Nanditha

Nanditha
MENEMUI NAMIRA


__ADS_3

Nandita ingin membalas perlakuan Tasya. Namun sekuat tenaga ia tahan langkahnya agar tidak mendekati sepupunya itu. Dirinya sadar, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memberi gadis itu pelajaran. Karena itu pasti akan membuat kakek semakin kecewa.


Ia memejamkan matanya mencoba menenangkan diri, kemudian melajukan motornya menjauh.


Perasaan marah dan kecewa yang ia pendam sejak dari rumah sakit ia lampiaskan dengan melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Ditambah lagi Gunadh yang tidak memberinya kabar, membuat Nandita semakin kesal.


'Gak, jangan nangis Ta, kamu gak selemah itu.' Nasihatnya pada diri sendiri, ketika menyadari matanya memanas dan pandangannya jadi berkaca.


Mencari sumber masalah adalah tujuan utamanya kali ini.


Ia sendiri.


Tidak boleh lemah apalagi menyerah. Nama baik ayah bundanya jadi taruhan.


Di rumah sakit.


Tasya tertawa mengejek.


Tidak perduli menjadi tontonan orang-orang di sekitar parkiran, ia merasa puas bisa membungkam Nandita.


Bahagia rasanya bisa mengalahkan orang yang selama ini sulit ia sentuh.


'Ternyata gampang banget bikin kamu gak berdaya. Mangkanya jadi orang jangan sok hebat.' Ucapnya ketika melihat Nandita melajukan motor tanpa satu kata pun.


Sebelum masuk ke ruangan sang kakek, Tasya menghubungi Safira.


Ia menceritakan semua yang dialami Nandita sejak gadis itu pulang dari Paris.


Mereka tertawa bersama. Membayangkan wajah Nandita dalam keadaan terpuruk.


"Kita rayakan keberhasilan kita. Aku bakal traktir kamu apapun yang kamu mau." Ucap Safira dari seberang.


"Janji ya. Besok aku kesana. Kita ketemu di tempat biasa." Sahut Tasya.


"Ok." Ucap Safira singkat.


Setelah percakapan selesai, Tasya kemudian masuk ke ruangan sang kakek yang tengah ditemani Tante Niar.


Meski enggan, gadis itu harus tetap setor muka di depan kakek setiap hari, demi mendapat jatah bulanan lebih banyak.


Sementara itu, Safira yang tengah melakukan pemanasan dengan brondong di apartemen miliknya harus memulai foreplay kembali setelah tadi terganggu oleh panggilan telepon dari Tasya.


Dengan buas ia me nji lat bagian tubuh si brondong, bermaksud membangkitkan kembali ga ira h yang sempat padam.


Lebih dari satu jam mereka bergulat panas.


Hingga keduanya terkulai lemas dengan peluh membasahi sekujur tubuh masing-masing.


"Sayang, aku mau beli ponsel." Ucap brondong itu ketika nafas mereka sudah teratur.


"Lho bukannya baru 2 Minggu lalu ya kamu ganti?"

__ADS_1


"Kemarin ketinggalan di kantong celana aku, terus si bibik langsung giles aja di mesin cuci." Kilahnya dengan wajah kesal.


"Pecat aja sih pembantu gak becus gitu." Sahut Safira judes.


"Ya sayang, tapi kamu yang urus ya ... Aku males kalau soal begituan." Rayunya lagi sambil mer emas gunung kembar Safira.


"Kamu ya, paling bisa manfaatin keadaan. Untung perkasa." Ucap Safira


"Ponselnya kapan beli?" Tanya bron dong itu lagi.


"Sabar sayang ... Aku mesti rayu si Bram dulu biar kasih uang lebih, baru bisa jajanin kamu." Safira membalas perlakuan laki-laki itu dengan melakukan hal yang sama pada senjatanya. Baru saja mereka hendak memulai kegiatan terlarang itu, ponsel Safira kembali berdering.


"Aahh!!! siapa sih ganggu aja." Safira tentu sangat kesal aktifitasnya terganggu.


"Matiin aja sayang, lanjutin ini dulu." Brondong itu meng ecup punggung polos Safira. Membuat wanita itu melupakan kekesalannya dan melanjutkan kembali ronde ke dua percintaan mereka."


Satu jam kemudian dua pasangan beda usia itu telah sama-sama berpakaian rapi.


"Maaf ya sayang, jadi buru-buru tadi. Aku gak bisa cuekin panggilan dari Mira."


"Janji dulu mau belikan ponsel yang aku mau." Rajuk brondong itu.


"Iya Minggu depan kita beli."


Brondong itu tersenyum manis, mengecup sekilas bibir Safira.


"Gitu donk sayang. Ingat, cuman aku yang bisa bikin kamu teriak dan merintih seperti tadi." Bisiknya frontal.


