
Dekapan hangat lelaki tua itu begitu nyaman. Nandita selalu merasa terharu tiap kali bertemu sang kakek, dan disambut dengan pelukan.
Bersyukur
Karena Tuhan masih memberinya kesempatan merasakan semua itu. Sebelum nanti alam yang berbeda memisahkan, dan hanya doa yang bisa dijadikan pengantar kerinduan.
"Tambah gendut aja kamu sekarang hhmmm,,." Ucap kakek sembari mengusap kepala cucunya. Wajah tua yang kini terlihat jauh lebih segar. Berbeda sekali dibanding saat ditemui di rumah sakit dulu.
"Ya kek,,,, murid-murid ulangan, Dita ikutan stress. Jadi makan terus deh,,." Senyum cerah menghiasi wanita yang dulu disebut biji ketumbar oleh Gunadh.
"Silahkan diminum teh nya Dita,, ajak temen nya juga." Tante Sari bersikap ramah di depan Gunadh.
Berbeda dengan Tante Dewi yang memang wajah nya lebih judes di bandingkan Tante Sari. Ia bahkan tidak menyapa Nandita dan Gunadh sama sekali. Ia hanya menyindir melalui Tasya saja.
"Udah puas kamu kelayapan di luar rumah seharian?? Bahkan sampai menginap di tempat yang tidak jelas. Mau kamu seperti orang-orang, yang gak punya aturan hidup nya?? Hidup bebas tanpa pengawasan orang tua." Cecar nya dengan mata sesekali melirik Nandita.
Tasya hanya diam saja, begitu juga Nandita dan Gunadh. Tante Dewi berani berkata seperti itu sebab kakek sudah masuk ke dalam kamar nya.
Nandita dan Gunadh segera pergi dari rumah besar sang kakek, sebab suasana nya tidak sehangat saat awal mereka datang, ketika kakek menyambut nya.
Dalam perjalanan menuju kediaman orang tuanya, Nandita meminta maaf pada Gunadh atas ketidak nyamanan yang tersaji di rumah kakek nya.
"Maaf ya mas,, harus dengerin Omelan Tante Dewi tadi."
"Ga apa,, bukan kamu juga yang salah kan. Kenapa kamu harus minta maaf??"
"Ya sih tapi tak elok saja mempertontonkan kemarahan di hadapan orang lain." Ucap Nandita dengan pandangan menatap lurus ke depan.
Nandita dan Gunadh saling diam hingga memasuki area perumahan tempat Nandita tinggal. Barulah Nandita membuka suara menunjuk jalan, sedangkan Gunadh mengikuti saja dan hanya anggukan sebagai jawaban.
Setibanya di rumah, keadaan masih sepi. Sebab hari masih siang, pastinya ayah masih di tempat peternakan, sedangkan bunda biasanya menyetrika di belakang.
Bunda membuka usaha laundry rumahan. Pelanggan nya tidak terlalu banyak, namun cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
"Bundaaaaa,,,." Panggil Nandita dari depan pintu, namun tak kunjung ada yang membuka kan. Akhir nya ia membuka sendiri pintu nya. Benar saja pintu nya tidak terkunci.
"Rumah kamu kok sepi si Ta??" Tanya Gunadh yang mengikuti langkah Nandita dari belakang.
"Sssstttt jangan ribut mas,,, adek aku lagi tidur itu di ruang TV." Nandita menunjuk ke arah ruang TV yang tersambung dari ruang tamu. Hanya di pisah oleh sofa panjang yang menghadap ke arah TV.
Gunadh segera menutup mulut nya.
"Sorry." Ucapnya tanpa suara.
Perlahan Nandita melangkahkan kaki nya. Ia mengambil bolpoin yang tergeletak di samping TV. Muncul ide untuk mengerjai adik bungsunya itu.
Dengan perlahan ia membuat coretan-coretan tipis di pipi putih Malikha. Setelah itu ia sengaja melempar bolpoin tersebut dari jarak yang ia rasa aman untuk bersembunyi. Gunadh juga tidak lupa ia amankan.
Kletak
Suara yang cukup keras membangunkan Malikha yang tertidur di atas sofa. Ia melihat sekeliling.
