Nanditha

Nanditha
CANDRA CEMBURU


__ADS_3

Ada yang berbeda dari sikap Candra, yang tanpa sadar membuat Satya merasa gelisah. Gadis yang akhir-akhir ini selalu ingin ia temui itu, seolah sengaja ingin menghindar darinya.


Satya merasa ia tidak pernah melakukan kesalahan, apalagi hal yang membuat Candra menangis. Namun kenapa gadis itu berubah? Setiap kali diajak jalan berdua selalu saja ada alasan menolak.


Hingga suatu hari ia mencoba bertanya kabar lewat Kiara.


Tuut


Tuut


Tuut


Panggilan telepon Satya tak diangkat Kiara. Hingga dering ke lima baru terdengar suara dari seberang.


"Halo Satya,, ada apa??"


Suara itu,,,, seperti bukan Kiara.


"Mmm ya halo,,, bisa bicara sama Kiara??" Satya yang merasa gugup tidak bisa menggunakan logikanya.


Ia tahu yang mengangkat telepon nya adalah Candra, seharusnya ini kesempatan untuk mencari tahu alasan, kenapa akhir-akhir ini Candra berubah.


Namun ia malah menanyakan Kiara, terang saja Candra yang masih galau karena cerita Satya, kini bertambah sakit hati sebab ia berpikir wanita yang dicintai Satya adalah adiknya yakni Kiara.


Candra yang marah pun menjawab ketus pada Satya.


"Ga tau aku,, udah ya aku sibuk!!"


Tut


Tut


Tut


Sambungan telepon terputus.


'Sial!!!!' Umpat Satya tertahan.


Ia merasa kacau sendiri, dan penyebabnya adalah sang gadis pujaan yang tengah salah paham padanya. Namun Satya tidak menyadari itu.


Sementara di kediaman Candra,, kakak beradik itu sedang berdebat karena ke salah pahaman.


"Udahlah dek,,, jujur sama kakak. Kakak ga apa-apa kok, kamu jadian sama Satya. Mungkin emang dia bukan pilihan Tuhan untuk kakak" Jelas sekali terlihat raut kecewa di wajah Candra.


"Kak.... Udah berapa kali aku bilang, aku sama kak Satya ga pacaran. Astaga kak,,,, emang aku apaan sukanya sama om-om begitu?? Aku juga milih-milih kali kak Deket sama cowok! Makanya kak.... Kalo suka itu bilang, kalo masih sayang itu utarakan,, kalo cinta itu tunjukkan. Jangan sok cool,, sok ga butuh, pas tau udah ada yang ambil aja baru deh nyesel" Kesempatan Kiara memarahi kakaknya.


"Trus ngapain dia telepon kamu? Pake gugup gitu lagi pas kakak yang angkat, kelihatan banget lagi, kaya maling ketangkap basah"


Candra masih dengan wajah tak sukanya.


"Aduuuuh terserah kakak deh,, pusing aku" Kiara berlalu dari hadapan sang kakak. Kakinya di hentak kuat tandanya dia sedang kesal.


Di dalam kamar Kiara menghubungi Satya, ia ingin menanyakan kepentingan apa yang membuat Satya meneleponnya.


"Kak Satya ngapain tadi nelepon aku? Bikin orang jadi salah sangka aja!!"


Kiara langsung menyerang begitu telepon diangkat. Dan sialnya hal yang sama juga terjadi di seberang sana. Yang mengangkat telepon Kiara bukanlah Satya melainkan Dinda.


"Eeehh kakak Ara tersayang,,,, bisa kali nelepon orang itu ucapin salam dulu. Jangan main semprot aja" Sindir Dinda.


Kiara memutar bola matanya malas. Menarik napas dalam berharap mendapat stok kesabaran lebih banyak lagi.


"Adik Dinda yang baik,,,, kak Satya nya ada?? Boleh kak Kia ngomong sebentar sama dia??"


"Ga boleh!!!!" Sahut Dinda cepat


Habislah kesabaran Kiara. Dengan sekali tarikan napas ia berkata


"DINDAAAAAA KASIIN HAPENYA KE KAK SATYA SEKARANG!!! CEPETAAAAN!!"


