
Tubuh Namira lemas mendengar kabar yang disampaikan sang Daddy. Mommy-nya kehilangan kesadaran? Apakah dia tidak akan berkesempatan bertemu wanita itu lagi, kelak?
Saat Nandita sudah berlalu menuju kamar, untuk bersiap, gadis itu masih mematung di tempatnya semula.
Sementara Gunadh sibuk dengan ponselnya, entah menghubungi siapa.
Ucapan Nandita kembali terngiang. Jangan sampai ia menyesal saat semua sudah terlambat.
Dengan menarik nafas dalam, akhirnya Namira berlalu menuju kamarnya dengan berlari.
Gunadh yang masih menghubungi Arya, menoleh ketika mendengar suara langkah menjauh. Dilihatnya Mira berlari masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu menghela nafas berat. Putrinya benar- benar kepala batu. Sangat sulit memberi pengertian gadis belia itu. Pikir Gunadh.
Tidak berselang lama, Nandita muncul dengan pakaian yang lebih rapi.
"Ayo, mas. Lho Mira mana?" Tanya Nandita saat menyadari sosok Namira tidak ada di sana.
"Dia masuk ke kamarnya. Susah sekali membujuk anak itu. Tapi kita tidak bisa memaksanya."
"Jadi dia nggak ikut ke rumah sakit?"
"Kita tidak bisa membujuknya saat ini, sayang. Biarkan saja dulu dia berpikir. Waktu kita tidak banyak. Dokter meminta mas segera ke sana." Sahut Gunadh sembari melangkah menuju halaman dimana mobilnya terparkir, dan Nandita hanya bisa mengekor di belakang.
"Daddy tunggu ...!" Suara Mira melengking dari dalam rumah, ketika Gunadh sudah masuk ke dalam mobil.
Gadis belia yang hanya memakai outer panjang, menutupi pakaian rumahan yang digunakannya itu, berlari kencang mengejar Daddy-nya.
Nandita yang masih berada di luar mobil pun menoleh ke arah sumber suara. Melihat Mira yang berlari ke arah mereka wanita itu tersenyum senang. Tidak sia-sia dirinya menasihati gadis itu.
"Mas, tungguin Mira." Serunya pada Gunadh.
Suasana hening menyelimuti perjalanan mereka sore itu. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak ada satu pun diantara ketiganya yang bersuara. Hingga mobil berhenti di area parkir rumah sakit, barulah Gunadh memecah keheningan.
"Kita sudah sampai. Ayo turun," ucapnya saat melihat tidak ada satu pun penumpang yang dibawanya, bergerak turun.
Nandita memberi kode pada tunangannya, agar mendekati Mira yang masih mematung di kursi belakang.
Gunadh yang mengerti maksud kekasihnya pun mengikuti saran Nandita.
Laki-laki itu membuka pintu penumpang, dan mendekatkan kepalanya ke arah sang putri.
__ADS_1
"Mira, ayo." Ajaknya mengulurkan tangan, namun Mira tidak bergeming. Gadis itu nampak ragu.
"Kamu mau ketemu mommy, kan?" Tanya Gunadh lagi.
Namira menatap wajah Gunadh dengan tatapan sendu. Merasa bingung harus berbuat apa. Ia sama sekali tidak menduga akan berada dalam situasi seperti saat ini.
"Mira, apa yang membebani pikiran kamu?" Tanya Nandita dari tempat duduknya.
"Apa yang harus aku lakukan, onty? Aku masih marah sama dia. Aku masih sangat kecewa, tapi ...."
"Sayang, ada kalanya kita harus belajar melepaskan rasa sakit itu, meski tanpa pelampiasan. Kondisi mommy kamu saat ini sangat mengkhawatirkan. Simpan dulu marah dan kecewamu, kita tidak punya banyak waktu." Potong Gunadh tidak sabar.
"Ayo." Desak laki-laki itu lagi kembali mengulurkan tangan.
Namira akhirnya menuruti perintah Daddy-nya. Mengekor di belakang punggung Gunadh, dengan Nandita yang selalu menemaninya.
🌟🌟🌟
Tangis Mira pecah, saat ketiganya sampai di depan ruang ICU. Mereka belum diijinkan masuk, namun diberi kesempatan melihat kondisi Safira melalui kaca.
