Nanditha

Nanditha
NAMIRA MENGHILANG


__ADS_3

Bila tidak bisa menyayangi, setidaknya jangan menyakiti. Bila tidak bisa memberi, setidaknya jangan mencuri. Bila tidak bisa menjaga, setidaknya jangan menghancurkan.


"Daddy dari mana aja??" Suara itu mengagetkan Gunadh begitu memasuki kamar hotelnya.


"Lho Mira?? Kamu bukannya sama mommy??" Gunadh terkejut mendapati sang anak sendirian di kamar hotel.


"Jawab aku dulu Daddy,,,. Kenapa mesti balik bertanya? Raut wajah Mira bertambah kesal.


"Tadi Daddy habis keluar sama onty Dita. Kasihan kan dia dari pagi nungguin kita, tapi kita malah punya acara berbeda."


Mira diam, masih dengan wajah yang ditekuk.


"Mommy kamu mana??" Tanya ulang Gunadh pada sang putri.


"Tadi mommy ada urusan, makanya aku balik ke kamar ini. Ternyata Daddy juga punya urusan lain" sindir anak itu.


Mira semakin kesal pada Nandita, sebab kecurigaan sang mommy rasanya benar. Nandita ingin merebut Daddy dari Mira. Buktinya, mereka jalan berdua tanpa memperdulikan Mira yang sendirian di kamar hotel. Pikir gadis itu.


Ia mulai membuat rencana agar bisa menunjukkan siapa Nandita sebenarnya di depan Gunadh.


'aku bakal bikin onty dibenci sama Daddy, gimanapun caranya mereka gak boleh sama-sama'. Tekad itu muncul di benak gadis kelas lima SD tersebut.


Gunadh sedang mandi saat Mira keluar kamar menuju kamar Nandita.


Tok


Tok


Tok


"Onty,,,," panggil Mira dari luar.


Pintu terbuka, wajah Nandita yang tersenyum membuat Mira semakin kesal.


"Onty,,, temenin aku yuk.... Aku pengen jalan-jalan." Mira menarik tangan Nandita, sementara gadis itu belum persiapan apa-apa.


"Tunggu dulu Mira, onty ganti baju dulu,,. Masa pakai baju begini" Nandita yang sudah bersiap hendak tidur, hanya menggunakan celana pendek dan tank top saja.


"Gak usaaaaah,,,, orang mau cari es krim aja kok di bawah" Mira masih ngotot.


"Nanti dulu Mira, tunggu lima menit aja, onty ambil jaket sama dompet dulu. Kamu tunggu di sini ya...."


Nandita melepas paksa tangannya, masuk ke dalam kamar, buru-buru mengambil jaket dan tas kecil berisi dompet juga ponselnya.


"Ayo Mira,,,," ucap gadis itu sambil menutup pintu, namun Mira sudah tidak ada di sana.


'kemana sih anak itu, tadi katanya mau beli es krim' Nandita jadi kesal dibuatnya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Ia memutuskan untuk mencari gadis itu di kamar Gunadh.


"Ya sayang ada apa??" Gunadh hanya melongok kan kepala nya saja, sebab ia baru selesai mandi. Hanya handuk yang melilit di pinggang saja menutupi area tubuh bawahnya.


"Mira mana mas? Tadi minta diantar keluar cari es krim" Gunadh terkejut


"Lho terus Mira sekarang di mana?" Gunadh balik bertanya pada Nandita. Ia takut kebiasaan Mira kabur terulang kembali.


Wajah Nandita berubah pucat, takut kalau-kalau gadis kecil itu hilang di negeri orang.


Gunadh segera memakai pakaiannya. Setelah itu keluar bersama Nandita menuju lantai bawah hotel.


"Kenapa dia sampai ga ada Ta??"


"Aku juga ga ngerti mas. Tadi dia ketuk pintu kamar aku, terus narik tangan aku ngajak keluar cari es krim. Aku bilang tunggu sebentar, soalnya aku cuman pakai celana pendek sama tank top aja. Aku masuk ganti baju sama ambil tas, tau-tau dia udah gak ada di depan pintu kamar."


