
Bahagia bila aku bisa menjadi orang yang mampu membuatmu tersenyum.
Bisa menjadi orang yang mampu membuatmu tenang, dan menjadi alasan untuk kamu selalu bahagia.
"Yakin besok bisa pulang??" Tanya Gunadh setelah diam beberapa saat.
"Ya mas,,, tapi mungkin agak sorean kalau masih lemes besok pagi"
"Gak mau tidur di rumahku saja malam ini??" Tanya Gunadh lagi dengan raut wajah khawatir.
"Mas,,,, aku udah biasa seperti ini. Jangan jadikan aku gadis manja,." Nandita memelas
"Bukan maksud membuat kamu manja, tapi aku gak bisa tinggalin kamu dengan keadaan sakit begini."
"Kamu lebay mas,, biasa aja. Sebelum kenal sama kamu, aku juga begini. Sampai sekarang gak ada masalah kan?? Aku tahu tubuh aku, gak mungkin aku bakal siksa diri aku sendiri. Lagian tetangga kost di sini semua baik kok. Percaya sama aku,, aku bisa." Nandita meyakinkan laki-laki, yang kini mulai menguasai hatinya.
"Aku pengen jadi orang yang bisa kamu andalkan setiap waktu sayang,,." Ucap Gunadh dengan sorot mata teduh
"Terimakasih mas,, tapi itu belum saatnya. Belum saatnya kamu mengambil tanggung jawab atas diriku, seberat itu. Ingat, Mira masih belum tahu tentang kita. Atau mungkin dia berpura-pura tidak tahu. Yang pasti, jangan membuat dia merasa menjadi nomor dua." Sulit bagi gadis itu membuat Gunadh mengerti.
Nandita melirik jam di dinding kamarnya, dan Gunadh melihat itu. Ia mengerti, selain karena Mira, mungkin Nandita merasa tidak enak hati dengan anak kost yang lain. Meski kamarnya tidak ditutup rapat, namun tetap ada rasa malu di hati gadis itu.
"Ya sudah, aku pulang sekarang. Tapi besok kamu harus pulang sama aku." Nandita mengangkat wajahnya hendak protes.
"Nggak ada bantahan, itu udah yang paling tepat." Gunadh mendahului, membuat Nandita urung bersuara.
"Aku pulang sekarang, ingat kunci pintunya."
"Ya mas,,,." Nandita mengantar Gunadh hingga depan pintu kamarnya.
"Hati-hati ya mas,,," Nandita melambaikan tangan sebelum menutup pintu kemudian menguncinya.
Keesokan harinya, setelah makan siang, Gunadh keluar dari hotel sekaligus kantornya selama ini. Arya pun hanya bisa menghela nafas berat. Sebab Gunadh kembali memerintahkan dirinya untuk menyelesaikan meeting bersama staf yang sudah terjadwal setiap bulan.
'Ternyata jatuh cinta ataupun tidak, tetap akan ada alasan untuk melimpahkan tugas padaku' sungutnya dalam hati.
Dulu, sebelum mengenal Nandita, saat hati sang tuan sedang membeku, Arya disibukkan oleh mencari dan mengawasi para bodyguard yang akan menemani Mira. Sekarang, setelah keadaan aman, Mira sudah tidak pernah kabur, Gunadh disibukkan dengan urusan Nandita. Padahal gadis mandiri itu, tidak pernah meminta perhatian berlebih dari sang tuan. Berbeda dengan Safira dulu, yang apa-apa selalu Gunadh. Dan Gunadh akan melimpahkan semua pada Arya.
Nasib menjadi seorang bawahan. Namun ia sedikit lebih tenang saat ini dibandingkan dulu. Sebab Gunadh, lebih menunjukkan sisi manusianya. Lebih sering tersenyum, dan bisa berkata terima kasih.
Kembali pada Gunadh dan Nandita.
Gadis itu sudah siap dengan segala tas dan koper yang tadi sempat ia bongkar guna membagikan beberapa oleh-oleh untuk tetangga kostnya.
Drt
Drt
Ponselnya bergetar, tanda pesan masuk.
G : "Sayang,,, aku udah otw. Kamu mau dibeliin apa??"
N : "Aku udah makan mas,, tadi beli soto sama sosis bakar juga."
