
"Ta ... Bangun kita jadi jalan-jalan kan?" Candra membangunkan Nandita yang tidak biasanya malas bangun pagi.
"Mmh ya." Jawab gadis itu lemah.
"Kamu kenapa?" Candra yang masih memakai jubah mandi, mendekati sahabatnya yang berbaring di pojok ranjang.
Nandita ingin menjawab, namun ia merasa sangat lemas. Tubuhnya terasa remuk, tiap persendiannya seperti mau copot.
Akhirnya ia hanya bisa menggeleng lemah.
Candra menyentuh keningnya, juga memeriksa bagian tubuh yang lain.
"Ya ampun Ta, kamu sakit! Kok gak bilang sih?" Candra antara panik dan takut.
Ini bukan di negaranya apa lagi kota tempatnya lahir, yang dia hafal betul tiap sudutnya. Ini Paris, kota yang baru ia kenal dan belum mengerti harus mencari rumah sakit di mana.
"Ta bangun dulu, aduuh sebentar aku pakai baju dulu." Candra mulai panik ketika merasakan tubuh Nandita menggigil.
Cepat-cepat ia memakai pakaiannya. Kemudian kembali mendekati Nandita.
"Dii taas aaku aada paaracetamol Ndraaa." Nandita berucap lirih dengan kedua tangan memeluk tubuhnya di bawah selimut.
"Aku ambilkan, eh kamu harus makan sesuatu dulu tapi." Candra mengambil roti yang tadi ia pesan lewat layanan kamar.
"Ini kamu makan dulu, sama minum air juga."
Dengan pelan Nandita membuka mata serta selimut yang menutupi tubuhnya.
Dengan wajah meringis ia bangun, memeprabiki posisi tubuhnya agar lebih nyaman saat makan.
"Makasih ya Ndra. Maaf gara-gara aku, kita gak jadi jalan-jalan." Nandita merasa tidak enak, sebab tiba-tiba sakit disaat yang tidak tepat.
"Gak usah mikirin jalan-jalan dulu, masih 10 hari waktu kita untuk hal itu. Yang penting sekarang kamu cepat sembuh." Ucap Candra menenangkan.
Meski waktu liburannya berkurang karena harus menjaga Nandita, namun ia tidak merasa masalah dengan itu.
Tidak lupa ia juga menghubungi Ahmed, dan menjelaskan keadaan Nandita yang sebenarnya. Sehingga laki-laki itu tidak perlu repot menghampiri mereka di hotel. Sebab hari ini dua wanita Indonesia itu tidak akan pergi kemana-mana.
"Saya akan tetap stand by di loby hotel Anda nona, jadi tidak perlu merasa sungkan untuk meminta bantuan saya. Di sini saya bekerja untuk memastikan kenyamanan kalian berdua bagaimanapun dan dimanapun. Itu perintah tuan Louis pada saya." Ucap laki-laki itu ketika Candra memintanya untuk tidak datang ke hotel.
"Yaaa terserah kamu saja kalau begitu. Terimakasih atas bantuannya Ahmed."
"Sama-sama nona."
Tlup
Sambungan telepon terputus. Candra kembali menghampiri Nandita yang kembali berbaring, setelah selesai minum obat.
Candra tidak meninggalkan temannya sendirian di dalam kamar. Sembari membunuh waktu yang terasa lama berlalu, ia menghubungi Satya dengan panggilan video.
__ADS_1
🌟🌟🌟
Gunadh kembali uring-uringan ketika pesan dan teleponnya tidak pernah mendapat balasan dari Nandita. Dari pagi hingga kini beranjak sore, tidak satupun pesannya mendapat respon gadis itu. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak oleh Nandita.
Ingin menghubungi Candra, namun ia merasa tidak enak. Tapi rasa khawatir dan penasaran juga tidak bisa ia enyahkan dari kepalanya.
Ia terus memainkan ponselnya, menggulir nama-nama dalan kontak poselnya. Hingga muncul nama Satya, ia segera berhenti memainkan jemarinya.
"Halo" Suara Satya terdengar dengan jelas
"Halo Sat, mmm kamuu dapat dikirimi kabar gak sama Candra?" Agak ragu Gunadh bertanya.
"Ya, tentu saja. Setiap hari juga kami bertukar kabar. Memangnya ada apa?"
"Ituuu mm mereka lagi ada di mana sekarang. Soalnya Nandita gak ada balas pesan sedari pagi." Meski gengsi, Gunadh tetap mengutarakan niatnya menghubungi Satya.