Gunadh diam, bukan salah gadis di sampingnya juga kalau begitu.


Ia menghubungi Safira, berharap sang anak ada bersama mommynya.


"Aku lagi ada urusan di luar mas. Kenapa sampai bisa hilang sih??" Suara Safira naik satu oktaf saat Gunadh mengatakan Namira tidak ada di kamarnya.


"Dia anak yang sensitif banget, mas tau itu. Pasti ada yang nyakitin hatinya makanya dia kabur." Dasar Mak lampir, pintar sekali mencari kesempatan untuk menjatuhkan orang.


Gunadh melirik gadis di sampingnya. Muncul rasa kesal di hatinya pada sosok Nandita. Raut wajahnya berubah sesaat setelah sambungan telepon terputus dengan sang mantan istri.


"Gimana mas?? Mira sama mommy nya kan??" Nandita khawatir bertanya


"Maaf ya mas, aku gak tau akan jadi begini." Ucapnya penuh penyesalan.


"Untuk apa minta maaf, toh semua sudah terjadi. Sekarang fokus mata kita cari Mira aja" Sahutnya tanpa melihat Nandita sama sekali.


Mereka berkeliling hampir satu jam, mencari di restaurant, taman sekitaran hotel, bahkan menanyakan ke beberapa orang yang lewat di sekitar sana.


Sementara anak yang di cari, bersembunyi di balik korden kamar sang Daddy.


Ia sengaja mengerjai Nandita, sesaat setelah Nandita masuk ke kamar untu berganti pakaian, ia kembali ke kamar. Melihat sang Daddy masih di kamar mandi, ia segera bersembunyi di balik korden jendela kaca. Korden besar berwarna putih itu menyentuh lantai kamar, sehingga kaki yang ada di baliknya tertutupi dengan sempurna.


Mira juga mendengar saat Gunadh menyebut kata sayang pada Nandita. Tangan nya terkepal kuat, muncul rasa benci pada sosok yang selama ini ia kagumi.


Safira yang saat ini tengah asyik kumpul bersama teman-temannya, merasa terganggu saat mendapat telepon dari Gunadh.


Setelah sambungan telepon terputus, ia tersenyum mengejek.


'kamu pikir semudah itu mengambil apa yang aku punya? Kamu terlalu tinggi berkhayal gadis kampung' umpatnya dalam hati.


Ia melanjutkan minum dan merokok bersama teman-temannya. Baru saja ia mendapat kiriman uang dari sang kekasih. Ia beralasan ke Singapura untuk reunian, hingga Reyhan mengijinkannya pergi.


"Kapan kamu balik ke Jerman??" Tanya salah satu teman

__ADS_1


"Paling dua atau tiga hari lagi. Pekerjaanku sudah akan selesai di sini." Ucapnya


"Pekerjaan apa?? Mengejar cinta mantan?" Ledek teman satunya yang tau niat Safira sesungguhnya.


"Ssstttt jangan ribut. Aku suka tantangan. Reyhan terlalu tunduk padaku saat ini, aku ingin suasana baru. Gunadh cukup menarik untuk menguji adrenalin ku. Apalagi gadis kampung itu, dia ingin bermain denganku?? Heh terlalu sombong dia memilih lawan" ucapan hati wanita yang sudah setengah mabuk.


Teman-temannya hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah Safira. Tidak pernah berubah. Dari dulu tidak pernah merasa puas.


Sementara Gunadh dan Nandita sudah lelah berkeliling.


"Mas apa gak sebaiknya kita kembali dulu ke kamar? Siapa tau Mira sudah ada di sana??" Takut-takut Nandita memberi ide.


Mata Gunadh menatap tajam, ia yang sudah termakan omongan Safira, kini mendengar Nandita ingin kembali ke kamar membuat ia merasa marah dan kecewa pada gadis itu. Bukankah semua ini terjadi karena Nandita?? Andai gadis itu langsung me iya kan ajakan Namira, anaknya pasti tidak akan kabur.


