Nanditha

Nanditha
HARUS TETAP HAPPY


__ADS_3

Setelah mendapat nasihat dari Candra, Nandita berusaha berpikir positif. Ia tidak akan terpengaruh oleh apapun yang Safira lakukan selama Gunadh tidak memberi sinyal membahayakan.


Itulah mengapa kini ia menyiapkan sarapan seperti biasa, dan berniat menjenguk Mira seperti sebelumnya.


'Hah semoga aja gak ada yang bikin emosi naik pagi-pagi' ucapnya saat semua sudah siap dan ia tinggal berangkat.


"Selamat pagi ..." Ucapnya dengan senyum lebar saat baru saja memasuki ruang perawatan Namira.


Dilihatnya Gunadh sedang menyuapi Namira bubur, sementara Safira berdiri di samping laki-laki itu.


Meski merasa kesal, sebisa mungkin ia menutupinya dengan berpura-pura tidak sadar akan kedekatan jarak mereka.


Gunadh berbalik begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Suara gadis yang seharian kemarin tidak ia jumpai.


"Sayang ..." Ucapnya langsung menyodorkan mangkuk bubur milik Mira pada mantan istrinya.


Ia bangkit, menghampiri Nandita yang berjalan pelan menuju ranjang Namira.


Diambilnya tentengan yang Nandita bawa. Dia tahu, Nandita membawakan sarapan untuknya.


"Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya Nandita saat tubuhnya sudah menyentuh ranjang pasien.


"Udah lebih baik onty. Makasih udah jenguk Mira." Ucap gadis itu


"Onty Dita tiap hari lho datang ke sini sayang ..." Ucap Gunadh dari sofa tempatnya duduk. Masih sibuk membuka tas makanan yang dibawa Nandita.


"Benarkah? Makasih banyak onty." Ucap gadis itu lagi.


"Sama-sama Mira." Nandita mengelus pelan lengan Namira.


"Ya sayang, dia tiap pagi ke sini bawain Daddy kamu makanan. Habis itu pergi lagi." Kalimat Safira tentu saja membuat Nandita dan Gunadh terdiam saling pandang.


Raut kecewa jelas terlihat dari wajah Mira. Membuat senyum licik terpatri di bibir Safira.


"Maaf ya Mira, onty gak bisa lama-lama temani kamu. Kan onty harus kerja. Nanti kalau onty libur, pasti onty temani kamu sepuasnya." Ucap Nandita berniat menghibur.


"Gak apa-apa onty. Aku udah ditemani mommy sama Daddy kok tiap hari. Jadi gak masalah kalau gak ada yang lain. Aku justru senang." Ucap gadis kecil itu.


Penolakan secara halus itu bisa Nandita rasakan. Begitupun dengan Gunadh. Namun mereka tidak bisa berkata apa-apa.


"Mas, aku berangkat dulu ya. Takut telat nanti. Itu aku udah bawa lebih makanannya. Nanti kalau gak habis jangan dibuang ya, biar nanti aku yang makan." Ucap gadis itu seperti biasa.


"Ya sayang, kamu hati-hati ya." Gunadh yang belum selesai menikmati sarapannya, berhenti sejenak menatap sang kekasih.


Laki-laki itu berdiri, mengantar langkah Nandita keluar hingga pintu ruang perawatan.


Setelahnya ia lanjut menikmati makanan yang Nandita buat tanpa menghiraukan tatapan Safira juga anaknya. Ia merasa kesal, sama sekali tidak ada yang bisa menghargai pengorbanan yang dilakukan Nandita.


Setelah makan pun, ia tetap diam membiarkan Safira menemani sang anak. Sementara dia sibuk memainkan ponselnya.


"Dad ... Kok diem aja?" Namira tidak tahan untuk bertanya


"Daddy lagi periksa pekerjaan. Kamu ngobrol aja sama mommy dulu. Atau istirahat biar cepat pulih." Ucapnya. Melihat sekilas ke arah sang putri.


Mira menatap sang mommy, memberi kode dengan lirikan mata. Sang mommy pun hanya merespon dengan mengangkat bahu sebentar.