Dari luar mereka bisa melihat, dokter tengah melakukan sesuatu ada tubuh Safira. Memeriksa layar monitor, dan menempelkan beberapa alat yang hanya tim medis yang mengerti.
Beberapa menit lalu, Gunadh diminta oleh dokter, yang menangani Safira, agar mengikuti langkah kaki pria yang baru keluar dari ruang ICU tersebut.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut gadis belia itu. Hanya tatapan nanar, mewakilkan perasaannya saat ini. Hatinya menjerit sakit, sama sekali tidak menduga sosok tidak berdaya itu adalah mommy-nya, yang hampir satu tahun tidak ia temui.
Tangis pilu Namira terdengar begitu menyayat. Tubuhnya luruh di depan ruang ICU, saat kakinya yang lemas sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya.
Nandita yang melihat semua itu pun ikut merasakan kesedihan yang gadis belia itu rasakan.
Ia membawa tubuh Namira ke dalam pelukannya.
"Sabar sayang ... Doakan mommy kamu agar sehat kembali. Kamu harus kuat." Ucap wanita itu penuh kelembutan.
Namira tidak menjawab sama sekali, hanya membalas pelukan Nandita dengan sangat erat, ingin menyalurkan kesakitan yang ia rasakan pada tubuh wanita itu.
"Kuat sayang ... Semua pasti akan baik-baik saja ...." Ucap Nandita parau, menahan air mata yang hampir menetes.
Ia membiarkan Namira meluapkan segala perasaannya, memasrahkan bahunya basah oleh air mata gadis itu.
__ADS_1
Perlahan tangis Mira mereda, meski wajahnya masih sendu sarat akan kesedihan. Ia sudah tidak lagi memeluk tubuh Nandita, tetapi wanita itu masih tetap menemani, duduk di sampingnya.
"Onty, apa mommy aku akan sembuh?" Tanya gadis itu, setelah hening beberapa saat.
"Kita sama-sama berdoa sayang, semoga mommy kamu diberikan kekuatan sama Tuhan, agar dia kuat melawan sakitnya."
"Mommy sakit apa, onty?"
"Onty nggak tau, Mira. Daddy kamu nggak jelasin apa-apa sama onty. Kamu jangan pikirkan itu ya, yang terpenting sekarang, kamu harus kuat. Agar mommy kamu juga punya semangat untuk sembuh. Jangan tunjukkan kesedihan kamu di depannya, biar dia juga nggak sedih. Ok,"
Namira mengangguk, lalu bangkit kembali menatap tubuh wanita yang melahirkannya, melalui kaca pembatas.
'Mom, cepat sembuh. Aku pengen mommy minta maaf sama aku atas semua kesalahan yang mommy lakuin. Aku mau mommy tebus semua waktu masa kecil aku, aku mau mommy temani aku kemanapun aku mau. Mommy harus sembuh, untuk bisa dapetin maaf dari aku.' ucapnya dalam hati.
Baru saja hatinya sedikit tenang, setelah mengucapkan apa yang selama ini dirinya pendam, Namira dikejutkan oleh derap langkah terburu dari lorong rumah sakit.
Beberapa dokter dan perawat datang menuju ruangan dimana Safira dirawat intensif.
"Onty, ada apa?" Tanya gadis itu bingung, tidak menyadari, sang Daddy juga baru muncul dari lorong.
Nandita yang juga tidak mengetahui apa-apa, hanya menggeleng lemah, menoleh ke arah Gunadh yang baru tiba.
Gunadh meraih dua wanita yang dicintainya itu, lalu membawanya ke dalam pelukan.
"Dadd ... Ada apa?" Namira berusaha melepaskan diri dari pelukan Daddy-nya
"Nggak apa-apa sayang, tadi dokter melihat ada reaksi dari mommy kamu, yang terdeteksi monitor. Mereka masih memeriksanya." Sahut Gunadh lembut.
"Semoga mommy kamu segera sadar, Mira." Ucap Nandita penuh harap.
^_________^^_________^^_________^
Haiii kesayangan GunTha 😍😍😍
selamat berpuasa untuk yang menjalankannya ya ....
jangan lupa like, vote, komen dan hadianya biar mamak semangat up-nya ya ....
__ADS_1