
Rahang Gunadh mengeras. Melihat foto-foto dan pesan-pesan yang diterima Nandita. Ia tahu pasti gadisnya sangat terluka karena hal ini.
"Sayang ... Ini semua gak benar. Kamu percaya sama aku kan?" Gunadh menatap Nandita penuh permohonan.
"Menurut mas? Kenapa selama ini aku masih bertahan kalau bukan karena aku percaya sama kamu? Tapi itu dulu." Nandita menjeda kalimatnya. Menarik nafas lagi, baru setelah itu melanjutkan ucapannya.
"Setelah melihat reaksi kamu mengenai fotoku bersama Satya, aku jadi meragukan keyakinan ku itu." Gadis itu menatap mata Gunadh tanpa ragu.
"Kalau hanya dengan melihat satu seri foto saja kamu bisa menyimpulkan bahwa aku selingkuh, bagaimana dengan banyaknya seri foto kamu sama dia dengan pesan seperti ini?"
"Tapi ini semua bohong. Dan kenapa kamu gak pernah cerita sama aku soal ini?"
"Kamu punya waktu berapa banyak untuk aku mas? Kapan ada kesempatan untuk aku obrolin ini sama kamu?" Potong Nandita telak.
Gunadh tidak mampu berkata-kata lagi.
Selama ini ia yang salah. Diamnya Nandita bukan karena gadis itu rela, dia hanya enggan berdebat.
"Maaf." Gunadh menundukkan kepala.
"Aku janji, setelah ini aku akan lebih meluangkan waktu untuk kamu. Akan mendengar keluh kesah kamu, agar gak ada lagi salah paham antara kita."
Nandita tersenyum sinis.
"Jangan berjanji kalau kamu akan mengingkarinya lagi mas. Jangan membuat aku semakin meragukan kamu. Dan tumbuhkan saja dulu rasa percaya kamu sama aku, agar tidak ada lagi penghinaan yang aku dapat karena kesalahpahaman kamu."
Gunadh diam. Tidak bisa lagi berkata-kata. Semua kalimatnya dibalikkan dengan mudah oleh Nandita.
"Aku akan buktikan kalau aku bisa kamu percaya sayang." Ucap Gunadh akhirnya.
Satya dan Candra sebenarnya tidak enak berada diantara perdebatan mereka. Namun untuk pergi pun mereka tidak bisa.
"Ehm sorry nih ya, bukan mau ikut campur. Dalam hubungan itu memang akan selalu ada kerikil yang membuat langkah tersandung. Tapi kalian harus tetap saling menggenggam. Jangan berjalan sendiri-sendiri." Satya mencoba menengahi.
"Jadikan ini sebagai pelajaran. Agar kalian lebih terbuka, dan lebih berhati-hati. Agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman seperti ini.
Candra tersenyum mendengar nasihat yang keluar dari bibir calon suaminya.
"Aku juga minta maaf sama kamu, tadi gak bisa nahan emosi, sampai mukulin kamu." Satya dengan gentle meminta maaf pada Gunadh.
Gunadh menyambut uluran tangan Satya.
Mereka tersenyum merasa masalah sudah selesai.
"Ta, soal kedatangan Mira, gak sekalian kamu ceritakan?" Bisik Candra di samping Nandita.
Gadis itu dengan cepat menggeleng.
__ADS_1
"Gak Ndra. Aku gak mau hubungan mereka merenggang lagi."
"Tapi ini bisa jadi Boomerang dalam hubungan kalian." Candra sedikit emosi dengan cara berpikir Nandita.
"Nanti aku pikirkan cara menyampaikannya pada mas Gunadh, agar dia bisa mengerti. Kamu tau sendiri emosi laki-laki ini kaya gimana. Kalau dia tahu sekarang, bisa-bisa Mira dimarahi habis-habisan sama daddynya."
Candra menghembuskan nafas lelah.
"Terserah kamu aja lah Ta, udah begini masih aja kamu mikirin orang lain."
"Karena aku gak mau Mira semakin benci sama aku Ndra. Biarkan sajalah nanti gimana waktu akan membawa kami ke jalan yang seperti apa."
"Kok pasrah gitu?"
"Bukan pasrah Ndra ... Akan selalu ada yang suka dan tidak suka pada kita, apapun yang kita lakukan. Tapi kita harus tetap menjadi diri sendiri bukan? Bersikap baik bukan karena orang lain.
Candra mengerutkan dahinya, tanda belum bisa mengerti dengan apa yang Nandita ucapkan.
"Gunadh cinta sama aku dan sangat pencemburu. Mira, terlepas dari semua hal yang aku lakukan untuk dia, dia tetap tidak suka hubungan aku dan daddynya. Aku sayang sama mas Gunadh otomatis juga sayang sama Mira. Menurut kamu, aku harus gimana?"
