Nanditha

Nanditha
KESIBUKAN GUNADH


__ADS_3

Semua yang ada di dalam ruangan itu terkejut melihat ayah Darma yang tanpa kata menampar Tante Dewi hingga terjatuh.


"Sekian lama saya diam saat kalian mengacaukan hidup saya. Tidak pernah sekalipun saya membalas perbuatan kalian terhadap saya dan Niar. Tapi kali ini kamu sudah keterlaluan." Tatapannya menukik ke arah Tante Dewi.


"Jangan sekali-sekali berani berkata buruk tentang anak-anak saya. Sebab bukan hanya tamparan yang akan kamu dapatkan, saya tidak akan segan mencincang tubuh kamu bila sekali lagi kamu berani menghina keluarga saya." Suara ayah darma begitu tenang, namun mampu menggetarkan tubuh Tante Dewi juga Tante Sari.


Mereka tidak menyangka saudara tirinya sanggup menyakiti seorang perempuan.


"Pergi dari sini sebelum saya mengusir kalian dengan cara saya." Ucap ayah Darma sebelum berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Sesak rasa hatinya, anak yang sangat ia sayangi, ia jaga, ia banggakan, dihina dengan begitu rendahnya oleh keluarga sendiri.


"Silahkan pergi dari sini, jangan pernah kalian menginjakkan kaki di rumah kami lagi." Hanya itu yang terucap dari bibir bunda Santi untuk kedua iparnya.


Mereka berdua pun segera pergi tanpa patah kata.


Setelah kejadian itu, kehidupan keluarga mereka tidak lagi sama. Banyak sindiran yang didengar dari para tetangga, bahkan hingga berpengaruh ke urusan bisnis.


Entahlah, manusia terlalu sibuk menilai buruk orang lain, hingga mereka lupa bercermin pada diri sendiri.


Bila pun benar Nandita adalah seorang pelakor, pernahkah ia merugikan orang-orang di sekitarnya? Kenapa hanya karena pernyataan satu pihak, orang langsung menuduh itu benar atau salah?


Sehebat apa kita, hingga mampu berjalan tanpa cela? Sebegitu sempurnakah kita, hingga bisa menilai orang lain hina?


Flashback off


🌟🌟🌟


Keesokan harinya, seperti yang sudah disepakati, Safira dan Tasya bertemu di sebuah kafe.


"Aku seneng banget tau, pas dia diceramahi sama kakek. Belum lagi tetangga-tetangganya pada gosipin dia sekarang. Puasnya hatikuuu." Tasya begitu heboh bercerita pada Safira. Sementara lawan bicaranya hanya menatap malas gadis yang baru lulus kuliah tersebut.


"Eh kamu kok diem aja? Bukannya happy liat saingan kamu kalah." Ketus Tasya ketika menyadari Safira hanya diam tanpa sepatah katapun sejak tadi.


"Aku senang, sangat senang malah. Pengorbanan ku tidak sia-sia ke daerah pedalaman seperti itu. Tapi bukan di sini tempat berpesta yang sebenarnya. Kamu mau merayakan bersamaku?" Tanya Safira. Otaknya sedari tadi memikirkan rencana licik yang tidak diketahui siapapun.

__ADS_1


"Dimana?"


"Nanti malam kita berpesta, nanti aku Sherlock tempatnya. Di sana kita bebas berekspresi, beda kalau di sini, takut dikira orang gak waras." Ucap Safira.


Tasya nampak berpikir. Dia tidak berencana menginap, tapi ia juga tidak ingin melewatkan berpesta bersama Safira.


"Aku gak bawa baju ganti, gak ada persiapan buat nginap." Ucapnya


"Tinggal beli aja sama buka kamar hotel kan gampang." Usul Safira.


"Ya juga ya. Baiklah, kalau gitu sampai ketemu nanti malam ya. Aku mau cari baju dulu." Tasya beranjak terlebih dahulu.


"Gak usah bayar, tadi saya sudah bayar semuanya." Ucap Safira ketika Tasya hendak ke arah kasir.


"Oh thanks."


Tasya menoleh, kemudian keluar dari kafe tersebut.


Senyum licik Safira muncul, ketika melihat Tasya masuk ke dalam mobil yang dikendarainya.


'Gak semudah itu kamu menjatuhkan saya Nandita. Saya akan balas semua perbuatan kamu.' Ucapnya penuh dendam.