Ruangan itu kembali hening, hingga Namira terlelap efek obat yang diberikan perawat.


Setelah melihat putrinya sudah terlelap, barulah Gunadh menunjukkan kekesalannya pada sang mantan istri.


"Apa maksud kamu bicara seperti itu pada Namira? Ingin mengatakan kalau Nandita tidak perduli padanya, begitu? Asal kamu tahu, dia jaauh lebih baik dari pada kamu soal keperdulian terhadap Namira." Ucapnya penuh emosi.


"Ingat? Kamu meninggalkan anak ini saat usianya baru 2 tahun. Kamu memilih bersenang-senang menuruti hawa nafsumu dan membiarkan ia di asuh oleh baby siter. Sekarang, kamu ingin menunjukkan menjadi ibu yang baik untuknya?" Nafas Gunadh sampai tersengal menyelesaikan kalimatnya. Jika boleh, ingin ia menyumpal mulut wanita yang sudah memberinya seorang putri itu.


Safira menunduk, tidak mampu menjawab kalau Gunadh sudah membahas tentang masa lalu.


Namun dalam hati, tidak ada niat sedikitpun untuk berubah. Ia tetap ingin Nandita terlihat buruk di mata anaknya. Hanya saja mungkin caranya harus ia ubah.


Gunadh segera meninggalkan ruangan sang anak. Mencari udara segar, menghilangkan kemarahan di hatinya. Demi mengindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Gunadh mencari kafe terdekat, agar bisa bersantai sembari berbalas pesan dengan sang kekasih.


Sementara itu.


Di dalam ruangan Mira, Safira juga tengah berusaha mengendalikan dirinya. Jika bisa, ia ingin berteriak dan memaki. Tidak terima dirinya dipersalahkan untuk hal yang ia lakukan tadi.

__ADS_1


'Kamu gak akan menang Nandita! Apapun caranya, aku akan membuat Gunadh meninggalkanmu. Dia milikku, dari dulu hingga kini.' Geramnya dengan tangan terkepal.


'aku bukan tandingan mu soal menjerat pria. Aku pastikan, sebentar lagi hubungan kalian hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur.' Gumamnya penuh kebencian


Sangking sibuknya dengan pikiran liciknya, Safira tidak menyadari kalau Mira sudah bangun dan menatapnya dengan heran


"Mom ..." Mira memanggil sang mommy


"Eh Mira, kamu sudah bangun sayang?"


"Kenapa melamun? Daddy mana mom?" Mata Mira liar mencari sosok laki-laki cinta pertamanya itu.


Wajah Safira berubah mendung. Memperlihatkan kesedihan palsu pada sang putri.


"Tadi dia keluar" Ucapnya.


Menarik nafas dalam, sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Daddy marah sama mommy, katanya mommy membuat citra onty Nandita buruk di mata kamu. Padahal mommy kan hanya mengatakan kebenaran sayang. Sepertinya Daddy kamu sudah terperangkap terlalu jauh oleh wanita itu." Tuturnya dengan wajah sedih, seolah kehilangan harapan.


Wajah Mira memerah. Tentu kebencian semakin kuat mengakar di hatinya kini. Siapa yang rela melihat wanita yang disayanginya dibuat sedih oleh orang lain?


"Mom ... Jangan sedih ... Nanti setelah Mira sembuh, Mira akan buat Daddy sama onty Dita berpisah." Ucap gadis itu dengan wajah polosnya. Ia tidak sadar, dirinya dimanfaatkan oleh sang mommy.


Yang Mira tahu, mommynya adalah korban keegoisan Nandita. Karena onty yang dulu begitu ia kagumi itu, mommy dan daddynya tidak lagi bersama.


"Makasih sayang ... Kamu anak kebanggaan mommy. Hanya kamu yang mommy punya sekarang. Bantu mommy agar bisa meraih kembali Daddy kamu dari tangan wanita lain. Agar kita sama-sama lagi seperti dulu." Safira memainkan dramanya dengan baik.


Dengan mata berkaca-kaca, ia bicara sembari membelai rambut putrinya.


