Nanditha

Nanditha
MEMANAS


__ADS_3

Nandita menjalani hari seperti biasa. Meski tatapan mata para siswa sedikit berbeda saat bertemu, namun gadis itu tidak ambil pusing.


Ia masih disibukkan dengan membuat nilai dari masing-masing anak didiknya untuk diserahkan kepada wali kelas.


"Selamat siang." Suara yang begitu familiar yang berhasil membuat jantung Nandita berdetak lebih cepat.


"Siang." Nandita nampak gugup.


"Gak disuruh masuk?"


"Masuk aja." Masih mencoba menormalkan detak jantungnya, ia segera merapikan meja kerjanya, kemudian menatap laki-laki yang kini sudah duduk manis di kursi seberang mejanya.


"Lagi sibuk banget ya? Baru mau ajak makan siang."


"Maaf mas, aku gak bisa."


Senyum Gunadh menghilang oleh penolakan Nandita.


"Kenapa? Kamu bawa bekal?"


"Gak, aku udah ada janji sama teman."


"Siapa? Satya?"


"Ya mas, sama "


"Jadi benar kamu menjalin hubungan sama laki-laki itu?"


Rahang Gunadh mengeras. Amarah yang coba ia tahan kini muncul lagi.


"Ngomong apaan sih?" Nandita jadi ikut emosi.


"Mas kesini mau ngajak ribut? Aku gak ada waktu! Mending mas pulang."


"Kamu ngusir aku? Udah bosen sama aku?" Gunadh semakin emosi


Nandita menarik nafas dalam. Sifat Gunadh yang seperti ini yang gak Nandita suka. Terlalu cepat mengambil kesimpulan, emosian, gampang meledak.


"Mas, kenapa sih cepet banget ambil kesimpulan sendiri? Di kepala kamu tuh isinya apa sih? Prasangka buruk sama aku aja?!" Nandita mencoba menahan emosinya, namun tidak berhasil. Dikalimat terakhir, suara Nandita naik satu oktaf.


"Bukan prasangka buruk, tapi memang fakta kan? Kamu ngusir aku, karena ingin pergi keluar dengan laki-laki lain yang adalah pacar sahabatmu sendiri."


"Buk…"


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu menjeda kalimat yang ingin Nandita keluarkan. Sekaligus menghentikan perdebatan mereka.


Nandita kembali menarik nafas sebelum mempersilahkan tamunya masuk.


"Ta ..." Candra melongokkan kepala ragu untuk masuk. Sebab ia mendengar sedikit keributan dari luar.


"Masuk aja Ndra. Bentar lagi aku beres." Nandita mempersilahkan Candra untuk masuk.


Tidak perduli tatapan Gunadh yang mengintimidasi, Nandita melanjutkan kalimatnya.


"Mas masih mau di sini? Sebentar lagi aku keluar, ada urusan sama Candra sama Satya. Atau mau kita ngobrol nanti sore? Kebetulan aku gak ada kegiatan."


"Baiklah, aku pergi. Nanti sore aku jemput." Tanpa menyapa Candra sama sekali Gunadh meninggalkan ruang kerja Nandita.


"Kalian bertengkar?" Tanya Candra, merasakan aura panas di ruangan tersebut.


"Gak taulah. Dia hoby banget nuduh gak jelas akhir-akhir ini." Nandita masih sibuk menyimpan kertas-kertas yang tadi ia rapikan ke dalam lemari kaca di belakang kursi kerjanya.


"Kamu gak ada bahas soal kedatangan Mira ke sini tempo hari?"


"Jangankan bahas itu, baru nyampe sini aja dia udah langsung ngomel. Gak ngerti aku sama jalan pikirannya dia. Masa cemburunya sama Satya? Gak ngerti dapat bisikan dari mana orang itu."


Alis Candra berkerut, merasa aneh. Kenapa tiba-tiba Gunadh cemburu pada Satya.


"Kamu gak ikut curiga sama aku kan?"

__ADS_1


Nandita bertanya.


"Enggak lah."


"Terus kenapa kamu diam horor begitu?"


"Aneh aja, kenapa Gunadh datang terus tiba-tiba marah sama kamu soal Satya?"


Nandita kembali duduk di kursinya. Kedua jari tangannya bertaut menjadi satu dibatas meja.


"Bukan tiba-tiba sih, sebenarnya kami bertengkar saat pertunangan kalian. Dia datang ke kost terus marah-marah sampai mengatakan hal yang gak bisa aku terima."


"Jadi itu sebabnya dia gak Dateng?"


Nandita mengangguk.


"Dan itu juga yang bikin kalian gak pernah ketemu selama ini?"


Nandita kembali mengangguk.


"Ya ampun ... Kenapa kamu gak pernah cerita sih Ta?" Candra sangat menyayangkan sikap tertutup Nandita.