Dinda yang kaget segera menjauhkan ponsel sang kakak dari daun telinganya.

__ADS_1


"Ya ya tunggu bentar,,." Sahutnya dan segera berlari mencari sang kakak di belakang rumah.


"Kak Satya,,,, nih ada telepon dari Mak lampir,,"


Suara Dinda didengar juga oleh Kiara. Namun ia sedang malas berdebat. Tujuan utamanya adalah meluruskan masalahnya bersama Satya dan Candra.


"Halo,,,," terdengar suara Satya dari seberang.


"Halo kak Satya,,, tadi sempet telpon aku ada apa?"


"Oohhh itu,, mmm gimana ya ngomong nya,," Satya nampak ragu-ragu.


"Jangan am em am em gitu kak...! Tau gak gara-gara kak Satya telepon aku, kak Andra jadi salah paham. Dikiranya kita pacaran sama dia. Aku sih males banget punya pacar setua kakak"


Kiara masih kesal rupanya.


Tumben-tumbenan gadis itu berbicara ketus.


"Haaaaaahhh aku pacaran sama kamu?? Ide darimana itu??"


"Nah makanya itu,,,, ngapain kak Satya telepon aku tadi??!!!"


Gemes juga ia lama-lama.


"Tadi itu aku pengen nanya keadaan Candra sama kamu, beberapa hari ini dia kaya ngehindarin aku gitu. Trus aku ga tau ternyata dia yang angkat"


Alis Kiara berkerut,, sesuatu terlintas di pikirannya.


"Ooh gituuuu,,,, ngomong-ngomong kenapa kakak kaya khawatir banget kak Candra cuekin kakak??"


"Mmm" Satya mencoba mencari jawaban.


"Kia udah dulu ya, aku masih sibuk ini dipanggil ibuk lagi." Ia segera mengakhiri panggilan teleponnya.


'Ga adek, ga kakak, sama-sama aneh' Gerutu hati Kiara.


Namun muncul senyum misterius di wajah cantiknya.


🌟🌟🌟


Setelah insiden telepon salah sasaran itu,, beberapa hari Kiara tidak mau dekat dengan sang kakak.


Dia berpura-pura marah sebab tidak ingin rencana rahasianya diketahui.


Ia sudah menghubungi Nandita,, meminta bantuan gadis itu, dan disanggupi juga olehnya. Ia juga menghubungi si Dinda dan Dinda sangat antusias membantu. Kalau soal ngerjain orang Dinda selalu semangat.


K : "Kak Dita,,, gimana caranya ini biar kita bisa satukan mereka?"


N : "Gimana yaaaa kakak juga bingung,, ga pernah soalnya, kalau yang kaya begini😁😁😁


K : "Yaaah trus gimana dong...😒😒"


Mereka berkomunikasi lewat grup wa yang hanya beranggotakan tiga orang saja.


D : "Adeeeeh kalian dewasa diumur doangπŸ™„πŸ™„πŸ™„" Muncul pesan dari Dinda.


D : "Kita kerjain aja mereka,, pura-pura ajak mereka ke tempat romantis trus jebak deh mereka biar mau saling ungkapin perasaan"


K : "Iiiihhhh basi tau yang begitu.... Dasar anak kecil, ga punya ide yang lebih cemerlang apa?


D : "Mending aku kasih ide, timbang kakak bisanya nyinyir doang tapi ga bisa mikir😑😑😑!!"


Nandita yang dari tadi sebagai penonton akhirnya berkomentar.


N : "Udah jangan pada ribut,, nanti kita pikir cara terbaiknya. Ini udah malam,, kalian tidur dulu biar besok ga kesiangan bangun!!"


Perintahnya.


K : "πŸ‘ŒπŸ‘Œ"


D : "πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ"

__ADS_1


Keesokan harinya mereka disibukkan dengan kegiatan masing masing.


Nandita juga hari ini akan mengadakan ulangan harian untuk mengetahui sejauh mana anak didiknya menguasai materi yang diajarkan.


Ia pulang dari sekolah setelah lewat jam makan siang. Rasa lelah membuat ia enggan untuk membuat makanan. Jadilah ia kembali keluar mengendarai sepeda motornya untuk membeli makan.