"Ya mom, mommy jangan sedih lagi ya. Mira jadi ikut sedih liat mommy kayak gini." Diusapnya air mata yang mengalir di pipi wanita semampai itu.


"Ya sayang ... Terimakasih ya, sudah selalu ada untuk mommy." Ucap Safira sambil memeluk tubuh sang putri.


Bayangkan betapa kecewanya gadis itu, bila tahu kisah sesungguhnya.


Mengapa ada orang seperti Safira, yang tega menjadikan anak sebagai alat untuk menggapai ambisinya


🌟🌟🌟


Tidak ada lagi gadis manja yang selalu menempel padanya. Tidak ada lagi gadis lemah yang mengharap perlindungannya. Namira tak lagi sama seperti dulu, ketika sang mommy belum datang kembali.


Apa yang harus dilakukannya kini? Tetap berusaha mendekat meski ditolak, atau membiarkan hubungannya dengan Namira semakin menjauh? Tapi bukan karakternya untuk tetap bermanis, pada seseorang yang tidak menghargainya. Dia bukanlah seseorang yang biasa mengemis pada siapapun. Harga dirinya terlalu tinggi, meski cintanya pada Gunadh pun cukup besar.


G : " Yank ... Maafkan ucapan Mira tadi ya"


Pesan masuk dari sang kekasih. Gadis itu tersenyum tipis. Ia tahu kekasihnya kini dilema


N : " Ya mas ... Kenapa harus minta maaf?"


N : " Aku gak apa-apa kok."


G : "Aku gak mau kamu masukkan ke hati ucapannya itu. Dia masih kecil, belum mengerti dengan apa yang dikatakannya."


Senyum Nandita meredup, menerima balasan pesan dari Gunadh.


Bila Mira masih kecil dan belum mengerti, dia tidak akan mengatakan hal itu. Meski dirinya bukan seorang psikolog, tapi dia sedikit paham karakter seseorang. Mira salah satunya.


Seorang anak yang dengan sengaja membuat dia merasa kesal berkali-kali, dengan cara yang terselubung. Anak yang ia tolong dulu itu, bukan anak polos pada umumnya.


G : " Yank ... Kenapa gak balas?"


Gunadh melihat status online namun Nandita tak kunjung membalas pesannya.


N : "Maaf mas, aku lagi di kelas. Nanti lagi ya." Tidak mau bertambah kesal, Nandita memutuskan untuk menghentikan obrolan tersebut.


Bolehkah ia kecewa pada Gunadh? Bukan ingin dijadikan yang utama, hanya saja jangan selalu memaksanya untuk menerima.


Hubungan mereka bukan lagi untuk main-main. Keluarga besarnya sudah tahu. Tapi bila harus selalu mengalah, bisakah ia bertahan?


Bukan salah Gunadh membela sang putri. Tapi dia bersalah bila memaksakan orang lain untuk selalu memaafkan perilaku Namira.


Nandita menarik nafas lalu mengembuskannya dengan kasar. Berharap kekesalannya ikut terbang bersama udara.


Melanjutkan aktivitasnya di sekolah, Nandita tidak ingin urusan pribadi menganggu kinerja profesinya sebagai seorang pengajar.

__ADS_1


Siang hari, biasanya Nandita akan meluangkan waktu untuk berkunjung kembali ke rumah sakit. Namun kali ini ia enggan pergi ke sana.


Bersyukur Candra mengirim pesan, mengatakan ingin bertemu. Sehingga ada alasan pada Gunadh dirinya tidak datang.


"Kamu kenapa Ta? Dari tadi aku perhatikan kaya orang anemia. Lemeees banget kayanya." Protes Candra, sebab ocehannya hanya ditanggapi seadanya saja.


Saat ini mereka tengah menikmati makan siang yang terlambat di sebuah gerai makanan di dalam mall.


Rencananya mereka akan nonton bersama, dan kini sedang menunggu Satya.


"Ya nih kak Dita, ada apa kak? Kaya gak semangat gitu." Kini Kiara menimpali. Kebetulan gadis itu ikut bersama kakaknya.