🌟🌟🌟


"Eeh Gunadh ... Apa kabar?" Satya menyapa Gunadh saat berpapasan di lorong sekolah.


Menyadari banyaknya siswa yang berlalu lalang, Gunadh berusaha memasang wajah ramah. Tidak mungkin ia menunjukkan rasa tidak sukanya pada laki-laki di depannya ini.


"Baik." Jawab singkat Gunadh.


"Mau makan siang sama Dita ya? Sorry aku sama Candra ganggu waktu kalian. Kami minta tolong Nandita untuk bantu tentuin konsep. Gimana kalau kita makan siang bareng? Sekalian aku minta pendapat kamu juga." Satya terus saja bicara meski Gunadh tidak menanggapi.


"Maaf saya sibuk."


Gunadh hendak berlalu dari hadapan Satya. Namun kemudian bahu Gunadh ditahan oleh Satya


"Sorry, mestinya aku gak ikut campur urusan kalian. Tapi Nandita adalah teman bahkan sudah aku anggap adik sendiri. Aku bisa melihat dan merasakan hubungan kalian merenggang. Nandita selalu menghindari topik pembahasan tentang kamu."


Gunadh tersenyum miring.


"Apa maksudmu?!" Satya terkejut dengan apa yang Gunadh ucapkan.


"Heh kalian berdua munafik dan pengecut sekali. Saya kasihan pada Candra"


Bug


Tanpa ba-bi-bu Satya memukul hidung Gunadh hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah.


Beberapa siswa yang melihat heboh menyaksikan kekerasan tersebut.


"Satya...!"


Nandita dan Candra yang melihat segera berlari mendekat.


Melihat semakin banyak siswa yang datang, Nandita segera membubarkan mereka. Kemudian ia kembali menatap dua laki-laki di depannya.


"Jangan membuat keributan di tempat kerjaku. Kalau mau adu kekuatan jangan di sini." Ucap Nandita tegas dengan mata menajam.


"Kita keluar dulu, cari tempat ngobrol yang enak." Candra mencoba menengahi


"Kamu ikut saya?" Gunadh menarik tangan Nandita dengan kasar. Enggan membantah, Nandita menurut. Tidak ingin membuat masalah semakin melebar lagi.


"Kita ketemu di gedung tempat latihan." Ucap Nandita pada Candra, sambil tangannya diseret oleh Gunadh.


Mereka tiba dalam waktu hampir bersamaan. Nandita yang sangat emosi bergegas masuk ke dalam gedung. Mengambil dua body protector yang disimpan dalam sebuah lemari penyimpanan.


Begitu melihat Candra dan dua laki-laki itu datang, Nandita melempar dua benda tersebut.


"Pakai! Lakukan apapun yang kalian mau di sini. Jangan di sekolah kalian tunjukkan sikap sok jagoan seperti tadi!" Ucap Nandita dengan nafas naik turun. Jelas sekali terlihat emosi gadis itu.


Candra melongo melihat Nandita bicara keras seperti itu. Apalagi terhadap Gunadh yang adalah kekasihnya dan usia mereka yang terpaut lumayan jauh.


"Kenapa diam? Ayo ambil!" Tantang gadis itu lagi.


Sisi bar-barnya kembali muncul. Rasa kesal dan kecewa pada Gunadh, juga pada Satya membuat Nandita kehilangan kesabarannya untuk bicara baik-baik.

__ADS_1


"Ta sorry." Ucap Satya akhirnya.


Melihat tidak ada yang mengambil body protector tersebut, Nandita mengambil lalu memakainya. Dan satunya lagi ya lemparkan ke arah Satya.


"Lawan aku!" Perintahnya


"Ta ..." Candra dan Satya khawatir. Tidak biasanya Nandita seperti ini. Gadis itu paling pintar mengendalikan emosi. Namun kini, gadis itu seperti kehilangan kendali atas dirinya.


Nandita tidak tahan dengan segala yang terjadi menyangkut Gunadh. Tuduhan menyakitkan dari Gunadh, foto-foto kebersamaan laki-laki itu dengan Safira, sikap cuek Gunadh beberapa minggu terakhir, kedatangan Mira ke sekolah, dan sekarang Satya ikut memperkeruh dengan memukul laki-laki tersebut.


"Ta ..." Perlahan Candra mendekati gadis itu. Dengan pelan mengusap punggung Nandita, mencoba memberi ketenangan.


"Udaah, kita obrolin baik-baik yuk." Candra mencoba menenangkan sahabatnya. Ia memberi kode agar Satya dan Gunadh mendekat.


Apapun masalah mereka hingga sampai terjadi pemukulan, itu hal belakangan yang akan dibicarakan. Yang terpenting sekarang, menenangkan Nandita yang seperti orang kesurupan.


