, tadi masih ngobrol sama teman dari rumah." Akunya jujur.
"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu sana, habis itu kita makan malam bersama.Oma titip ini buat kamu." Onty Eby mengangkat sebuah paper bag
"Iya onty." Nandita bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri dengan kilat.
Ia tentu tidak ingin pemilik rumah itu menunggunya terlalu lama, untuk melakukan makan malam bersama.
__ADS_1
🌟🌟🌟
"Dita ... Boleh onty minta waktunya sebentar?"
Wanita sebaya bunda Santi itu memanggil Nandita yang sudah bersiap berangkat kerja.
"Ya onty," Nandita mendekati onty Eby yang tengah duduk di kursi dekat aquarium.
"Kemarin oma sama opa nanyain kamu lagi. Mereka berdua masih berharap kamu mau menerima lamaran mereka untuk Aslan." Ucap onty Eby dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Nandita menarik nafas, sulit baginya untuk berkata jujur namun tidak melukai hati orang lain.
"Dita berangkat dulu ya onty, soal itu biar nanti Dita pikirkan jawabannya. Tapi onty tau kan apa yang ada di kepala Dita?" Nandita ingin memastikan kalau onty Eby tetap akan mendukung apapun yang menjadi keputusannya.
Wanita itu tersenyum.
"Kalau boleh onty jujur, onty pengen selalu dekat sama kamu di sini. Aslan juga sudah onty anggap seperti anak sendiri. Tapi, semua itu kembali ke kamu. Onty nggak ingin membuat kamu merasa tertekan di sini." Jawabnya sambil mengelus bahu Nandita lembut.
"Ya sudah berangkat dulu. Nanti kita ngobrol lagi."
Nandita mencium tangan onty Eby seperti biasa, kemudian keluar dari rumah itu menuju tempat kerjanya.
^_________^^_________^^_________^
Nah lho ... si Ditha lagi jadi incaran bule Turki ini 😁😁😁
sambil nunggu aku up, baca ini dulu yuk ...
***
Menjadi seorang janda beranak tiga bukan tujuan hidup Arienka. Tapi takdir menggariskannya demikian. Dan dia tak bisa menolaknya
Sakit hati karena dikhianati sahabat dan kekasihnya membuat Putra menjadi bad boy. Tapi dia lalu falling in love at first sight pada mantan ibu gurunya saat reuni.
Sayangnya Arienka menolak cinta berondong tajir itu. Dia tak ingin kembali terluka.
Mampukah Putra mendapatkan cinta Arienka?
__ADS_1