Setelah berkeliling mencari yang pas,, pilihannya jatuh pada warung ikan bakar dengan sambal khasnya.


'Obat Pusing' nama warung makan itu.


Ya makan dengan lahap.


Nasi hangat, ikan bakar segar dengan sambal ekstra pedas, dilengkapi plecing kangkung yang juga pedas, tidak lupa air minum dan es jeruk.


Hhuuuuhhh nikmat mana yang kau dustakan??


Sedang asiknya menikmati sensasi pedas yang membuat lidah terasa kebas,, tiba-tiba seorang gadis kecil berlari masuk ke dalam warung dengan bibir yang terluka. Wajahnya menampakkan ketakutan yang sangat dalam.


Nandita mengenali gadis itu,, ia yang ditemuinya di taman rumah sakit tempo lalu.


Ia merasa gadis ini sedang dalam bahaya. Segera ia menarik tangan sang gadis, mendudukkannya di samping kursi yang tadi ia duduki.


"Pake jaket ini, pura-pura makan sama kakak, jangan mengangkat wajah sedikitpun." Sang gadis hanya bisa mengangguk.


Beberapa pasang mata menatap curiga, apalagi saat melihat beberapa laki-laki dengan wajah sangar memasuki warung, sontak membuat suasana semakin tegang. Namun itu tidak lama.


Setelah orang-orang itu pergi,, Nandita segera membayar makanannya, dan buru-buru meninggalkan warung tersebut. Tidak lupa ia menggandeng tangan gadis malang tersebut.


"Sementara kita ke kostan kakak dulu ya,,,,"


Ucapnya hanya dibalas anggukan lemah oleh si gadis kecil.


Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, berharap bisa sampai dengan segera.


Saat ya sudah memasuki jalan kecil kostannya,, salah satu preman melihat sepintas wajah Mira.


"Itu orangnya! Dia dibonceng cewe pake motor matic"


Temannya yang mengendarai motor pun segera menghentikan motornya.


"Di mana kamu lihat?"


"Di pertigaan tadi ke kiri,, buruan kita balik arah! Nanti kita kehilangan jejak lagi."


Sementara itu, Nandita merasa lega karena ia sudah dekat dengan kostannya.


"Kamar kost kakak no 5, nanti kamu ambil kuncinya dibawah pot bunga ya..."


"Kakak amanin motor dulu,, kayanya tadi kita ketahuan" Terang nandita pada Mira.


"Tapi aunty aku takut,,,,,"


"Udah ga usah takut, nanti sampe di kamar, kamu coba hubungi orang rumah kamu biar segera dijemput."


Baru saja Mira turun dari motor, rambutnya dijambak oleh preman tadi.


"Aaaaa aunty tolong...." Nandita menjatuhkan motornya dan segera menyerang si preman.


Dengan kekuatan penuh ia memukul wajah lawannya. Sang preman yang mendapat serangan mendadak, otomatis memegang wajahnya dan melepas genggaman di rambut Mira.


"Pergiii Miraaaa!!" Teriak Nandita lagi, dan langsung menendang dada sang lawan.


Melihat temannya tersungkur, preman satunya lagi ikut menyerang Nandita. Jadilah gadis itu melawan dua preman dengan tubuh besar itu seorang diri.


Preman dua menendang namun Nandita misa menghindar, preman satu juga segera bangkit dan hendak memukul. Namun gerakannya dapat dibaca gadis itu, ia segera menyambut tangan preman satu dan mengarahkan pukulan itu ke arah preman dua. Setelah preman satu tersungkur karena badannya tertarik maju akibat ulah Nandita, Nandita kembali melancarkan aksinya dengan mengarahkan siku ke punggung preman tersebut. Sedangkan temannya hendak memilih melarikan diri. Namun dari belakang Nandita menendang punggungnya hingga preman dua terjerembab.


"Mengalahkan gadis sepertiku saja kalian tidak sanggup" ucap Nandita dengan sombongnya.


Ternyata mereka salah memilih lawan.


Tidak jauh dari tempat itu, dua pasang mata menatap tidak berkedip, sebab terpesona dengan aksi yang diperlihatkan Nandita.

__ADS_1


"Ini bodyguard sesungguhnya tuan" ucap sang asisten.


__ADS_2