__ADS_1
Sepi
Senyap
Bahkan nyamuk pun tidak ada yang lewat.
'Masih siang masa hantu udah pada beraksi' kata Malikha bermonolog.
Kembali Nandita melemparkan kertas yang sudah ya remas. Ia melemparkan ke arah berlawanan dengan pandangan Malikha.
Anak bungsu dari tiga bersaudara itu sudah tidak tahan lagi, akhirnya ia berlari sambil berteriak
"Bundaaaaaaa!!!!! Ika takuuuut, ada hantu lemparin Ika..!!" Ucapnya
Nandita tertawa terbahak melihat tingkah adik nya. Sudah SMA tapi masih penakut. Sementara Gunadh hanya tersenyum. Sebab tanpa sadar, ia juga ikut dalam kejahilan Nandita, karena ia diam saja saat gadis itu beraksi.
Malikha yang sadar ada suara tawa di belakang nya, semakin takut dan semakin kencang berlari. Namun setelahnya ia segera sadar, tawa itu sangat familiar di telinga nya. Ia lantas berbalik dan mengejar Nandita yang sudah waspada akan kehadiran sang adik.
"Kakak ga ada akhlak,,,, kurang aseeem,,, aku bilangin kak Byan nanti ya, awas aja. Beneran aku sumpahin kakak nikah sama duda beranak sepuluh!!" Umpat Malikha sambil terus mengejar sang kakak.
"Doa anak penakut kaya kamu ga bakal di dengerin sama Tuhan wleeee." Nandita menjulurkan lidah nya. Malikha yang merasa kesal akhir nya duduk dan menangis.
Bunda berjalan tergesa menuju ruang tamu yang terdengar berisik. Ia takut ada maling yang masuk dan Malikha tidak bisa menyelamatkan diri.
"Ika kamu kenapa nak??" Tanya bunda dari jauh. Beliau bahkan belum menampakkan wajah nya, namun suara nya sudah terdengar.
Sesampainya di ruang tamu, sang bunda hanya diam. Ia melihat wajah Malikha yang sudah basah oleh air mata, dan coretan tipis di pipi gadis itu membuat ia harus menahan tawa nya sekuat tenaga.
Ia melirik sosok yang berdiri agak jauh dari tempat Malikha. Sudah pasti tersangka keributan ini, adalah dia.
Ia mendekat ke arah anak ke duanya. Nandita yang sudah tau kebiasaan sang bunda hendak kabur namun segera di cegah oleh Gunadh.
"Berani berbuat berani bertanggung jawab sayang,,." Goda laki-laki itu.
Akhirnya telinga Nandita menjadi makanan lezat sang bunda.
"Bunda ampun Bun,,,, sakit,,, aduuuuhh,,,." Nandita sungguh tidak akting. Ia benar-benar merasa telinganya akan putus.
"Tenang aja,,,, ga sampe putus kok bunda narik nya,." Jawab bunda santai.
"Bunda,,, malu sama mas Gunadh,,." Bisik Nandita, ia baru sadar kalau kelakuan nya di perhatikan oleh Gunadhyia.
Malikha dan bunda Santi baru sadar ada orang lain di ruangan itu.
Bunda menarik tangan nya dari telinga Nandita. Ia juga merasa malu sudah menyuguhkan drama di hadapan tamu yang baru pertama kali datang ke rumah nya.
"Kamu kenapa tida bilang kalau ngajak orang lain pulang??"
Sungut bunda dengan suara pelan.
"Tadi aku lupa bunda,,." Jawab Nandita.
__ADS_1
Akhir nya setelah beberapa menit dalam suasana canggung, bunda Santi menyapa Gunadh terlebih dahulu.
"Silahkan duduk dulu, maaf ya nak,,,," bunda tidak melanjutkan kalimat nya sebab tidak tahu nama sang tamu.
"Saya Gunadhyia Tante, tapi panggil nya Gunadh aja." Kata Gunadh sembari menyalami tangan Bu Santi dengan hormat.
"Ya silahkan duduk nak Gunadh,,." Ulang bunda Santi lagi.
