Nanditha

Nanditha
KEJUTAN DEMI KEJUTAN


__ADS_3

Hampir 10 jam mengudara, akhirnya Gunadh dan Satya tiba di Doha. Transit selama 9 jam, mereka pergunakan untuk beristirahat di penginapan yang disediakan.


Satya yang untuk pertama kalinya melakukan perjalanan jauh, mengalami mabuk perjalanan. Namun itu hal wajar. Gunadh pun mengerti hal itu.


Pukul 21.00 waktu Doha, mereka kembali mengudara menuju Paris.


Perlu waktu 7 jam hingga mereka tiba di bandara Charles de Gaulle Paris.


Gunadh yang mengetahui hotel tempat Nandita menginap, langsung menuju hotel tersebut meski waktu menunjuk pukul 02.30 dini hari.


Satya hanya mengikuti saja tanpa banyak bertanya.


"Sat, kamu yakin mereka menginap di sini kan? Apa mereka gak pindah hotel lagi?" Tanya Gunadh, sebab yang mendapat tugas mencari informasi adalah Satya melalui sang kekasih.


Sementara Gunadh, tidak sekalipun menanyakan di mana kekasihnya menginap selama ini. Niatnya adalah untuk menghindari kecurigaan yang membuat kejutannya berantakan.


"Candra bilang di sini. Tapi aku gak tahu kamar nomor berapa."


"Tidak masalah, yang penting hotel yang sama." Ucap Gunadh.


"Besok pagi baru kita cari tahu kamarnya. Sekarang kita istirahat dulu."


Mereka menuju resepsionist, untuk melakukan reservasi kemudian menuju kamar masing-masing.


"Besok pagi jam 7 kita bertemu di depan restaurant ya. Silahkan istirahat." Ucap Gunadh dengan bahasa yang masih baku.


Satya yang lelah hanya mengangguk. Kemudian berlalu menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar Gunadh.


Lebih dari 24 jam mereka melakukan perjalanan. Meski sempat beristirahat cukup lama ketika transit, bagi Satya yang baru pertama melakukan perjalanan jauh, merasa kelelahan dan mengalami jat lag juga. Entah dengan Gunadh. Laki-laki dengan wajah datar itu, sangat sulit ditebak perasaannya.


Namun begitu, ia merasa senang. Sebab bisa mengisi waktu liburannya dengan perjalanan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.


🌟🌟🌟


Nandita, Candra, Bianca, dan Louis bersiap untuk sarapan di restaurant hotel. Ini adalah sarapan terakhir mereka sebelum nanti sore rencananya Bianca akan kembali bertugas, dan mereka akan berpisah kembali.


Kemarin mereka habiskan dengan berjalan-jalan dan belanja banyak hal. Tentu saja Louis yang membayar semua tagihannya.


Meski Nandita awalnya menolak, namun siapa yang bisa membantah kehendak Louis?


"Udah biarin aja dia yang bayar dek, dia emang gitu. Lagian bukan kamu juga yang minta kan?" Kata Bianca saat Nandita menyatakan rasa tidak enaknya.


"Ya tapi aku gak enak kak, kesannya kaya kita manfaatin dia."


"Dia tau kok kita seperti apa. Meski dia baru pertama ketemu kamu. Dia akan tunjukkan kalau dia gak suka, begitupun sebaliknya."


Nandita hanya menganggukkan kepalanya.


Ia masih belum mengerti seperti apa calon suami kakaknya itu.


Terlihat ramah, murah senyum, namun Nandita merasa Louis bukan orang semudah itu. Ada sesuatu yang berbeda yang Nandita rasakan dari laki-laki tersebut.

__ADS_1


Tatapan mata yang kelam, rahang yang tegas, dan intimidasi Louis, dapat Nandita rasakan ketika ia bicara dengan laki-laki itu.


Mereka menuju restaurant sambil bersenda gurau.


Tanpa sadar ada sepasang mata yang menatap interaksi 4 anak manusia itu dengan tatapan penuh rindu.


"Ehm, senang ya liburan tanpa aku?"


Suara Gunadh menghentikan langkah kaki Nandita, begitupun yang lainnya.


Mata Nandita membola melihat laki-laki tampan yang tidak ia sangka kehadirannya.


"Mas?! Kok gak bilang mau nyusul?" Binar bahagia jelas tergambar di wajah Nandita.


Tanpa sadar ia memeluk Gunadh dengan erat.


"Bisa kali ditahan kangen-kangenannya. Jangan pamer di depanku " Ucap Candra yang merasa panas, sebab hanya dirinya kini yang sendiri.


"Sabaaar, giman kalau kamu sama Ahmed aja?" Tawar Bianca yang tidak tahu kalau Satya juga ikut menyusul.


"Gak ah"


"Kenapa gak, dia ganteng lho."


