Nanditha

Nanditha
OBROLAN MALAM HARI


__ADS_3

Semakin banyak tahu tentang kamu, semakin besar rasa cinta yang tumbuh untukmu. Semoga aku bisa menjadi penyangga disaat ragamu rapuh, menjadi suara saat kamu kesepia, meski aku tahu, kamu lebih dari sekedar kuat, untuk menaklukkan dunia yang kau singgahi.


Makan malam sudah lewat satu jam yang lalu. Kini mereka berkumpul di ruang keluarga. Gunadh tidak merasa canggung ada diantara orang tua dan saudara Nandita. Sebab mereka semua menerima dirinya dengan sangat baik dan ramah.


"Kak,,,, aku ngantuk, mau ke kamar duluan ya..." Malikha yang sudah bosan menonton televisi ingin segera berlalu.


"Ngantuk apa ngantuk?? Paling juga chating" Nandita mengompori


"Gak usah usil deeeh,,, sotoy banget" Malikha kesal sendiri.


"Yeeeee biasanya juga kamu betah nonton lama-lama. Tumben banget bilang jam segini udah ngantuk. Modus kamu ketahuan keledai hitam!!"


"Enak aja keledai,,, aku gak seburuk itu ya...."


"Siap bilang keledai??!"


"Itu barusan,,,,!!" Malikha melotot


"Kamu tuh suka sekali bikin adiknya marah. Gak bisa apa sehariii saja rumah tenang, kalau kalian sudah bertemu." Bunda Santi menarik rambut Nandita, persisi seperti yang sering dilakukan Gunadh padanya.


"Aaauuu bunda kenapa sih?? Botak kepala aku,,," Nandita balik protes pada sang bunda


"Sekalian ambilkan alat cukurnya ayah aja Bun.... Botakin beneran kepalanya" Malikha mengompori. Gadis SMA itu masih setia duduk di sofa, dengan kepala bersandar pada sandaran sofa.


Gunadh hanya tersenyum tipis melihat semuanya.


"Sudah,,,, Ika masuk kamar sana.... Pusing kepala ayah liat kalian adu mulut terus." Pak Darma kini bersuara.


Malikha masuk ke dalam kamarnya. Sementara ayah, bunda, Nandita dan Gunadh masih betah ngobrol banyak hal.


Tak berselang lama, Nandita dipanggil sang adik.


"Kak,,,, sini" Malikha memanggil sang kakak dari depan pintu kamarnya.


"Kenapa??"


"Kesini aja,,, penting!!"


"Gawat kamu dek,,,." Rutuk Nandita, namun tak urung ia berdiri dan menghampiri sang adik.


"Bunda juga mau ke kamar ya yah, ngantuk." Bunda meninggalkan ayah dan Gunadh berdua saja di ruang tamu.


"Seru ya om mereka berdua" Gunadh memulai obrolan


"Ya gitu,,, kadang om suka pusing liat kelakuan mereka. Ini sudah mending, cuman adu mulut aja. Waktu mereka masih remaja, Byan juga masih kuliah, mainnya fisik. Tapi ya syukur habis berantem, baikan lagi." Terang ayah

__ADS_1


"Senang rasanya kalau punya saudara, ada tempat berbagi keluh kesah." Gunadh menerawang jauh, membayangkan andai ia punya saudara kandung


"Hahahaaaaa kamu ini.... Gak semua saudara itu bisa akur. Banyak yang saling bermusuhan meski lahir dari rahim yang sama. Kamu harus pandai bersyukur, Tuhan maha baik."


"Ya om. Aku bersyukur kok, sangat malah. Cuman merasa kesepian aja terkadang, saat melihat orang lain memiliki saudara, ada teman berbagi, aku gak punya. Dengan hidup menjadi anak tunggal, satu-satunya pewaris usaha keluarga, tanggung jawabku cukup besar. Dan aku harus menanggung beban itu sendiri."