Namira ketakutan, takut perbuatannya akan terbongkar. Dan membuat sang Daddy semakin murka.


Sedangkan Gunadh, ia merasa bersalah pada Nandita. Namun masalah proyek yang belum sepenuhnya beres, membuat perhatiannya terpecah.


Proyek yang tengah bermasalah itu proyek besar yang melibatkan banyak investor. Ia yang dipercaya menjalankan proyek tersebut, otomatis harus bisa bertanggung jawab dengan segala masalah yang dihadapi.


Setelah mendarat dari liburannya di Paris. Gunadh sudah ditunggu oleh Arya. Mereka langsung menuju lokasi kecelakaan.


"Bagaimana ini bisa terjadi Arya?" Tanya Gunadh sambil memijat keningnya yang terasa pening.


"Semuanya masih dalam penyelidikan tuan. Yang pasti, ini semua karena kelalaian dan kurangnya keamanan kerja yang digunakan. Dicurigai, bahan yang dipakai untuk pembuatan beton juga tidak seperti yang kita inginkan."


Gunadh memejamkan matanya. Kepalanya semakin berdenyut sakit.

__ADS_1


"Saya mau istirahat dulu, nanti bangun kan saya kalau sudah sampai di lokasi." Ucap Gunadh tanpa menanggapi pernyataan dari sang asisten.


"Baik tuan." Sahut Arya.


Sepi


Tidak ada satupun suara di dalam mobil itu selama lebih dari tiga jam perjalanan.


Sesampainya di lokasi, Gunadh hanya melihat sekilas keadaan. Pikirnya, ini bisa diurus nanti.


"Di rumah sakit mana mereka semua di rawat?" Tanyanya pada Arya.


Arya menyebutkan nama rumah sakit yang cukup besar tidak jauh dari daerah tersebut.


"Rumah sakit Ganesha tuan. Sementara korban yang meninggal sudah dibawa oleh masing-masing keluarganya tuan."


"Kita ke rumah sakit terlebih dahulu, setelah itu baru kita mengunjungi keluarga korban yang meninggal." Putus Gunadh.


Arya melakukan perintah sang majikan. Ia harus menjaga keamanan sang majikan, sebab kasus ini menimbulkan reaksi yang cukup menghawatirkan di masyarakat.


Sebenarnya Arya sudah menyarankan agar Gunadh tidak terjun langsung ke lapangan, demi keselamatan laki-laki itu. Namun Gunadh menolak. Selain karena kemanusiaan, Gunadh juga ingin menunjukkan bahwa dirinya bertanggung jawab atas proyek tersebut, dan akan menyelesaikan permasalahan dengan baik.


Jadilah hampir empat hari Gunadh sibuk mengunjungi satu tempat ke tempat lain demi menyelesaikan masalah ambruknya bangunan tersebut.


"Setelah ini, saya limpahkan kasus ini padamu Arya. Kamu usut semua hingga tuntas. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi. Siapapun yang melanggar kesepakatan kerja sama, segera tindak lanjuti. Baik dari segi material ataupun sistem perekrutan pekerja. Pastikan semuanya sesuai prosedur yang kita sepakati." Pesan Gunadh, ketika mereka menuju kota tempat kantor utama berpusat.


"Baik tuan." Sahut Arya singkat.


Memang laki-laki tampan itu sangat irit bicara, namun cepat bertindak.


Tubuh Gunadh terasa remuk. Maklum saja, meski ia adalah laki-laki dengan tubuh sehat, namun tetap ia hanya manusia biasa. Yang bisa sakit dan membutuhkan istirahat.


Niatnya ia ingin segera tiba di rumah. Mandi, makan, dan menghubungi sang kekasih yang beberapa hari ini tidak sempat ia kabari karena kesibukan dan beban pikiran yang ia rasakan.


Namun sayang. Niat hati ingin beristirahat, begitu tiba di rumah ia malah mendapati drama memalukan terjadi di rumahnya.

__ADS_1


Tubuh lelah, beban pikiran, membuat ia lepas kendali. Mengucapkan kalimat buruk yang ia sesali setelahnya.


Apalagi ia melihat tatapan mata Nandita yang kemarin penuh cinta dan rindu untuknya, kini berganti dengan tatapan kecewa yang penuh amarah.


__ADS_2