Setelah Nandita tenang, Candra berbisik pelan meminta gadis itu melepas body protector di tubuhnya.


Tanpa banyak kata, Nandita mengikutinya.


Candra sulit mengawali. Sebagai orang yang tidak terlibat secara langsung, tentu emosinya yang paling sabil.


"Sebenarnya ada masalah apa?" Candra bertanya dengan tenang.


Tatapan mata Satya dan Gunadh kembali berperang. Saling ingin menelan satu sama lain.


"Tadi aku sempat bertanya masalah mereka berdua. Meskipun Dita gak pernah cerita, namun aku dan kamu tahu bukan, bahwa mereka gak sedang baik-baik saja. Kamu tahu sendiri Dita itu kaya gimana orangnya. Seribu kali pun kita nanya, dia akan selalu bilang baik-baik saja. Meski kenyataannya tidak. Nah kebetulan aku ketemu dia," Satya melirik ke arah Gunadh.


"Aku tanya ada apa? Dan entah apa yang ada dalam kepalanya, dia malah mengatakan kalau aku senang bila mereka berdua bertengkar. Dia juga ngatain aku munafik dan pengecut."


Alis Candra berkerut. Sementara Nandita yang sudah tahu tuduhan itu, tidak merasa terkejut.


"Dia memang nuduh aku sama kamu selingkuh Sat." Ucap Nandita dengan tatapan dingin.


Mata Candra melotot. Meski Nandita sudah memberi tahunya, namun tetap saja Candra merasa terkejut. Sementara Satya diam saja dengan tatapan dingin ke arah Gunadh.


"Memang kenyataannya seperti itu bukan? Bahkan kalian dengan mudahnya menunjukkan kemesraan di depan umum." Ucap Gunadh


Ketiga orang di depannya menganga dengan penjelasan Gunadh yang gamblang.


"Aku minta maaf sama kamu Candra, kalau akhirnya kamu juga akan terluka sama seperti saya."


Gunadh mengeluarkan ponselnya. Mencari pesan yang dikirimkan seseorang saat itu.


"Lihatlah, apa namanya ini kalau mereka tidak memiliki hubungan apa-apa?" Gunadh menyodorkan ponselnya pada Candra


Penasaran, Nandita dan Satya ikut melihat. Lalu mereka berdua saling tatap.


"Ini kan mall tempat aku belikan kamu cincin tunangan itu yank ... Kalau gak salah pas mau lamaran." Satya bicara pada Candra, namun suaranya bergumam seakan bertanya pada diri sendiri.


"Ya benar, pas aku pergi sama Kiara." Ucap Satya lagi ketika yakin akan ingatannya.


"Aku memang mengajak Nandita ke mall itu, meminta dia memilihkan gaun untuk Candra. karena aku gak terlalu ngerti soal pakaian wanita. Ada Kiara sama Dinda juga, cuman pas di mall kami bagi tugas. Kiara dan Dinda beli perlengkapan yang lain, sementara aku sama Nandita beli perhiasan sama gaun." Satya memperhatikan lagi foto tersebut.


"Ooh ini pas kamu mau cari gaun, terus aku mau kasih kamu ATM. Gila, niat banget orang yang foto."


Kini giliran Gunadh yang terkejut. Sementara Nandita masih memperlihatkan wajah datarnya.


Satya menatap Gunadh kembali.


"Kamu dapat foto ini dari mana?"


Gunadh diam. Menyadari ada kesalahan dalam praduganya.


"Mmm ada yang mengirimkannya pada saya saat itu." Ucap Gunadh kesal, menyadari kecerobohannya.


"Itu yang membuat dia marah dan mengatakan aku bebas tidur dengan sembarang laki-laki meski tanpa ikatan apapun." Ucap Nandita masih dengan ekspresi datarnya.


"Padahal kalau aku mau mencari kesalahannya, ada banyak sekali hal yang membuat aku sakit hati. Puluhan foto aku terima dengan berbagai macam aktivitas mereka berdua yang mengatasnamakan anak, aku diam. Pesan-pesan menjatuhkan, menjadi makanan sehari-hari aku terima. Pernahkah aku mempermasalahkannya? Aku berusaha mengerti, menerima, dan memahami. Mencoba ada di posisi dia yang tidak akan mungkin melepas masa lalunya dengan mudah. Aku berusaha membangun rasa percayaku padanya, meskipun harus menutup mata karena kenyataannya berbanding terbalik. Tapi dia? Heh " Nandita menggelengkan kepalanya. Tidak lagi melanjutkan kalimatnya, karena sesak yang menghimpit saluran nafasnya.


Nandita mengambil ponselnya.


"Kamu lihat ini, lihat dari atas sampai bawah apa saja pesan dan gambar yang orang itu kirim untukku."


Nandita menyerahkan ponselnya pada Candra namun direbut oleh Gunadh dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2