"Kalau kamu mau ke kamar pergi saja. Aku mau mencari anakku sampai ketemu. Kamu gak akan paham bagaimana perasaan orang tua yang kehilangan anaknya. Meskipun itu karena ulah kamu sendiri" ucap Gunadh.


Jleb


Hati Nandita sakit mendengarnya. Bagai ditindih batu besar rasanya. Sulit bernafas


Sesak.


Sakit sekali rasanya. 'salah aku? Mira hilang karena aku?? Bahkan aku ikut mencari hingga berjam-jam, dia bilang tidak mengerti perasaan dia?' Nandita berdebat dalam hatinya. Ia menarik nafas dalam, guna melapangkan dada yang rasanya begitu sempit hingga udara susah untuk masuk. Memejamkan mata, dengan tangan terkepal kuat menahan emosi.


"Kita berpencar saja mas, biar lebih mudah mencarinya." Nandita melangkah mendahului Gunadh, tanpa memperdulikan reaksi Gunadh selanjutnya.


Hingga waktu menunjukkan pukul 23.45 waktu Singapura, Nandita masih di luar hotel.


Udara yang dingin menusuk kulit, sebab Nandita hanya menggunakan celana pendek saat keluar. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kamar. Samar ia melihat bayangan Safira memasuki loby hotel bersama beberapa teman teman baik laki maupun perempuan. Mereka tertawa seolah tidak terjadi apa-apa pada salah satu keluarga dari mereka. Mungkin Mira sudah ketemu, pikirnya.


Gunadh lebih dulu kembali, niatnya ingin menghubungi Nandita namun baterai ponselnya habis. Akhirnya ia melangkah sendiri menuju kamarnya. Begitu pintu hotel dibuka, matanya tertuju pada sosok yang tidur dengan nyenyak di kasur berukurang king size itu. Wajah lelap yang terlihat polos, seolah menampakkan raut bahagia. Seperti tidak terjadi apa-apa.


Laki-laki itu menghembuskan nafas kasar. Ada penyesalan di hatinya, sebab tadi sempat berkata kasar pada Nandita. Ternyata gadis itu benar, Mira ada di kamarnya.


'besok aku akan bicara padanya' gumamnya sambil membuka seluruh pakaian yang ia gunakan, lalu menggantinya dengan baju tidur.


🌟🌟🌟


Keesokan paginya, Nandita turun menuju restaurant seorang diri. Ia enggan menghubungi Gunadh. Hatinya masih sakit.


Memilih roti dan coklat panas sebagai menu sarapan paginya. Tangannya sibuk mengotak atik ponsel di genggamannya. Mencari tempat wisata yang bisa ia kunjungi hari ini, dan mencari mode transportasi apa yang bisa ia gunakan. Saking sibuknya, hingga ia tidak menyadari seseorang menatapnya dengan senyum remeh.


Orang itu mendatangi Nandita dengan tangan disilangkan di depan dada.


"Enak ya hanya jadi pengasuh sudah bisa menikmati liburan ke luar negeri. Selain ngasuh anaknya, kamu juga ngasuh daddynya ya?"


Nandita sontak terkejut mendengar suara tepat di telinganya. Hampir saja ia melayangkan tinju, bersyukur tangan nya memegang ponsel dan satunya lagi hendak memasukkan roti ke dalam mulutnya.


"Kamu ngomong sama saya?" Ia mendongakkan kepala, menatap lawan bicaranya yang berdiri dengan angkuh.


"Kamu pikir kamu siapa? Mau merebut Gunadh dan Mira dari saya? Sadar diri dong,,,."

__ADS_1


Safira tidak menanggapi pertanyaan Nandita, ia malah kembali menekan gadis itu dengan ucapannya.


Alis Nandita berkerut. Apa maksudnya dengan kata merebut?? Bukankah Safira yang meninggalkan suami dan anaknya demi laki-laki lain?


__ADS_2