"Iya ganteng, tapi gak ada yang lebih ganteng dari Satya." Candra yang memang lebih dulu bucin tidak mungkin mau dipasangkan dengan orang lain.


"Ganteng tapi kalau orangnya gak ada, kan percuma juga" Kini Nandita ikutan menggoda.


Mereka masih betah berdiri di dekat pintu masuk restaurant.


"Eh maaf, silahkan." Ujar Bianca tidak enak.


"Ya udah yuk, ngobrolnya di dalam aja." Ucap Louis yang sedari tadi diam memperhatikan.


"Tunggu sebentar, kita tunggu seseorang dulu."


Gunadh gusar, sebab Satya dari tadi belum muncul.


"Nunggu siapa mas?"


"Satya dari tadi mas tunggu gak keluar juga dari kamarnya." Bisik Gunadh di telingan Nandita


"Dia ikut?"


Gunadh mengangguk.


"Niatnya mau kasih kejutan untuk Candra, tapi kayanya dia kelelahan."


"Oohh" Nandita menjawab tanpa suara.


"Ya udah kita masuk dulu aja. Nanti juga kan dia pasti lihat kita di dalam." Saran Nandita lagi.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu."


Mereka akhirnya memasuki restaurant bersama-sama.


Mereka memilih tempat duduk yang paling pojok, yang mejanya paling panjang.


"Beberapa hari di sini, aku berasa kaya bule beneran ini. Tiap hari makannya rotiii terus." Nandita berkeluh entah pada siapa.


Yang lain hanya tersenyum dengan keluhan gadis bertubuh sintal itu.


Jika masyarakat Indonesia cenderung sarapan dengan makanan berat, seperti nasi goreng, bubur, atau lontong, hal berbeda akan terlihat pada sarapan masyarakat Perancis.


Masyarakat Prancis cenderung sarapan dalam porsi kecil dan tak ada makanan lain yang dinikmati di luar jam makan utama. Meskipun begitu, sarapan mereka cukup mengenyangkan dan bergizi.


Tidak cukup satu menu yang mereka pesan. Louis yang memiliki darah Prancis merekomendasikan beberapa menu yang ia sukai untuk dicicipi yang lainnya.


Candra hanya diam melihat interaksi dua pasangan yang sedang dimabuk asmara.


Terlihat jelas kebucinan dua laki-laki tampan namun berwajah datar di depannya itu pada pasangan masing-masing.


Ada rasa sedih terselip di hati wanita itu, ketika menyadari hanya dirinya seorang diri yang duduk diantara mereka, tanpa ada yang memanjakan.


"Sorry banget ya aku telat." Satya tiba-tiba muncul dengan sisa keletihan masih tercetak jelas di wajahnya.


"Eeh kamu udah bangun? Baru nanti mau aku suruh pacarmu untuk bawain sarapan." Gunadh menyahut, tanpa ada beban.


Sementara Candra, gadis itu diam terpaku dengan apa yang dilihatnya.


Benarkah itu Satya?


Candra menatap kekasihnya dari atas sampai bawah.


Satya mendekat, dengan senyum menawan mengecup pipi Candra.


"Maaf yank, niatnya aku bikin kejutan untuk kamu, tapi aku mabuk jadi telat." Satya menjelaskan dengan wajah memelas.


Candra masih diam. Masih tidak menyangka kalau Satya akan menyusul dirinya ke tempat ini.


"Hei ... kenapa diam aja? kamu gak suka aku nyusul kamu?" Tanya Satya.


"Bukan gak suka, cuman kaget aja liat kamu di sini." Ucap Candra


"Gak kangen sama aku? Gak pengen peluk gitu?" Satya menggoda Candra yang kini wajahnya sudah memanas.


Candra segera memeluk Satya.


"Kirain aku bakal ngenes sampai akhir, di sini sendirian tanpa pasangan. Mana mereka pada bucin-bucin lagi. Aku berasa jadi obat nyamuk tau gak yank, ada diantara mereka." Adu Candra.


Satya tersenyum. Ia tahu, pasti Candra merasa tidak nyaman dengan keberadaan dirinya diantara orang pacaran.


"Saya tahu kamu tidak nyaman jika saya dan Dita berduaan sementara kamu sendiri, jadi saya ajak saja dia untuk ikut kemari." Ucap Gunadh setelah rasa keterkejutan Candra mereda.

__ADS_1


"Dia yang biayain aku ke sini yank. Syukur. Setidaknya dana nikahan kita aman untuk beli tiket sama yang lain." Satya tanpa malu menceritakan yang sesungguhnya terjadi.


Setelah berkenalan dengan Louis, dan bersalaman juga dengan Bianca akhirnya mereka berenam menikmati sarapan mereka dengan khidmat.


__ADS_2