Candra jadi pusing dengan hubungan rumit yang terjadi.
"Taulah, terserah kamu aja. Yang pasti apapun itu aku akan tetap dukung kamu."
"Makasih, aku butuh dukungan kamu dan Satya." Nandita melirik Satya yang sibuk bicara dengan Gunadh sedari tadi.
Melihat semua sudah mulai tenang, Candra berinisiatif mengajak mereka semua memesan makan siang yang sudah terlambat. Dan yang lain sepakat.
Akhirnya mereka makan di tempat itu dengan lesehan di lantai. Melepaskan semua masalah dengan obrolan-obrolan ringan.
Gunadh tahu Nandita masih menjaga jarak dengan dirinya. Namun begitu, ia tidak akan pernah menyerah untuk meraih maaf dari sang kekasih.
🌟🌟🌟
Safira dan seorang gadis bertemu di sebuah rumah makan yang jaraknya agak jauh dari kota.
Orang yang sama dengan yang ditemui di mall bersama Namira dulu. Namun kali ini mereka bertemu hanya berdua saja sebab Mira sudah mulai sekolah.
"Gimana hasilnya?" Tanya gadis itu antusias begitu mereka sudah duduk berdua.
Safira mengangkat bahunya.
"Lumayan, aku lihat mereka gak pernah bertemu lagi. Gunadh juga tidak pernah membahas sepupumu itu lagi."
"Heh sepupu. Dia bukan sepupu ku. Aku bahkan orang yang paling ingin melihat dia hancur."
Ucap Tasya penuh dendam.
__ADS_1
Ya, dialah yang selama ini bekerja sama dengan Safira, yang ingin menghancurkan Nandita.
"Berarti rencana kamu sudah berhasil? Tapi aku belum puas. Kakek masih selalu memuji dan membanggakannya."
"Itu urusanmu. Tapi mungkin aku bisa membantumu. Kita lihat saja nanti."
"Baiklah. Terus mana yang kamu janjikan untukku?" Tasya menengadahkan tangannya.
"Aku belum melihat sejauh mana efek drama yang dilakukan Mira waktu itu. Baru hubungan mereka saja yang merenggang, tapi Nandita masih bisa bekerja dengan tenang di sekolah itu."
"Maksud kamu?"
"Kalau tujuanku sudah tercapai, baru akan aku berikan apa yang aku janjikan."
Tasya merasa kesal. Wanita di depannya rupanya sangat licik.
"Kalau nanti aku sudah melihat kehancuran Nandita, baru aku kasih apa yang aku janjikan sama kamu." Setelah berkata seperti itu, Safira melenggang pergi meninggalkan Tasya yang menahan kesal.
Dua orang itu tidak tahu hubungan Gunadh dan Nandita sudah membaik. Mereka dengan percaya diri ingin menghancurkan Nandita, yang tanpa mereka sadari hal itu akan berbalik pada diri mereka sendiri.
🌟🌟🌟
Nandita dan Gunadh sepakat menjalani hubungan itu kembali. Dengan banyak janji yang diucapkan Gunadh, namun tidak semudah itu Nandita percaya.
Seperti biasa Gunadh menghubunginya di sela-sela jam makan siang.
"Aku ke sana ya yank ..." Rengek Gunadh seperti biasa
"Mas lupa gimana perjanjian kita?"
"Kenapa sih yank harus sembunyi-sembunyi gini? Udah kaya pacaran anak ABG aja." Sungut Gunadh lagi
"Mas, berapa kali harus aku bilang? Ada pihak yang gak suka sama hubungan kita. Kalau kita menampakkan kebersamaan kita, orang itu akan semakin gencar mengadu domba. Bukan hanya aku sama kamu. Tapi aku, kamu, dan Mira juga."
"Aku mau temui orangnya kamu gak kasih." Omel Gunadh
"Mau berantem lagi mas?" Bukan menanggapi ucapan Gunadh, Nandita malah memberi pertanyaan.
"Ya gak yank ..."
"Ya sudah kalau gitu. Oya mas, aku jadi pergi liburan sama Candra nanti."
"Lho terus aku?"
"Kalau mau, mas ikut aja. Tapi jangan barengan perginya sama aku. Aku duluan berangkat, habis itu mas nyusul."
"Nanti lah kita obrolin. Ya udah , kamu makan dulu. Aku udah kirim menu kesukaan kamu." Gunadh berniat mengakhiri obrolan mereka.
__ADS_1
"Makasih mas." Ucapnya merasa tersanjung atas perhatian Gunadh.