Gunadh malah curhat


"Ya semua memang ada sisi baik dan buruk yang harus dijalani. Menjadi anak tunggal atau memiliki saudara itu takdir. Tapi, menjadi orang yang pandai bersyukur itu pilihan. Kamu tau?? Om itu anak laki-laki satu-satunya, memiliki satu adik kandung perempuan, dan dua adik tiri perempuan. Tapi karena sesuatu dan lain hal, om harus mampu menghidupi diri sendiri semenjak lulus kuliah. Menikah dengan perempuan satu-satunya juga dari lima bersaudara, kehidupan kami memiliki persamaan. Bila om, karena laki-laki jadi harus mandiri, beda dengan bundanya Dita, karena dia anak perempuan yang akan keluar rumah, dia tidak memiliki hak pendidikan yang tinggi, hanya disekolahkan hingga SMA saja. Hak lain pun dia tidak dapat, sebab sudah menikah. Kakak dan adiknya bunda semua memiliki pekerjaan yang bagus. Tapi kami tetap memulai semua berdua dari nol. Lalu apa bedanya kamu yang terlahir sebagai anak tunggal, dengan kami yang juga menanggung semua beban sendiri??" Ayah berkisah panjang lebar.


Gunadh merasa senang, pak Darma yang dikenalnya pendiam rupanya mau berbagi kisah hidup dengannya.


"Anak-anak om semuanya perempuan, om berusaha menjadi orang tua yang adil. Bersyukur mereka anak yang baik, yang pengertian, tidak pernah menuntut terlalu banyak pada kami orang tuanya. Dari kecil Nandita sama kakaknya belajar dengan keras agar selalu bisa membanggakan kami. Meskipun kami tidak menuntut itu. Mereka melihat bagaimana kehidupan kami, juga melihat kehidupan sepupu-sepupunya sangat jauuuh berbeda. Tapi mereka tidak pernah meminta agar mendapat sesuatu yang sama dengan yang lain." Pak Darma kembali melanjutkan ceritanya


"Apa Nandita tidak pernah berengkar dengan kakaknya?" Gunadh tergoda untuk tahu lebih banyak tentang kekasihnya


"Oohh tentu pernah. Apalagi Nandita sebenarnya anak yang jahil, sedangkan Biyanca kakaknya, anak yang serius. Karakter mereka bertolak belakang. Ribut sudah menjadi jadwal harian mereka. Tapi kami sebagai orang tua, selalu memberi pengertian dengan pelan, bahwa mereka bersaudara harus saling menjaga. Saling melindungi satu sama lain, saling membantu. Memang saat masih SD, SMP mereka masih suka ribut. Tapi saat salah satu mulai kost, mulai mereka merasa kehilangan, mulai saling merindukan. Apalagi Nandita sama adiknya jarak umur mereka lumayan jauh, jadi gak terlalu nyambung. Nandita yang jahil, terpaksa harus selalu mengalah sama Malikha yang cengeng." Orang tua itu tersenyum mengingat masa lalu anak-anaknya.


Gunadh juga merasa terhibur dengan cerita calon mertuanya.


"Tapi meskipun Nandita anak yang jahil, terkesan cuek, dia anak yang peka sebenarnya. Anak yang dewasa sebelum waktunya. Om tau dia ingin bangkit bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk kami. Dia ingin menunjukkan pada yang lain, meski orang tuanya 'tersisihkan' tapi dia mampu menjadi anak yang membanggakan. Agar kami bisa mengangkat kepala, saat orang lain merendahkan kami. Dia orang yang paling berani bicara kalau ada hal yang mengusik keluarga."


Gunadh menyimak, merekam semua diingatannya dengan baik. Salut dengan karakter Nandita yang terlihat santai, namun sesungguhnya sosok yang pemikir.


🌟🌟🌟


Diwaktu yang sama, di dalam sebuah kamar, dua kakak beradik itu tidur di ranjang sederhana.


"Kak,,,, aku mau cerita." Malikha memulai obrolan


"Apa?? Punya pacar kamu??" Tembak Nandita langsung


"Enggaaaak... Ish dengerin dulu!!"