"Ooh ituu. Tadi Candra bilang mereka di hotel saja sejak pagi. Kata Candra, Nandita lagi gak enak badan. Mereka gak ada acara keluar hari ini. Mungkin sampai Nandita kembali pulih."
"Dia sakit apa? Lalu gimana keadaannya sekarang?" Gunadh benar-benar khawatir.
"Aku gak tau pastinya. Coba aja hubungi Candra kalau ponsel Nandita gak diangkat."
"Boleh minta nomor ponselnya Candra?"
"Ya sebentar aku kirim ya."
"Ok. Terimakasih Satya." Gunadh masih bicara agak formal dengan Satya yang notabene adalah orang luar
Segera ia menghubungi Candra, yang nomornya baru ia dapat.
"Halo ..." Terdengar suara dari seberang.
"Halo Candra?"
"Iya, ini siapa?" Candra sebenarnya ragu, namun karena nomor yang menghubunginya ia tahu dari negara asalnya, Candra pun menerima panggilan tersebut.
"Saya Gunadh. Nandita dimana? Kenapa dari pagi tidak ada kabar?"
Candra yang diberondong pertanyaan dari Gunadh pun bingung menjawab.
"Mmm Nandita lagi istirahat. Dia kurang enak badan. Nanti kalau sudah bangun, aku kasih tahu untuk hubungi mas Gunadh." Candra merasa gugup bicara dengan Gunadh.
Mereka tidak sedekat itu, untuk saling bertukar suara melalui sambungan telepon seperti saat ini.
"Tapi dia sudah minum obat kan?"
"Sudah kok tadi. Habis minum obat dia tidur. Syukur dia bawa obat dari Indonesia."
"Ooh ya sudah, tolong jaga dia ya. Kabari saya kalau dia udah bangun."
__ADS_1
"Iya.Nanti saya telepon mas Gunadh kalau Nandita sudah bangun ya."
"Terimakasih."
Panggilan pun berakhir. Meski belum merasa puas karena Nandita masih belum bisa dihubungi, namun hati Gunadh sedikit lega karena kabar dari Candra.
Waktu berlalu, hingga tengah malam waktu Indonesia, barulah Nandita mengirim pesan untuk Gunadh.
N : " Mas maaf ya, aku gak sempat pegang ponsel dari pagi. Mas udah tidur ya? Di Indo jam berapa sekarang?" Pesan yang dikirim Nandita dan langsung bercentang biru, tanda sudah dibaca
Drt
Drt
Drt
ponsel Nandita bergetar kembali.
"Halo mas ..."
"Sayang kamu sakit apa? Sudah minum obat?"
"Sudah mas. Cuman kecapean aja kok, udah diberi obat, jadi sekarang udah gak sakit lagi." Nandita mencoba menenangkan Gunadh.
"Beneran udah minum obat? Kalau masih sakit, mendingan balik ke Indo aja ya. Besok-besok lagi jalan-jalannya."
"Gak. Ngapain balik, orang aku udah sewa tempat ini selama 10 hari ke depan."
"Dari pada kamu sakit di sana. Mending balik aja."
"Mas iih, udah aku bilang aku gak apa-apa."
"Tapi dari tadi kamu gak ada kabari aku. Apa alasannya kalau bukan karena sakit?"
"Aku ketiduran aja. Udah ya mas, ini udah malam kan. Mas istirahat aja dulu. Besok aku hubungi mas lagi." Nandita ingin cepat-cepat mengakhiri obrolannya dengan Gunadh.
"Iya sudah, kamu istirahat dulu juga. Ingat jaga diri di sana. Kalau ada apa-apa cepat kabari mas ya."
"Iya mas" Panggilan terputus.
Gunadh menatap layar ponselnya yang sudah mati.
Dilihatnya lagi jam di pergelangan tangannya. Sudah jam 11 malam, itu artinya di Paris, waktu masih menunjukkan pukul 5 sore.
Gunadh melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat tertunda karena panggilan dari Nandita. Bukan mendengarkan ucapan gadisnya yang meminta ia untuk istirahat, Gunadh malah semakin sering lembur hingga larut, bahkan hingga menjelang subuh.
Semua ia lakukan, agar pekerjaannya cepat selesai, dan semakin cepat pula ia terbang menemui Nandita.
^_________^^_________^^_________^
__ADS_1
Man teman ... maafkan ia up nya gak tepat waktu. acara dunia nyata masih banyak hingga besok sore.