Balas Nandita
G : "Ada gitu makan soto sama sosis?? Jauh banget??" Ejek Gunadh.
N : "Ada lah,,,, aku contohnya. Jauh dari mananya coba?? Orang dagang soto sama tukang sosisnya bersebelahan."
Gunadh tertawa membaca pesan dari Nandita.
Malas ia mengetik pesan kembali, lalu ia memutuskan untuk mengirim pesan suara.
__ADS_1
"Maksud aku,,, bukan jauh tempatnya, tapi jauh konsepnya. Ada gitu makanan Indonesia digabung sama makanan luar??
Dibalas pula dengan pesan suara
"Makan gak usah ribet pakai konsep mas.... Kalau lagi pengen ya sudah makan saja. Lagian kalo udah di dalam usus, emang mereka ada tempat masing-masing? Ada di kiri ato di kanan?? Kan enggak."
"Hahahaaaaa ada-ada aja kamu. Emang selebar apa sih usus?? Sampai makanan bisa berkelompok ada di kanan ato di kiri??"
Obrolan unfaedah yang masih terus berlanjut.
"Nah mangkanya itu,,, masa di dalam aja mereka bersatu, di luar kita gak boleh satukan?? Yang penting kita nikmat makannya, apa aja bisa kok mas digabung hihihiii"
"Terserah kamu sajalah,, terlalu pintar berdebat kamu tuh.."
"Cieeee ngambeeeek...."
Gunadh yang sudah ada di halaman kost, tidak menjawab ledekan sang kekasih. Ia segera turun dari mobil, kemudian menuju kamar Nandita.
"Katanya sorean berangkatnya?? Kok udah beres semua?? Baru aku mau bantu." Gerutu Gunadh
"Mas mau bantu apa?? Bantu komen sama ketawain??"
"Kok tahu sih??"
"Kelihatan dari matanya,, penuh tipu daya. Hahahaaaa" gadis itu terbahak.
Gunadh menarik ujung rambut Nandita. Membuat sang empunya cemberut kesal.
"Mau berangkat sekarang?" Tanya Gunadh
"Ya mas,, sekarang aja. Tapi mas, Mira tahu kalau mas mau anterin aku pulang??" Hilang sudah wajah santai Nandita, kini dia menatap Gunadh dengan serius.
"Hhhuuuh aku bilang sama dia, ada urusan pekerjaan. Mungkin akan menginap."
Gunadh mengangguk, membenarkan tebakan Nandita.
"Mas,,,, kok aku kaya pelakor beneran ya?? Sembunyi-sembunyi begini pergi sama kamu?"
"Huuusshh ngomong apaan sih, jauh banget pikirannya. Udah yuk ... Berangkat sekarang." Gunadh mengangkat koper yang sudah Nandita siapkan.
Mereka membelah jalanan kota tanpa ada satu katapun terucap. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sudah lebih dari satu jam mereka hanya diam menikmati musik yang diputar. Tubuh Nandita yang masih sedikit lemas, membuat gadis itu semakin enggan bersuara.
"Kenapa diam aja?" Tidak tahan, akhirnya Gunadh bersuara
"Terus mau ngomong apa donk??" Balas gadis itu
"Masih siapin tenaga ini mas,,, nanti pasti banyak ditanya sama kedelai hitam"
Lanjutnya lagi.
Alis Gunadh berkerut.
"Kedelai hitam??"
"Heee sama Ika,, nama dia kan Malikha, kedelai hitam pilihan"
"Iish kamu tuh ya...." Gunadh menarik rambut nandita.
Sebenarnya Nandita merasa resah, akan hubungannya dengan Gunadh ke depan. Ia tidak ingin terlalu memikirkan, namun sulit. Berusaha biasa saja, namun hatinya semakin tertaut kuat.
Mengalihkan pikiran pada hal-hal konyol, membuat candaan yang mungkin terkesan garing, ia hanya ingin menghibur diri. Ini untuk pertama kalinya ia berhubungan dengan seseorang, dan begitu rumit rasanya.
__ADS_1
"Mas,,, aku boleh tidur ya?? Ngantuk banget, efek obat yang tadi aku minum kaya nya." Ucap gadis itu lagi, kini matanya sudah memerah sebab menguap berkali-kali.