Malikha kesal sendiri


"Ya,,, ya,,,, kakak denger"


"Mmmmm,,,, kak, aku punya temen di sekolah, orangnya baik, pintar, suka bantuin aku juga kalo lagi gak bisa jawab,"


"Cowo ato cewe??"


Potong sang kakak


"Cowo,, ehh tapi jangan dipotong dulu,,!" Malikha segera menyelesaikan kalimatnya, sebab Nandita sudah mulai bereaksi

__ADS_1


"Mmmm,,," balas Nandita lagi


"Aku kasihan tau kak, dia tiga bersaudara. Dia anak pertama, adiknya kelas tiga SMP sama enam SD. Beberapa bulan lalu, bapaknya kecelakaan kerja. Sekarang lumpuh, cuman ngandelin ibunya aja sekarang. Ibunya kan jualan nasi bungkus gitu."


"Nah terus??"


"Ya aku pengen bantu kak,,,, tapi gak tau gimana caranya. Aku salut sama dia lho kak,, dia gak malu bawa nasi ke sekolah untuk dititip di kantin. Kadang dia nawarin ke temen-temen juga, misal mau ada acara apa gitu, biar beli nasi di ibunya dia."


"Emang bapaknya dulu kerja apa??"


"Bapaknya kerja, sama orang yang beli-beli kayu di kebun gitu lho. Beliau itu tugasnya mangkas dahan-dahan pohon yang mau ditebang. Nah pas dia lagi kerja, kepleset kak jatuhlah dari pohon yang tinggi. Syukur masih bisa diselamatkan, tapi sayang harus mengalami kelumpuhan."


"Waduuuhh kasihan juga ya.... Terus rencana kamu mau bantu seperti apa??"


"Gini kak,, ibunya dia itu kan pinter banget masak, aku pengen bantu untuk promoin tapi kayanya susah soalnya kan kalo makanan itu gak tahan lama. Juga ribet pengemasannya."


"Terus selain masak dia bisa apalagi?? Yang mungkin bisa dikembangin keahliannya."


"Kayanya masak aja deh kak,, Oya kak dendeng sama urutannya dia enak banget lho.... Cuman harganya mahal, makanya jarang dia bikin itu. Kecuali pas ada pesanan aja.Kapan hari aku mau beli, gak bisa katanya soalnya dia gak punya modal untuk stok, kecuali ada yang pesen baru bisa dia bikin lebih."


"Ooohhh tapi peminatnya banyak??"


"Lumayan kak,, tapi ya gitu, kalo nyari setengah kilo gitu gak bisa, harus pesan paling gak tiga kilo, baru bisa buatin."


"Oooohhhh... Nanti coba kalo udah ada, kakak cicip dulu, enakan mana sama urutan buatan ayah. Kalo udah tau rasanya baru deh bisa kakak promosiin. Tapi kakak gak mau bantu cuma-cuma ya,,,, kita bikin kerja sama aja kalau dia mau."


"Ok kak,,, nanti aku bilang sama dia kalo gitu"


"Kamu suka ya sama cowo itu?? Kaya semangat banget mau bantu"


"Gakkkk,,, orang dia udah punya pacar,,." Sahut Nandita dengan wajah sedih


"Kalo gak punya pacar berarti kamu mau??"


Wajah Malikha merona, tidak membantah ataupun meng iya kan ucapan sang kakak.


"Masih bau kencur juga, udah suka-sukaan sama orang. Nyuci baju udah bersih belom??" Ledek Nandita lagi


"Yeee aku udah bisa nyuci, menyetrika, juga masak ya kak.... Jangan remehkan aku...." Ucap Malikha jengah


"Hhhmmm besok lagi ngobrolnya, sekarang tidur. Besok bilang aja sama dia, kalau ada, kakak mau urutan sama dendeng untuk kakak bawa ke kost. Kalau cocok di lidah kakak, kita kerja sama."


"Ya kak,, aku kabarin dia sekarang." Dengan cepat Malikha mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chat.


Senyum tersungging di bibir gadis manis itu, berharap semoga bisa membantu dia, yang selalu mengganggu pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2