"Gak ada, mungkin efek datang bulan jadi bawaannya pengen tidur." Nandita beralasan meski ia tidak berbohong soal tamu bulanannya itu.


Tidak berselang lama, Satya datang bersama sang adik yang kebetulan ada di kota tersebut.


"Kamu gak sekolah dek? Kok bisa di sini?" Candra bertanya pada Dinda.


"Libur kak, aku habis ke dokter." Ucap gadis itu sopan.


"Sakit apa kamu? Anak model kamu bisa sakit juga rupanya ya?" Kiara menatap Dinda penuh selidik.


"Orang ke dokter itu gak harus sakit kak. Masa udah gede harus diajarin sih?" Berbeda saat menjawab pertanyaan Candra, dengan Kiara gadis itu berani bicara ketus dengan mata melotot.


"Ish anak ini nyebelinnya gak ilang-ilang ya. Terus orang ke dokter kalau bukan karena sakit lalu mau apa? Mau belajar nyuntik?" Kiara tidak kalah nyolot.


"Ya kalau kak Ara mau, boleh aja. Tapi jangan deh. Kan kak Ara penakut, bukannya belajar, baru lihat jarum suntik aja kak Ara udah pingsan duluan."


"Eeh sembarangan kamu? Aku gak takut jarum ya. Satu lagi, berhenti panggil aku Ara! Aku bukan temannya Upin Ipin!"


"Yee siapa bilang Ara temannya Upin Ipin? Beneran harus disuntik kayanya kak Ara ini." Dinda yang cerewet, bertemu dengan Kiara yang kadang judes, pasti akan membuat gaduh.


"Dek ..."


Candra dan Satya kompak menegur sang adik.


Tom and Jerry dalam bentuk manusia itu pun menoleh dan berseru


"Cieee barengan!" Kemudian mereka tertawa bersama, karena kekompakan mereka berdua. Hingga beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka, membuat Candra dan Satya malu.


Nandita pun ikut tertawa melihat tingkah mereka yang kadang akur dan kadang benar-benar seperti Tom and Jerry.


"Kalian lucu ya." Ucap Nandita yang tidak lagi terlihat lemas.


"Mereka emang gitu Ta, kayak kucing sama anjing." Candra berkeluh, dan diangguki oleh Satya.


"Rasanya aku pengen masukkan mereka ke pelatihan sirkus tau Ta. Lumayan ditonton dapet duit, daripada gini bikin malu." Ucap sinis Satya pada sang adik.


"Udah ... Jangan pada debat, kalian udah makan? Jadi kan nontonnya?" Candra menengahi


"Udah kok. Kita langsung aja yuk." Dinda sudah tidak sabar


"Tar dulu, pastikan kita mau nonton film apa?"


"Kartun aja kak." Celetuk Dinda


"Yee emang kamu pikir kita semua TK apa? Horor aja deh." Usul Kiara


"Jangan kak ... Aku takut nanti." Tolak Dinda


"Yee dasar penakut." Sungut Kiara lagi


"Udah,, gimana kalau drama romantis?" Usul Satya diangguki Candra


"GAK!!!" Jawaban kompak dari Nandita, Kiara, dan Dinda.


"Lah terus apa donk" kini Candra yang bertanya.


"Komedi aja yuk, biar bisa ketawa. Hilangin stress." Ucap Nandita memberi usul.


Yang lain saling lirik. Seolah mengerti, mereka akhirnya menyetujui usul gadis itu.


Jadilah mereka menuju loket penjualan tiket. Bersyukur perdebatan tadi tidak membuat terlambat.


Selepas menonton film, mereka menghabiskan waktu mengelilingi mall tersebut. Arena bermain, toko sepatu, toko pakaian, bahkan toko perhiasan tidak luput mereka datangi. Hingga menjelang malam barulah mereka berpisah.

__ADS_1


Nandita senang, meski merasa sangat lelah. Namun kehadiran teman-temannya memberi semangat baru untuk gadis itu. Dia tidak sendiri. Apapun yang terjadi dia tetap happy.


__ADS_2