Bunda menyiapkan minuman dan camilan untuk anak dan tamu nya. Tadinya Nandita yang hendak ke dapur, namun dicegah oleh bunda.
"Silahkan diminum nak,, maaf seadanya ya." Ucap bunda lagi, tidak enak hanya menghidangkan teh hangat dan rebusan singkong dengan kelapa parut di atasnya.
"Terimakasih Bu,, ini sudah sangat istimewa lho. Jarang saya makan singkong yang masih segar begini." Ucap Gunadh, ia mengambil potongan singkong lalu memakan nya dengan lahap.
Bunda Santi sangat senang karena tamu nya bisa menghargai hidangan sederhana yang ia sajikan.
Gunadh bercengkrama dengan bunda, beberapa saat sebelum akhir nya pak darma datang.
Nandita yang mendengar suara motor sang ayah, langsung keluar rumah menyambut sang kepala keluarga.
"Ayaaaah...." Ucapnya dengan senyum ceria.
Sang ayah juga tersenyum melihat tingkah putri nya. Mereka berjalan beriringan, sambil Nandita menjelaskan ia pulang bersama Gunadh.
Setelah membersihkan diri, ayah juga ikut bergabung bersama tamu nya di ruang tamu.
Gunadh memperkenalkan dirinya, dan hubungan nya dengan Nandita di hadapan ayah, bunda. Ia mengatakan kalau Nandita adalah orang yang ia percaya untuk menjaga anak nya beberapa bulan terakhir. Dan kini mereka dekat sebagai laki-laki dan perempuan dewasa
"Aya percaya pada Nandita, kamu pasti bisa menjaga diri. Begitupun pada nak Gunadh, om yakin kamu sudah dewasa untuk membedakan kedekatan seperti apa yang boleh dan tidak boleh untuk kalian jalani." Ucap ayah bijak.
Gunadh menganggukkan kepala nya. Tidak tahu harus menanggapi seperti apa.
Hingga sore mereka ngobrol, hingga bunda mencolek tangan Nandita.
"Biarin Gunadh ngobrol sama ayah, kita siapin makan malam dulu yuk." ajak bunda.
Nandita mengangguk, kemudian ijin untuk ke belakang. Sementara Malikha masih belum keluar kamar sedari tadi. Ia masih marah karena keusilan sang kakak.
"Om,,,,. Kata Nandita liburan kali ini ia ingin ke Singapura. Saya mau ijin untuk menemani nya. Sebab ini pengalaman pertama nya keluar negeri, saya tidak ingin ia mendapat kendala di sana." Ucap Gunadh mengutarakan maksud kedatangan nya.
"Nandita yang memintamu untuk melakukan ini nak?" Tanya pak Darma.
"oohh tidak om,, bahkan Nandita gak tau kalau saya kesini dengan niat meminta ijin. Nandita taunya saya hanya mengantar dia pulang, dan berkenalan dengan kalian." Jelas Gunadh lagi. Ia tentu tidak berharap pak Darma akan salah paham pada Nandita.
Dari interaksi yang ia lihat, keluarga Nandita adalah keluarga yang hangat dan saling menyayangi. Ia tidak ingin melukai salah satu nya, apalagi menjadi penyebab mereka saling menyakiti.
"Baiklah kalau begitu, om percaya ada anak om. Nandita pasti bisa menjaga diri nya. Dan sekarang kamu juga menawarkan diri untuk bisa menjaga nya. Jangan rusak kepercayaan itu ya."
"Pasti om. Saya pernah gagal dalam berumah tangga karena rasa tidak percaya, tidak mungkin rasanya saya melakukan hal yang sama pada orang lain. Rasanya dikhianati itu sungguh menyakitkan om." Terang Gunadh.
Setelah selesai makan malam, Gunadh hendak pamit pulang. Namun dicegah oleh pak Darma.
__ADS_1
"nginep aja di sini, besok pagi baru balik. ini sudah malam. Apalagi kamu baru pertama kesini, belum terlalu hapal sama jalan nya."
Akhirnya jadi lah malam itu Gunadh menginap di rumah Nandita untuk pertama kali nya.