🌟🌟🌟


"Mommy kemana tadi? Kenapa lama baru angkat telepon dari Mira?" Tanya gadis itu dengan wajah kesal.


"Aduuh Mira, mommy baru datang lho. Kamu langsung marah-marah aja. Mommy juga ada urusan, gak cuman harus temani kamu di sini. Mommy juga punya dunia sendiri yang kamu gak perlu tahu." Sahut Safira tak kalah judes.


Namira menciut. Tidak menyangka reaksi mommynya akan seperti itu.


Ia hanya ingin ditemani, seperti halnya teman-temannya yang lain. Tapi kenapa reaksi Safira semarah itu?


"Maaf mom ..." Namira tertunduk takut.


"Udah. Gak usah drama. Daddy kamu kemana?"


"Belum balik dari luar kota Mom." Sahut Namira lagi.


Tanpa menanggapi jawaban sang putri, Safira melenggang menuju sofa ruang tamu.


"Biik ..." Teriak Safira memanggil pelayan di rumah tersebut.


"Buatin saya jus strawberry. Jangan terlalu manis." Perintahnya ketika seorang pelayan mendekati wanita itu.


Sang pelayan hanya menganggukkan kepala, kemudian menuju dapur untuk melaksanakan perintahnya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, jus pesanannya dihidangkan.


Safira menikmati jus segar tersebut tanpa menghiraukan tatapan sedih dari Namira. Mungkin ia lupa harus bersikap baik, atau mungkin lelah berpura-pura.


Teet


Teet


Teet


Bel rumah itu berbunyi lagi.


Bi Asih yang sedang membersihkan vas di dekat pintu, segera membukakan pintu begitu tahu Nandita yang ada di luar.


"Non Nandita, apa kabar? Lama gak main ke sini." Bi asih begitu heboh melihat wanita cantik di depannya.


"Saya baik Bik. Bibik sehat?" Tanya Nandita


"Sehat non." Jawab bi Asih.


"Mira ada bik?" Tanya Nandita lagi, masih berdiri di depan pintu


"Ada non, mari masuk. Bibi sampe lupa" Kekeh wanita paruh baya itu.


Nandita menanggapi dengan senyum.


"Silahkan non. Non Mira lagi ada di ruang tamu." Bi asih mempersilahkan Nandita menuju ruang tamu tempat Mira dan Safira berada.


"Non Mira, dicari sama non Nandita." Ucap bi Asih.


Namira terkejut melihat Nandita berdiri di belakangnya.


"Eeh ada perempuan udik di sini." Suara Safira begitu menyebalkan di telinga Nandita.


"Kebetulan sekali kamu di sini. Jadi saya gak perlu repot-repot mencari kamu di tempat lain." Ucap Nandita dengan wajah datarnya.


"Kamu nyari saya? Untuk apa? Saya gak ada waktu untuk orang macam kamu." Sahut Safira dengan tatapan jijik.


"Apa maksud kamu datang ke rumah kakek saya? Menyebarkan fitnah hingga membuat kami dalam masalah?"


"Wah dia marah ... Kan memang faktanya begitu? Kamu memang merebut Gunadh dari saya. Membuat saya gak bisa sama-sama lagi dengan dia." Safira masih dengan wajah mengejeknya.


Namira melihat perdebatan itu dengan mulut tertutup rapat. Rasa takut dan bersalah menguasai hatinya.


"Saya sudah memberi kamu peringatan saat di sekolah, tapi kamu tetap bermain-main dengan liburan bersama Gunadh. Jadi jangan salahkan saya kalau saya berbuat hal ini sama kamu." Wajah Safira berubah serius.


Mata Nandita beralih ke arah Namira. Menatap lekat gadis belia yang sangat ia sayangi dulu.


"Kenapa kamu ikut melakukan ini sama saya?" Nandita tidak lagi memanggil dirinya onty di depan Mira.


"Kenapa kamu gak tanya ke Daddy kamu apa sebenarnya yang terjadi? Kamu tahu? Gara-gara perbuatan kalian, kakek saya sampai dirawat di rumah sakit, ---- "

__ADS_1


"Apa perduli saya sama kamu dan keluarga kamu? Mau kakek kamu mati, ayah ibu kamu mati, saudara-saudara kamu malu, saya gak perduli. Memang itu yang saya mau! Biar kamu tahu, kamu salah menantang saya. Wanita munafik seperti kamu, hanya bisa menjilat. Sok baik, sok lugu, menjijikkan." Safira menyela ucapan Nandita.


Terasa sengatan listrik menyengat kepala Nandita. Seolah ada asap yang keluar dari ubun-ubun mendengar umpatan dari mulut Safira.


__ADS_2