"Tidurlah,,,." Gunadh mengelus rambutnya dengan lembut.
Gunadh pun paham dengan kegundahan hati Nandita, namun ia juga belum tau solusinya apa. Akhirnya, dia hanya bisa berusaha memberikan kebahagiaan untuk ke duanya. Untuk Mira maupun untuk Nandita.
Dua jam perjalanan, mereka tiba di kediaman orang tua Nandita. Ayah dan bunda sudah menunggu Nandita sedari tadi. Pasalnya, Nandita mengaku akan pulang pagi hari.
"Ayah,,, bunda,,,,." Nandita berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya yang tengah duduk di ruang tamu. Koper dan tasnya
"Kenapa baru sampe?? Katanya pagi mau pulang?"
Tanya bunda, mewakili keresahan hati ayah juga.
"Kebablasan tidur, bangunnya kesiangan." Jawab nandita
"Om,, Tante,," Gunadh menyusul di belakang gadis itu.
" Eeehh nak Gunadh,,,, mari duduk dulu. Tante buatkan minum dulu." Bunda tidak melanjutkan bertanya pada Nandita, ia segera berdiri dan berlalu ke dapur.
Menghidangkan minuman dengan senyum tak pernah luntur dari bibirnya. Bunda Santi bahagia melihat Gunadh yang selalu ada menemani sang anak. Baginya itu berarti Gunadh tidak main-main dengan hubungan itu.
"Mira gak ikut nak??" Tanya ibu tiga anak itu.
"Enggak Tante,, kasihan dia masih capek habis perjalanan kemarin."
Setelah ngobrol beberapa saat, pak Darma meminta Gunadh untuk istirahat di kamar Nandita. Sedangkan sang anak, kembali mengungsi di kamar Malikha.
Selesai membagikan oleh-oleh yang dibawa, Nandita menuju kamar sang adik.
"Kenapa kamu cemberut? Bibir udah kaya pantat ayam begitu." Ledeknya pada sang adik.
"Tau aaah,, kakak nyebelin!! Aku pesan apa, datangnya apa." Omel Malikha pada sang kakak
"Yang kamu mau itu bukan barang murah,, lagian ngapain minta sepatu dari sana?? Emang di sini toko sepatu pada bangkrut??"
Nandita sengaja membuat sang adik kesal, sebenarnya sepatu yang dipesan Malikha sudah ia beli. Namun belum dia berikan.
"Aku kan pengen kak,,, kakak juga udah janji waktu ini mau belikan aku sepatu itu." Malikha menangis, ia memang cengeng. Apapun yang tidak sesuai keinginannya, pasti akan membuat dia mengeluarkan air mata.
"Ika,,,, gak semua yang kita mau harus kita dapatkan... Kamu harus belajar mengendalikan diri kamu. Semakin kamu menuruti semua mau kamu, semakin sering nanti kamu kecewa. Belajar menekan emosi, mengendalikan pikiran, agar kamu bisa jadi orang yang lebih kuat. Kamu tuh cengeng banget, kakak gak suka."
Nandita malah menceramahi sang adik.
Malikha yang tau kakaknya itu dalam mode serius, hanya bisa menunduk tidak berani berkata apapun.
Nandita keluar, mengambil kotak yang ia sembunyikan di mobil Gunadh, lalu membawanya ke dalam kamar sang adik.
"Nih,,,, besok-besok jangan dibiasakan kalau keinginan kamu gak terpenuhi, kamu nangis. Ia kalau kakak ato yang lain mampu penuhi permintaan kamu, kalau kami gak mampu gimana?? Kamu bakal marah gitu??" Tanya Nandita
Malikha ragu ingin mengambil kotak yang disodorkan sang kakak. Ia merasa tercubit hatinya dengan petuah Nandita.
"Gak mau?? Ya udah kakak saja yang pakai"
"Eeehh jangan.... Buat aku aja"
Malikha segera menyambar kotak tersebut.
"Makasih kak,,,, maaf ya udah bikin kakak marah. Besok-besok aku gak gitu lagi"
Gadis SMA itu bertingkah seperti anak SD.
Nandita hanya tersenyum melihat kelakuan sang adik.
__ADS_1