Nanditha

Nanditha
TAMU DARI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Ketukan pintu yang terkesan terburu, mengganggu tidur Gunadh yang baru terlelap beberapa jam yang lalu.


Ia enggan menggerakkan tubuh. Lelah setelah melewati perjalanan yang tidak sebentar saat menjemput Nandita, mengantar gadis itu ke kampung halamannya, dan kembali ke kota, baru ia rasakan saat ini.


"Dad ... Buka pintunya, jadi anterin Mira nggak sih?" Suara gadis belia itu terdengar tidak sabar, masih terus mengetuk pintu berulang kali.


"Dad ...."


"Sebentaaar ...."


Dengar terpaksa Gunadh membuka mata, menggerakkan kaki menuju pintu kamarnya.


"Jam berapa ini, Mira? Kenapa kamu udah ribut sih?" wajah bantal Gunadh, tidak membuat sang putri merasa bersalah karena telah menganggu tidurnya.


"Ya ampun Dad, ini udah jam setengah sembilan. Daddy janji mau antar Mira ke rumah onty Dita sekarang kan? Ini udah siang Daddy, nanti kita nggak bisa lama main di sana ...."


Gunadh yang semula masih merasakan kantuk, matanya langsung terbuka lebar saat mendapat serentetan protes dari sang putri.


"Kamu nggak sekolah? Ini kan baru hari Jumat,"


"Kemarin aku udah ijin sama wali kelas aku, bilang kalau ada acara keluarga." Dengan santai Namira menjawab, membuat Gunadh terdiam.


Melihat sang Daddy tidak memberi reaksi apapun, Mira menjadi kesal.


"Dad ... Ayo donk ... Jadi nggak anter Mira ketemu onty? Kalau nggak, Mira minta tolong Mamang aja buat anterin ya ... Keburu siang nanti, Mira nggak puas main di sana,"


Gadis itu hendak membalik badannya, berniat keluar rumah untuk mencari sopir pribadi yang biasa mengantar jemputnya ke sekolah.


"Eeh, sebentar ... Daddy yang anter." Tanpa banyak bicara, laki-laki itu segera kembali ke dalam kamar untuk membersihkan diri, sementara sang putri menunggu di sofa ruang keluarga sembari memainkan ponselnya.


🌟🌟🌟


"Rumah onty Dita pindah ya Dad? Kok berasa lama ya sampainya?" Mira sejak baru berangkat begitu banyak bicara membuat Gunadh merasa sedikit kesal pada sang putri.


"Iya, pindah ke kaki Gunung Agung." Sahutnya asal, membuat Mira membulatkan matanya, tidak percaya.

__ADS_1


"Yang bener Dad?" Tanya gadis itu.


"Hmm ...."


Gunadh menjawab pertanyaan putrinya dengan gumaman.


Melihat sang Daddy yang sepertinya mulai jengah karena ocehannya, Namira memilih menyandarkan tubuh sembari memejamkan mata. Gadis itu harus menahan rasa tidak sabarnya untuk bertemu dengan Nandita.


Gunadh melirik putrinya yang sudah lebih dari setengah jam tidak mengeluarkan suara. Laki-laki itu tersenyum tipis, sembari mengusap rambut gadis belia itu, yang ternyata sudah terbuai mimpi.


'ternyata bukan cuman Daddy yang kangen sama dia ya, kamu juga sepertinya udah nggak sabar ketemu onty Dita.' gumam Gunadh dalam hati.


Sisa perjalanan yang masih sekitar satu jam itu, akhirnya terlewati dengan tenang, sebab sumber suara yang sejak tadi mendominasi telah tertidur karena kelelahan.


Getar ponsel yang Gunadh simpan di saku celananya, membuat fokus laki-laki itu sedikit teralihkan. Sedikit memelankan laju kendaraannya, ia meraih ponselnya untuk menerima panggilan.


