Nanditha

Nanditha
PELUKAN TERAKHIR (Nandita dan Aslan)


__ADS_3

Menerima dengan lapang, adalah satu-satunya yang dapat Nandita lakukan saat ini.


Bukan haknya menahan Aslan untuk tetap tinggal.


Terlebih, ia tahu alasan Aslan pergi, adalah untuk membebaskannya dari rasa yang selama ini menyiksa.


Meski butuh waktu beberapa saat untuk bisa menenangkan diri, Nandita akhirnya menyetujui keinginan laki-laki yang usianya lebih muda darinya itu.


"Kita sama-sama tahu perasaan kita masing-masing, dan sama-sama mengerti seperti apa harus menyikapi rasa itu. Mari kita simpan di palung terdalam hati kita, semua gejolak rasa yang ada. Mari kita awali semua di sini." Aslan menjeda ucapannya. Sesaat laki-laki beralis tebal itu, memejamkan mata, sebelum kembali membuka suara.


"Saat ini dan seterusnya, aku adalah sahabatmu. Kita berteman sekarang?" Aslan mengulurkan tangannya ke hadapan Nandita.


Meski berat, namun ia mampu mengucapkan kalimat itu dengan lancar dan tenang.


Nandita meliriknya sesaat, lalu kembali menatap kapal-kapal pesiar yang membawa wisatawan membelah selat Bosphorus. Tangannya masih menggenggam erat tali tas selempangnya.


Deru mesin kapal-kapal itu terdengar menggema menyapa telinga. Ia melangkah mendekati bebatuan, mengacuhkan uluran tangan Aslan. Terik matahari tidak membuat ia merasa kepanasan, namun cukup membuat matanya silau. Terlebih pantulan cahaya itu, berkilau menerpa air laut, tepat di depan mata.


Berulang kali ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa selemah ini? Kenapa harus menyerah, membiarkan hatinya terombang-ambing.


Dimana Nandita yang penuh ketegasan? Dimana Nandita yang menjunjung kesetiaan?


Kesetiaan?


Apakah dia sedang berkhianat?


"Nan ..." Aslan mendekat, ikut memasrahkan kornea matanya menyapa silau di depannya.


"Kamu benar Aslan ... Dari awal kita bertemu, kamu adalah teman ku. Kita akan selalu menjadi teman. Rasa yang saat ini ada untukmu, aku yakin ini hanya sesaat. Hanya perasaan nyaman dan aman, karena ditengah kegelisahan ku, kamu ada menemaniku. Aku yakin hanya mas Gunadh yang aku cintai. Dari awal hingga akhir nafasku, dia laki-laki yang aku inginkan." Ucap Nandita akhirnya.


Aslan tersenyum lembut, wajah tampannya bersinar diterpa cahaya musim semi yang sejuk.

__ADS_1


"Kita teman?"


"Hmm kita teman."


Mereka berdua saling menjabat tangan, menghadirkan senyum tulus diantara keduanya.


Akhirnya selat Bosphorus menjadi saksi ikrar pertemanan keduanya. Membentengi diri agar tidak lepas kendali memaknai rasa.


Itulah hidup. Kita akan selalu menemukan cobaan dalam setiap persimpangan jalan yang dilalui.


Tidak ada jalan lurus bagi siapapun kita.


Kelokan, turunan curam, bukit terjal, persimpangan, semua menghadirkan pengajaran pada setiap manusia. Bagaimana akal kita memilih jalan terbaik untuk melewati semua itu.


Kedewasaan seseorang bukan hanya perkara usia, tapi juga pemikiran.


Dan dua anak manusia beda budaya itu, menunjukkan kedewasaannya dengan jalan yang mereka sepakati.


Kita tidak bisa menyalahkan rasa, tapi kita bisa menekan rasa itu agar tidak menyakiti satu dengan yang lain.


Hari itu, menjadi hari terakhir Nandita bertemu Aslan.


Mereka menghabiskan waktu mengunjungi beberapa tempat menarik yang selama ini belum sempat Nandita kunjungi.


Melihat beragam jenis ikan laut di Istanbul aquarium, mereka disambut dengan banyaknya jenis ikan yang terbagi menjadi enam belas aquarium.


Nandita begitu takjub, ada banyak ikan yang selama ini belum pernah Nandita lihat sama sekali.


Mereka menghabiskan waktu hampir tiga jam di tempat itu.


Setelahnya, Aslan mengajak gadis itu ke salah satu pasar tertua di dunia.

__ADS_1


Membeli banyak souvenir, mengingat sebentar lagi Nandita akan kembali ke Indonesia.


Meski sempat menolak hingga menimbulkan perdebatan, namun akhirnya Nandita mengalah ketika Aslan merayunya untuk mau menerima semua yang Aslan pilihkan untuk ia jadikan oleh-oleh nanti.


Sekitar pukul sembilan malam, mereka tiba di kediaman onty Eby dan uncle Murat.


"Nan ... Makasih ya kamu sudah nemenin aku hari ini. Sampai ketemu lagi di lain kesempatan."


"Mestinya aku yang bilang gitu ke kamu Aslan ... Banyak banget hal yang kamu lakuin buat aku. Makasih banyak untuk semuanya. Aku nggak tau gimana nanti balas semua kebaikan kamu ini."


"Jangan dibalas. Aku nggak minta apapun dari kamu. Tetap tersenyum dan bahagia, itu aja udah bikin aku senang."


Suasana canggung kembali hadir diantara mereka. Meski mereka sudah sepakat untuk bersikap biasa saja, namun semua perlu proses bukan?


Tidak mungkin serta merta bisa bersikap seperti dulu.


"Nan ... Boleh aku memelukmu sekali ini saja?"


Aslan memberanikan diri mengutarakan keinginannya, setelah beberapa saat mereka terdiam.


Nilam yang sejak tadi menunduk, seketika mendongakkan kepala. Cukup terkejut dengan permintaan laki-laki itu.


"Mmm lupakan saja. Mmm maaf a aku ngg nggaak bermaksud nggak sopan." Melihat reaksi Nandita yang terkejut, Aslan berpikir Nandita marah padanya.


"Kalau gitu, aku balik ya ... Selamat tinggal."


Aslan membalikkan tubuh hendak kembali ke dalam mobil.


Nandita memejamkan mata, merasa belum ikhlas dengan perpisahan itu.


"Aslan ...." Panggilnya, kemudian melangkah mendekati laki-laki itu.

__ADS_1


Dan tanpa mengucap sepatah kata pun, ia membenamkan tubuhnya kedalam dekapan laki-laki itu.


Sejenak Aslan terdiam, namun detik berikutnya ia membalas pelukan Nandita dengan tidak kalah eratnya.


__ADS_2