Alisnya berkerut, saat melihat nama yang tertera di layar datar itu.


"Halo bik, ada apa?" Tanyanya pada Bik Asih , sang asisten rumah tangga.


"Mmm halo tuan, ini ada tamu katanya dari rumah sakit dan ... apa itu? Mmm dinas sosial," bik Asih ragu menyampaikan berita pada majikannya, yang membuat alis Gunadh berkerut.


"Anu ... Katanya mau mencari non Namira, kata petugasnya ... mmm itu, mba Safira sedang di rawat di sana, dan meminta untuk bertemu putrinya." suara bik asih semakin mengecil.


"Apa? Untuk apa? Bilang sama mereka, kami sudah tidak ada urusan lagi dengan wanita itu." Sahut Gunadh, yang emosinya tiba-tiba naik mendengar nama Safira disebut kembali.


"Tapi tuan ...."


"Bik, cukup dengarkan apa yang saya katakan. Dan jangan sampai hal ini diketahui oleh Namira."


"Eee ba baik ttuan." Sahut bik Asih dari seberang. Wanita itu sepertinya ketakutan mendengar suara Gunadh yang tengah menahan emosi.


Gunadh meremass ponsel miliknya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegang setir, mengendalikan laju kendaraan agar tidak keluar jalur.


Meski matanya fokus ke depan, namun pikiran laki-laki itu bercabang ke mana-mana.

__ADS_1


Ia teringat dengan nomor asing yang menghubunginya kemarin malam. Apa mungkin itu ada hubungannya dengan Safira juga?


Gunadh menggelengkan kepala, mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang liar menari mengganggu fokusnya. Namun tetap saja ada rasa yang mengganjal hatinya, yang membuat ia tidak bisa menghilangkan pikiran tentang mantan istrinya itu.


Sudah lama ia tidak mendengar berita tentang Safira, setelah wanita itu mendapat pengusiran di kantornya beberapa waktu lalu. Ia sudah tidak pernah mendengar dan mau tahu kabar wanita itu lagi, sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan wanita yang sudah menyakiti putrinya dan mengakibatkan Namira ingin mengakhiri hidup.


Tapi kini dia muncul lagi, disaat semua sudah baik-baik saja. Untuk apa? Ingin menarik simpati dengan menjual kesedihan, dan lalu menghancurkan hidupnya dan Namira kembali? Sungguh Gunadh tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.


Gunadh terus memikirkan apa niat Safira kali ini, hingga tanpa sadar ia sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Nandita.


Dengan perlahan ia menggoyangkan bahu sang putri, agar tidak mengejutkan gadis belia itu.


"Mira, bangun nak. Kita udah sampai," ucapnya pelan.


"Mmhh," Namira menggeliat, mengedipkan matanya beberapa kali sebelum ia benar-benar terjaga.


"Kita udah sampai sayang, ayo turun." Ajak Gunadh dengan lembut. Sebisa mungkin ia menyimpan apa yang diketahuinya, agar Namira tidak terbebani dengan berita itu.


Namira menatap sekeliling.


"Kata Daddy, onty Dita pindah rumah?"


Rupanya gadis itu benar-benar percaya dengan apa yang dikatakan Gunadh.


Sang Daddy tersenyum tipis,


"Nggak. Tadi Daddy hanya asal menjawab pertanyaan kamu. Udah, ayo masuk." Gunadh segera membuka pintu mobil, diikuti Namira yang juga melakukan hal yang sama.


Kedatangan mereka di sambut oleh Nandita yang sudah berdiri di depan pintu gerbang, dengan senyum yang terkembang di bibir manisnya.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Haiii sebentar lagi GunTha bakal end, mamak Nia masih menunggu dukungan kalian ya ...


jangan lupa vote, like, sama komen ya ....

__ADS_1


oh ya, sambil nunggu detik-detik terakhirnya, yuk intip karya temen mamak yang satu ini,



__ADS_2